NovelToon NovelToon
Manuskrip Vyonich

Manuskrip Vyonich

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sci-Fi / Cinta Terlarang / Epik Petualangan / Persahabatan / Romansa
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Rifa'i

Arka Fadhlan, seorang pakar kriptografi, menemukan potongan manuskrip kuno yang disebut Vyonich, teks misterius yang diyakini berasal dari peradaban yang telah lama menghilang. Berbagai pihak mulai memburunya—dari akademisi yang ingin mengungkap sejarah hingga organisasi rahasia yang percaya bahwa manuskrip itu menyimpan rahasia luar biasa.

Saat Arka mulai memecahkan kode dalam manuskrip, ia menemukan pola yang mengarah ke lokasi tersembunyi di berbagai penjuru dunia. Dibantu oleh Kiara, seorang arkeolog eksentrik, mereka memulai perjalanan berbahaya melintasi reruntuhan kuno dan menghadapi bahaya tak terduga.

Namun, semakin dalam mereka menggali, semakin banyak rahasia yang terungkap—termasuk kebenaran mengejutkan tentang asal-usul manusia dan kemungkinan adanya kekuatan yang telah lama terlupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Rifa'i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA YANG TERUNGKAP

Udara dingin pegunungan menyapu wajah Arka dan Kiara saat mereka berdiri di depan reruntuhan Gunung Nemrut.

Di bawah cahaya bulan, Vyonis telah lenyap.

Batu-batu besar menutupi pintu masuk yang dulu membawa mereka ke kota kuno itu. Tak ada lagi celah, tak ada lagi jalan kembali.

Arka menatap Manuskrip Vyonich yang masih tergenggam di tangannya. Kertas-kertas tua itu tampak bersinar redup, seolah masih menyimpan energi misterius dari kota yang kini telah terkubur.

Kiara menyentuh lengannya. "Apa yang kita lakukan sekarang?"

Arka menghela napas. "Kita cari tahu apa isi manuskrip ini… sebelum ada orang lain yang menemukannya."

Tetapi sebelum mereka bisa beranjak.

Sebuah suara bergema dari balik kegelapan.

"Bagus. Kalian berhasil keluar hidup-hidup."

PERTEMUAN DENGAN ORANG TAK DIKENAL

Arka dan Kiara langsung waspada.

Di hadapan mereka, seorang pria berdiri di antara bayangan. Wajahnya sebagian tertutup oleh syal gelap, hanya matanya yang bersinar tajam dalam kegelapan.

Dari caranya berdiri, Arka tahu pria ini bukan orang biasa.

"Siapa kau?" Kiara bertanya, tangannya sudah siap di senjata kecil yang ia simpan di sabuknya.

Pria itu melangkah lebih dekat. Cahaya bulan akhirnya menyoroti wajahnya. wajah yang terasa familiar.

Arka menyipitkan mata. "Kita pernah bertemu?"

Pria itu tersenyum samar.

"Tidak secara langsung," katanya. "Tapi aku sudah mengikuti perjalanan kalian sejak lama. Dan sekarang… aku butuh manuskrip itu."

PERTARUNGAN PIKIRAN

Arka langsung menggenggam Manuskrip Vyonich lebih erat. "Kalau kau mengikutiku sejak lama, kau pasti tahu aku tidak akan menyerahkannya begitu saja."

Pria itu menghela napas, seolah sudah menduga jawaban tersebut.

"Aku bukan musuh kalian, Arka," katanya tenang. "Tapi ada kekuatan yang lebih besar dari yang bisa kau bayangkan. Dan manuskrip itu bukan sekadar catatan sejarah."

Kiara menajamkan pandangannya. "Apa maksudmu?"

Pria itu menatap mereka bergantian sebelum berbicara lagi.

"Manuskrip itu… adalah peta."

Hening.

Arka dan Kiara saling berpandangan.

"Peta ke mana?" Arka bertanya dengan suara rendah.

Pria itu tersenyum tipis.

"Ke sesuatu yang lebih besar dari Vyonis."

KODE YANG TERSEMBUNYI

Arka membuka manuskrip itu, membolak-balik halamannya dengan cepat. Sejauh yang ia tahu, itu hanyalah kumpulan teks kuno dan simbol aneh.

"Aku sudah melihatnya berkali-kali," katanya. "Tidak ada peta di sini."

Pria itu mengangguk. "Tentu saja tidak. Karena peta itu… hanya bisa dibaca oleh orang yang memiliki kunci."

Arka mengerutkan kening.

Kiara, yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengeluarkan liontin kecil dari sakunya. Liontin itu adalah artefak yang mereka temukan di dalam Vyonis, yang selama ini ia simpan karena merasa itu penting.

"Maksudmu… ini kuncinya?" tanyanya ragu.

Pria itu tersenyum. "Coba saja."

Dengan tangan gemetar, Kiara membuka liontin itu dan meletakkannya di atas halaman terakhir manuskrip.

Tiba-tiba—

Tinta di kertas mulai berubah.

Huruf-huruf yang tadinya tak bisa terbaca bergerak, membentuk pola yang berbeda. Lambang-lambang kuno menyatu, perlahan membentuk peta dunia yang asing.

Arka dan Kiara terpana.

"Astaga…" Kiara berbisik.

Di tengah peta itu, ada sebuah tanda bercahaya.

Dan di bawahnya, tertulis satu kata dalam bahasa kuno:

"Orbis."

MISTERI ORBIS

Arka menyentuh tanda itu di manuskrip.

"Orbis… Apa ini?"

Pria itu menatap mereka dengan ekspresi serius.

"Orbis adalah tempat yang hilang dari sejarah manusia."

"Tempat yang seharusnya tidak pernah ditemukan."

Kiara menatapnya curiga. "Kau bicara seolah-olah kau tahu di mana itu."

Pria itu menghela napas.

"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas… banyak orang lain yang juga mencarinya. Dan mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkannya."

Arka mengepalkan tangannya.

Ia baru saja menghancurkan akses ke Vyonis. Tetapi sekarang, mereka menemukan petunjuk ke tempat lain yang lebih misterius.

BAYANGAN DI BALIK ORBIS

Angin dingin berhembus kencang di atas puncak Gunung Nemrut. Arka, Kiara, dan pria misterius itu masih berdiri di tengah reruntuhan, menatap peta yang baru saja muncul di dalam Manuskrip Vyonich.

Tanda bercahaya yang bertuliskan “Orbis” masih bersinar samar, seolah memberi petunjuk bahwa rahasia yang lebih besar telah terungkap.

Arka menyentuh lambang itu dengan hati-hati, berharap ada sesuatu yang lebih dari sekadar peta. Namun, kertas itu tetap diam—tidak ada reaksi lain.

Kiara menatap pria di hadapan mereka dengan penuh kewaspadaan. “Siapa sebenarnya kau? Dan kenapa kau tahu begitu banyak tentang manuskrip ini?”

Pria itu mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil.

"Namaku Ezra," katanya santai. "Dan aku berasal dari organisasi yang telah mencari Orbis selama bertahun-tahun."

Arka dan Kiara saling berpandangan.

"Organisasi?" Arka mengulang.

Ezra mengangguk. "Kami menyebut diri kami The Seekers. Kami adalah sekelompok peneliti, arkeolog, dan sejarawan yang percaya bahwa dunia ini menyimpan rahasia lebih besar daripada yang dicatat dalam buku sejarah."

Kiara menyilangkan tangan. "Dan apa yang kalian inginkan dari Orbis?"

Ekspresi Ezra berubah lebih serius. "Kami ingin menemukannya sebelum jatuh ke tangan yang salah."

Arka mengerutkan kening. "Maksudmu… seperti orang-orang yang menyerang kami di Vyonis?"

Ezra mengangguk. "Ya. Mereka adalah bagian dari kelompok lain yang memiliki tujuan berbeda. Mereka tidak ingin menemukan Orbis untuk ilmu pengetahuan—mereka ingin menguasainya."

Kiara menegang. "Menguasai? Seperti apa maksudnya?"

Ezra menatap mereka dengan tajam.

"Kami tidak tahu pasti… tapi ada sesuatu di Orbis yang bisa mengubah dunia."

PERTANDA BAHAYA

Keheningan menyelimuti mereka.

Arka menatap manuskrip itu dengan perasaan campur aduk. Apakah mereka benar-benar siap untuk ini?

Mereka baru saja selamat dari Vyonis, dan sekarang mereka menemukan sesuatu yang bisa membawa mereka ke dalam bahaya yang lebih besar.

Kiara, yang biasanya berpikir logis, tampak gelisah. "Aku tidak yakin kita harus melakukan ini."

Arka menoleh padanya. "Kenapa?"

Kiara menggigit bibirnya. "Kita baru saja menghancurkan akses ke kota kuno yang seharusnya tetap terkubur. Apa yang akan terjadi jika kita menemukan Orbis? Bagaimana kalau itu justru membawa malapetaka?"

Ezra menatap Kiara dengan penuh pengertian. "Itulah sebabnya kita harus menemukannya dulu. Jika kita membiarkannya begitu saja, orang lain yang lebih berbahaya akan menemukannya lebih dulu."

Kiara masih ragu, tetapi Arka akhirnya berbicara.

"Aku setuju."

Kiara menoleh padanya dengan kaget. "Arka."

"Aku tahu ini berbahaya," kata Arka pelan.

1
Diana Dwiari
berasa nonton film lara croft
Ahmad Rifa'i: terima kasih kak sudah mampir ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!