NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 : Seutas pita merah

“Semuanya minggir, tolong beri jalan!!”

Teriakan lantang seorang perawat memecah hiruk pikuk di koridor. Orang-orang yang sempat berdiri kebingungan segera menepi, menyisakan jalur sempit untuk stretcher yang melaju cepat. Roda besi berdecit, membentur lantai seolah menambah ketegangan yang sudah menjerat udara.

Di atas tandu, tubuh seorang pria tergeletak tak berdaya. Warna kulitnya memucat drastis, bibirnya membiru, darah terus merembes dari lengan yang koyak parah. Beberapa mahasiswa residen berlari mengikuti, tangan mereka sibuk menekan luka dengan kain tebal yang tak sanggup menahan derasnya aliran darah.

Pintu ruang gawat darurat terayun keras. Para tenaga medis bergerak serempak, bergantian memberi instruksi. Olivia, dengan wajah penuh kecemasan, naik ke atas tubuh pasien. Kedua tangannya menekan dada korban berulang kali, suaranya parau memanggil nama Tuhan dalam hati, berharap keajaiban hadir.

Namun monitor di sisi ranjang tetap menampilkan garis lurus. Bunyi panjang yang menusuk telinga menandakan satu hal: semua sudah terlambat.

Ruangan mendadak hening. Hanya suara napas terengah-engah dari para perawat yang baru saja berpacu dengan waktu. Tatapan mereka kosong, kecewa, menyesali luka menganga yang tak sempat ditangani lebih awal.

Olivia menurunkan tangannya perlahan, matanya basah. Ia berbalik, mencari pegangan, lalu memeluk Katrina yang berdiri di sampingnya.

“Katrina… aku gagal…” suaranya bergetar, tubuhnya gemetar hebat. Hidungnya menangkap bau anyir darah bercampur aroma hangus daging yang terbakar, membuat perutnya mual.

Di sisi lain, Victoria berdiri kaku. Wajahnya pucat pasi, tatapannya terpaku pada luka mengerikan di lengan pasien. Semua terlihat buram, seperti adegan yang tak nyata, namun rasa dingin menjalari tubuhnya nyata adanya. Jari-jarinya bergerak pelan, seolah ingin menutup mata, tapi tak sanggup.

Tiba-tiba sebuah sentuhan menghentikannya. Dari belakang, Alexander meraih tangannya. Lalu dengan lembut namun tegas, ia menutup kedua mata Victoria dengan telapak tangan lainnya.

“Kau bodoh, ya? Jangan dilihat…” suaranya pelan, nyaris berbisik di dekat telinganya.

Kalimat itu masuk begitu saja ke dalam dirinya, memecah kabut yang menyelimuti. Hatinya berdebar, bukan hanya karena ngeri, tapi karena sesuatu yang asing dan hangat menyusup di tengah ketakutan.

Di sekeliling mereka, samar terdengar suara tangis beberapa residen muda. Isak lirih itu menusuk, menambah beban kegagalan yang menggantung di udara.

“Tolong kosongkan ruangan…” suara perawat senior terdengar tegas, namun menyimpan nada berat. Perlahan ia menarik selimut putih, menutup tubuh yang tak lagi bernyawa. Gerakannya penuh hormat, sekaligus getir, layaknya melepas seseorang ke dalam kesunyian terakhir.

Alexander bisa merasakan betapa dinginnya jemari Victoria di genggamannya. Entah itu ketakutan, syok, atau keduanya yang bercampur menjadi satu. Ia menunduk sedikit, menatap wajah gadis itu yang masih bersembunyi di balik tangannya. Tanpa berkata lagi, ia meraih bahunya, menuntunnya pelan keluar dari ruangan.

Victoria tidak melawan. Tubuhnya masih kaku, langkahnya mengikuti setiap tarikan Alexander. Seolah seluruh tenaganya telah hilang, dan hanya genggaman itu yang membuatnya tetap berdiri.

Suara gaduh IGD sudah lenyap, berganti sunyi taman di belakang rumah sakit. Udara malam menusuk lembut, membawa aroma tanah basah bercampur wangi samar bunga yang tumbuh di tepi jalan setapak. Tempat itu biasanya jadi ruang pernapasan bagi mereka yang lelah, tapi malam ini terasa asing, seakan menyimpan sesuatu yang tak terucap.

Alexander menuntun Victoria hingga ke sebuah kursi kayu di sudut taman. Ia mendudukkan gadis itu perlahan, baru kemudian melepaskan tangannya dari wajah Victoria. Dunia kembali terbuka, lampu taman redup memantulkan bayangan lembut di mata gadis itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Alexander, suaranya tenang, tapi matanya tajam mengamati setiap gerak.

Alih-alih menjawab, Victoria tersenyum. Senyum itu aneh, bukan tanda bahagia, melainkan seperti topeng yang menutupi rasa yang tak ingin ia tunjukkan. “Kenapa kau menutup mataku?”

Alexander menghela napas, sedikit heran. “Kau ketakutan. Tanganku dingin karena tanganmu juga dingin. Kau benar-benar tak terbiasa melihat luka seperti tadi, ya?” Bibirnya terangkat, sebuah seringai muncul seolah menantang senyum ganjil milik Victoria.

Namun senyum itu lenyap seketika, berganti raut kosong. “Terserah apa yang kau bilang. Tapi… terima kasih. Kau membuatku tidak melihat luka itu lebih lama.”

Jawaban itu membuat Alexander menegang. Ada sesuatu yang tak sesuai. Kerut samar muncul di keningnya.

“Kenapa? Apa kau akan pingsan? Atau kehilangan akal?”

“Ya… aku bisa gila.”

Kalimat itu meluncur datar, namun menancap di udara seperti belati dingin. Membuat Alexander terdiam, menimbang apa sebenarnya yang tersembunyi di balik gadis ini. Lembutkah ia? Atau ada sesuatu yang ia sembunyikan?

Keheningan singkat itu pecah oleh dering ponsel. Suara nyaring menusuk udara, Alexander merogoh saku jas. Pesan dari asistennya.

“Tuan Reed… ada laporan dari pusat.”

Bibirnya bergerak, membaca pesan tanpa suara. Seketika sorot matanya berubah, tegang, penuh rahasia. Ia menarik nafas panjang, lalu berdiri. Tanpa sepatah kata, ia meninggalkan Victoria di kursi, melangkah cepat.

Victoria mengerutkan alis, kebingungan. Ia berdiri tergesa, langkah kecilnya mencoba mengejar. “Hei! Jangan tinggalin aku!”

Alexander menoleh sekilas, suaranya dingin. “Jangan mengikutiku!”

“Kau membawaku ke sini, lalu meninggalkanku begitu saja?” wajahnya cemberut, nada suaranya seperti anak kecil yang merajuk.

“Tidak. Kalau sudah tenang, kembalilah ke IGD.” Balasan Alexander sinis, dingin tanpa menoleh lagi.

Victoria meniup udara keras dari mulutnya, pipinya menggembung kesal. “Pria jahat!”

Langkah panjang Alexander membawanya cepat, sulit dikejar Victoria yang berlari kecil di belakang. Mereka kembali masuk ke koridor rumah sakit. Lampu putih pucat menyambut, menyisakan bayangan panjang di lantai.

Melewati IGD, Alexander sekilas melirik. Pasien yang sebelumnya hampir mati kini terbaring dengan luka sudah dibalut rapi, perawat meninggalkannya untuk menunggu wali datang.

“Tuan Reed… tunggu!” Victoria menyusul, menarik ujung jas mahalnya. Alexander menghentikan langkah, menoleh dengan wajah jengkel.

“Apa lagi sekarang?” suaranya sarat ketidaksabaran, jelas ia ingin segera menemui asistennya.

“Sebentar… jangan tinggalin aku.” Permintaan lirih itu keluar, tapi tak lama kemudian Victoria melepaskan genggamannya dan berlari menuju ranjang pasien.

Alexander menatap dari kejauhan. Gadis itu berdiri disisi tempat tidur, wajahnya lembut saat meraih tangan korban. Dari sakunya, ia mengeluarkan sesuatu—benda kecil yang tak terlihat dari kejauhan. Dengan hati-hati ia mengikatkannya di jari pasien yang lemah.

Alexander memicingkan mata. Gerakannya cepat, tapi cukup bagi matanya untuk menangkapnya. Benda itu terasa akrab.

Pita merah…

Ia pernah melihatnya entah di mana. Rasa tak asing menekan dadanya, seolah ada sesuatu yang hampir teringat namun ditahan.

Usai mengikat, Victoria segera berbalik dan berlari lagi, berusaha menyusul Alexander yang sudah melangkah lebih dulu.

Di baliknya, pasien itu tetap terbaring, tak menyadari seutas pita merah kini menghiasi jarinya. Pita yang tampak sederhana, namun menyimpan misteri, seperti tanda rahasia yang sengaja ditinggalkan.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!