Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Enemies
Dunia bisnis di puncak piramida Jakarta bukanlah tempat bagi mereka yang memiliki nurani. Tempat itu adalah ekosistem penuh bahaya yang siap menerjang kapan saja jika lengah. Setiap jabat tangan berisi intrik tersembunyi, setiap senyuman adalah kamuflase dari taring yang siap menerkam.
Di sebuah ruangan gelap beraroma tembakau pekat, seorang pria duduk bersandar pada kursi kebesarannya. Tubuhnya atletis, dibalut setelan jas mahal mengkilat. Tangan kanannya memegang sebuah cerutu yang menguarkan asap tipis.
Lelaki itu bernama Julian Vane, sedang menatap layar digital yang menampilkan grafik kerugian perusahaannya akibat manuver Axel bulan lalu.
Julian adalah kontradiksi dari Axel. Jika Axel adalah sosok seperti baja yang kuat, dingin dan penuh perhitungan. Sementara Julian adalah sosok seperti api, licik dan jahat. Julian sangat berambisi untuk menghancurkan Axel dan Steel Group. Lelaki itu ingin melihat sosok sombong dan angkuh Axel Steel berlutut dikakinya. Memohon belas kasihan.
"Si keparat itu seperti tidak punya kelemahan," gumam Julian, asap cerutu tebal keluar dari bibirnya.
"Hingga gadis kedokteran itu muncul." Senyum jahat tersungging di bibirnya yang tebal. "Akhirnya si bodoh itu, memperlihatkan kelemahannya pada dunia."
Julian dan ambisinya mulai mempelajari profil Sesilia Kira, tunangan rival bisnisnya. Lelaki itu menyewa banyak intelijen swasta untuk sekedar memantau gadis itu.
"Profil gadis ini sangat menarik. Miskin. Yatim. Dan tersiksa. Hahahaha." Julian tertawa terbahak-bahak.
"Mainan baru Axel Steel yang kotor dan menjijikkan! Mereka benar-benar pasangan serasi!" Julian kembali tertawa keras.
Kemudian, selembar kertas berisi profil gadis bernama Andin Pratama menginterupsinya.
"Musuh Sesilia ya...." Beo lelaki itu, tampak menimbang-nimbang sesuatu. Ia melihat sebuah boneka sempurna, dipenuhi rasa iri dan benci, juga memiliki akses langsung pada Sesilia. Apalagi ayah gadis bernama Andin itu sedang mencari suntikan modal untuk jaringan kliniknya.
"Gotcha!" Bisiknya.
"Panggil pemilik Klinik Pratama." perintah Julian kepada asistennya. "Katakan padanya, aku tertarik untuk melakukan ekspansi besar-besaran bersamanya. Dan katakan juga bahwa aku...... sangat mengagumi putrinya."
.....
Pertemuan bisnis segera berlanjut menjadi makan malam privat yang megah di sebuah restoran fine dining yang dipesan khusus. Ayah Andin, Wijaya Pratama duduk dengan wajah berseri-seri. Ia yang mendapat kabar bahwa Julian Vane ingin berbisnis dengannya sangat bahagia. Kesempatan emas ini adalah jalan pintas bagi kenaikan kasta yang tidak pernah terbayangkan.
Andin duduk di samping ayahnya, mengenakan gaun sutra merah yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Gaun yang dirancang khusus untuk gadis itu. Awalnya, Andin bersikeras menolak tawaran ayahnya untuk bertemu lelaki bernama Julian Vane. Tetapi setelah sang ayah menunjukkan fotonya, wajah kuyu Andin berubah 180 derajat.
Andin hampir meneteskan air liur bak anjing kepanasan, saat bertemu Julian untuk pertama kali. Lelaki itu memancarkan aura predator yang anggun, wajah tampannya memesona, tubuh atletis juga bau uang-nya yang menguar pekat. Andin langsung jatuh pada pesona Julian.
"Putri Anda, sangat cantik, Pak Wijaya," Ucap Julian setelah duduk dengan tenang di kursinya. Lelaki itu menatap Andin dari ujung rambut hingga ujung sepatu hills-nya. Tatapannya intens, membuat semburat merah muncul di pipi Andin.
"Thank you," Andin menjawab pelan, malu-malu.
Melihat interaksi itu, lonceng emas langsung berbunyi nyaring dalam kepala Pak Wijaya. Ia melihat kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali. Julian Vane ternyata sangat menyukai putrinya.
"Andin adalah putri kebanggaan kami, Tuan Vane," jawab Wijaya penuh harap.
Julian menyesap wine merahnya pelan, matanya berkilat di bawah cahaya lilin.
"Aku sedang mencari seseorang untuk mendampingiku. Sebagai pemimpin Vane Group, aku membutuhkan kehangatan pelukan dari seorang wanita. Pendamping yang setara denganku."
Suara Julian yang mengalun lembut bagaikan alunan orkestra indah di telinga Andin.
Rasa haus akan validasi, dendam dan kebenciannya terhadap Sesilia menemukan muaranya pada Julian. Malam itu, di balik kesepakatan modal usaha jutaan dolar, sebuah perjanjian pertunangan lahir. Sebuah pertunangan yang bagi Andin adalah bukti cinta, namun bagi Julian hanyalah investasi licik penghancur Axel Steel.
.....
Beberapa minggu kemudian, kabar itu meledak bak air bah di semua media sosial dan kanal berita. Meski tidak mampu menandingi berita pertunangan Axel dan Sesilia yang legendaris, berita pertunangan Julian Vane dan Andin Wijaya tetap menjadi topik panas.
Foto-foto mereka yang berpose di atas kapal pesiar pribadi milik Julian tersebar luas. Julian sengaja memastikan foto-foto itu terlihat sangat mesra. Agar menciptakan narasi bahwa ia adalah pria hangat yang jatuh cinta pada sosok tunangannya.
Namun, di balik semua itu. Sebenarnya Julian sangat muak pada Andin. Gadis itu lebih mirip jalang murahan daripada anak dari seorang berpengaruh seperti ayahnya. Tipikal gadis yang tumbuh dalam kemewahan dan kasih sayang konyol dari semua orang. Hingga gadis itu tumbuh menjadi pribadi yang haus akan validasi, manja dan bodoh. Yang bisa dia banggakan hanyalah tubuhnya dan sedikit kekayaan milik ayahnya.
Diantara semua itu, ada satu hal baik yang dimiliki Andin, yaitu sikap jahat dan mulut tajamnya. Dua hal itu sangat berguna untuk menyiksa tunangan Axel.
"Gunakan semua ini, sayangku," bisik Julian suatu malam sambil memberikan kartu kredit tanpa batas. "Tunjukkan pada seluruh mahasiswa siapa ratu kampus yang sebenarnya."
"Jangan biarkan gadis miskin itu merasa tenang sedetik pun." Teriak lelaki itu dalam hati.
Andin, yang memang telah buta oleh delusi cinta dan kekuasaan, tersenyum lebar. Ia merasa telah menang, merasa telah memiliki pelindung yang setara untuk menghadapi Sesilia.
...
Kembalinya Andin ke kampus setelah pengumuman pertunangan itu dilakukan dengan gaya yang sangat mencolok. Ia tidak lagi datang dengan mobil yang biasa dipakainya. Kini gadis itu diantar oleh supir pribadi Julian dengan mobil sport mewah.
Andin melangkah menyusuri koridor dengan langkah yang lebih keras, bunyi tumit sepatunya terdengar seperti detak lonceng kematian bagi ketenangan Sesilia. Ia kini lebih berani mencari masalah secara terang-terangan.
Di kantin fakultas, Andin sengaja menabrak meja tempat Sesilia sedang belajar sendirian.
"Oh, sorry. Aku tidak lihat ada debu di meja ini," ucap Andin dengan nada meremehkan. Di jari manisnya, sebuah cincin berlian besar berkilau, sengaja ia pamerkan tepat di depan wajah Sesilia.
Sesilia mendongak, matanya tenang namun waspada. "Can I help you, Kak Andin?"
"Just want to tell you, Sesi" Andin mendekat, suaranya cukup keras untuk didengar oleh meja-meja di sekitarnya. "Tunanganku tercinta, Julian, baru saja menyumbangkan satu set peralatan radiologi terbaru untuk fakultas ini. You know why? Karena lelaki itu sangat mencintaiku dan ingin memastikan bahwa tunangannya belajar di tempat terbaik. Bukan seperti tunanganmu yang bisanya mengurungmu seperti hewan percobaan di laboratorium pribadinya."
Sesilia menutup bukunya dengan tenang. "Selamat atas pertunanganmu, Kak. I hope you really....happy."
Andin tertawa sinis, tangannya menggebrak meja. "Are you jealous, Sesi? Julian jauh lebih tampan dan hangat daripada tunanganmu. Setidaknya Julian mencintaiku karena aku sepadan dengannya, bukan karena dia butuh objek untuk dikontrol!"
Semua mahasiswa di tempat itu menatap Andin horor, sebagian berbisik-bisik pelan. Yang lainnya tertawa pelan. Mengomentari sikap kekanak-kanakan Andin.
Sedangkan Sesilia, hanya melenggang pergi. Malas menanggapi dengungan lalat kotor bernama Andin.
"Do whatever you want, kak. I don't care." Setelah mengatakan hal itu, Sesilia melenggang pergi. Dengan anggun.
Mahasiswa yang menyaksikan kembali berbisik-bisik heboh. Tanggapan Sesilia pada ejekan Andin sungguh sangat keren.
"She's so cool!" Salah seorang mahasiswa berteriak tanpa sengaja.
"Shut your fuckin mouth, idiot!" Andin berteriak marah. Lalu segera pergi sambil menahan malu. Dibelakangnya, suara ejekan dan tawa dari mahasiswa yang menyaksikan menggema, membuat mood Andin semakin buruk.
....
bau bau bucin😍😄