NovelToon NovelToon
DENDAM SANG TERKHIANATI

DENDAM SANG TERKHIANATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.

Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.

Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.

Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.

Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keira Tak Berkutik Di Depan Ardan

Keira menarik napas dalam, mencoba meredam amarah yang meledak-ledak di dadanya. Ia melangkah maju, tangannya menunjuk noda air yang mulai merembes di seragamnya. Matanya sempat melirik papan nama yang tersemat di dada kiri pria itu.

"Dengar, Ardan," ucap Keira dengan nada menuntut. "Aku tidak peduli siapa kau atau seberapa hebat motormu. Kau membuat seragamku kotor, jadi minta maaf sekarang juga."

Ardan tidak menunjukkan raut bersalah sedikit pun. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit di artikan.

Ia menyandarkan tubuhnya di tangki motor, menatap Keira dengan pandangan menelisik.

"Minta maaf?" Ardan mengulang kata itu dengan suara berat.

"Lucu banget, ya. Lo datang, menghadang jalan gue dengan kasar waktu itu, memaksaku mengantarmu ke dermaga dalam keadaan darurat, dan lo pergi begitu aja tanpa mengucapkan satu kata terima kasih pun."

Ardan melangkah mendekat, mempersempit jarak hingga Keira bisa merasakan aura dominan pria itu. "Anggap aja cipratan air ini sebagai bayaran atas bensin dan jasa ojek dadakan yang lo pakai hari itu. Sekarang kita impas, bukan?"

Keira tertegun. Mulutnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar.

Untuk pertama kalinya, Keira merasa tak berkutik.

Tak menunggu reaksi lebih jauh, Ardan membungkuk, memungut gantungan kunci plastik berbentuk granat yang dilempar Keira tadi. Ia memainkannya sejenak di jemarinya, lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya dengan santai.

"Terima kasih untuk hadiahnya. Gue anggap ini sebagai bonus," ucap Ardan singkat.

"Hei! Itu milikku! Kembalikan!" teriak Keira tersentak.

Ardan hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Ia kembali naik ke atas motor hitamnya, mengenakan helm dengan gerakan cepat, dan menarik gas hingga mesinnya menggeram dahsyat.

Motor itu melesat membelah kerumunan siswa yang mulai berdatangan, masuk melewati gerbang sekolah dengan kecepatan yang membuat satpam hanya bisa melongo.

"Ardan! Berhenti! Kembalikan gantungan kuncinya!" seru Keira, berlari kecil mencoba mengejar.

Namun, motor hitam itu sudah menghilang di balik area parkir gedung utama.

Keira berdiri mematung di pinggir jalan, seragamnya basah kuyup dan hatinya dongkol setengah mati.

Gantungan kunci itu bukan sekadar plastik, itu sudah bagai jimat keberuntungan baginya.

"Sial," umpat Keira pelan.

Keira berjalan gontai memasuki gerbang. Sebelum masuk ke kelas, ia menuju loker melihat apakah ada pakaian ganti untuknya.

Saat pintu loket di buka. Ada seragam olahraga, hingga Keira memutuskan untuk memakainya. Setelah selesai ia berjalan menuju ruang kelasnya.

Keira baru saja akan menaruh kepalanya di atas meja untuk beristirahat sejenak, ketika pintu kelas terbanting terbuka.

Tiga teman dekat Zero yang biasanya berjalan dengan angkuh masuk dengan kondisi yang memprihatinkan.

Wajah mereka lebam kebiruan, bibir salah satu dari mereka pecah, dan yang paling mencolok adalah noda bekas injakan sepatu yang mengotori seragam mereka, seolah-olah mereka baru saja dipaksa mencium lantai. Seluruh kelas seketika senyap.

Keira mencoba memalingkan wajah, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukan urusannya. Namun, rasa penasaran yang mengusik insting agennya lebih kuat. Ia tak melihat Zero di antara mereka. Mengingat perubahan sikap Zero belakangan ini, ada sesuatu yang terasa tidak beres.

"Di mana Zero?" tanya Keira singkat, suaranya memotong isak tangis tertahan salah satu dari mereka.

Mereka tersentak, menatap Keira dengan ragu. "Dia ... dia di atap gedung lama," jawab salah satu dari mereka dengan suara bergetar.

"Kakak kelas ... gerombolan kelas 12 yang menghajar kami, mereka menahan Zero di sana."

"Kenapa?"

"Zero berubah, Keira. Sudah seminggu ini dia menolak memungut uang keamanan dari anak-anak kelas 10 dan 11. Dia bilang dia mau berhenti. Tapi masalahnya, ada setoran yang harus diberikan ke kakak kelas setiap minggu. Karena Zero nggak kasih uang itu dan malah melawan, mereka marah besar. Kami dihajar karena mencoba membela Zero, tapi Zero ... dia menyuruh kami lari sementara dia menghadapi mereka sendirian."

Rahang Keira mengeras. Ia benci ketidakadilan, apalagi jika itu melibatkan perundungan seperti ini. Meski ia tidak ingin berteman dengan Zero, ia tahu perubahan sikap Zero kemungkinan besar karena pengaruh kehadirannya.

Keira berdiri, menyampirkan tasnya dengan kasar. Aura dingin yang mematikan kembali terpancar dari tubuhnya.

"Antarkan aku ke sana. Sekarang," perintah Keira.

"Tapi Keira, mereka banyak! Mereka bawa---"

"Aku tidak bertanya berapa jumlah mereka," potong Keira tajam, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Aku bilang, antarkan aku ke tempat Zero sekarang juga."

Ketakutan melihat tatapan Keira, mereka akhirnya mengangguk patuh.

Keira berjalan keluar kelas dengan langkah mantap, diikuti oleh teman-teman Zero yang tertatih.

Di dalam kepalanya, ia sudah memetakan rute tercepat menuju atap gedung lama. Jika gerombolan itu berani menyentuh Zero hanya karena pemuda itu mencoba berbuat benar, maka Keira akan memastikan mereka menyesali hari di mana mereka memutuskan untuk menjadi perundung.

1
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
SI bapak baru ngeuh klo Keira nya berubah
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh makin tegang, keira harus jujur sama papa Marvin
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
wah hebat juga frans, pasti frans curiga waktu keira keluarin jurus Combatnya
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
meilan memang harus di beri pelajaran, aq kira meilan sdh sadar trnyata belum
Dew666
🍭🍭🍭🍭
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
pasti ada dendam kesumat nih si zero sm ardan 🤔
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Di KO kan, makanya jangan sok jagoan jadi cowok 😏
Dew666
🔮🔮🔮🔮
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
ehh kenapa sma ayahnya Keira?
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh ada apa sama ayah keira jangan bilang ada turut campur orion
Dew666
💜💜💜
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
makin seru thor ceritanya🫶
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
mampus kmu orion
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
maaf kak sibuk banget kemarin.. dan gak punya tabungan bab🤧
Dew666
Tumben up cuma 1 thor?
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Dew666
🍦🍦🍦🍦🍦
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
ayoo kei saatnya beraksi, musnahkan semuanya babat habis lah
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Depinisi keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa kamu kei, niat hati pindah sekolah pengen yang lebih baik eh malah tambah parah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!