Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap
Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.
Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.
Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30_Batasan yang rusak
Jam di dinding kamar kecil itu menunjukkan 04.00 pagi.
Malam telah bergeser ke ambang subuh, udara mulai berubah—lebih dingin, lebih hening. Lauren duduk di sisi tempat tidur Asher, punggungnya sedikit membungkuk, matanya lelah namun tetap waspada. Sejak tadi ia terus mengganti kompres di dahi dan leher Asher, menunggu dengan sabar hingga panas tubuh itu perlahan turun.
Tangannya pegal.
Kelopak matanya berat.
Namun ia tidak tidur.
Ia tidak berani.
Setiap kali napas Asher terdengar terlalu cepat atau terlalu lambat, Lauren refleks mendekat, memastikan dada pemuda itu masih naik-turun dengan ritme yang lebih baik daripada beberapa jam lalu.
Kini panas itu tidak lagi menyengat. Masih hangat—tapi wajar.
Lauren menghela napas pelan, untuk pertama kalinya malam itu merasa sedikit lega.
Ia hendak berdiri untuk mengganti air kompres ketika jari-jari Asher bergerak.
Pelan.
Ragu.
Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka.
Tatapannya buram. Kosong sesaat. Lalu fokusnya bergerak—hingga berhenti pada wajah Lauren.
Ia mengerjap sekali.
Dua kali.
“Lauren…?” suaranya serak, hampir patah.
Lauren mendekat. “Aku di sini.”
Asher menelan ludah, napasnya masih berat. “Kepalaku… panas.”
“Sudah turun,” jawab Lauren lembut. “Kau demam tinggi tadi.”
Alis Asher berkerut pelan. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, lalu berhenti saat menyadari lengannya masih terasa lemah.
“Kenapa… kau di sini?” tanyanya lirih.
Lauren ragu sejenak. “Aku melihatmu pucat tadi malam. Pintumu terbuka.”
Asher memejamkan mata sesaat, seolah mengingat potongan malam yang kabur. “Aku… tidak ingat semuanya.”
“Itu tidak apa-apa,” ujar Lauren cepat. “Yang penting kau sekarang lebih baik.”
Hening menyusup di antara mereka.
Asher membuka mata lagi, kali ini lebih jernih. Tatapannya jatuh ke tangan Lauren yang masih memegang kain kompres.
“Sudah lama?” tanyanya.
“Sejak malam,” jawab Lauren jujur.
Asher terdiam.
Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—bukan keterkejutan, tapi kesadaran. Dan rasa bersalah yang perlahan muncul.
“Kau… tidak tidur?” suaranya lebih pelan.
Lauren tersenyum kecil, letih. “Belum.”
Asher menelan napas. “Maaf.”
Kata itu keluar kaku, seolah jarang ia ucapkan.
Lauren menggeleng. “Jangan.”
Asher menatap langit-langit, lalu kembali ke wajah Lauren. “Aku tidak bermaksud… membuatmu tinggal.”
“Aku tahu.”
Ia hendak menarik tangannya, namun Asher lebih dulu mengendurkan genggaman—bukan menjauh, hanya cukup agar Lauren bebas memilih.
Lauren tidak segera bangkit.
“Aku akan ambilkan air hangat,” katanya akhirnya.
Asher mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Lauren berdiri perlahan, kaki-kakinya terasa kaku. Saat ia berjalan menuju dapur kecil, sinar subuh mulai merayap masuk melalui celah jendela.
Di belakangnya, Asher memejamkan mata kembali—kali ini bukan karena demam, melainkan kelelahan yang akhirnya menemukan tempat aman.
Dan di dada Lauren, untuk pertama kalinya setelah malam yang panjang, ada rasa tenang yang asing—
bukan karena segalanya baik-baik saja,
melainkan karena ia bertahan hingga pagi.
Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari masuk perlahan ke rumah Asher, menyentuh lantai dengan warna pucat yang tenang. Lauren berdiri di depan pintu, tas kecilnya tersampir di bahu. Wajahnya lelah, matanya sembab, namun langkahnya stabil—seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan diri.
“Aku pulang,” ucapnya singkat.
Asher mengangguk. Wajahnya masih pucat, tapi tubuhnya sudah jauh lebih baik. Ia berjalan mengiringi Lauren sampai ke depan pintu, tidak berbicara, tidak bertanya. Keheningan di antara mereka terasa padat, seolah ada sesuatu yang berdiri di sana, ikut mengantar.
Lauren meraih gagang pintu.
Saat itulah Asher menahan tangannya.
Lauren menoleh, alisnya sedikit berkerut. “Asher?”
Asher tidak menjawab. Ia melangkah maju, menutup jarak yang tersisa, satu tangannya bertumpu di dinding, mengurung Lauren di antara tubuhnya dan pintu. Tatapannya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya ragu.
Tanpa peringatan, Asher menunduk dan mencium bibir Lauren.
Singkat. Pasti.
Tidak terburu-buru, tidak juga lembut.
Lauren membeku.
Ia tidak membalas.
Ia juga tidak menolak.
Tidak ada detak panik, tidak ada dorongan menjauh—hanya diam yang aneh, seperti tubuhnya memilih berhenti sendiri. Beberapa detik berlalu, lalu Asher menarik diri.
Ia mundur satu langkah.
Tatapannya tetap sama—tidak ada keterkejutan, tidak ada penyesalan. Seolah apa yang baru saja ia lakukan adalah sesuatu yang memang akan terjadi, cepat atau lambat.
Lauren menatapnya kembali. Wajahnya datar. Tidak marah. Tidak terluka. Tidak bertanya.
Keheningan kembali jatuh di antara mereka.
Lauren membuka pintu. Tidak mengatakan apa pun. Tidak menoleh. Tidak memberi peringatan atau larangan. Ia melangkah keluar begitu saja, seperti seseorang yang memutuskan untuk tidak memberi makna pada sebuah kejadian.
Pintu tertutup di belakangnya.
Asher tetap berdiri di sana, tidak bergerak. Tidak menghela napas. Tidak menyentuh bibirnya sendiri. Tidak mencoba membenarkan atau menyesali apa pun.
Baginya, itu bukan kesalahan.
Di luar, Lauren berjalan menjauh dari rumah itu. Langkahnya teratur, wajahnya tenang—terlalu tenang. Ia tidak memikirkan ciuman itu. Ia tidak mengulangnya di kepala. Ia tidak marah pada Asher, dan lebih aneh lagi—tidak marah pada dirinya sendiri.
Uap air menutup seluruh permukaan cermin.
Lauren berdiri di depannya, rambutnya masih basah, handuk melingkari tubuhnya. Ia mengangkat tangan, mengusap kaca yang buram itu dengan telapak tangannya. Perlahan, pantulan wajahnya muncul—pucat, lelah, dan terlalu tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya marah.
Jarinya terangkat, menyentuh bibirnya sendiri.
Hangat.
Nyata.
Dadanya mengencang.
“Kenapa aku diam?” bisiknya, hampir tak bersuara.
Ia menatap pantulannya lebih dalam, seolah mencari jawaban di sana. Tidak ada. Hanya sepasang mata yang kehilangan ketegasan yang biasanya ia miliki.
“Itu salah,” gumamnya lagi. Kali ini lebih tegas, seperti sedang mengingatkan dirinya sendiri. “Aku seharusnya marah.”
Lauren menurunkan tangannya perlahan. Nafasnya sedikit berat.
Dia istri orang.
Kata-kata itu jatuh di kepalanya seperti palu, keras tapi terlambat. Ia menutup mata sejenak, mencoba mengingat kembali detik-detik di depan pintu itu—tangannya yang ditahan, jarak yang dihapus, bibir yang menyentuh bibirnya.
Dan dirinya sendiri… yang tidak melakukan apa pun.
Bukan karena menginginkan.
Bukan pula karena tak peduli.
Hanya karena… diam.
Lauren membuka matanya kembali. Pantulan itu masih di sana, masih sama. Tidak ada bekas luka, tidak ada tanda dosa di wajahnya—dan justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak.
“Ini tidak boleh terjadi,” ucapnya lirih, seperti janji yang diucapkan terlalu pelan agar tak perlu ditepati sekarang.
Ia meraih handuk, mengeringkan wajahnya dengan sedikit terlalu keras, seolah ingin menghapus sesuatu yang tak terlihat. Namun saat tangannya kembali menyentuh bibirnya, gerakannya melambat.
Bukan karena rindu.
Bukan karena ingin mengulang.
Melainkan karena ia belum mengerti, sejak kapan dirinya berhenti bereaksi seperti Lauren yang dulu.
Cermin itu kembali tertutup uap.
Dan kali ini, Lauren membiarkannya.
Anyway, semangat Kak.👍