Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN ROMLI
Romli terpaku menatap gundukan tanah yang baru saja di tinggalkan.
Manik matanya mengembun tubuhnya bergetar, perbuatan di masa lalu terbayang lagi, membuatnya begitu ketakutan, hingga penyesalan yang ia rasa tak lagi berguna mengiris relung hatinya.
"Teh Seruni, maafkan aku. Hanya demi uang dan harga diri di mata teman-temanku, aku setega itu terhadapmu. Seharusnya, aku tidak ikut kala itu, Teh. Aku menyesal, aku meminta maaf atas semua perbuatanku." Gumam Romli pria beranak satu itu tergugu di tempat, menyesali semuanya.
Romli memeluk tubuhnya sendiri, berandai waktu bisa di ulang kembali.
"Kang! Kok masih di sini? Yang lain sudah pada pulang." Tegur seorang pria muda berparas tampan.
Romli menoleh dengan gugup. "Eh, Azram. Iya, aku hanya ingin menatap lebih lama kuburan sahabatku itu." Ucap Romli menghela napas dalam. Azram tersenyum menatap Romli tajam. Lalu ia duduk sejajar dengan Romli.
"Enggak nyangka ya, Kang! Kang Heri secepat itu pergi. Yah, nasi sudah menjadi bubur, Kang. Penyesalan tidak akan merubah semuanya." Azram menoleh dengan senyuman datar.
Romli mendadak salah tingkah. Pasalnya, dia belum
pernah cerita akan dosa-dosa yang mereka perbuat kepada siapa pun, tapi mengapa Azram seperti paham akan semuanya.
Azram tersenyum kembali. "Aku tadi mendengar ucapan sampean sedikit. Maaf Kang, bukan bermaksud menguping, hanya terdengar. Bila Akang mau cerita untuk mengurangi beban hati Akang, Akang bisa cerita sama saya." Azram melirik sedikit kepada pria di sampingnya.
Romli kembali menoleh ke arah Azram yang terlihat
sangat tenang mencari kebenaran. Azram tersenyum lagi.
"Sudahlah bila Akang tidak bisa cerita, tidak apa-apa.
Mari pulang." Azram bangkit sambil melirik ke belakang
tanpa menoleh dengan semribik senyuman misterius.
Romli pun mau tak mau mengikuti Azram. Dia
berjalan lebih cepat supaya dapat berjalan sejajar dengan Azram.
"Zram, apakah masih bisa kita meminta maaf terhadap orang yang meninggal?" Tanya Romli.
"Mungkin saja, Kang. Saya kurang tau." Jawab Azram santai.
"Apakah, kalau kita sudah meminta maaf, dan menyesali apa yang telah kita lakukan di masa lampau, kita akan terhindar dari karma tersebut, Zram?" Tanya Romli lagi yang terus kepikiran kemungkinan gilirannya cepat atau lambat akan segera tiba.
"Jika semua perbuatan di maafkan begitu mudah, apakah menjamin Kang, orang-orang itu tidak akan berbuat jahat kembali?" Tanya Azram balik. Membuat
Romli mengingat kembali kelakuan teman-temannya, yang sebelum meninggal masih berbuat maksiat, dan tak segan memerkaos wanita, atau pun gadis-gadis yang baru beranjak dewasa. Dia pun menghela napas berat.
Keduanya berjalan tanpa suara. Sampai gang memisahkan keduanya.
***
Parmi tergopoh-gopoh memenuhi panggilan Sulis majikannya.
"Aduh, Embak Sulis. Itu pasti cuma halusinasi.
Kebetulan saja keduanya meninggal seperti orang yang terbakar. Saya sih, yakinnya mereka meninggal karena di santet. Kan mereka terkenal sangat akrab dalam pertemanan. Mungkin saja salah satu dari geng mereka ada yang iri, Embak Sul." Kilah Parmi dengan bibirnya yang di buat miring kekanan dan kekiri.
"Apa iya, Par? Kok aku lihat jelas si Yusuf sama Istrinya itu, tersenyum mengerikan kepadaku." Sulis masih bingung dengan penglihatannya sendiri. Kedua sosok itu terlihat begitu nyata, dan tatapan mereka seolah menguliti sampai ke relung hati paling dalam. Sangat membekas, hingga dia tak sanggup memejamkan mata, walau hanya sesaat, karena ketakutan.
"Embak Sulis kali kecapekan saja. Udah... kalau nggak percaya, biar saya carikan orang pintar supaya meramal nasib Embak Sulis, untuk mengetahui kehidupan Embak, kedepannya, bagaimana? Mau tidak?" Ucap Parmi memberi saran.
Sulis pun nampak berpikir sejenak mendengar usulan
Itu. "Hemm, ide kamu bagus juga, Par. Baiklah, cepat carikan Par, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan diriku."
Parmi tersenyum licik. "Iya, tapi biasanya biayanya mahal Embak. Apa Embak sanggup?"
"Kamu, kayak nggak tau kekayaanku saja. Sudah! Yang penting dia memang benar-benar ampuh, aku akan bayar berapapun dia minta." Sombong Sulis.
"Baiklah, emba'. Besok akan saya datangi rumah orang pintar itu." Parmi tersenyum senang.
Asssiykk... seseran lagi. Kebetulan Mas Seno sudah lama nggak nyentuh aku, dengan uang ini, Mas Seno pasti akan meniduri aku satu hari satu malam. Aduh... suami yang sangat mempesona dan susah sekali di takluk kan. Batin Parmi senang.
Di balik dinding, Beni yang sejak awal sudah curiga, makin penasaran akan rahasia apa yang di sembunyikan oleh Ibunya itu.
Sedang berpikir keras, tiba-tiba uluran tangan di bahunya mengejutkannya.
"Beni!" Panggil sang punya tangan itu.
"Astagfirullahhalazim. Embak Wardah! Ngagetin aja!" Sebut Beni sambil mengelus dadanya yang berdebar sangat kencang.
"Hampir saja copot jantungku ini, Embak." Imbuh Beni lagi.
"Ye! Kamu si, lagian kenapa melamun? Siang bolong melamun, kesambet nanti." Seloroh Wardah.
"Embak jahat ni namanya. Doain Adeknya kesambet.
Lagian tumben kok Embak Wardah datang enggak ngabarin? Biasanya ngabarin aku dulu."
"Iya, di suruh Ibu ngasih ini sama Bude. Bude Saedah nya, ada Ben?"
"Ada. Bibi Rahma ini baik banget, setiap punya apa-apa selalu ngasih ke sini ya, Embak? Padahal jaraknya jauh dari rumah." Beni membimbing Wardah masuk ke dalam.
"Eh, Wardah. Masuk, Nak." Sapa Saedah saat melihat Wardah.
Wardah membungkuk sopan. "Bude, ini dari Ibu. Ibu bikin kue buat yasinan nanti malam, dan dia membuat lebih, khusus buat Bude." Wardah menyerahkan rantang makanan.
"Terimakasih ya, Wardah. Bilang sama Ibu mu juga Terimakasih. Ayo sini duduk dulu, ngobrol sama Bude. Sudah lama kita nggak ngobrol. Bude kangen banget."
"Maaf, Bude, lain hari saja. Saya harus cepat pulang buat bantu Ibu."
"Ya ampun, buru-buru amat." Keluh Saedah yang sangat menyukai gadis manis nan lembut itu. Di tambah kelakuannya yang sangat sopan, membuat Saedah sangat senang dengan Wardah.
Wardah tersenyum sopan lalu membungkuk berpamitan mau langsung pulang.
Namun, belum sempat melangkah, telinganya di kejutkan oleh suara yang sangat ia kenal. "Eh, ada cewek kampung sebelah yang sok cantik. Ngapain kesini? Mau minta duit lagi? Atau mau minjam duit dengan alasan, di suruh Ibumu yang miskin itu?" Ketus Laela yang baru pulang sekolah.
"Embak Laela! Nggak sopan ngomong begitu." Tegas Beni menatap Kakaknya yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan dirinya.
"Apa sih kamu, Ben. Belain anak miskin itu terus. Sebenarnya kamu itu adiknya siapa sih?!" Laela menatap marah adiknya.
"Sudah-sudah! Kalian ini, kalau bertemu selalu saja bertengkar. Laela, Beni, sana masuk kamar." Saedah yang usianya sudah sangat renta, merasa darahnya naik lagi.
Wardah menunduk. "Bude, Wardah pulang ya?
Kulonuwun." Wardah segera keluar undur diri.
Di sepanjang perjalanan, Wardah hanya diam. Sudah sekian lama Laela, tak juga berubah. Selalu saja membenci dirinya dan juga keluarganya. Padahal, kalau Ibunya pinjam pun, selalu di kembalikan tepat waktu. Dan Ibunya pun tidak pernah pelit, apa pun hasil panen, dan juga makanan yang enak-enak, selalu membaginya dengan keluarga tersebut. Tapi sikap Laela tidak pernah berubah seperti Ibunya yaitu Sulis, yang tak pernah menyukai keluarganya.
"Hummpff!" Desah Wardah kasar yang siapa pun di dekatnya pasti mendengar helaan napas tersebut.
"Sebenarnya mereka itu maunya apa sih?! Kok bisa sebenci itu sama Ibu. Padahal kan Ibu itu Bibi nya mereka." Gumam Wardah yang tak juga menemukan penyebab mereka membenci Keluraganya. Sambil berjalan santai, dia terus memikirkan akan keluarga Budenya itu.
Hingga tanpa sadar, tatapan tajam dari seseorang yang
sepertinya hendak menerkamnya. Wardah yang tersadar akan adanya orang yang menguntitnya, ketakutan setengah mati. Lalu ia segera mempercepat langkahnya.
Namun, tiba-tiba lelaki itu berdiri tepat di hadapannya.
Wardah berjingkat kaget. "Ke-Kang? Sa-saya mau lewat. Maaf, Akang menghalangi jalan saya." Wardah yang panik terlihat tubuhnya bergetar. Namun, bukannya minggir, pria di hadapannya terlihat makin bringas.
"Cantik, Akang dari dulu suka sama kamu. Ayolah, terima cinta Akang ini. Akang janji, walau Akang jadikan kamu Istri kedua, tapi Hanya Wardah yang bakalan Akang nomor satukan." Pria itu tersenyum seolah tak sedikit pun merasa bersalah.
"Astagfirullahhalazim, Akang kan sudah punya anak istri. Nggak pantas Kang, bicara seperti itu. Saya mohon beri saya jalan. Ibu sudah menunggu saya di rumah." Wardah mencoba kembali hendak menerobos, namun tetap, pria di hadapannya itu malah makin menjadi.
"Halah... munafik amat sih jadi perempuan! Semua gadis di desa ini pada menginginkan Akang, karena Akang terkenal ganteng dan pandai muasin perempuan. Ayolah, Wardah! Kamu coba dulu, pasti kamu bakalan ketagihan, sayang." Jaka mulai menyentuh bagian tubuh Wardah.
Wardah terus menghindar ketakutan. "Tolong! Tolong!" Teriaknya yang makin terdesak, karena Jaka terus menggiringnya masuk ke tempat yang sangat sepi.
Air mata Wardah mulai mengalir. "Jangan, Akang. Saya mohon. Huhu...!" Wardah menangkupkan kedua
tangannya memohon.
Seringai Iblis Jaka semakin menjadi. Air liurnya mulai mengalir membayangkan betapa indahnya tubuh gadis di depannya itu. "Ayolah... haha! Akang pasti akan memberimu kenikmatan bak di surga, Wardah. Gadis manis Akang." Jaka mulai menindih gadis itu. Wardah terus berteriak meminta tolong, namun karena tempat itu sudah jauh dari pemukiman, membuat suara Wardah tak seoramg pun yang dapat mendengar.
"Tolong...! Tolong...! Siapa saja, tolong saya." Teriak Wardah sambil terus meronta.
Tiba-tiba
BUUGHH!!!
pria berbaju hitam datang menendang tubuh Jaka.
Seketika Jaka berguling-guling.
BUUGGHH!!!
Lagi pria itu menendang Jaka. Jaka pun langsung terlihat tak sadarkan diri, karena tendangan itu cukup kuat membuat Jaka berguling kebawah. Pria itu membantu Wardah berdiri.
"Pergilah. Lain kali jangan lewat tempat ini. Di sini sangat sepi, walau jaraknya lebih dekat dari rumahmu." Setelah berkata seperti itu, pria itu segera pergi dan menghilang di lebatnya pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Wardah yang membeku segera tersadar setelah pria itu tak lagi di pandangannya. "Eh! Siapa dia? Kok kayaknya dia tau rumahku?" Wardah berpikir keras. Namun cepat dia segera berlari melanjutkan kembali perjalananya.
Takut Jaka tersadar dari pingsannya.