Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. DUEL DI BAWAH CAHAYA API
..."Ritual tua bertemu tantangan baru, dan kebenaran menunggu di tengah lingkaran api."...
...---•---...
Keheningan menggantung seperti kabut tebal. Api unggun berderak, percikannya terbang ke langit gelap seperti bintang-bintang kecil yang jatuh terbalik. Asap kayu bakar menyengat hidung, bercampur bau kemenyan dari sesajen Ki Darmo. Ratusan pasang mata menatap bergantian antara Doni dan dukun tua itu.
Tidak ada yang bergerak. Bahkan bayi di gendongan ibunya terdiam.
Ki Darmo menggenggam tongkatnya lebih erat. Buku-buku jarinya memutih. Otot rahang mengeras di bawah kulit keriput. Matanya berkilat tajam, tapi ada sesuatu di sana. Keraguan. Sesaat. Lalu hilang.
Dia tahu ini jebakan. Doni bisa membacanya. Tapi dia tak bisa mundur. Tidak di depan seluruh kampung.
"Baiklah." Suara Ki Darmo memecah kesunyian. Dipaksakan tegas. "Kita akan buktikan. Tapi bukan dengan orang sembarangan. Kita butuh saksi yang tidak memihak."
Ia menoleh pada Pak Lurah yang duduk dengan punggung kaku. "Pak Lurah, tolong tunjuk seseorang yang benar-benar sakit. Seseorang yang belum pernah diobati oleh aku atau anak muda ini."
Pak Lurah bangkit. Perlahan. Pandangannya menyapu kerumunan, berhenti pada seorang lelaki tua di tepi lingkaran. Tubuh bungkuk. Wajah meringis bahkan saat duduk diam.
"Pak Sarto." Pak Lurah memanggil. "Mari ke tengah."
Lelaki itu bangkit dengan susah payah. Dua orang membantunya. Setiap langkah seperti siksaan. Kaki menyeret. Napas pendek-pendek. Keringat membasahi pelipisnya meski udara malam dingin.
Cahaya api menerangi wajahnya ketika sampai di tengah. Pucat. Bibir tipis terkatup rapat menahan sakit.
"Apa yang kau derita?" Pak Lurah bertanya lembut.
Pak Sarto menarik napas. "Pinggang dan punggungku, Lurah." Suaranya lemah, parau. "Sudah tiga bulan. Tidak bisa berdiri lurus. Tidak bisa bekerja di sawah." Ia berhenti, menggigit bibir. "Rasanya seperti ditusuk-tusuk dari dalam. Setiap gerak seperti disambar petir."
"Sudah berobat ke mana?"
"Beberapa dukun di kampung sebelah. Minum jamu macam-macam." Ia menggeleng lemah. "Tidak ada yang berhasil. Malah makin parah."
Gumaman meluas di antara kerumunan. Bisikan-bisikan.
Pak Lurah mengangguk, menatap Ki Darmo dan Doni. "Ini Pak Sarto. Dia benar-benar sakit dan belum pernah kalian obati. Siapa yang mau duluan?"
Ki Darmo melangkah maju. Tidak ada keraguan. Dagu terangkat. "Aku duluan. Sebagai sesepuh, itu hakku."
Ia berjalan mengelilingi Pak Sarto. Perlahan. Tongkat diayunkan, lonceng-lonceng kecil berbunyi menciptakan irama aneh yang bergema di udara malam. Mulutnya bergumam. Kata-kata asing. Bahasa yang tidak dipahami kebanyakan orang.
Kemenyan diambil dari sesajen. Membara merah. Asapnya dikibaskan ke tubuh Pak Sarto. Bau tajam menyebar, membuat mata perih.
Gumaman makin keras. Makin cepat.
Pak Sarto tiba-tiba meringis. Tubuhnya menegang. Keringat mengalir deras di pelipisnya.
Ki Darmo terus bergumam, meletakkan tangan di punggung lelaki itu. Menekan beberapa titik. Pak Sarto menggigit bibir, napasnya pendek dan kasar.
Sepuluh menit berlalu. Keringat membasahi dahi Ki Darmo.
"Roh jahat sudah kuusir!" Suaranya menggelegar. "Sekarang coba berdiri tegak!"
Pak Sarto mencoba. Napas tertahan. Punggung mulai meluruskan.
Lalu wajahnya memucat. Bibir terbuka dalam erangan tertahan. Tubuh membungkuk lagi, lebih dalam dari sebelumnya.
"Masih sakit, Ki." Suaranya gemetar. "Malah... malah makin sakit."
Ekspresi Ki Darmo berubah. Rahang mengeras. "Itu karena rohnya keras kepala! Butuh ritual lebih lama! Kalau diulangi beberapa kali, pasti akan sembuh!"
Kerumunan mulai bergumam. Lebih keras. Mereka sudah terlalu sering mendengar ini. Janji kesembuhan yang selalu ditunda. Ritual lebih lama. Sesajen lebih banyak. Biaya lebih mahal.
Pak Lurah mengangkat tangan. "Sekarang giliran Doni."
Jantung Doni berdegup keras di telinga. Bukan karena takut. Karena ini. Momen ini. Bukan hanya tentang satu orang. Tentang kredibilitas. Tentang apakah rakyat akan menerima cara baru atau tetap terikat pada yang lama.
Satu kesempatan. Jangan gagal.
Ia melangkah maju, berdiri di hadapan Pak Sarto. Menatap mata lelaki tua itu. Ada harapan di sana. Kecil. Nyaris padam.
"Pak Sarto, saya akan menyentuh punggung dan pinggang Bapak untuk memeriksa." Suaranya tenang. Lebih tenang dari yang ia rasakan. "Mungkin akan sedikit sakit. Tapi saya perlu tahu di mana tepatnya masalahnya."
Pak Sarto mengangguk. Tubuh tegang menunggu.
Doni mulai meraba. Jari-jari menelusuri punggung. Kulit kering dan kasar di bawah telapaknya. Tulang-tulang menonjol tajam. Ia menekan lembut di berbagai titik.
Otot tegang di sini. Tulang belakang bagian bawah.
Tekanan lebih dalam di area pinggang bawah.
Pak Sarto menggigit bibir. Napas mendesis lewat sela gigi. Keringat menetes di pelipis, berkilau dalam cahaya api unggun.
"Di sini yang paling sakit?"
Anggukan. Sekali. Cepat. Tubuhnya bergetar menahan sakit.
Doni melanjutkan. "Coba bungkukkan badan ke depan. Perlahan."
Pak Sarto mencoba. Wajah meringis. Berhenti setengah jalan.
"Sekarang ke samping."
Gerakan terbatas. Kaku.
"Putar pinggang sedikit."
Nyaris tidak bisa. Erangan lolos dari bibir.
Peradangan di tulang belakang bagian bawah. Otot kejang. Mungkin ada saraf terjepit.
Doni mundur selangkah, menatap kerumunan. Ratusan wajah menunggu. "Pak Sarto mengalami masalah di tulang punggung bagian bawah." Suaranya keras agar semua mendengar. "Bukan karena roh jahat. Bukan kutukan. Ini karena tulang dan otot di punggung tegang. Meradang. Mungkin ada urat saraf yang tertekan."
Gumaman meluas.
Ki Darmo mendengus. "Omong kosong! Itu pasti ulah..."
"Pak Sarto." Doni tidak memedulikan. "Bapak dulu sering mengangkat beban berat?"
Lelaki tua itu mengangguk. "Aku buruh angkut karung padi. Sudah puluhan tahun."
"Itu penyebabnya." Doni menjelaskan pada kerumunan. "Tulang punggungnya terbebani terlalu berat. Bertahun-tahun. Sekarang saya akan melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa sakitnya."
Tikar disiapkan. Pak Sarto berbaring tengkurap dengan bantuan. Napasnya pendek-pendek. Tegang.
Kerumunan bergerak lebih dekat. Leher menjulur. Penasaran.
Doni berlutut di samping. Telapak tangannya menyentuh punggung. Hangat. Berkeringat.
Mulai dari otot yang paling tegang. Lepaskan perlahan.
Ia menekan titik pertama. Gerakan melingkar. Perlahan. Pak Sarto menegang.
"Bernapas, Pak. Pelan-pelan."
Pijatan terus bergerak. Menelusuri otot-otot punggung. Menekan. Melepas. Menekan lagi.
Otot di bawah telapaknya seperti batu. Keras. Kaku. Tapi perlahan... sangat perlahan... serabut demi serabut mulai melunak.
Napas Pak Sarto yang tadi pendek-pendek mulai mengalun panjang. Lebih dalam. Lebih teratur.
Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit.
Keheningan menyelimuti kerumunan. Hanya suara api berderak dan napas Pak Sarto yang makin teratur.
Doni berhenti. "Sekarang coba duduk. Perlahan."
Pak Sarto bergerak. Hati-hati. Seperti takut sesuatu akan patah. Ia duduk. Lalu berdiri.
Perlahan.
Punggungnya meluruskan.
Lebih tegak.
Lebih tinggi.
Mulutnya menganga. Mata membelalak. Ia mencoba memutar pinggang. Gerakan yang lima belas menit lalu mustahil.
Pinggang berputar. Sedikit. Tapi berputar.
"Tidak sakit?" Bisikannya nyaris tidak terdengar. "Atau..." Ia memutar lagi. "Jauh lebih ringan." Suaranya naik. Terkejut. "Aku bisa... aku bisa berdiri lebih tegak!"
Kerumunan terdiam.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu meledak.
...---•---...
...BERSAMBUNG...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲