NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pikiran Tertuju Padanya.

Langkah mereka semakin cepat begitu sampai di depan toko. Bel kecil di atas pintu berbunyi nyaring saat didorong.

“Permisi!” seru Gio cepat.

Toko itu tidak terlalu besar, tapi cukup lengkap. Rak-rak kayu dipenuhi berbagai barang—alat tulis, plastik kemasan, hingga bahan-bahan kerajinan sederhana.

Di balik meja kasir, Bu Sari menoleh. “Oh, anak sekolah. Mau beli apa?”

Gio langsung maju duluan. “Bu, ada lilin? Sama pewangi, sama sumbu—”

“Pelan-pelan,” potong Bu Sari sambil tersenyum tipis. “Satu-satu.”

Arga tidak langsung ikut bicara. Ia berdiri sedikit di belakang Gio, matanya menyapu isi toko dengan cepat.

Lilin.

Pewangi. Sumbu. Matanya sempat berhenti di salah satu rak… tapi pikirannya tidak benar-benar di situ.

Hana. Sejak pagi, wajah itu terus muncul di kepalanya. Cara Hana diam di aula. Cara dia hanya bilang “nggak apa-apa”, padahal jelas ada yang tidak beres.

Rahang Arga sedikit mengeras. "Gak mungkin cuma karena lilinnya pecah,” gumamnya pelan.

“Hah?” Gio menoleh.

“Enggak,” jawab Arga singkat.

Gio mengangkat bahu dan kembali fokus ke Bu Sari.

“Bu, yang itu boleh lihat?” katanya sambil menunjuk ke rak.

Bu Sari bangkit. “Oh, itu lilin batang. Parafin juga ada di bawah.”

Sementara Bu Sari mengambil barang, Gio sudah menunduk lagi ke HP-nya. Jarumnya bergerak cepat di layar. Chat terus masuk. Centang biru. Dibalas lagi.

Arga melirik sekilas. “Ngapain sih?” tanyanya datar.

“Penting,” jawab Gio tanpa mengangkat kepala.

“P5?”

Gio menggeleng kecil. “Bukan.”

Arga tidak bertanya lagi, tapi matanya sempat menyipit.

“Jangan lama,” katanya pendek.

“Iya, iya.”

Notifikasi berbunyi lagi. Gio langsung mengetik cepat, bahkan sedikit menjauh dari meja kasir. Arga menghela napas pelan. Waktu mereka cuma lima belas menit, dan Gio malah sibuk dengan HP.

Ia melangkah mendekati rak sendiri, mengambil beberapa lilin, lalu menoleh ke arah Bu Sari.

“Bu, ini berapa?”

“Yang itu sepuluh ribu satu pak.”

Arga mengangguk. “Ambil tiga.”

“Pewanginya?” tanya Bu Sari.

Arga sempat diam sepersekian detik. “Lavender ada?”

“Ada.”

“Ambil dua.”

Gio akhirnya kembali, masih menggenggam HP. “Eh, tunggu—ambil yang vanilla juga, Ar"

Arga menoleh. “Kenapa?”

“Lebih laku,” jawab Gio cepat.

Arga menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “Terserah.”

Bu Sari mulai menghitung barang di meja.

Sementara itu, Gio kembali melihat layar HP-nya. Ekspresinya berubah sedikit—bukan panik, tapi serius. Alisnya mengerut tipis.

Arga memperhatikan dari samping. “Kamu kenapa?” tanyanya singkat.

Gio tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengunci layar.

“Gapapa,” katanya.

Arga menatapnya sebentar lagi, lalu mengalihkan pandangan. “Cepetan bayar.”

Bu Sari menyebutkan total harga. Gio langsung merogoh saku. “Gue bayar dulu.”

Arga tidak protes. Biasanya dia akan menawarkn untuk patungan. Tapi sekarang… pikirannya ke tempat lain.

Hana. Kalau saja mereka telat… Kalau stand mereka kosong… Kalau Hana harus berdiri di sana sendirian… Rahang Arga kembali mengeras.

“Buruan,” katanya, kali ini lebih tegas.

Gio meliriknya. “Iya, santai—”

“Kita tinggal sepuluh menit,” potong Arga.

Gio terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Oke.”

Barang dimasukkan ke dalam plastik. Gio mengambilnya.

“Makasih, Bu!”

“Iya, hati-hati di jalan!”

Mereka langsung keluar. Bel pintu berbunyi lagi. Begitu sampai di trotoar, Arga langsung berjalan cepat tanpa menoleh.

Gio menyusul di sampingnya. “Ar,” panggilnya.

Arga tidak berhenti. “Apa?”

Gio terdiam sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu.

Tapi akhirnya hanya menggeleng. “Nggak jadi.”

Arga tidak menanggapi. Langkahnya tetap cepat. Matanya lurus ke depan. Tapi pikirannya— masih tertinggal di aula.

Pada satu orang yang sejak tadi tidak bisa ia abaikan. Hana. Dan entah kenapa… perasaan tidak enak itu belum juga hilang.

****

Sementara itu, di sisi lain…

Ruangan itu lebih sepi dari yang Hana bayangkan. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit, dan sesekali bunyi klik dari mouse di tangan Kenzo.

Layar monitor di depan mereka memancarkan cahaya kebiruan. Rekaman CCTV diputar ulang. Lagi. Dan lagi.

“Itu… pause di situ,” kata Hana pelan.

Kenzo langsung menekan tombol. Gambar berhenti. Sosok seseorang terlihat memasuki kelas mereka. Tapi buram. Wajahnya tidak benar-benar terlihat—seperti tertutup bayangan, atau memang sengaja menghindari kamera.

Hana sedikit mendekat. Matanya menyipit.

“Zoom bisa?”

“Bisa, tapi…” Kenzo menggerakkan mouse. “Kualitasnya bakal pecah.”

“Coba aja.”

Klik.

Gambar diperbesar.

Dan benar saja—semakin diperbesar, semakin kabur. Hanya terlihat bentuk tubuh. Tinggi sedang. Memakai hoodie. Topinya ditarik ke depan.

Wajahnya tetap tidak terlihat jelas. Hana menelan ludah pelan.

“Orangnya tahu posisi kamera,” gumamnya.

Kenzo melirik. “Maksudnya?”

“Dia nggak pernah ngadep langsung ke kamera.”

Kenzo kembali melihat layar. Diputar sedikit. Dihentikan lagi. Benar. Setiap kali sosok itu bergerak, wajahnya selalu menunduk… atau membelakangi. Seolah disengaja.

Kenzo menghela napas. “Ini susah.”

Hana tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada layar. Diputar lagi. Kali ini lebih pelan. Detik demi detik. Sosok itu mendekat ke lemari kelas. Lalu berhenti

Crack.

Suara kecil terdengar dari rekaman.

Hana langsung menegang. “Itu,” bisiknya.

Kenzo menghentikan video. “Dia yang mecahin.”

Hana mengangguk pelan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena lilinnya. Tapi karena ini bukan kecelakaan. Ini disengaja.

“Lanjut,” kata Hana.

Video diputar lagi. Setelah itu, sosok tersebut tidak langsung pergi. Ia berdiri sebentar. Lalu menoleh—sedikit.

“Stop!” Hana maju cepat.

Kenzo menghentikan video. Mereka berdua diam. Itu momen paling jelas sejauh ini. Tapi tetap saja… tidak cukup.

Wajahnya masih tertutup bayangan hoodie. Hanya terlihat sedikit bagian dagu. Dan—

“Hm…” Hana mendekatkan wajahnya ke layar. “Kayaknya emang beneran cewek deh."

Kenzo terdiam.

“Kenapa?” tanya Kenzo.

Hana tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap layar. Dia melihat detail-detail kecil orang itu, seperti bentuk tangannya, postur tubuhnya, dan beberapa helai rambut panjang yang mencuat dari balik hoodienya.

Entah kenapa… ada sesuatu yang terasa familiar.

“Bisa diperjelas lagi?” tanya Hana.

Kenzo menggeleng. “Udah mentok.”

Hening.

Hana menelan ludah pelan. “Coba foto layarnya,” katanya tiba-tiba.

Kenzo menoleh. “Buat?”

“Habis itu kita edit. Naikin brightness, kontras… apa kek, kan bisa diperbaiki kualitas gambarnya pake aplikasi”

Kenzo langsung paham. “Oh iya.”

Ia cepat mengambil HP, memotret layar dari beberapa sudut.

Cekrek.

Hana menunggu di sampingnya. Tangannya dingin. Perasaannya mulai tidak nyaman. Kenzo mulai mengutak-atik foto. Brightness dinaikkan. Kontras diubah. Shadow diturunkan, dan terakhir memperbaiki kualitas foto lewat aplikasi.

Perlahan—detail mulai muncul. Sedikit demi sedikit. Masih buram. Tapi… ada sesuatu.

Kenzo berhenti. “Han…”

Hana menoleh cepat. “Apa?” Kenzo tidak langsung bicara. Ia hanya memutar layar HP ke arah Hana.

“Kamu lihat sendiri.”

Hana mengambil HP itu. Matanya langsung fokus. Detik pertama ia menyipitkan matanya. Detik kedua alisnya mulai mengerut. Detik ketiga seketika napasnya tertahan.

“Itu…” Suaranya hampir tidak keluar.

Kenzo menatapnya. “Kamu kenal?”

Hana diam. Lama. Jari-jarinya sedikit gemetar. Gambar itu masih tidak jelas. Tapi ada satu hal yang terlihat— sebuah gelang tipis di pergelangan tangan sosok itu.

Gelang yang… Hana tahu persis. Ia pernah melihatnya. Sering. Terlalu sering.

“…iya,” jawabnya pelan.

Kenzo langsung menegakkan badan. “Siapa?”

Hana tidak langsung menjawab. Pikirannya berputar cepat. Kalau dia benar… kenapa? Kenapa harus—

“Hana?”

Kenzo memanggil lagi.

Hana menarik napas dalam. “Pelakunya... temen sekelas ku"

Ruangan itu terasa lebih dingin seketika.

Kenzo membeku. “Hah?”

Hana masih menatap layar. “Gelang itu punya dia.”

Suasana berubah. Ini bukan lagi sekadar mencari pelaku. Sekarang… ini jadi sesuatu yang jauh lebih pribadi.

Kenzo menghela napas panjang. “Lo yakin?”

Hana terdiam. Beberapa detik.

“…aku harap aku salah.”

Tapi jauh di dalam hatinya— ia tahu. Kemungkinan besar… dia tidak salah.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!