NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Keheningan malam di Istana Aethelgard terasa lebih mencekam daripada kegelapan di luar temboknya. Lilin-lilin di koridor utama mulai meredup, menyisakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding marmer. Di salah satu sudut terdalam istana, Alistair berdiri mematung di depan meja kayu ek yang kokoh. Di atas meja itu, Pulpen Cendana Emas tergeletak diam, memancarkan kilau redup yang seolah-olah sedang menghakimi siapa pun yang menatapnya.

Alistair baru saja mengambil benda itu secara diam-diam dari ruang penyimpanan pusaka Raja, saat ayahnya dan Morena sedang terlelap dalam mimpi indah mereka. Pikirannya buntu. Hatinya terbagi antara bukti fisik yang dibawa Morena dan insting ksatria yang terus membisikkan nama lain.

"Jika kau memang benar milik Aurora, tunjukkanlah jalanmu," bisik Alistair pada benda mati itu.

Ia teringat perkataan ayahnya bertahun-tahun lalu: “Hanya darah murni Valerius yang bisa memanggil cahaya dari Phoenix ini.” Pulpen itu bukan sekadar alat tulis; itu adalah kunci pusaka yang memiliki mekanisme sihir kuno. Jika ditetesi darah anggota keluarga kerajaan yang sah, bagian ujungnya akan mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan dan membuka segel rahasia di dalamnya.

Langkah kaki Alistair kemudian membawanya turun, jauh ke bawah tanah, menuju penjara bawah tanah tempat Ara dikurung. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai batu bergema, menciptakan irama yang menakutkan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Di dalam sel yang lembap, Ara meringkuk di sudut. Ia sangat lemah. Luka-luka di tubuhnya akibat siksaan Morena di perjalanan mulai terasa panas dan berdenyut. Saat pintu besi selnya berderit terbuka, ia mendongak dengan susah payah. Sinar obor di tangan Alistair membuatnya silau.

"P-pangeran Alistair?" suara Ara hampir tidak terdengar, parau karena kehausan.

Alistair tidak menjawab. Wajahnya keras seperti pahatan batu. Ia meletakkan obor di dinding dan mengeluarkan Pulpen Cendana Emas dari balik jubahnya. Melihat benda itu, mata Ara sedikit berbinar. "Benda itu... pangeran, itu benar-benar milik saya..."

"Diamlah," potong Alistair dingin. "Aku di sini bukan untuk mendengarkan bualanmu lagi. Aku di sini untuk mengakhiri keraguan ini secara realistis."

Alistair mengeluarkan sebuah belati kecil yang sangat tajam. Ara gemetar, mengira ajalnya telah tiba. Namun, Alistair hanya meraih tangan Ara yang terikat rantai. Dengan satu gerakan cepat, ia menggores ujung jari manis Ara.

"Akh!" Ara memekik kecil. Setetes darah merah pekat muncul dari luka kecil itu.

Alistair dengan teliti mengarahkan tetesan darah Ara agar jatuh tepat di atas ukiran burung phoenix pada pulpen emas tersebut. Jantung Alistair berdegup kencang. Ia menahan napas, menunggu keajaiban terjadi. Ia menunggu cahaya biru yang legendaris itu meledak dan membuktikan bahwa pelayan malang ini adalah adiknya yang hilang.

Satu detik... dua detik... sepuluh detik berlalu.

Darah Ara hanya mengalir di atas permukaan emas itu, lalu jatuh ke lantai tanpa memberikan reaksi apa pun. Pulpen itu tetap mati. Tidak ada cahaya, tidak ada getaran sihir, tidak ada mekanisme yang terbuka. Benda itu menolak darah Ara seolah-olah gadis itu hanyalah orang asing yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan garis keturunan Valerius.

Wajah Alistair berubah drastis. Harapan kecil yang sempat tumbuh di hatinya seketika hancur berkeping-keping, berubah menjadi kekecewaan yang sangat dalam. Ia merasa bodoh karena sempat meragukan Morena demi seorang pelayan kotor.

"Cukup," desis Alistair. Ia melepaskan tangan Ara dengan kasar.

"Pangeran... hamba tidak bohong... benda itu..." Ara menangis, ia sendiri bingung mengapa benda yang selalu terasa hangat di tangannya itu kini tidak bereaksi.

"Sudah cukup sandiwaramu, Ara!" bentak Alistair, suaranya menggelegar di ruang bawah tanah yang sempit itu. "Darah tidak pernah berbohong. Sihir kuno keluarga Valerius tidak bisa dimanipulasi. Jika kau benar-benar Aurora, pulpen ini akan mengenalimu! Tapi lihatlah, benda ini menganggapmu tak lebih dari debu jalanan!"

"Tapi pangeran, hamba memilikinya sejak hamba bayi di Noxvallys..."

"Mungkin kau memang menemukannya, atau mungkin kau mencurinya dari seseorang yang benar-benar memilikinya!" Alistair berdiri, menatap Ara dengan tatapan penuh kebencian. "Aku hampir saja mengkhianati perasaan Morena karena belas kasihan palsuku padamu. Ternyata benar kata Morena, kau adalah penipu yang paling berbahaya."

Alistair menyapu darah Ara dari permukaan pulpen itu dengan kain sutranya, seolah-olah darah itu adalah najis yang mengotori pusaka sucinya. Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Alistair tidak tahu, dan Ara pun tidak menyadari, bahwa ada alasan mistis di balik kegagalan itu. Di dalam sel gelap itu, sisa-sisa sihir hitam yang ditanamkan oleh Raja Malakor pada tubuh Ara selama bertahun-tahun di Noxvallys masih bekerja.

Sihir itu bertindak sebagai selubung yang menutupi aura murni darah Valerius agar tidak terdeteksi oleh benda sihir mana pun. Malakor telah merencanakan ini sejak lama jika suatu saat Ara ditemukan, identitasnya tidak akan bisa dibuktikan secara magis sebelum selubung itu dihancurkan.

Namun, bagi Alistair yang sangat logis dan realistis, kegagalan itu adalah bukti mutlak.

Ia kembali ke aula atas dengan langkah berat. Di sana, ia bertemu dengan Benedict yang rupanya sudah menunggunya di koridor.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Benedict pendek. Matanya menatap pulpen di tangan Alistair.

Alistair menggelengkan kepala dengan getir. "Gadis itu bohong, Benedict. Darahnya tidak memberikan reaksi apa pun. Pulpen itu menolaknya mentah-mentah."

Benedict terdiam, alisnya bertaut. "Kau yakin? Tapi instingku..."

"Buang instingmu itu!" seru Alistair frustrasi.

"Kita ksatria, Benedict. Kita hidup dengan fakta. Faktanya adalah Morena membawa benda ini, memiliki ingatan yang cocok, memiliki bekas luka, dan sekarang... darah pelayan itu terbukti bukan darah kerajaan. Kita harus berhenti bersikap emosional."

Benedict menatap kakaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lalu apa yang akan kau lakukan padanya?"

"Biarkan dia membusuk di sana sampai hari penobatan Morena. Setelah itu, biarkan hukum yang memutuskan. Aku tidak ingin mendengar namanya lagi," ucap Alistair sambil melangkah menuju kamarnya.

Sementara itu, di kamar mewahnya, Morena berdiri di balik tirai, mengamati pertemuan kedua pangeran itu dari kejauhan. Ia tersenyum sangat lebar. Ia sebenarnya tahu tentang rahasia pulpen itu karena diam-diam pernah mendengar Raja Malakor berbicara tentang selubung sihir pada tubuh Ara.

"Baguslah," bisik Morena pada bayangannya di cermin. "Makin mereka mencoba membuktikannya, makin mereka akan membenci gadis itu. Dan saat mereka sadar siapa dia sebenarnya, semua sudah terlambat. Aku akan menjadi ratu, dan Ara akan menjadi mayat di bawah tanah."

Morena kemudian mengambil sebuah botol kecil berisi cairan bening. Ia berencana untuk mengakhiri segalanya lebih cepat. Ia tidak ingin mengambil risiko jika suatu saat sihir Malakor memudar.

Di penjara bawah tanah, Ara menangis tersedu-sedu. Ia memandangi ujung jarinya yang masih mengeluarkan darah. "Mengapa? Mengapa benda itu menolakku?" ratapnya dalam kesunyian. Ia merasa seolah-olah seluruh dunia, termasuk takdirnya sendiri, telah berkonspirasi untuk membuangnya.

Malam itu, Aethelgard tampak damai di permukaan, namun di dalamnya, sebuah tragedi besar sedang terjadi. Darah sang putri telah tumpah, namun bukan sebagai pembuka jalan menuju kebenaran, melainkan sebagai penutup pintu keadilan karena prasangka yang salah. Alistair telah mengambil keputusannya, dan keputusan itu membawa Ara selangkah lebih dekat menuju maut.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!