Laura benar-benar tak menyangka akan bertemu lagi dengan Kakak angkatnya Haidar. Ini benar-benar petaka untuknya, kenapa bisa dia muncul lagi dalam hidupnya.
Ini sudah 5 tahun berlalu, kenapa dia harus kembali saat Laura akan menjalani kisah hidup yang lebih panjang lagi dengan Arkan. Ya Laura akan menikah dengan Arkan, tapi kemunculan Haidar mengacaukan segalanya. Semua yang sudah Laura dan Arkan rencanakan berantakan.
"Aku benci padamu Kak, kenapa kamu tak mati saja" teriak Laura yang sudah frustasi.
"Kalau aku mati siapa yang akan mencintaimu dengan sangat dalam sayang" jawab Haidar dengan tatapan dinginnya tak lupa dengan seringai jahatnya.
Bagaimana kah kisa selanjutnya, ayo baca. Ini terusan dari Novel Berpindah kedalam tubuh gadis menyedihkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn dewi88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
Laura kembali datang ke rumah terkutuk itu, tak habis pikir pelariannya ternyata malah sia-sia saja. Semuanya berantakan gara-gara kebodohannya sendiri dan membuat Sela Dion kehilangan nyawanya.
Laura begitu merasa menyesal tak cepat-cepat pergi sendiri pasti keadaannya tak akan seperti ini Sela dan Dion tak akan meninggal mereka akan hidup bahagia.
Bruk, Laura dilempar begitu saja kedalam kamar mandi. Tentu saja Laura takut, ini adalah dimana dirinya Laura yang sebenarnya meninggal, lampu juga dimatikan.
Tatapan Laura liar menatap seluruh ruangan kamar mandi itu, panik membuat dirinya makin takut. Saat Laura meregang nyawa semuanya muncul diingatkannya, tubuhnya ambruk lemas dan sesak nafas.
"Tolong siapa saja tolong aku" gumam Laura memegang dadanya.
Tubuhnya mulai menggigil ketakutan, ingatan tentang kematian Laura terus berputar di kepalanya seperti kaset, tak mau henti terus saja berputar-putar. Sungguh ini untuk pertama kalinya seperti ini.
"Tolong aku, ini sangat menyakitkan sekali, siapa saja tolong aku. Tolong " kembali Laura bergumam, mengatur nafasnya yang makin sesak.
Pandangannya sudah mulai kunang-kunang. Pikirannya sudah kemana-mana, ketakutan makin menggerogoti dirinya.
Kembali terulang saat Ayahnya menyiksanya tanpa ampun, mendorongnya masuk kedalam kamar mandi sampai kepalanya terbentur dan meninggal.
"Akhh, sakit sekali" teriak Laura sambil memegang kepalanya, entah kenapa dirinya bisa seperti ini merasakan apa yang dialami Laura dahulu saat meregang nyawa nya sendirian.
"Ayah tolong Almira, Ayah tolong sakit sekali Almira tak kuat tolong Ayah" teriaknya kembali menyebut namanya yang sesungguhnya.
"Sakit Ayah, kepalanya Almira sakit tolong" isak tangisnya mulai terdengar dan kesadarannya sudah menghilang.
Sedangkan dirumah yang berbeda Ayanya Haidar terbangun dari tidurnya. Mengambil air minum dan segera meneguknya dengan cepat.
"Almira, apa yang terjadi dengan putriku. Tapi putriku sudah tiada" gumam Ayahnya.
"Nak, kenapa Ayah merasakan kalau kamu sedang dalam bahaya, tapi kamu sudah tiada sudah lama meninggalkan Ayah"
Dengan tanpa takut sedikitpun Ayahnya Haidar pergi ke peristirahatan putri kesayangannya. Duduk termenung di sana sendiri, ini sudah tengah malam tapi tak membuatnya takut sama sekali.
Memang beberapa tahun yang lalu, makan putrinya dipindahkan ketaman belakang. Sengaja dibuat khusus untuk putrinya, jikalau dirinya rindu tinggal pergi kesini dan berbicara dengan putri kecilnya ini.
"Nak kenapa perasaan Ayah mengatakan kamu sedang tak baik-baik saja, Ayah benar-benar bingung dengan semua keadaan ini. Firasat Ayah kamu masih hidup, tapi Ayah sendiri melihat saat kamu dikuburkan tak mungkin tertukar. Ada apa ini nak"
Di usapnya batu nisan putrinya yang selalu bersih, lalu membaringkan setengah tubuhnya di makam putrinya, mengusap tanah cukup basah itu dan menangis sendirian dis sana.
"Kenapa kamu harus pergi dari Ayah Laura sudah 7 tahun Ayah kehilangan kamu tapi rasanya Ayah masih tak rela nak, Ayah begitu rindu dirimu yang selalu tersenyum meski dalam tekanan Kakakmu. Ayah rindu padamu nak, Ayah selalu mengirimkan doa untuk kamu semoga kamu tenang di sana. Tunggu Ayah untuk menyusul kamu nanti kelak nak. Berat sekali hidup Ayah tanpa kamu nak"
Tanpa terasa dirinya kembali tertidur di makan putrinya susah sering dirinya seperti ini. Menemani kesendirian putrinya. Putrinya sangat takut sendirian, maka dirinya harus selalu menemaninya.
...----------------...
"Tuan, kenapa tak kurung Nona di kamarnya saja. Bukannya Nona sedang sakit. Jangan sampai Nona makin sakit Tuan" memang selama ini yang paling berani hanya Boby.
"Diam lah Boby, karena mengikuti kemauan mu untuk selalu lembut padannya dia malah menjadi-jadi dan berani kabur"
Boby menghela nafasnya, sulit sudah seperti ini. Boby undur diri dan pergi kearah kamar mandi dimana Nona Laura dikurung.
Boby duduk dan menyandarkan kepalanya "Nona apakah kamu baik-baik saja"
Hening tak ada jawaban, seperti tak ada siapa-siapa. Boby menatap lampu yang mati, dengan cepat dinyalakannya lampu itu dan kembali duduk sambil kembali mengajak Laura berbicara.
Namun masih sama tak ada suara, dengan panik Boby masuk kembali keruangan Tuannya masa bodoh dirinya nanti akan dibunuh.
"Apa lagi Boby jangan ganggu aku, aku sudah sangat kesal padamu. Pergilah jangan sampai aku menghabisi kamu"
"Nona sudah tak bersuara, sepertinya Nona pingsan" Boby tak peduli dirinya masih nekat, yang terpenting Nona Laura bisa terselamatkan.
Haidar mengerutkan keningnya, tanpa bicara lagi Haidar segera masuk kedalam kamar mandi itu, membuka nya dengan tergesa-gesa dan benar saja Laura pingsan.
"Laura, hey bangun" Haidar menepuk-nepuk pipi Laura dan dingin.
Dengan panik Haidar segera membawa Laura ke kamarnya. Wajah Haidar mulai pucat dan takut kalau akan ditinggalkan oleh Laura.
Diselimuti dengan beberapa lapis dan Haidar segera menyalakan penghangat, memeluknya dengan erat juga. Haidar masuk kedalam selimut.
"Jangan tinggalkan aku, hidup lah maafkan aku yang terlalu keras padamu. Bangun sayang bangun maafkan suami mu ini yang bodoh dan terlalu mengedepankan amarah dan juga kesal padamu. Bangun sayang"
Haidar segera memerintah Boby untuk menghubungi dokter. Tak bisa dibiarkan seperti ini.
Tak butuh waktu lama dokter datang dan segera memeriksa Laura. Lalu setelah selesai dokter segera keluar dan menghadap Haidar.
"Nona sudah sadar, dia begitu ketakutan apakah ada trauma yang membuatnya takut"
Haidar diam, trauma apa Almira tak pernah memiliki trauma. Apa mungkin sang pemilik tubuh, dia kan dari dulu seiring di bully, di siksa oleh Ayah dan di benci saudaranya apakah itu yang membuatnya takut.
"Saya minta tolong jangan membuat Nona tertekan dan ketakutan. Tubuhnya bisa-bisa mengalami drop yang lebih parah lagi dari ini Tuan. Tolong lembut lah padannya sepertinya terlalu banyak luka yang dia rasakan"
"Sudah saya beri obat penenang, sekarang sudah mulai tertidur lagi. Tolong teman dan jangan terlalu keras padannya Tuan. Apakah ada yang ingin ditanyakan"
"Tidak ada, sudah cukup dan saya mengerti apa yang harus saya lakukan"
Dokter itu segera pergi berpamitan, Haidar sendiri masuk kembali kedalam kamar dan menatap Laura dari kejauhan.
Menghela nafas dan makin mendekati Laura. Berbaring disampingnya dan memeluknya dengan erat.
"Jangan tinggalkan Kakak Laura, dengan siapa Kakak akan hidup, Kakak tak mau ditinggalkan kamu lagi. Sudah lama aku mengalah untuk kamu bisa bebas, tapi sekarang tolong berikan aku kesempatan untuk hidup bersama mu dan memiliki buat hati dengan kamu"
Haidar mencoba untuk memejamkan matanya, menemani kekasih hatinya tertidur. Begitu banyak penyesalan yang menumpuk di hatinya.
"Hiduplah dengan lama, maka aku akan membahagiakan kamu dengan sedemikian rupa" kembali Haidar berbicara sendiri, tak peduli yang terpenting dirinya sudah mencurahkan isi hatinya.