~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 - Hari ke Tujuh: Jawaban
Tujuh hari penuh ujian dan latihan yang tanpa henti. Ia telah melakukan semuanya tanpa keluhan, membuktikan dirinya mampu bertahan.
Dan sekarang, sudah saatnya ia mendapatkan jawaban.
Hari itu, Sora melewati hari dengan penuh keceriaan. Sebagaimana anak pada umumnya, menghabiskan kesehariannya bermain bersama teman-temannya.
Namun hari itu sedikit berbeda. Di setiap aktivitasnya, Sora selalu terngiang akan janji ayahnya. Dan saat senja menyambut, Sora bergegas pulang, dengan langkah yang penuh tergesa-gesa.
Saat rumah kayu sederhana itu terlihat di kejauhan, langkahnya otomatis dipercepat. Ia membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam.
Suasana di dalam rumah terasa hangat, kontras dengan udara dingin di luar. Kimiko, ibunya, sedang duduk di dekat perapian, sibuk menjahit sesuatu.
Kimiko meliriknya sebentar. “Kau sudah pulang, Sora?”
Sora mengangguk. “Iya, Bu.”
“Emi tidak ikut?”
“Tidak. Aku sudah mengantarnya pulang.”
Kimiko tersenyum tipis, tapi matanya tetap tertuju pada jahitan di tangannya. “Kau sudah makan?”
“Belum.”
Kimiko menghela napas pelan. “Jangan terlalu sibuk sampai lupa makan.”
Sora hanya mengangguk, tapi matanya sudah bergerak ke sekeliling ruangan, mencari sosok yang paling ingin ia temui.
Abirama tidak ada di sini.
“Di mana Ayah?”
Kimiko berhenti sejenak sebelum menjawab, “Dia ada di belakang.”
Sora tidak menunggu lebih lama lagi. Ia segera berbalik dan berjalan cepat keluar rumah, menuju halaman belakang.
Di belakang rumah, sosok tegap berdiri dengan punggung menghadap ke arahnya.
Tangannya terlipat di dada, tatapannya tertuju pada hamparan salju yang membentang. Ia seakan menyatu dengan kesunyian senja.
Sora berhenti sejenak, mengatur napasnya, lalu melangkah mendekat.
“Ayah,” panggilnya dengan suara tegas.
Abirama tak langsung menoleh. Hanya suaranya yang terdengar, tenang namun dalam.
“Kau sudah pulang?”
“Iya.”
Hening sesaat.
Sora mengepalkan tangannya. “Sudah tujuh hari.”
Abirama mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Lalu?” Sora menatapnya penuh harap. “Apa aku lulus?”
Akhirnya, Abirama menoleh. Tatapannya tajam, menembus ke dalam jiwa Sora.
“Kau yakin ingin mendengar jawabannya sekarang?”
Sora menegakkan punggungnya. “Aku sudah melewati semua ujian. Aku telah melakukan semua yang Ayah minta.”
Abirama menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan lambat, ia berbalik sepenuhnya menghadap putranya.
“Katakan padaku, Sora,” suaranya rendah namun penuh tekanan. “Apa yang kau pelajari dari tujuh hari ini?”
Sora terdiam. Ia tahu pertanyaan ini akan datang.
Ia menelan ludah. “Aku belajar tentang disiplin.”
Abirama mengangkat satu alis, menunggu kelanjutan jawabannya.
Sora melanjutkan, suaranya semakin mantap. “Aku belajar tentang ketahanan, kesabaran, dan tanggung jawab. Aku mengerti bahwa kekuatan bukan hanya tentang otot, tapi juga tentang kehendak dan kontrol.”
Mata Abirama menyipit. “Dan?”
Sora mengepalkan tangannya lebih erat. “Aku menyadari… bahwa kekuatan itu bukan hak, tapi sesuatu yang harus diperjuangkan.”
Abirama menatapnya lama, lalu menghela napas pelan. “Jawaban yang bagus.”
Sora merasa dadanya menghangat. Harapan semakin tumbuh di hatinya.
Namun, Abirama belum selesai.
“Tapi…” suara ayahnya menjadi lebih tegas. “Apakah kau benar-benar siap?”
Sora menegang.
“Apa kau benar-benar paham arti dari kekuatan yang kau inginkan?”
Sora mengangguk. “Aku paham dan aku sudah siap, Ayah.”
Abirama menatapnya dalam-dalam.
Kemudian, sebuah senyuman samar muncul di wajah pria itu.
“Kalau begitu…”
Sora menahan napas.
“Kau lulus.”
Seketika, jantungnya berdegup kencang. Ia bahkan sempat berpikir ia salah dengar.
“Aku…”
“Kau telah membuktikan dirimu,” lanjut Abirama. “Dan mulai sekarang, Ayah akan mengajarkanmu yang sesungguhnya.”
Sora merasa tubuhnya bergetar karena antusiasme.
Namun, Abirama menambahkan, “Tapi ada satu syarat.”
Sora langsung tersadar. “Apa itu?”
Abirama menyempitkan matanya. “Latihan ini tetap harus menjadi rahasia dari ibumu.”
Sora terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Aku mengerti.”
Abirama menghela napas panjang. “Baiklah… mulai besok pagi, aku akan membawamu ke tempat latihan yang lebih jauh dari desa.”
Sora nyaris tidak bisa menahan kegembiraannya.
Namun, sebelum ia sempat mengucapkan apa pun, Abirama menepuk bahunya.
“Sekarang masuk dan istirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang.”
Sora mengangguk cepat. “Baik, Ayah!”
Saat ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah, ia merasa dadanya penuh dengan semangat baru.
Ia telah lulus.
Dan perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/