Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Bersama Seorang Wanita
#2 New
“Ah, banyak alasan! Kalau Abang bilang di ganti, ya, pasti Abang ganti!” teriak Restu marah. Kemudian menarik paksa kalung dari leher Ayu, tak lupa cincinnya juga.
“Bang!”
“Bang! Tunggu!”
Restu pun meninggalkan rumah, mengabaikan suara teriakan Ayu.
Ayu melangkah cepat bermaksud mengejar Restu, tapi—
“Awwhh!” keluh Ayu, karena nyeri di perut menghalanginya.
Atu menghentikan langkahnya, sebelah tangannya berpegangan pada tiang rumah, dan sebelah lagi memegangi area perut yang berdenyut nyeri. Keringat dingin bermunculan, untunglah, hanya nyeri sejenak, Ayu sangat takut bila rasa sakitnya terus berlanjut.
Wanita itu merosot hingga duduk di lantai kayu rumah mereka, ia termenung menatap ruangan yang berantakan. Barang belanjaannya pun jatuh berhamburan, padahal itu jatah lauk hari ini. Selain sayuran, sebisa mungkin Ayu tetap mengkonsumsi protein, agar janinnya tak kekurangan nutrisi dari protein hewani dan nabati.
Ayu bukan wanita lemah, tapi kehamilan ini membuatnya tak bisa banyak beraktivitas, jangankan membantu perekonomian suaminya. Kadang memasak saja, Ayu harus memaksakan diri, karena kondisi tubuhnya yang mudah lelah sejak dinyatakan hamil.
Biarlah orang lain mengatainya manja, dan pemalas. Yang penting anak dalam kandungannya sehat. Sekarang Ayu bingung, harus darimana ia membereskan kekacauan rumahnya? Sementara dengan tenaganya yang lemah, ia tak mungkin mengerjakan semuanya.
“Sebenarnya apa yang hendak kamu lakukan, Bang? Kenapa Abang sangat bernafsu mendapatkan uang? Padahal biasanya kamu tak seperti ini?” isak Ayu, ketika kembali teringat perangai kasar suaminya selama beberapa minggu terakhir ini.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Kak Muti.” Ayu buru-buru menghapus air matanya.
“Astaghfirullah, Ayu, kenapa berantakan sekali?”
Mutia meletakkan rantang yang ia bawa, kemudian mulai membereskan buku-buku yang berserakan.
“Kak, jangan. Biar aku saja yang bereskan.” Ayu mencegah tangan Muti yang mulai bergerak menata buku yang sudah berserakan
“Kapan? Tahun depan? Sementara memasak saja kau sudah kelelahan.”
Muti tak terima bantahan, ia adalah tetangga yang tinggal di sebelah rumah Ayu, jadi wanita itu juga mendengar suara keributan Ayu dan Restu setiap malam. Namun Mutia tak selancang itu bertanya apa gerangan penyebab keributan mereka.
“Kak, Muti—” Ayu tak sanggup melanjutkan kalimatnya, kedua matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang tak bisa ditahan.
“Lebih baik, kau makan sana. Kasihan bayi kau, pasti kelaparan karena ibunya belum makan. Kan?” tebak Mutia.
“Tapi maaf, hanya ikan pindang goreng dan terong hasil panen di kebun belakang rumah,” sambung Muti.
“Tak mengapa, Kak. Ini pun sudah lebih dari cukup. Semoga bayiku sehat.”
“Amin,” ucap Mutia dengan tulus.
•••
Sementara itu, di tempat lain.
Restu mendatangi salah satu toko perhiasan untuk menjual perhiasan istrinya. Ada alasan khusus kenapa ia tega melakukan hal itu, padahal ia tahu, hanya itulah perhiasan yang baru sempat ia hadiahkan pada istrinya saat pernikahan.
Setelah pernikahan Restu selalu berdalih, bahwa uangnya untuk modal tanam padi berikutnya, dan setelah panen. Justru Mamak dan kedua adiknya yang banyak menikmati hasilnya. Ayu hanya mendapatkan pemberiannya yang tak seberapa, setelah semua mendapat bagian yang rata.
Dengan wajah berbinar, Restu kembali membawa uang hasil menjual perhiasan. Tujuannya adalah rumah judi yang ada di dalam bar kecil di pinggir desa.
Dulu mana pernah Restu kesana, namun, bisik dan rayuan Anjani membuatnya terlena hingga pria itu pun iya iya saja, ketika Anjani mengajaknya ke tempat penuh maksiat tersebut.
“Abang,” sambut Anjani yang langsung melenggang meliukkan pinggangnya ke arah Restu yang baru saja datang.
“Sudah mulai?”
“Belum, Bang. Baru beberapa orang yang datang, tapi masing-masing sudah pasang taruhan, sih.”
Restu mencubit dagu Anjani, dan wanita itu membalasnya dengan senyum genit, sambil melemparkan kedipan nakal dari matanya.
“Bang, dia kangen.”
Anjani membawa telapak tangan Restu ke perutnya yang masih datar, senyum Restu memudar, rasa bersalah kembali menyelinap. Satu bulan lalu, mereka tanpa sengaja melakukan kesalahan, hingga berakibat kehamilan Jani. Restu sangat menyesal, namun, ia tak bisa lari dari tanggung jawab.
Padahal hidupnya kini semakin sulit, panen gagal, ibu dan adik-adiknya masih minta jatah uang bulanan, dan istrinya sebentar lagi melahirkan. Namun, sialnya hanya karena satu gelas minuman keras, ia berakhir membuat mantan kekasihnya hamil tanpa adanya ikatan sah.
Padahal Anjani hanya memanfaatkan situasi untuk menjebak pria itu, bahkan kehamilannya pun palsu. Semua ia lakukan hanya karena ingin merebut Restu dari istrinya.
Restu menyudahi elusan tangannya, “Sudah?”
Anjani mengangguk senang, sambil terus bergelayut manja.
“Terima kasih, Bang. Semoga nanti, anak ini tidak ileran, karena bapaknya selalu menuruti keinginannya.”
Dada Restu sakit bagai dihantam palu godam, ucapan Anjani seperti sindiran untuknya, karena selalu mengabaikan Ayu. Menomorduakan keinginan dan perasaannya, padahal seharusnya setelah Mamaknya, Ayu yang paling berhak atas diri dan hartanya.
Ditambah lagi, semenjak hamil, Restu tak pernah sekalipun dengan sungguh-sungguh mengabulkan permintaan Ayu. Padahal dulu ia kerap frustasi karena Ayu tak kunjung hamil bahkan setelah dua tahun usia pernikahan mereka.
•••
“Amin,” ucap Ayu setelah mengakhiri doa panjangnya dengan doa untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Wanita itu mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya, lalu berdiri.
Maghrib hampir berlalu, dan isya sebentar lagi tiba, tapi Restu belum juga kembali ke rumah sejak tadi pagi pergi membawa perhiasan istrinya.
“Apa Bang Restu akan pulang malam lagi?” gumam Ayu dengan hati yang semakin gelisah.
Andai bisa ia ingin mengikat suaminya untuk dirinya saja, tapi, Restu seorang laki-laki, dan tugas laki-laki adalah keluar untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Jadi bagaimana mungkin Ayu mengikat suaminya, jika agama menganjurkan laki-laki bekerja demi menafkahi keluarganya?
Akhirnya adzan isya berkumandang dari arah surau, Ayu bergegas melaksanakan kewajiban lima waktunya sebelum berlanjut menunggu kedatangan suaminya. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menitipkan keselamatan pria itu pada sang maha pencipta, karena hanya Dia pemilik yang sebenarnya. Sementara Ayu hanya makhluk yang juga sedang menjalankan kewajiban dari-Nya.
Mendekati tengah malam, terdengar suara gaduh dari depan rumah, Ayu yang sejak tadi gelisah, berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Bang—”
Senyumnya memudar, air matanya meleleh pedih hati bagai teriris sembilu tajam, karena Restu pulang dalam keadaan tak baik-baik saja. Aroma alkohol yang sangat menyengat, ditambah keadaan Restu yang hanya separuh sadar.
Parahnya lagi, ia berjalan sambil di papah seorang wanita.
“Minggir, kau!” ucap Anjani sambil mendorong sebelah pundak Ayu, hingga wanita itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Dengan rasa percaya diri maksimal, Anjani melangkah masuk, sambil tetap memapah Restu, seolah-olah ia adalah pemilik rumah.
“Siapa kamu?!” desis Ayu dengan tatapan tajam memendam rasa marah.
Anjani tersenyum sinis, “Aku? Tanyakan saja pada Bang Restu, siapa aku, dan apa hubungan kami.”
Jeder!
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah