arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERCERAI
ARIF Wistam akhirnya pulang juga, tetapi makan malam sudah dingin.
Brak!
Dia melemparkan surat cerai di depan Erika Baswara.
"Sepupumu sudah bangun, dan aku berjanji padanya bahwa dia akan menjadi satu-satunya Nyonya Wistam dalam hidupku. Erika, sekarang waktunya untuk menandatangani perjanjian. Kita akan bercerai."
Setelah sepupu Erika sadar dari koma satu bulan yang lalu, dia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat.
Namun tetap saja, dia menatapnya dan bertanya dengan getir, "Kau masih tidak percaya padaku?"
Arif mencibir dan berkata, "Kau adalah wanita serakah dan sombong. Kenapa aku harus percaya padamu? Erika, jangan buat aku mengulanginya lagi. Tanda tangani surat cerainya, dan vila ini jadi milikmu. Aku memberikan ini sebagai hadiah untukmu!"
Lia
Mata Erika berkilat penuh ejekan.
Apa menurutnya dia sedang menunjukkan belas kasihan padaku dengan tidak membuatku pergi dengan tangan kosong?
Erika mengambil surat cerai yang dilemparkan Arif padanya dan melihat bahwa pria itu sudah tanda tangan di sana.
Napas Erika tercekat. Matanya terasa hangat karena air mata.
Namun, dia berusaha menenangkan diri dan melihat ke arah Arif. "Apa nenek sudah setuju?"
"Apa menurutmu nenek akan mendukungmu selamanya?" Arif menatapnya dengan dingin. "Sejak awal kau tahu alasan kita menikah. Erika, jangan serakah. Kau hanya akan membuatku semakin membencimu."
Erika mencibir. "Benci dan bahkan semakin benci. Apa bedanya?"
Wajah Arif tiba-tiba berubah menyeramkan. "Erika!"
Erika mengambil pulpen. "Oke, aku akan tanda tangan.
Karena sepupu Erika sudah sadar, wanita itu telah mengirimkan foto-foto kedekatan dirinya dengan Arif yang tak terhitung jumlahnya. Mereka jelas menginginkan satu sama lain. Apa gunanya aku mempertahankan pernikahan ini?
Lalu. Erika mencoret ketentuan tentang Arf yang akan memberinya vila dan dengan segera menandatangani surat itu. Dia tidak ragu sedikit pun.
Dengan begitu, pernikahan Erika yang telah berlangsung selama tiga tahun pun berakhir, dan dia merasa bebas.
Kemudian, Erika mengembalikan surat cerai kepada Arif dan berkata dengan acuh tak acuh, "Beri aku waktu satu jam. Aku akan mengemasi barang-barangku dan pergi dari sini."
Arif mengerutkan bibirnya dan melotot padanya. "Vila ini milikmu. Kau tidak perlu pindah."
"Aku tidak membutuhkannya. Kau pernah tinggal di sini, jadi..." Erika terkekeh sebelum mengucapkan, "Tempat ini kotor
"Erika!"
Erika mengabaikan kemarahan Arif dan bersikap patuh seperti biasa sebelum mendorong Arif keluar dari kamar.
Satu jam kemudian, Erika turun dan menyadari bahwa Arif sudah pergi. Dia tiba-tiba melihat ke arah jam tangan pria di tangannya.
Itu adalah hadiah yang sudah dia siapkan untuk ulang tahun Arif yang akan datang.
Sekarang, benda itu hanya merusak pemandangan.
Prak!
Jam tangan seharga lebih dari satu milyar, dilempar Erika ke tempat sampah tanpa ragu-ragu.
Lalu, dia menarik napas dan menerima kenyataan bahwa cintanya selama tiga tahun telah kandas.
Mulai sekarang, aku hanya akan hidup untuk diriku sendiri!
Kemudian, dia pergi meninggalkan vila dan memanggil taksi, mengatakan kepada sang supir untuk mengantarnya ke vila miliknya sendiri.
Dia sudah membeli vila itu beberapa tahun yang lalu. Sejak tinggal dengan keluarga Wistam, dia tidak pernah menginjakkan kaki di vilanya.
Jadi, para pembantunya terkejut melihat Erika dan segera berbaris, lalu berkata secara serentak, "Selamat datang, Nyonya Wistam."
Erika meletakkan barang bawaannya dan duduk bersandar di sofa. Dia memijat pelipisnya dan mengoreksi mereka. "Mulai sekarang, aku sudah bukan lagi Nyonya Wistam. Aku hanya seorang Nona Baswara."
Dia dulu merasa bangga ketika mendengar orang-orang memanggilnya 'Nyonya Wistam'. Sekarang, nama itu terdengar seperti ejekan baginya.
Para pembantunya tidak berani bertanya lebih jauh lagi, jadi mereka mundur dengan hormat.
Lalu, Erika pergi ke kamarnya dan menghubungi asistennya, Cindy Lesmana. "Bagaimana kabarmu?"
Cindy terkejut. "Ada apa? Kau sungguh menghubungiku? Tumben sekalif
"Aku sudah bercerai, jadi aku akan mendengarkan apapun yang kau katakan dan memprioritaskan karirku."
"Apa?" Cindy tercengang.
"S*al, apa aku salah dengar? Selama tiga tahun ini kau sudah mendedikasikan semuanya untuk suamimu. Kau berhenti bekerja dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau memutuskan untuk bercerai? Apa kau sedang mengerjaiku?"
Cindy adalah asisten Erika. Selain Cindy dan beberapa orang terdekat Erika, tidak ada seorang pun yang tahu identitas kedua Erika.
Sebenarnya, Erika juga seorang pengacara handal bernama Ines.
Ada pepatah terkenal di internet bilang baliwa: Jika Ines berada di urutan kedua, maka urutan pertamanya kosong.
Banyak pengacara yang akan gemetar ketakutan saat mendengar namanya.
Sementara Cindy masih syok. Erika bertanya, "Apakah ada orang yang mencariku baru-baru
ini? Adakah kasus yang menarik?"
Mata Cindy berbinar, dan dia berkata dengan nada menyesal, "Ada satu kasus, dan biaya yang ditawarkan jumlahnya sangat fantastis. Tetapi, tidak ada yang berani menerimanya, dan kau... kau juga tidak boleh menerimanya."
"Oh?" Nada acuh tak acuh Erika sedikit naik menandakan kalau dia tertarik.