Andrian adalah seorang mahasiswa yang menjalani pekerjaan freelance sebagai fotografer. Sejak kapan semuanya dimulai, tidak ada yang benar-benar tahu. Kini, ia menjual jasa foto jalan-jalan yang tengah populer di kalangan anak muda.
Ia memotret siapa saja yang ingin terlihat cantik di depan kamera. Mereka tersenyum, dan ia.. di balik lensa.. tersenyum lebih lama.
Setiap jepretan membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar. Bukan karena hasilnya ,melainkan karena sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. Dua folder tersimpan di komputernya: satu untuk dunia, satu untuk dirinya.
[Jika kamu sudah membaca, tinggalkan Like & komentar kamu sebagai bentuk penghargaan untuk penulis.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Obsesi Liar
Dua puluh menit kemudian, Nadya terlihat merapikan bajunya, rambutnya sedikit berantakan, napasnya masih tersengal.
“Panas banget, bukain dong jendelanya,” ucapnya.
Adrian membuka jendela mobil, udara malam masuk, menyejukkan suasana. Ia diam sejenak, lalu menyalakan rokoknya. Malam itu hening, kendaraan yang lewat sedikit. Asap mengepul di wajah Adrian, pandangannya kosong ke depan. Ia masih memikirkan Naya, obsesi itu tak bisa dihilangkan begitu saja.
Nadya, yang menyadari sikap pacarnya, membuka pembicaraan. “Kenapa sih, yank? Kamu bengong padahal udah aku kasih…” godanya pelan.
Adrian menoleh, matanya menatap Nadya. Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya. “Nadya… kamu bener suka sama aku?” tanyanya datar.
Nadya sedikit terkejut. “Kenapa nanya kayak gitu lagi sih?”
“Cuma memastikan,” jawab Adrian singkat.
Nadya cemberut. “Pertanyaan kamu nggak banget! Setelah apa yang aku lakukan untuk kamu, masa kamu masih nanya perasaanku… kan sudah jelas… aku cinta banget sama kamu,” ucapnya, lalu terdiam sejenak.
“Aku nggak mau kehilangan kamu… Anak-anak di kampus bilang katanya kamu nggak beneran cinta sama aku. Tapi aku nggak peduli… Selama aku bisa di sisimu, itu udah cukup,” ucap Nadya pelan, matanya menatap Adrian.
Adrian menatapnya sejenak, lalu bergumam dingin, “Cinta.” Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya, kemudian ia menyalakan mobil.
“Kita pulang…?” tanya Nadya ragu.
“Besok ada kelas pagi,” jawab Adrian singkat.
Nadya terlihat kecewa. “Kalau nanti aku mau ketemu lagi gimana?”
“Telpon aku,” jawab Adrian, datar.
Mobil melaju pelan, meninggalkan jalanan yang sunyi. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Lampu jalanan redup, hanya menyisakan bayangan mereka di dalam kabin.
*
Adrian menaiki tangga kosan lantai dua dengan langkah pelan. Sesampainya di depan kamar, ia memasukkan kunci, membuka pintu, dan masuk ke ruang gelap yang hanya diterangi lampu dari lorong. Botol mineral diambil, ditenggak beberapa kali, tapi itu tak menenangkan pikirannya. Ia menjatuhkan diri ke kasur, menatap langit-langit seakan mencari jawaban yang tak ada.
Keheningan mencekam, hanya terdengar detak jarum jam. Dalam pikirannya, satu hal terus berputar rencana baru, lebih rapi, lebih bersih, tanpa jejak. Napasnya pelan tapi matanya tajam, menyimpan sesuatu yang gelap.
“Naya…” bisiknya, senyum tipis terbentuk di bibirnya, terasa dingin meski ruangan gelap.
Paginya Adrian baru saja selesai mandi. Ia memilih pakaian yang menurutnya paling “menarik.” Kali ini ia memakai kacamata bening, lalu berdiri di depan cermin, memperhatikan dirinya sendiri. Setiap detail tampak sempurna—sosok pria idaman wanita, menurutnya.
Ia mengenakan sepatu, menutup pintu kamar, dan sedikit terkejut saat Bu Rini, ibu kost, muncul di depannya.
“Waduh, Mas Adrian ganteng banget! Mana wangi, mau kemana sih?” godanya.
“Eh, ibu… mau ke kampus,” jawab Adrian dengan senyum.
“Walah, bohong nih. Udah pasti mau ketemu pacarnya ini,” seloroh Bu Rini.
Adrian hanya tersenyum, menangguk, lalu pamit sopan. Bu Rini masih memandang punggungnya yang menuruni tangga.
“Itu bocah ganteng, tapi rasane kok ada yang aneh…,” gumam Bu Rini pelan.
Adrian berjalan menuju parkiran. Ponselnya menyala, ia mengecek nomor ibunya. Diam sejenak, lalu masuk ke mobil. Ia menatap sekeliling, berpikir cukup lama sampai nada dering mati sendiri tanpa coba menelpon balik, Adrian malah menekan mode senyap. Mobilnya melaju pelan, ke arah kampus.
Adrian sudah sampai di kampus, berjalan santai menuju kelasnya pagi itu. Saat ia melangkah masuk, Rio menatapnya dengan sedikit heran.
Adrian duduk, dan tanpa menunggu lama, Rio langsung menghampirinya.
"Bro… lu mau ke mana? Rapih banget pagi-pagi gini," tanya Rio, heran melihat penampilan Adrian yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Ke kampus," jawab Adrian singkat, suaranya datar.
"Itu juga gue tahu… hehe. Tapi gini ya orang yang lagi kasmaran, dandannya rapi terus," serunya sambil tersenyum nakal.
Adrian hanya menggeleng, senyum kecil muncul di bibirnya, tapi ia memilih diam. Tak lama kemudian, dosen pun masuk ke kelas, mengakhiri obrolan mereka.
Siang itu, setelah jadwal kuliah selesai, Adrian berjalan sedikit lebih cepat menuju parkiran. Saat ia menuruni tangga, Nadya melihatnya. Ia tampak terburu-buru, tapi Nadya hanya menatapnya sebentar, memilih untuk diam meski dia sedikit penasaran.
Di parkiran, Adrian masuk ke mobilnya dan menyalakan mesin, mengarah ke timur. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan kafe yang kemarin ia kunjungi. Ia keluar perlahan, matanya menelusuri sekeliling, sebelum melangkah masuk.
Begitu masuk, pandangannya langsung bertemu dengan Naya, yang sedang bertugas sebagai kasir hari itu.
“Eh, selamat datang,” sapanya, suara formal seperti template bagi konsumen.
Adrian hanya mengangguk, menampilkan senyum tipis. Naya mengenali pria ini yang kemarin bersikap aneh padanya namun bukan dalam arti mengganggu. Justru, hatinya sedikit berdebar melihat kehadiran Adrian.
Adrian duduk di meja dekat jendela, posisinya menghadap kasir—tempat yang ideal untuk mengamati obsesinya. Ia bersikap santai, memesan kopi seperti biasa. Tak lama, pesanan itu datang.
Dari balik kasir, Naya sesekali mencuri pandang. Hari ini ada yang berbeda pada Adrian lebih menawan… dan entah bagaimana, Naya merasa sulit mengabaikan kehadirannya.
"Eh, cowok kemarin datang lagi…" teman kerja Naya menyenggolnya, suaranya penuh selidik. "Pasti dia mau ketemu kamu, tuh."
"Ah, kamu suka berlebihan," Naya menjawab sambil pura-pura sibuk di mesin kasir. Tapi sebenarnya, hatinya tak bisa bohong—ia penasaran juga, kenapa Adrian selalu tampak memandanginya, seakan ada maksud yang tersembunyi.
Saat shift berganti untuk istirahat, Naya pamit pada temannya untuk pergi mencari makan.
Adrian masih berada di kafe, matanya terus mengamati. Begitu Naya keluar, ia perlahan bangkit dari duduknya dan mengikuti langkahnya ke arah pintu keluar. Sebelum pergi, ia membayar kopi dengan scan barcode.
Rekan kerja Naya hanya tersenyum-senyum melihatnya. Dalam pikirannya, Adrian pasti jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Naya—tanpa menyadari ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, dari tatapan pria itu.
"Tunggu…" suara Adrian menghentikan langkah Naya.
Naya menoleh, sedikit terkejut melihat Adrian berjalan ke arahnya, senyum tipis menghiasi wajahnya—menawan, tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan dari tatapannya.
"Naya, ya?" tanya Adrian, suaranya tenang.
"Eh… iya…" Naya menjawab, gugup.
"Aku Adrian," katanya, sambil mengulurkan tangan.
"Oh… iya," Naya menyambut uluran tangan Adrian.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Mau cari makan," jawab Naya sedikit gugup.
Adrian mengangguk pelan, "Sama. Aku juga mau makan," katanya ramah. "Kalau kamu nggak keberatan… kita bisa makan bareng?"
Nada suaranya datar dan tenang. Tidak memaksa, tidak meminta, seolah ia benar-benar santai dengan apa pun jawaban Naya. Dan mungkin karena sikap yang terlalu tenang itulah, Naya justru merasa sulit menemukan alasan untuk menolak.
"Oh… iya, boleh," jawab Naya akhirnya.
Adrian tersenyum tipis, sopan, seolah senang. Sementara itu, tanpa Naya sadari, semuanya berjalan persis seperti yang ia inginkan.
nah ini mulai baru tanpa pengawasan ortu psychonya