Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYTB 12
Irene menunduk dengan tatapan sendu. Sementara Fandy hanya bisa menarik nafas dalam-dalam setelah mendengar pertanyaan dari Stendy.
“Beritahu aku apa alasan paman Jason tidak akan pernah merestui hubungan aku dengan Janice?” tanya Stendy lagi.
Irene menghela nafas beratnya, dan kembali menatap wajah putranya. Cukup lama Irene termenung sebelum menjawab pertanyaan yang mungkin akan menguak tabir kehidupan mereka di masa lalu.
Stendy masih setia menunggu jawaban dari kedua orang tuanya. Sementara Fandy sangat tahu, kalau istrinya tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya.
Irene mengerjapkan matanya saat merasakan genggaman tangan dari pria yang sejak dahulu selalu ada di sampingnya. Senyuman Fandy mampu membuat hati Irene tenang.
“Jason tidak menyetujui Janice memilih bertunangan denganmu, karena dia sangat ingin Janice melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Akan tetapi, Janice malah mengecewakan dirinya dengan memutuskan untuk bertunangan dan tinggal bersamamu. Itulah sebabnya Jason memberi syarat kepada kami. Awalnya kami pikir Janice akan bahagia bersamamu. Tapi…” Irene menghentikan ucapannya sambil menarik nafasnya. Dadanya terasa begitu sesak saat ingin melanjutkan kembali apa yang ingin diungkapkan.
“Tapi, kamu malah mengecewakan Janice dan memilih kembali pada mantan kekasihmu itu.” Fandy melanjutkan ucapan yang istrinya ingin sampaikan kepada putra mereka.
Stendy mengerutkan dahinya, entah mengapa ia meragukan alasan Jason tidak menyetujui pertunangannya dengan Janice, yang disampaikan oleh kedua orangtuanya itu. Pria itu benar-benar merasa ada hal lain yang menjadi penyebab Jason tidak setuju.
Keadaan di rumah keluarga Canet terlihat begitu hening. Padahal ada tiga orang yang sedang duduk saling berhadapan di ruang keluarga. Namun, suasana di ruangan itu nampak sangat hening. Ketiganya kembali sibuk dengan pikiran mereka.
Berbeda dengan kondisi Janice saat ini yang baru saja menapaki kakinya di negara yang akan menjadi bagian dalam hidupnya. Di sebuah rumah yang tidak kalah mewahnya dengan rumah lama mereka. Setelah beberapa jam menempuh perjalan udara dan dilanjutkan darat, membuat Janice merasa lelahnya terbayar lunas. Sebab saat ini ia sudah berdiri di depan bangunan yang begitu kokoh. Bangunan itu memang terlihat sangat tradisional, namun sangat terawat dan juga mewah. Janice dapat melihat kemewahan dalam desain tradisional yang mencakup tata letak yang kompleks pada bangunan tersebut. Penggunaan material berkualitas tinggi, ornamen detail, dan penekanan pada harmoni dengan alam dan tidak lupa prinsip feng shui yang melekat pada bangunan tersebut.
Jason merangkul pundak putrinya dan tersenyum lembut. “Ayo, masuk. Ayah jamin kamu akan lebih menyukai isi rumah ini,” ujar Jason yang membuat jiwa penasaran Janice membara.
Dua orang pekerja yang sejak tadi menyambut kedatangan mereka pun, segera membawa barang bawaan milik Janice. Naomi menggandeng tangan putrinya, senyum mengembang di wajah Janice dan kedua orang tuanya.
Saat memasuki rumah, Janice semakin dibuat terkagum-kagum pada interior bangunan tradisional itu. Tangannya menjulur, menyentuh dan mengusap dinding dan kayu yang membuat bangunan tersebut menjadi kokoh.
“Indah sekali,” gumam Janice dengan mata berbinar.
Jason memeluk Naomi dan tersenyum melihat Janice yang begitu menyukai bangunan itu. Janice menatap kedua orang tuanya dan berjalan cepat ke arah mereka. Tersenyum dan langsung memeluk keduanya.
“Maafkan aku, Ayah, Ibu. Maafkan atas kesalahanku di masa lalu,” lirih Janice dengan hati yang merasa sangat bersalah pada kedua orangtuanya.
Jason memeluk kedua wanita yang sangat ia cintai. “Lupakan semuanya, Nak. Kami sudah memaafkan kamu sejak lama. Kau tetap putri kami. Mulai saat ini kita akan memulainya kembali dari awal. Lupakan semua masa lalu yang menyakitkan dalam hidup kita,” ucap Jason terdengar begitu bijak.
“Yang dikatakan Ayah kamu itu benar, sayang. Sekarang kita sudah kembali berkumpul, jadi mari kita sama-sama melupakan masa lalu. Dan, kita bangun kebahagiaan keluarga kita.” Naomi ikut menimpali ucapan suaminya.
Janice semakin terharu mendengar jawaban yang begitu tulus kedua orang tuanya.
“Sebaiknya kita lihat kamarmu. Kami harap kamu menyukainya,” usul Jason mengajak sang putri menuju lantai dua.
Setibanya di lantai atas, Janice terus dibuat kagum oleh bangunan itu. Terlihat Jason membuka kunci pintu kamar, yang dikatakan kamar milik Janice.
Ketika pintu kamar terbuka, Janice begitu terpana melihat kamarnya. Benar-benar sangat nyaman. Janice tersenyum pada kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku menyukainya,” ucap Janice. “Terima kasih, Ayah, Ibu.” Janice kembali berucap.
“Syukurlah, kamu menyukai kamar ini,” sahut Naomi. “Sebenarnya Ayah kamu berniat menjadikan ruangan ini menjadi kamar untuk Calvin. Tapi, Ibu menolak. Karena Ibu yakin kamu pasti lebih suka kamar ini,” sambung Naomi seraya melirik ke arah Jason.
Jason mendesah pelan. “Ya, itu awalnya. Tapi, kan tidak jadi.” Jason membela dirinya.
“Memangnya kamar mana yang seharusnya menjadi kamarku?” tanya Janice.
“Tepat di belakang kamar kami,” jawab Naomi.
“Boleh aku lihat?”
Naomi dan Jason pun mengangguk, dan mereka segera melihat kamar yang akan menjadi milik Calvin. Jika, pria itu datang dan menginap di rumah mereka.
Janice mengernyitkan dahinya saat melihat ruang yang menjadi kamar Calvin. Dari segi ukuran, semuanya sama dengan kamar Janice. Namun, ada satu hal yang tidak Janice suka. Yaitu, jendela kamarnya terlalu menghadap ke arah pohon yang rindang, dan itu menghalangi pandangannya ke arah luar sana.
“Untunglah aku tidak dikamar ini. Karena tidak bisa melihat pemandangan dari luar jendela. Ini cocok dengan Kak Calvin daripada denganku,” celetuk Janice.
“Sudah Ibu duga kamu akan bilang seperti itu,” seru Naomi bangga.
Janice memeluk sang ibu. “Ibu memang paling tahu apa yang aku mau. Terima kasih, Bu. Aku sayang Ibu,”
“Hanya sayang Ibu saja?” protes Jason.
Naomi mendelikkan matanya, dan Janice tertawa kecil. “Aku juga sayang Ayah,” jawab Janice.
“Seperti anak kecil,” sindir Naomi yang disambut tawa oleh Janice. Sementara Jason hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
Di rumah Irene dan Fandy, kedua pasutri itu hendak tidur. Fandy keluar dari dalam kamar mandi, melirik sekilas ke arah istrinya yang sedang memakai beberapa skincare malam, seperti kebiasaan rutinnya setiap hari, pagi dan malam.
Fandy menjatuhnya bobot tubuhnya di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.
“Mengapa kamu tidak katakan yang sebenarnya pada Standy?”
Irene langsung menghentikan gerakannya setelah mendengar pertanyaan dari suaminya. Ditatapnya Fandy dari pantulan cermin meja rias yang cukup besar itu. Irene mendesah pelan, dan meletakkan kembali cream yang hendak ia pakaikan ke wajahnya.
“Itu lebih baik. Sepertinya memang lebih baik kita tidak berurusan lagi dengan keluarga Arkana,” jawab Irene.
Fandy mengerutkan kedua alisnya dan menatap tajam ke arah Irene. “Lalu bagaimana dengan bisnis kita? Bagaimanapun keluarga Arkana yang selalu membantu kita dalam mengembangkan bisnis ini.”
Irene kembali mendesah. “Kamu hanya memikirkan bisnis saja. Tidakkah kamu memikirkan alasan dibalik ini semua?” Irene membalikkan tubuhnya dan menatap tajam pada suaminya, bahkan suaranya pun mulai meninggi.
Fandy berdecak kesal. “Kejadian itu sudah cukup lama dan itu sudah terbukti sebagai kecelakaan,” sahut Fandy yang tak kalah tinggi nada bicaranya.
“Aku sangat mengenal Jason, dan dia tidak akan pernah mau memaafkan kita. Bukankah kamu ingat apa yang pernah ia katakan saat kita meminta Janice untuk menjadi menantu di keluarga Canet?”
Fandy seketika terdiam mendengar ucapan Irene. Ya, dirinya sangat ingat sekali apa yang pernah Jason katakan pada mereka. Ketika dirinya dan sang istri datang untuk meminta Janice menjadi menantu mereka.
Ketika itu, Fandy dan Irene datang berkunjung ke rumah keluarga Canet. Kemudian ia bertemu dengan Jason dan Naomi. Fandy dan Irene menyampaikan keinginannya untuk meminang Janice menjadi menantu mereka. Keduanya sangat yakin, kalau Jason dan Naomi akan menerimanya. Sebab mereka tahu, kalau Janice sangat mencintai Stendy.
“Tidak.”
Jason dengan terang-terangan menolak lamaran keluarga Canet. Fandy dan Irene terlihat cemas saat itu.
“Tapi, mengapa? Bukankah kamu tahu, kalau Janice juga mencintai Stendy.” Fandy mencoba berbicara kembali.
“Yang dikatakan suamiku benar, Kak Jason. Stendy pun, juga mencintai Janice.” Irene ikut menimpali, walau yang sebenarnya ia tidak tahu apakah Stendy juga mencintai Janice.
“Yang dikatakan Paman dan Bibi itu benar, Yah.”
Semuanya menoleh ke sumber suara, entah sejak kapan Janice mendengarkan pembicaraan mereka. Gadis itu duduk di sebelah Jason dan memeluk lengan sang ayah dengan manja.
“Ayah, terima saja lamaran dari Paman dan Bibi. Aku sangat mencintai Stendy,” rengek Janice.
Jason memejamkan matanya dengan nafas mendesah pelan. Ditatapnya mata sang putri. Jason sangat jelas melihat begitu membaranya cinta asmara putrinya itu terhadap pria bernama Stendy. Ya, Jason juga tahu akan hal itu sejak lama.
Jason mendesah kasar, lalu menepuk tangan Janice yang masih melingkar di lengannya. Ia tersenyum dan mengusap kepala Janice.
“Baiklah,” ucap Jason seraya tersenyum paksa, karena ada Janice.
Janice yang mendengar pun, langsung merasa bahagia dan bersorak kegirangan. Ia memeluk Jason, lalu Naomi. Dan beralih memeluk Irene dan juga Fandy.
“Terima kasih, Ayah. Kalau begitu aku akan menghubungi Stendy,” kata Janice yang langsung pergi menuju kamarnya.
Irene dan Fandy tersenyum lebar, kali ini rencana mereka berjalan lancar. Demi kerjasama dan silaturahmi keluarga yang sempat renggang. Namun, kebahagiaan keduanya seketika berubah menjadi was-was, sebab ucapan Jason yang mampu membuat mereka pasrah.
“Kalian harus ingat. Aku menerima lamaran ini dengan sangat terpaksa. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubungan mereka. Maka dari itu aku akan mengajukan beberapa syarat,”
Fandy dan Irene saling melirik, kemudian Fandy pun angkat bicara.
“Mengapa kamu tidak bisa merestui hubungan mereka, Kak?” tanya Fandy.
Jason tersenyum sinis mendengarnya. “Aku yakin kalian tidak amnesia, lupa ingatan atau sejenis penyakit lupa lainnya. Kejadian lalu masih sangat membekas dalam ingatanku. Maka dari itu, sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan Janice dan putra kalian.”
Naomi langsung menggenggam tangan suaminya, menyalurkan rasa nyaman. Agar suaminya tidak terbawa emosi.
“Bukankah kamu sudah memaafkan kami?” tanya Irene.
Tangan Jason mengepal kuat dan rahangnya pun mengeras. “Ck! Memaafkan belum tentu aku bisa lupa atas apa yang sudah kalian lakukan pada mendiang adikku,” sahut Jason dengan emosi yang tertahan. Naomi kembali menggenggam tangan suaminya. Agar Jason tidak tersulut emosi lagi.
“Semuanya terbukti sebagai kecelakaan, Kak Jason. Bukan kami pelakunya,” ujar Irene.
“Memang ini adalah kasus kecelakaan tunggal. Tapi sebelum adikku meninggal, kalian berdua lah yang telah menyakiti hati adikku,”
Irene dan Fandy menunduk, “Maafkan kami atas apa yang sudah kami lakukan pada mendiang adikmu. Kami sangat menyesal telah mengkhianatinya,” lirih Fandy.
Irene mendesah, dan tidak ingin mengingat masa lalu. “Lalu, apa syarat yang ingin kamu ajukan?” tanya Irene yang langsung membalikkan topik pembicaraan mereka.
Sungguh Irene tidak ingin mengingat kembali kejadian kelam beberapa puluh tahun yang lalu. Dimana dirinya dan Fandy sempat menyinggung keluarga Arkana, sampai merenggut nyawa Jessica yang bukan lain adalah adik kandung Jason.
Jason tersenyum sinis. “Pertama, pertunangan Janice dan Stendy harus dilaksanakan setelah tiga tahun mereka bertunangan. Lalu…”
“Apakah tidak terlalu lama?” Irene segera memotong ucapan Jason.
Jason menatap tajam pada Irene, dan membuat wanita itu langsung menundukkan wajahnya.
“Aku tidak suka, jika ada yang memotong pembicaraanku!” tegas Jason yang masih menatap Irene dan Fandy dengan tatapan tajam.
“Maaf,” lirih Irene.
“Kedua.” Jason sedikit menjeda ucapannya sejenak. “Aku akan tetap mengawasi kehidupan Janice selama dia tinggal bersama putra kalian. Kemudian, jika Janice tiba-tiba menginginkan kembali meneruskan kuliahnya. Maka, aku akan langsung membawanya pergi jauh. Dan, kalian tidak berhak untuk memintanya kembali.”
Fandy dan Irene saling melirik. Mereka merasa itu tidak masuk akal. Irene hendak protes, namun Fandy menahannya.
“Baiklah. Kami bersedia dengan syarat yang kamu ajukan,” jawab Fandy yang pasrah atas permintaan calon besannya itu.
Semenjak kesepakatan itu dibuat. Irene dan Fandy selalu bekerja sama, agar Stendy tidak berbuat kasar ataupun membuat Janice tidak nyaman selama tinggal bersama putra mereka.
Irene tersadar dari lamunannya, dan kembali menghela nafasnya. “Kita kecolongan,”
Fandy mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan sang istri. “Apa maksudmu?” tanya Fandy yang masih mencerna ucapan sang istri.
“Harisa,”
Hening. Tatapan kedua pasutri itu saling terpatri, walau Irene hanya melihat sang suami dari pantulan cermin saja. Fandy menghela nafasnya pelan, tangannya memijat keningnya.
“Kau benar. Kita kecolongan, sampai tidak tahu kembalinya Harisa.” Fandy menyugar rambutnya, dan menyandarkan punggungnya di sofa itu.
Matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Merenung sejenak, hingga akhirnya ia kembali membenarkan posisi duduknya. Ditatapnya kembali Irene yang sepertinya sudah selesai dengan ritual make-up malamnya.
“Haruskan kita menyingkirkan Harisa?” tanya Fandy.
Irene berdecak. “Jaga ucapanmu. Kau mau dijebloskan ke penjara?”
Fandy menggeleng cepat, “Tidak.” Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
Irene duduk di tepi kasur dan disusul oleh Fandy.
“Untuk sementara biarkan saja Stendy bersama wanita itu. Namun, tetap dalam pengawasan kita. Jangan pernah lengah lagi,” ujar Irene.
“Tapi, aku sangat malas melihat wanita itu. Apalagi menjadi menantu di keluarga kita,” jawab Fandy.
Irene menggenggam tangan suaminya. “Tenang saja. Aku tidak akan biarkan wanita itu menjadi menantu kita. Apalagi kita juga sudah tahu seperti apa Harisa itu,”
Fandy tersenyum, “Kamu benar. Setidaknya kita sudah mempunyai bukti, kalau wanita itu tidaklah baik.” Fandy menepuk punggung tangan Irene dengan pelan sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sementara itu di dalam villa, terlihat Stendy duduk sambil memegang segelas minuman beralkohol. Ia menenggang minuman itu dalam satu tegukan.
Tangannya meremas gelas tersebut dan melemparkannya, hingga tercipta suara gaduh. Pecahan gelas berserakan di lantai. Kemudian pria itu berdiri sambil memegang keningnya yang terasa berdenyut.
“Janice,” gumamnya lirih.
Ia berjalan sempoyongan, pandangannya pun sudah mulai mengabur.
Bruk
Tubuhnya limbung dan terjatuh. Stendy kembali berusaha bangkit, namun tubuhnya seakan menolak untuk bangkit. Hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Akan tetapi bibirnya seolah bergumam. Bergumam satu kata, satu nama, Janice. Nama yang terus keluar dari bibir pria yang notabene-nya enggan untuk menyebut nama Janice selama pria itu tinggal bersamanya.