Dicintai Psikopat Gila

Dicintai Psikopat Gila

Kematian

Maya berlari dengan sekuat tenaga menghindari kejaran laki-laki gila yang tiba-tiba saja menghancurkan kebahagian dirinya dan teman-teman saat berkemah, teman-temannya satu persatu di habisi. Maya tak mau sampai tertangkap oleh laki-laki itu.

Bruk, tubuh Maya menghantam tanah yang dingin dan basah. Kakinya menyangkut pada sesuatu, saat Maya berbalik wajahnya langsung dipukul dengan sebuah balok.

Tubuhnya langsung tumbang dalam kesadarannya yang masih tersisa, Maya melihat laki-laki tinggi besar dengan tatapan yang begitu menakutkan. Laki-laki itu tersenyum kecil lalu menggusur kakinya dengan kasar, tak ada belas kasih sama sekali, tubuhnya terkena ranting, bebatuan tapi Maya tak bisa melakukan apa-apa.

Tubuhnya sudah sangat lemas sekali "Tolong siapa saja bantu aku, tolong" lirih Maya dengan suara yang sedikit merintih kesakitan.

Tubuhnya di angkat dan dilemparkan kesebuah gudang, Maya seketika menjerit saat melihat ada kepala salah satu temannya. Ketakutan makin menguasai tubuhnya.

Dengan sekuat tenaga Maya menggusur tubuhnya yang lemas. Matanya begitu liar menatap kesana kemari mencari jalan keluar.

"Suka melihat temanmu sudah mati"

"Lepaskan aku, kenapa kamu memperlakukan kami seperti ini. Lepaskan"

"Belum sadar" tanya laki-laki itu sambil berjongkok dan mengusapkan pisau kecil kesayangannya kearah pipi Maya.

Yang dirasakan Maya dingin dari pisau itu dan takut akan di tusuk pula.

"Aku dan teman-temanku kemari hanya ingin berlibur, kenapa tiba-tiba kamu menargetkan kami untuk jadi korban kesadisan mu" jawab Maya dengan suara yang begitu kecil.

"Ingatlah masa lalu, apa yang pernah kamu lakukan dimasa lalu dengan teman-temanmu. Ini tak seberapa"

Belum juga Maya menjawab tubuhnya sudah di tarik dan di dudukan disebuah kursi yang sepertinya begitu rapuh sekali.

Tangganya di ikat dan kakinya juga sama, Maya dari tadi sudah menangis ketakutan. Akan seperti apa hidupnya ini. Maya masih ingin hidup, bagaimana pula dengan orang tuanya nanti pasti mereka sedang menunggu Maya pulang.

"Akhh" teriak Mega saat sebuah pisau menancap ditangan kanannya.

"Suka"

"Gila, sakit lepaskan aku" teriak Maya dengan berani.

Sret, pisau itu di cabut dan tanpa Maya sadari pipi kanannya sudah disayat. Laki-laki itu tertawa dengan sangat bahagia, tak disitu saja dia kembali mengukir sebuah luka di kening Maya.

"Ampun, aku minta ampun lepaskan aku"

"Apa jaminannya" sambil menghentikan sayatannya.

"Aku tak akan melaporkan mu, lepaskan aku"

"Bukan penawaran yang bagus, terlalu mudah bahkan kalau sampai dirimu lolos dan melaporkan semua ini pada pihak berwajib saya tak akan takut"

"Kita lanjutkan permainan yang menyenangkan ini"

Maya tentu saja meronta-ronta saat pisau dingin itu akan kembali melukai kulitnya.

"Tak bisa diam kamu" laki-laki itu berjalan menjauh dari Maya, tapi tak butuh waktu lama dia kembali membawa pisau yang lebih besar dan jari kaki kiri Maya habis semuanya dipotong berbarengan dan sakitnya luar biasa.

Maya sudah pasrah sekarang, kesaktiannya begitu menyiksa. Kenapa harus bertemu dengan laki-laki gila ini.

Terasa oleh Maya pisau kecil itu menusuk betisnya, Maya tak bisa berteriak saking lemas nya, darah sudah berceceran dimana-mana.

"Masih belum menyadari kesalahan mu apa" tanya laki-laki itu sambil menguliti kaki kanan Maya.

"Aku tidak tahu apa salahku, apa yang aku lakukan sampai kau tega melakukan ini padaku" dengan suara yang begitu kecil.

"Brengsek kau penjahat kecil masih belum ingat" laki-laki itu makin membabi buta menyakiti Maya.

Sekarang Kaki Maya sudah tak ada sebelah, Maya menangis dengan penyesalan yang begitu dalam. Kalau saja Maya mengikuti apa kemauan orang tuanya untuk tak pergi kesini mungkin Maya tak akan mati sia-sia.

Sebelum Maya ada disini.

"Mau apa sih Maya kamu berkemah di hutan terpencil seperti itu, Mama tidak mau terjadi apa-apa padamu. Lebih baik kamu diam di rumah atau berlibur ke tempat yang lain yang lebih aman dan Mama bisa menyusul mu nanti kalau ada apa-apa bersama Ayah"

"Ga bisa Ma Maya harus ikut, temen-temen Maya pergi ke sana sambil reunian. Kenapa sih Mama selalu saja ngatur Maya. berikan kebebasan untuk aku" kesal Maya yang terus ngotot ingin pergi.

"Tapi hutan itu jarang sekali ada orang yang datang Maya, apalagi itu di tempat terpencil jangan membuat masalah. Firasat Mama mengatakan kalau semua itu tidak akan baik-baik saja. Mama tidak mau kehilangan kamu"

"Selalu saja firasat kenapa sih selalu mengandalkan firasat, aku tidak akan kenapa-napa. Aku akan baik-baik saja bukan aku saja yang datang ke sana banyak. Jadi Mama tidak usah bikin aku pusing dan melarang-larang aku. Aku ini sudah besar bukan anak kecil lagi" marah Maya.

Maya mengambil tas ranselnya lalu pergi begitu saja bahkan sampai membanting pintu rumahnya. Mamanya tentu saja mengejarnya namun Maya sudah masuk kedalam mobil teman-temannya yang menjemput.

"Maya itu Mama lo lari-lari kenapa" tanya salah satu temannya.

"Sudahlah biarin ribet banget, males banget tau nggak sih punya Mama yang ribet banget. Apa-apa tuh nggak boleh ini itu nggak boleh selalu saja firasat Mama nggak enak firasat Mama nggak enak gitu saja terus " kesal Maya.

Teman-temannya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan tak memperpanjang pembicaraan dan mengalihkannya ke yang lain.

Kembali kepada Maya yang disiksa.

"Mama, Maya menyesal tolong Maya. Seharusnya Maya tak ada disini" lirih Maya.

Srek, dengan sekali tebasan kepala Maya sudah terpisah dengan tubuhnya.

Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak melihat mangsanya kembali mati, menyenangkan sekali malam ini bisa menghabisi orang-orang yang telah bermasalah dengan seseorang di masa lalunya.

"Bau darah yang begitu menyegarkan, saya suka dengan bau anyir yang bercampur dengan tanah" ucapnya sambil berlalu dari ruangan itu.

"Pulangkan mereka ke rumahnya masing-masing, buat orang itu terpancing untuk datang ke pemakaman temannya. Saya ingin tahu bagaimana sekarang dia dan saya juga ingin tahu saat dia nanti melihat saya" ucapnya dengan misterius.

"Baik Tuan akan saya laksanakan semua tugas yang Tuan perintahkan"

"Jangan sampai ada orang yang melihat dirimu membawa mayat-mayat menjijikan ini"

"Tentu Tuan akan saya laksanakan"

Setelah memerintahkan bawahannya laki-laki itu segera naik kelantai dua. Masuk kedalam sebuah kamar yang begitu luas dengan nuansa hitam yang menakutkan.

Diambilnya sebuah foto yang selalu membuatnya makin mencintainya bahkan sulit untuk melupakannya.

"Sebentar lagi saya akan muncul, sudah 5 tahun saya menghindar darimu ini sudah waktunya saya kembali padamu. Tidak akan pernah ada satupun laki-laki yang mencintaimu begitu dalam melebihi saya. Sayang tunggu kedatangan cintamu ini"

Terpopuler

Comments

Syaquilla Mbull

Syaquilla Mbull

kok suka aku sama tokoh Haidar y

2025-03-11

0

merry

merry

gilee sdiss si Haidar in

2025-03-15

0

panty sari

panty sari

ngeri sekali si haidar

2025-03-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!