NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:193.3k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kristal dan Kesepakatan

Tiga jam dalam keheningan hutan yang manis itu berlalu. Dalam kegelapan malam, hanya cahaya rembulan dan gemerlap tanaman aneh yang menerangi dua sosok yang duduk bersila. Xu Hao membuka matanya perlahan. Di dalam tubuhnya, rasa sakit dan kelelahan yang melumpuhkan telah sirna, digantikan oleh kehangatan dan kekuatan yang mengalir lancar. Proses regenerasi alami tubuhnya, diperkuat oleh pemahaman Hukum Asal, telah bekerja jauh lebih cepat daripada kultivator selevelnya.

Dia memandangi Minlie yang masih fokus dalam meditasi. Napas wanita itu sudah stabil, tapi aura-nya masih fluktuatif, tanda-tanda tenaga dan luka yang belum sepenuhnya pulih. Di dunia luar, Xu Hao bisa memulihkan diri dari pertempuran yang jauh lebih berat dalam hitungan menit. Di sini, dengan cedera yang relatif sama, Minlie membutuhkan waktu berjam-jam. Sebuah keunggulan kecil, tapi itu membuktikan bahwa bukan semua miliknya kalah. Fondasi tubuh dan hukum yang ia pahami memberikan ketahanan yang unik.

Namun Xu Hao tidak bangkit. Dia tidak mau mengganggu atau menunjukkan bahwa dia telah pulih lebih dulu. Sebaliknya, dia memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali memusatkan perhatian ke dalam. Kultivasi Dao Awakening tahap awal yang selama ini ia kendalikan ketat, terasa bergejolak setelah pertempuran brutal tadi. Tekanan ekstrem, taruhan nyawa dengan tinju dan tendangan, telah memicu sesuatu di dalam jiwanya.

Dia kembali masuk ke dalam meditasi yang lebih dalam, kali ini fokus pada inti Dao-nya. Dia merasakan tiga aliran utama: sesuatu yang putih dan mendasar, sesuatu yang merah dan mematikan, dan sesuatu yang hitam dan luas. Aliran-aliran itu, setelah pertarungan fisik murni yang hampir primitif, terasa lebih cair, lebih... responsif. Seolah-olah pertarungan itu telah mengasah bukan hanya tubuhnya, tapi juga pemahaman akan sifat dasar kekerasan, ketahanan, dan ruang gerak.

Seiring waktu, tanpa disadari, batas yang menghalanginya di tahap awal Dao Awakening mulai retak. Bukan ledakan energi besar. Tapi sebuah keheningan yang dalam, sebuah "klik" di dalam jiwanya, seperti kunci yang pas di gembok. Aliran-aliran Dao itu menyatu sedikit lebih erat, fondasinya mengeras, kapasitasnya membesar. Saat fajar mulai menyingsing, menerangi hutan dengan cahaya keemasan lembut, Xu Hao mencapai Dao Awakening tahap menengah. Terobosan itu tenang, hampir tak bersuara, hanya sebuah perasaan kepenuhan dan kejelasan yang lebih besar di seluruh keberadaannya.

Dia membuka mata, memandangi cahaya pagi yang menembus daun-daun aneh. Lalu pandangannya jatuh pada Minlie. Tanpa pertempuran itu, tanpa didorong ke ujung oleh wanita montok ini, terobosan ini mungkin butuh waktu lebih lama. Ada rasa terima kasih yang aneh, bercampur dengan kekesalan karena nyaris dikalahkan.

Dia kemudian mengendalikan aura-nya, menurunkannya kembali ke level Soul Transformation tahap akhir. Dia harus tetap berhati-hati. Dao Awakening menengah masih terlalu mencolok di wilayah seperti ini, dan identitas barunya sebagai Hei Feng harus tetap konsisten.

Tak lama kemudian, Minlie menghela napas panjang dan membuka matanya. Dia menggeliat, mengerang kesakitan, tapi terlihat jauh lebih baik.

"Sial, masih sakit semua."

Matanya yang bengkak sudah mengempis sebagian, tapi masih ada lingkaran hitam. Dia lalu menatap Xu Hao. "Kau? Sudah bangun?"

"Baru saja," jawab Xu Hao, suaranya datar.

Minlie memeriksanya dengan cermat. "Kau terlihat... lebih segar. Pulih cepat juga."

"Obatmu bagus," kata Xu Hao, menyederhanakan.

Minlie mengangguk, percaya. "Itu obat standarku. Dulu pernah dapat dari merampok... eh, meminjam, dari seorang alkemis tunawisma." Dia berdiri, melangkah goyah, lalu mencoba berjalan.

"Baik, kita harus tentukan pemenang. Siapa yang bisa ke tepi hutan duluan."

Tapi sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, Xu Hao mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah batu kristal berukuran telur ayam, berwarna biru kehijauan, memancarkan kilauan energi yang padat dan stabil. Itu adalah batu roh tingkat tinggi dari dunia luar. Di sini, berdasarkan pengetahuannya dari perpustakaan Sekte Gunung Jati, kualitasnya mungkin setara dengan Kristal Hukum tingkat menengah yang bagus.

Minlie berhenti, matanya terbuka lebar. "Itu... kristal hukum tingkat menengah? Kualitas lumayan. Dari mana kau dapat?"

"Tabungan lama," jawab Xu Hao singkat. Dia memutar batu itu di tangannya. "Kau bilang taruhannya Arak Peri. Apakah kristal ini cukup untuk membeli dua gelas? Satu untukku, satu untukmu."

Minlie tertegun, lalu tertawa terbahak-bak, yang segera diikuti oleh rengekan kesakitan.

"Hah! Kau ini aneh! Kenapa membelikan musuhmu minum? Dan kau mau bayar taruhan yang belum jelas pemenangnya?"

"Kita seri," teguh Xu Hao. "Tapi aku ingin mencoba Arak Peri itu. Dan aku juga butuh informasi tentang arena. Jadi, anggap saja ini pembayaran untuk informasi dan teman minum."

Minlie memandanginya, matanya penuh kecurigaan dan ketertarikan. "Kau tidak seperti kebanyakan kultivator tunawisma. Kebanyakan mereka pelit dan saling sikut. Kau malah mengeluarkan kristal bagus untuk minum dengan orang yang baru saja hampir memukulmu mati."

"Pengalaman bertarung tadi juga berharga," kata Xu Hao. Itu jujur.

Minlie menggaruk kepalanya yang berambut pirang kusut. "Baiklah, kenapa tidak? Aku juga haus dan butuh minuman enak setelah bertarung seperti itu. Tapi... kita harus ke Kedai Mimpi Biru dulu. Itu ada di pulau sebelah. Aku akan antarmu setelah kita minum. Dan sebagai balasan, selain informasi arena, aku akan memberi tahu beberapa trik bertarung dasar di sini. Sepertinya kau butuh itu."

Xu Hao mengangguk. "Setuju."

Mereka berjalan keluar dari hutan, Minlie masih sedikit limbung tapi bisa berjalan. Xu Hao sengaja melambatkan langkahnya agar tidak terlihat sudah pulih sepenuhnya. Mereka menuju pelabuhan kecil di sisi pulau, di mana perahu-perahu kayu sederhana yang ditenagai formasi kecil bersiap berangkat ke pulau-pulau tetangga.

Dalam perjalanan dengan perahu yang meluncur di antara awan dan pulau-pulau terapung, Minlie banyak bercerita.

"Kau lihat, di Wilayah Seribu Pulau ini, tidak ada aturan besar. Yang kuat berkuasa. Tapi ada beberapa zona. Pasar Terapung Naga Tidur itu zona netral, tempat jual beli dan hiburan. Lalu ada zona liar, tempat monster dan harta karun. Dan ada zona milik sekte-sekte terapung atau kelompok kuat. 'Sarang Naga Patah' itu milik sebuah kelompok bernama 'Pecundang Naga'. Mereka mengelola arena tarung berbayar. Bisa tarung satu lawan satu, atau bahkan masuk ke gelanggang bertahan hidup melawan monster tangkapan."

"Pecundang Naga?" tanya Xu Hao.

"Ya. Konon dulu pemimpinnya berhasil mematahkan tanduk seekor Naga Laut muda di sini, lalu mendirikan kelompoknya. Sekarang mereka bisnis taruhan dan arena. Mereka netral, tidak memihak sekte mana pun, asal bayar."

"Berapa biayanya?"

"Tergantung. Untuk tarung biasa, lima kristal hukum rendah per pertarungan, atau kalau menang dapat bagian dari taruhan. Untuk gelanggang bertahan hidup... lebih mahal, bisa sepuluh kristal menengah, tapi hadiahnya besar jika berhasil, bisa dapat bahan langka atau senjata."

Minlie memandang Xu Hao. "Kau tertarik yang mana?"

"Aku perlu mengasah teknik bertarung secara menyeluruh. Mungkin mencoba keduanya," jawab Xu Hao.

"Berani juga. Tapi hati-hati. Di arena itu, meski ada peraturan 'tidak membunuh', kecelakaan sering terjadi. Dan di gelanggang bertahan hidup... itu benar-benar hidup atau mati."

Mereka tiba di pulau tetangga yang lebih kecil, tetapi lebih rapi. Kedai Mimpi Biru adalah bangunan kayu tiga lantai dengan balkon-balkon yang menghadap ke pemandangan pulau-pulau. Suasana di dalam tenang dan elegan, berbeda dengan keramaian pasar. Pelanggannya kebanyakan kultivator dengan aura kuat, setidaknya Soul Transformation, bahkan ada beberapa yang aura-nya samar-samar seperti Nascent Soul atau lebih.

Minlie memimpin Xu Hao ke sebuah meja di sudut dekat jendela. Seorang pelayan tua dengan kumis panjang mendekat.

"Dua Arak Peri," perintah Minlie langsung.

Pelayan itu mengangguk, tanpa bertanya. Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa dua gelas kristal kecil yang berisi cairan berwarna pelangi yang berkilauan sendiri. Aroma yang keluar begitu lembut namun menusuk langsung ke jiwa, membuat pikiran terasa jernih.

"Seratus kristal hukum tingkat menengah untuk satu gelas," kata pelayan itu dengan suara datar.

Xu Hao tidak bereaksi berlebihan. Dia mengeluarkan batu kristal biru kehijauannya.

"Apakah ini cukup untuk dua?"

Pelayan mengambil batu itu, memeriksanya, lalu mengangguk. "Kelebihan dua puluh kristal. Akan kukembalikan dengan pecahan."

"Tidak usah. Simpan sebagai deposit untuk kunjungan berikutnya," kata Xu Hao.

Pelayan itu mengangguk lagi, lalu pergi.

Minlie bersiul pelan. "Kaya juga rupanya. Apa kau perampok yang sukses?"

"Bukan," jawab Xu Hao pendek. Dia mengambil gelasnya, menatap cairan pelangi itu. Lalu, dengan hati-hati, dia menyesapnya.

Efeknya langsung terasa. Bukan seperti alkohol biasa yang memabukkan. Arak Peri itu seperti embun dingin yang meresap ke dalam jiwa. Pikirannya yang masih memproses pertempuran dan terobosan tiba-tiba menjadi sangat tenang dan fokus. Kilasan-kilasan gerakan Minlie, kelemahan dalam tekniknya sendiri, bahkan pemahaman samar tentang Hukum Ruang, tiba-tiba terlihat lebih jelas. Ini benar-benar bisa membantu pemahaman hukum.

"Luar biasa," gumamnya, hampir tak sengaja.

Minlie tersenyum, menikmati gelasnya sendiri dengan mata terpejam. "Iya. Karena itu harganya gila. Tapi sekali-sekali, worth it." Dia membuka mata. "Ngomong-ngomong, kau belum sebutkan namamu."

"Hei Feng," jawab Xu Hao, menggunakan nama samaran barunya.

"Hei Feng... Angin Hitam. Sesuai dengan penampilanmu yang serba gelap dan sikapmu yang dingin," komentar Minlie.

"Baiklah, Hei Feng. Sebagai balasan kristalmu, aku akan memberikanmu beberapa tips."

Dia mencondongkan tubuh. "Pertama, di sini, jangan terlalu mengandalkan teknik elemen besar yang memakan waktu. Kultivator di sini punya indra yang tajam dan kecepatan reaksi yang gila. Teknikmu harus cepat, efisien, dan tak terduga. Kedua, pelajari lingkungan. Energi spiritual di setiap pulau punya 'rasa' berbeda. Manfaatkan itu. Kalau bertarung di pulau api, teknik apimu akan lebih kuat. Ketiga... waspadalah selalu. Bahkan di arena beraturan, orang bisa main kotor. Dan di luar... jangan percaya siapa pun. Termasuk aku."

"Termasuk kau?" ulang Xu Hao.

"Terutama aku," kata Minlie dengan senyum manis namun berbahaya. "Aku mungkin sedang bersikap baik sekarang karena arakmu enak dan pertarunganmu menarik. Besok, jika kita berebut sumber daya yang sama, aku tidak akan segan membunuhmu."

Xu Hao mengangguk. Itu adil. Itu logika dunia kultivasi yang ia pahami.

"Terima kasih atas tipsnya," katanya.

Mereka menghabiskan arak mereka dalam keheningan yang nyaman, menikmati efek pencerahan dari minuman itu. Setelah selesai, Minlie berdiri. "Ayo. Aku antar kau ke Sarang Naga Patah. Tapi ingat, setelah ini, kita tidak berhutang apa-apa. Kau bayar arak, aku beri informasi dan antar. Selesai."

"Baik," kata Xu Hao.

Mereka meninggalkan kedai, naik perahu lain menuju pulau yang lebih besar dan tampak lebih kasar. Pulau itu dipenuhi dengan bangunan-bangunan beratap seng dan kandang-kandang besar yang terkunci rapat. Suara raungan dan geraman makhluk aneh terdengar dari dalamnya. Di tengah pulau, sebuah struktur seperti koloseum kuno berdiri, terbuat dari batu hitam.

1
Aiby Kushina Uzumaki
biasa aja Thor jgn di singkat tar malah bingung n ga seru, semoga lancar urusannya...
Adriel Benedict
jangan dong, justru perang ini yang ditunggu2.. harus banyak dramanya thor tapi yang happy ending yaaa 😁
Adriel Benedict
Hebat Xu Hao kembali dengan membawa pasukan yang luar biasa 👍
Adriel Benedict
aku tahu, wanita memang begitu 🤭
Rinaldi Sigar
secangkir kopi dn vote buat author
YAKARO: Terimakasih bosss🙏🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
OldMan
Thor KLO bisa Lin sangguan kumpulin bareng an jing lgi
YAKARO: Masa mau perang ngumpul, entar kalo semua hal sudah aman👌🙏
total 1 replies
Agus Rose
untuk pertempuran dataran tengah,pembalasan dendam Xu Hao 20 bab juga ok👍👍👍.

baru naik ke Alam Dewa.
Agus Rose: Ok 👍👍gpp lebih yg penting seru
total 2 replies
G Wu
Jangan lah,ini momen yang di tunggu2, perlu pertempuran EPIK YANG MENEGANGKAN & JUGA MENGHARU BIRU.
10 bab atau lebih juga gpp.
YAKARO: Jujur minimal 20 bab bro, karena itu author iseng iseng nanya sebelum memulai arc akhir. Kalau begitu author buat kayak biasanya aja🙏
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
sorry Thor kl gw pribadi sih mending kyk biasanya aja, ya.. seperti kmrn kl emang gak terlalu penting boleh di cut,tp untuk perang penghabisan di Tianxu masa cm gitu doang,kan tujuan utama Xu Hao sejauh ini emang buat musnahin Klan Xu & anteknya sebelum dia lanjutin perjalanan ke alam Dewa buat nepatin janji ke leluhur klan Wang...
Dragon🐉 gate🐉: kl menurut gw sih, ok aja, gak masalah ( gak tau kl readers yg lain) soalnya kl cm Xu Hao yg disorot tanpa ada peralihan sm karakter yg lain, bakalan terlalu berat (Krn karakter Xu Hao sendiri dah kaku,serius,flat) dngn adanya sorotan ke yg lain itu bakalan balance, An Jing a.k.a Wei Zhu & Ling Tian yg ceria,Haoran yg bijak, Trio anomali yg suka bikin rusuh bersama Tim Kilat hitam, bakalan ngasih warna yg beragam, soalnya perjalanan Xu Hao sendiri msh panjang... tp emang sih pas ngasih space buat figuran gosah banyak-banyak, kyk chap. pas ngajemput Wei Zhu.. singkat padat BOOM slesai...😁
total 2 replies
xi tole
ya pengenya sih yang agak greget gitu tapi jangan ( sue sue nanti di ambil orang ) 🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
YAKARO: Wkwkwk🤣🤣🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
GAK, JANGAN, GW GAK SETUJU.😁
masa epic moment yg gw tungguin selama ini cm "datang-BOOM-end" laaahh.... gak seru ah Thor, setidaknya gw mau lihat si Ateng sm si TAIlong disikat,dikucek,dibanting,digerus, di uleni,digiling,smpe akhirnya gak bersisa...🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: mantaaaaafffff/Determined//Determined//Determined/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
kalem... tetua, Xu Hao gak ngapa-ngapain kok, mereka meditasi jg pisah kamar 😁
YAKARO: Iya aman. Gak boleh anu sih soalnya, takut pembaca jadi takut🤣🤣
total 1 replies
Fatur Fatur
thor habis di dataran tengah alam yang lebih tinggi dari dataran tengah apa thor tolong di jawab thor karena wanita xuhao ada yang menunggunya di alam dewa
Fatur Fatur
cepat bantai xutianlong dan xutengshi dengan cara paling kejam thor kalau perlu ambil jiwanya xutengshi hancurkan di hadapan xutianlong agar dia menyaksikan sendiri putranya mati tidak bisa bereinkarnasi
Fatur Fatur
thor ini weizhu apakah tidak menjadi istrinya mencintainya thor
Fatur Fatur
apakah siniang akan jatuh cinta pada xuhao
YAKARO: Iya. Xu Hao suka Wei Zhu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!