( DALAM TAHAP REVISI)
Bibit, bebet dan bobot seringkali menjadi tolak ukur pernikahan di kalangan Ningrat tanah Jawa. Tapi, apa jadinya jika cewek metal pegawai laundry menjadi istri seorang Ningrat? Akankah dia diterima menjadi bagian dari keluarga darah biru dan sanggup mengenyahkan sifat liarnya demi sang suami tercinta? Ataukah dia hanyalah wanita dengan status yang di pertanyakan?
“Bahkan jika kakiku sampai berdarah-darah, aku tetap akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Mas!” ~ Rinjani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. [ Bencana di toko ]
Minggu pagi terjadi bencana di toko, bagaimana tidak menjadi bencana. Pemilik toko ini sudah panik tujuh keliling, heboh, melebihi hebohnya aku saat bertemu dengan band favoritku.
Pagi-pagi buta Bu Rosmini sudah datang mengacaukan tidurku. Bahkan semalam aku baru tidur jam satu. Mataku berat sulit terbuka, tapi harus aku paksa, jika tidak pagi-pagi sudah kena semprotan omelan aku.
"Hanya bertemu Kaysan saja heboh banget Bu, B aja kali." kataku sambil menyapu lantai, berkali-kali aku menguap menahan kantuk.
"Ini luar biasa Rinjani, Luar biasa!" katanya antusias sambil merapikan pakaiannya, membenarkan bedaknya. Lipstik bukan lagi, bikin aku mau ketawa.
"Kaysan datang jam delapan, jam segini ibu sudah menor. Nanti luntur loh bedaknya, waterproof gak tuh. Lipmatte gak tuh lipstik ibu?" tanyaku menggodanya, dia mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali ibu ini batinku, rasanya aku ingin tergelak dibuatnya.
"Kenapa kamu santai sekali Rinjani? Kenapa belum mandi?" ... Lah dia gak sadar kalau aku daritadi disuruh-suruh buat bersihin toko, mana sebentar lagi disuruh ke pasar beli jajanan. Buat menyambut tamu kehormatan.
"Mending ibu diem aja, daripada keringetan nanti. Bau..." kataku sambil mengapit hidungku.
Dengan cepat tangannya menepuk bahuku, "Sembarangan, parfum ibu mahal ya."
Aku mengangguk-angguk pasrah. Jika Nyonya sudah berkenan apalah daya hamba yang hanya seorang karyawan.
"Uang mana ibu buat beli jamuan." Aku menengadahkan tangan ku. Bu Rosmini dengan cekatan mengambil uang ratusan ribu dari tas branded KW nya.
"Daripada beli KW mending beli tas lokal aja Bu, yang penting ORI."
Aku menjulurkan lidahku, Bu Rosmini berteriak dengan nada cemprengnya, "Rinjani...!"
Aku tertawa, enak sekali mengerjai Bu Rosmini. Apa kabarnya dia nanti jika semalam aku pergi dengan tamu kehormatannya. Bisa pingsan kehabisan nafas dia nanti. Apa lagi jika dia tahu aku dan Kaysan, Ah.. malu rasanya membicarakannya.
Aku terlalu malu mengatakan. Biarkan jalan cerita kami menjadi rahasia, biarkan bahasa tubuh kami yang berbicara.
Aku berjalan menyusuri trotoar jalan, menuju pasar. Sepanjang perjalanan hanya ada aku dan pikiranku, bahkan aku lupa membayar hutangku pada Nina. Aku berhenti sejenak, mengambil ponselku. Menulis pesan untuk Nina,
"Datanglah ke toko, lihat drama pagi ini. Aku tunggu jam 8."
Ku selipkan lagi ponselku kedalam kantong celana.
Aku mengedarkan pandanganku, mencari bapak. Bagaimana kabar bapak, sebenarnya dia dimana, kenapa tidak pernah mencariku? Atau perkataan terakhirku menyakiti hatinya, apa aku seperti anak durhaka, bapak..., aku hanyalah anak perempuan yang menginginkan kasih sayang utuh.
Aku sampai di penjual jajanan pasar, aku kebingungan mencari apa yang cocok di belikan untuknya. Sungguh merepotkan.
Akhirnya setelah dikejar waktu, aku memilih apa saja jenis makanan yang terlihat enak. Lumpia goreng, onde-onde, bakpia, kelepon, jenang sum-sum, dan jenis-jenis lain yang tidak aku ketahui namanya.
Biarkan dia memilih kesukaannya.
Aku menenteng dua plastik putih, berjalan kembali menuju toko. Sambil mataku tetap berkeliaran mencari bapak. Sejujurnya aku rindu, tapi rasa benci dalam dadaku sulit sekali aku redam. Entah kenapa, apa mungkin terlalu banyak luka yang di toreh bapak ku. Hingga hatiku sulit terbuka lagi. Luka inipun menambah luka lainnya yang menjadi ketakutanku.
Aku sampai di toko, Bu Rosmini berdiri melambai-lambaikan tangannya. "Cepat Rinjani, sudah mau jam delapan."
Oh Astaga, semangat sekali ibu ini. Aku melebarkan langkah kakiku, "Capek aku Bu, capek." Nafasku ngos-ngosan, bagaimana tidak capek, semalam aku dan dia memilih melalui jalan setapak lagi. Kakiku pegal-pegal sampai toko, apa ini yang disebut kencan yang melelahkan. Entah kemana langkah yang akan dia bawa, sepertinya kakiku harus siap mengikutinya.
"Ditata yang rapi di piring, Rinjani."
"Iya, iya."
"Yang rapi!"
"Iya."
"Rinjani, mandi."
"Iya."
Aku menyomot onde-onde dan melahapnya. Aku bahkan belum sarapan, "Ibu makan dulu, jangan sampai nanti pingsan. Aku tidak kuat menganggat tubuh ibu." kataku sambil menyaut handuk.
"Rinjani, kok ibu deg-degan ya." Bu Rosmini memegang dadanya, matanya berbinar-binar.
"Kalau ibu gak deg-degan, yo mati to, Bu." Aku tertawa, sedangkan ibu Rosmini beristighfar sambil mulutnya berkomat-kamit.
"Do'amu jelek, Rinjani."
"Ibu sarapan jenang sum-sum dulu, nanti kalau pingsan Rinjani gakmau tau."
Aku menghabiskan waktuku dikamar mandi, ini pertemuan pertama setelah statusku berganti. Bukan lagi hanya teman semata. Masak iya mambu, 'kan gak lucu.
Aku berlama-lama di kamar mandi sempit ini. Sedangkan Bu Rosmini heboh menyuruhku untuk cepat-cepat selesai.
Rasanya aku paling jengkel jika dikamar mandi ada yang menganggu, dengan menggerutu aku menyelesaikan mandiku. Memakai pakaian dan berjalan keluar.
Memakai handbody dan pelembab wajah. Terakhir aku menyisir rambutku. Ini sudah terlalu panjang, mungkin setelah ini aku harus potong rambut, membuang sial.
Urusanku selesai, kini hanya tinggal menenangkan Bu Rosmini.
"Rinjani, bagaimana bedak ibu luntur tidak?"
"Rinjani, lipstik ibu berantakan tidak?"
"Rinjani, baju ibu lecek tidak?"
"Rinjani..."
Aku menghela nafas panjang, "Coba ibu berputar?"
Bu Rosmini menurutiku, dia berputar-putar seperti seorang model memeragakan sebuah baju.
"Sempurna. Ibu tinggal memakai bedak sedikit lagi, Cantik." kataku menyenangkannya, karena hanya inilah yang aku cari dari alasan pertemuan ini. Membuat orang-orang disekitarku senang.
"Tarik nafas, keluarkan. Tarik nafas, keluarkan."
Aku mulai tergelak dengan hidung Bu Rosmini yang kembang kempis, "Ibu santai saja ya, rilex."
Sambil menunggunya datang, aku lebih memilih untuk membalas pesan Nina.
"Drama apa Jani, aku sibuk. Ada kajian pagi di masjid dekat rumah."
"Ibu Ros, mau ketemu sama Kaysan. Sini deh, ada yang mau aku bicarakan. Penting!"
"Ada banyak makanan disini Nin, kamu bebas makan."
Pesan terakhirku ke Nina, akupun harap-harap cemas menanti Nina dan Kaysan. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 08.15, Bu Rosmini sudah pontang-panting khawatir. Jikalau Kaysan tidak jadi bertamu, sudahku pastikan. Ibu ini akan merajuk, marah padaku. Tidak mau bicara padaku.
Ayolah kali ini saja, semua berpihak padaku. Aku sudah menyerahkan diri kepada Kaysan, membiarkan dia mendaki kepercayaanku.
"Jani, kenapa dia belum datang?" Suaranya redup, tak seperti tadi saat bencana suara menghantam gendang telingaku.
"Sabar, Bu. dia pasti datang." Aku mengelus punggungnya. Tak berapa lama mobil BMW yang biasa Kaysan gunakan parkir di depan toko.
Mata Bu Rosmini berbinar-binar, dia beranjak berdiri. Merapikan gamisnya, mencari kaca untuk melihat tatanan hijabnya, "Jani, dia datang."
Hatiku berdebar-debar, tak seperti biasanya.
Bahkan belum ada 24jam kami sudah bertemu lagi.
Dia berjalan menuju pintu toko, disambut Bu Rosmini yang berkali-kali membungkukkan badannya, "GPH Kaysan."
Kaysan membungkukkan badannya juga, ia menjabat tangan Bu Rosmini.
Bu Rosmini tampak terkejut, wajahnya senang bukan main. Mungkin dalam batinnya dia mengucap hamdalah berkali-kali.
Lama bercakap-cakap dengan Bu Rosmini akhirnya tatapan mata Kaysan beralih kepadaku. Mata kita saling bertemu, hanya ada senyuman yang saling berbalas.
"Jani, buatkan minum." Eh buset, apa harus bisik-bisik juga menyuruhku. Bicara saja aku pasti tidak menolak.
Akhirnya aku berlalu meninggalkan mereka berdua, membiarkan Bu Rosmini tidak bisa tidur semalaman setelah pertemuan ini.
Like dulu, sebelum lanjut ya silent reader sayang. 🤭🙏