Mu Yongsheng adalah jenderal Kekaisaran Dalu yang sangat setia. Tiba-tiba kekaisaran Dalu yang tenang itu menjadi kacau dengan kematian sang putri dan pengkhianatan yang di lakukan oleh sang perdana mentri.
Saat Mu Yongsheng membantu sang kaisar menyelamatkan diri dari kekacauan itu, dirinya terjatuh di dasar jurang hitam, hingga akhirnya bertemu dengan Zhaoyang seorang pendekar suci.
Pertemuan itu mengubah jalan hidupnya.
Bagaimana kisahnya?
Simak terus PENDEKAR PEDANG DARI TIMUR, dan dukung penulis dengan:
👉Like,
👉Rite dan
👉koment.
🙏Terima Kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhistira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Teperdaya
Puncak gunung hitam.
Tiga hari kemudian, Tiung dan Congheng beserta rombongannya tiba di puncak Gunung.
" Di mana Hongli dan Huanran?" tanya Tiung heran, sambil memperhatikan pedang yang berada di tangan kanan Yongsheng.
Di sekitar tebing tampak terlihat bekas tanda-tanda pertarungan dan ceceran darah segar.
" Jenderal Congheng, sepertinya Yongsheng telah membunuh Hongli dan Huanran."
" Mengapa kalian menatapku seperti itu? Apakah kalian mencari seseorang, atau kalian menginginkan benda ini?" sambil menunjukkan lencana dan cincin ke kaisaran palsu pada Tiung dan Congheng.
" Itu dia," ucap Congheng senang.
" Benar, Yongsheng telah membunuh Hongli dan Huanran. Jika tidak demikian, bagaimana dia bisa memiliki lencana dan cincin ke kaisaran itu," ucap Tiung berpendapat.
" Yongsheng berikan benda itu maka kami akan mengampuni nyawamu!" ucap Congheng sambil mengarahkan tombak yang ada di tangannya.
" Aku akan memberikan benda ini tapi dengan satu syarat."
" Katakan, syaratnya!"
" Congheng, aku ingin kamu membunuh semua prajurit yang ada, dan menyisakan kalian berdua saja. Bagaimana?" sambil menujuk ke arah Tiung.
" Baji**n, syarat yang seperti apa itu. Aku tidak akan pernah melakukannya, sungguh gil*!" umpat Congheng.
" Oh, Apakah kalian pikir aku ini juga bodoh. Cogheng, aku tahu kekejamanmu. Aku tidak yakin kamu akan mengampuni nyawaku. Jika kamu tidak mau memenuhi persyaratan ku, maka aku akan membawanya pergi bersamaku." Sambil mendekati tebing jurang.
" Yongsheng, Jangan Gila. Setelah susah payah mendapatkannya, bahkan telah membunuh saudara sendiri, lalu kau ingin mati ?"
" Benar, aku telah membunuh Kaisar Hongli dan saudaraku sendiri untuk mendapatkan benda ini, tetapi aku juga yakin kalian tidak akan pernah mengampuni nyawaku." Yongsheng merasa sedikit senang, karena Conghen mepercayai bekas tanda pertarungan dan darah hewan segar yang dia cecerkan di sekita tebing.
" Yongsheng, berikan benda itu padaku, maka aku akan mengampuni nyawamu." Tiung dengan segera menyela.
" Orang gunung, bicaramu cukup manis. Sama seperti saudaramu yang telah menghianati Kaisar," ucap Yongsheng Sambil tertawa dengan keras.
" Cih... , Apa bedanya dengan dirimu sekarang yang telah membunuh Kaisar?" Balas Tiung dengan kesal.
" Orang gunung yang barbar, yang tidak beradab, jika bukan karena ulah saudaramu yang berkhianat itu, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi. Jangan pernah berbicara denganku lagi, kamu tidak pantas!"
Dengan seketika wajah Tiung berubah merah.
" Congheng, aku telah memberimu pilihan. Jika kamu tidak mau melakukannya, maka selamanya benda ini akan hilang."
Terlihat keraguan di wajah Congheng dan kecemasan di wajah Tiung.
" Perdana Menteri Tiung, Apa yang harus kita lakukan?" tanya Cogheng.
Tiung terlihat ragu saat melihat wajah orang-orang kepercayaannya.
" Apakah aku harus bunuh saudara-saudaraku demi benda itu, ah tidak," batinnya.
" Congheng, waktu dan kesabaran ku terbatas!" teriak Yongsheng.
Tanpa ragu Congheng, lalu menombak pendekar tingkat Kaisar yang berada di sampingnya.
" Congheng, apa yang telah kau lakukan?" teriak Tiung marah saat melihat salah satu orang kepercayaannya tewas seketika dengan tombak menancap pada jantungnya.
" Apakah kita memiliki pilihan. Apakah kau lebih mementingkan orangmu itu, atau dua benda yang ada di tangannya?"
" Tapi mereka adalah orang kepercayaanku, dan mereka adalah saudaraku. Kamu tidak bisa semena-mena membunuhnya di hadapanku."
" Perdana menteri Tiung, Apakah anda tidak takut pada Yang Mulia Taolie yang akan menguliti mu?"
Tiung terdiam, pikirannya benar-benar buntu.
" Congheng, kamu telah terpedaya. Yongsheng adalah ahli strategi. Bagaimana mungkin dia begitu tega membunuh orang yang begitu dihormatinya, terlebih lagi membunuh Huanran saudaranya. Kamu tentu lebih tahu loyalitasnya pada Hongli!"
" Perdana Mentri Tiung, apa yang telah membuat anda berpikir seperti itu. Lihat situasinya. Yongsheng juga manusia. apa dia rela menderita dan mengikuti orang yang tidak akan pernah menjadi Kaisar lagi? apakah kamu bo**h!" Congheng sangat gusar saat Tiung mengatakan dirinya terpedaya, karena sama saja menganggap dirinya bodoh.
Yongsheng yang melihat petengkaran itu sangat senang.
" Kamu mengatakan aku bodoh!" Tiung langsung menyerang Congheng dan melayangkan pukulan terkuat nya.
Pertarungan antara Tiung dan Congheng menjadi tidak terelakkan. Prajurit yang berada di belakang mereka terlihat kebingungan, karena mereka tidak tahu siapa yang harus mereka bantu.
Tiung yang merupakan pendekar tingkat Kaisar dengan mudah menekan Congheng yang merupakan pendekar Raja tingkat Puncak.
Dentingan mata tombak dan pedang yang digunakan oleh Congheng dan Tiung terus beradu.
" Prajurit, apa yang kalian lihat, bantu Jendral kalian dan jangan biarkan orang Barbar itu membunuhnya!" Yongsheng memprovokasi puluhan prajurit elit yang merupakan para pendekar Jenderal tingkat puncak.
Dengan segera, prajurit itu lalu bergerak membantu jenderal Congheng.
Kekacauan terjadi. Dua kubu yang seharusnya bersatu untuk menangkap Yongsheng kini bertempur dan saling membunuh.
Tiung dengan empat pendekar tingkat kaisar dan sepuluh pendekar tingkat raja dengan mudah membunuh prajurit yang mengikuti Congheng yang merupakan para pendekar tingkat jenderal.
Memanfaatkan situasi tersebut, Yongsheng begerak secara perlahan mundur dari area pertempuran.
Swhus... Tombak melesat ke arahnya.
" Hentikan pertarungan, lihat dia ingin melarikan diri!" seorang pendekar tingkat kaisar menunjuk ke arah Yongsheng yang hendak kabur dari tempat itu.
" Congheng, lihat! Kita telah di perdaya," ucap Tiung tampak kesal.
" Bunuh Dia!" perintah Congheng pada prajurit yang tersisa.
Prajurit lalu bergerak dan menyerang.
" Bod*h! " ucap Yongsheng lalu menyerang prajurit yang mendekatinya.
Satu-persatu puluhan prajurit yang tersisa itu dirobohkan oleh Yongsheng dengan mudah.
Setelah membunuh satu prajurit yang tersisa, Yongsheng lalu duduk dengan tenang, sambil membersihkan pedangnya yang berlumuran dengan darah.
" Congheng si dungu, dan Tiung si barbar, aku sangat menyenangi perasaan ini." Sambil menatap Congheng dan Tiung dengan ke empat pendekar kaisar dan sepuluh pendekar tingkat raja yang menatapnya dengan mata mengkilat. Terlebih Congheng dan Tiung dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
" Congheng si dungu, dan Tiung si barbar, bertarunglah. Salah satu diantara kalian akan mendapatkannya aku berjanji. Jika tidak, aku akan membawanya pergi bersamaku ke dalam jurang ini." Sambil mengulurkan tanganya yang memegang kantong hitam yang berisi lencana dan cincin ke kaisaran yang palsu.
" Yongsheng! Jangan pernah melakukannya?" Teriak mereka bersamaan.
" Oh, Apakah aku memiliki pilihan?"
Sepuluh pendekar tingkat raja bergerak secara perlahan mendekati Congheng.
" Jangan bod*h! Apakah ingin ditipu kembali, Yongsheng tidak akan pernah memberikan benda itu."
" Setidaknya kami patut mencoba," ucap Tiung sambil tersenyum lalu meminta ke sepuluh pendekar itu untuk membunuh Congheng.
Pertempuran tidak seimbang itu terjadi. Congheng yang hanya seorang diri dapat ditekan dengan mudah oleh sepuluh pendekar itu. Walaupun demikian, pengalaman pertempuran Congheng lebih tinggi sehingga dirinya dapat merobohkan beberapa di antara mereka dengan tusukan tombaknya yang mematikan."
" Akhiri pertempuran itu!" Tiung memberi perintah pada keempat pendekar kaisar yang ada di sisinya.
" Kalian Begitu bod*h dan tol*l, karena telah diperdaya oleh Yongsheng!" umpat Congheng sambil menahan serangan dari para pendekar tingkat Kaisar.
Dalam waktu singkat, salah satu tombak yang digunakan oleh pendekar tingkat Kaisar menancap di punggung Congheng.
" Ah..." teriaknya kesakitan lalu roboh.
Dengan segera para pendekar itu menghentikan serangannya dan membiarkan Congheng yang terlihat kesakitan.
krn cintanya tertuju pd jia li
sungguh mengharukan