Diusia mudanya Vyanita harus berjuang sendiri dalam bertahan hidup, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Dan dia harus rela kehilangan harta peninggalan kedua orang tuanya, untuk menutup hutang sang Ayah. Hingga akhirnya dia bertemu dengan sahabat sebaik Revi, dan keluarga Revi lah yang kini menajdi keluarga baru bagi Vya.
Kebahagiaan datang silih berganti, bertemu dengan keluarga baru yang baik dan menyayanginya, hingga kebahagian lain datang, dimana Vya menemukan cintanya.
Menikah dan membina keluarga, namun tidak berselang lama kebahagian itu berangsur sirna. Akankah Vya mampu melewati cobaan hidup yang datang padanya? Dan akankah dia menemukan kebahagiannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHINOV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Vya yang tetap menangis sendiri dan menjadi perhatian pengunjung resto, mencoba untuk menguatkan hatinya. Dengan langkah gontai dia meninggalkan resto, memilih pulang ke rumahnya sendiri dengan taksi online. Karena jika dia kembali pulang ke rumah Ferra maka Ferra akan memberondongnya dengan banyak pertanyaan, karena melihat penampilannya yang cukup menyedihkan.
Baru saja menikmati kebahagian dan kedamaian bersama sang suami, apa mungkin dia harus kehilangan itu semua, karena keegoisan Mama mertua. Bukan salahnya jika sampai saat ini dia belum juga hamil. Dia selalu berusaha yang terbaik agar dia bisa menjadi wanita seutuhnya, menjadi seorang ibu, dan memberikan suaminya keturunan. Segala cara telah dia coba, tapi karena Tuhan belum mengijinkan, dia hanya bisa berpasrah terus berdoa dan berusaha. Karena sesungguhnya manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya adalah kehendak Tuhan, Dialah yang Maha tahu apa yang terbaik untuk kita.
Sampai di rumahnya Vya merebahkan dirinya diatas ranjang, dia kembali menangis teringat apa yang dikatakan oleh Mama mertuanya. Membayangkan nasip pernikahannya, dia tidak ingin berpisah dari suaminya, dan dia juga tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain. Apa yang harus dia lakukan, bagaimana lagi dia harus berusaha sedangkan segala cara telah dia coba. Cukup lama dia menangis, akhirnya dia merasa lelah dan terlelap dengan sendirinya. Hingga tidak menyadari bahwa matahari sudah beranjak meninggalkan siang, berganti sore hari.
Adit yang sedari tadi tidak bisa menghubungi Vya mulai merasa cemas, dan sebelum dia meninggalkan pelataran kantornya dia menghubungi Ferra menanyakan keberadaan sang istri. Setelah tau apa saja kegiatan sang istri hari ini dan dimana sekarang dia berada, Adit segera pergi meninggalkan kantornya.
Sampai di rumah Adit melihat kondisi rumah yang sepi dengan lampu yang belum menyala, dia bergegas masuk mencari dimana keberadaan sang istri. Dia pun menuju kamarnya, dan melihat sang istri tengah terbaring dengan damai. Adit mendekatinya, hendak membangunkannya, pada saat Adit menyentuh lengan Vya, Adit merasakan suhu tubuh Vya yang panas tinggi. Adit panik, dia membangunkan Vya menepuk nepuk pipi Vya, dan akhirnya Vya terbangun dengan kondisi tubuh yang lemah.
"Mas sudah pulang, maaf ya aku belum menyiapkan makanan," lirih Vya saat melihat Adit sudah ada dihadapannya.
"Tidak apa apa sayang, kita ke dokter ya, badan kamu panas tinggi, kenapa tidak menelepon Mas, dan kenapa handphone kamu seharian mati?" cecar Adit.
"Maaf Mas, hpku lowbat jadi aku matikan. Aku tidak apa apa Mas gak usah khawatir, aku buat istirahat saja insyaallah nanti juga enakan,"
"Tapi sayang, Mas gak mau kamu kenapa kenapa kita ke dokter ya,"
"Enggak usah Mas, Vya beneran gak apa apa, Vya mau istirahat aja, Vya lelah," ucap Vya, dengan kembali menahan rasa sesak didalam dadanya, mencoba menyembunyikan kejadian siang ini dari sang suami.
"Baiklah kalo itu mau mu, Mas akan pesankan makanan, nanti kita makan bareng terus setelah itu kamu minum obat, dan istirahat," Adit segera meraih telepon pintarnya, memesan makanan via online untuk dirinya dan sang istri.
Satu jam lamanya Adit menunggu makanan yang dia pesan datang, dia segera menyiapkannya dan menghidangkannya pada Vya. Adit dengan telaten menyuapi Vya, tak lupa Adit juga memberikan Vya obat penurun demam serta vitamin. Setalah selesai dengan Vya dia pun menikamati makanannya duduk disebelah istrinya yang terbaring lemah.
"Mas kebawah dulu ya, mau membersihkan peralatan makan yang sudah kita gunakan. Kamu istirahat saja," Vya mengangguk patuh dan menatap dalam sang suami. Dia tidak ingin ada wanita lain dalam kehidupan rumah tangganya, dan dia berharap semoga saja ada jalan terang nantinya, tanpa harus ada pernikahan lagi.
🌷🌷🌷🌷
Keesokan harinya Vya yang merasa badannya sudah segar kembali, melakukan aktifitasnya seperti biasa, dan mencoba bersikap seperti biasa agar suaminya tidak curiga padanya. Itulah Vya, dia selalu menyembunyikan apa yang terjadi padanya dari Adit.
Setelah Adit berangkat bekerja, Vya membersihkan setiap sudut rumahnya. Dan saat ia tengah bekerja terdengar suara bel rumah berbunyi. Tanpa berfikir panjang Vya bergegas membukakan pintu. Dan betapa terkejutnya dia ternyata Nesha dan Karina lah yang datang menemuinya.
"Ma... Mama...,"
Dan tanpa dipersikalan kedua wanita itu masuk kedalam rumah Vya.
"Duduk Vy, kita bicara,"
Vya menuruti Mama mertuanya dan duduk disamping kedua wanita itu.
"Apa kamu sudah memikirkan apa yang saya katakan kemarin?" tanya Nesha. Vya hanya terdiam, tanpa sadar dia kembali meneteskan air mata dan dadanya kembali terasa sesak.
"Vy, saya butuh jawaban bukan tangisanmu. Selalu saja seperti ini, bisamu hanya menangis saja," bentak Nesha.
Karina yang melihat Vya menangis, mendekati Vya dan duduk disebelah Vya. Karina menggenggam tangan Vya.
"Mbak, apa Mbak benar benar mencintai Mas Adit?" tanya Karina.
"Iya aku sangat mencintainya dan aku tidak ingin membaginya dengan wanita lain," jawab Vya dengan bibir bergetar. Nesha yang geram hendak memaki Vya namun tertahan karena Karina melarangnya, dan Karina meminta ijin pada Nesha untuk bicara berdua saja dengan Vya. Nesha pun mengijinkan dan menasehati Karina agar tidak terlalu lunak terhadap Vya.
Karina dan Vya kini berada di dalam ruang kerja Adit, mereka duduk berdua di sofa yang terletak disudut ruangan.
"Mbak Vya, saya tau bagaimana perasaan Mbak Vya. Tapi Mbak, apa Mbak gak kasihan melihat Mas Adit," ucap Karina.
"Maksudmu,"
"Mbak, Mbak dan Mas Adit sudah dua tahun menikah, tetapi belum juga ada anak ditengah tengah kalian. Sedangkan diluar sana, teman teman serta saudara saudara Mas Adit mereka semua sudah memiliki anak. Apa Mbak gak kasihan, bisa bisa mereka menganggap Mas Adit gak normal Mbak,"
"Jadi....," Vya menggantung perkataannya dan diam seolah mengerti kearah mana pembicaraan ini.
"Setujulah untuk mengijinkan Mas Adit menikah lagi denganku, Aku akan memberikan Mas Adit keturunan. Dan Aku tidak akan memisahkanmu dari Mas Adit. Kamu tetap istri pertama Mas Adit, biarlah aku menjadi yang kedua. Karena aku juga mencintai Mas Adit sama sepertimu, bahkan jauh sebelum kamu hadir dikehidupan Mas Adit,"
"Karin, aku pikir kamu benar benar mengerti apa yang aku rasakan, ternyata kamu sama saja dengan Mama mertuaku," Vya tidak habis pikir, ternyata Karina sama saja dengan Mama mertuanya. Karina meemanfaatkan kelemahannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Itu karena aku mencintai Mas Adit Mbak, aku ingin dia bahagia dengan memiliki seorang anak dariku nantinya, tidak sepertimu. Kamu egois Mbak, sudah tau kamu tidak dapat memberikan Mas Adit seorang anak tapi masih saja terus bertahan. Sampai kapan Mas Adit harus menunggu Mbak, jangan sampai nanti Mas Adit sendiri yang meninggalkanmu. Pikirkan perkataanku baik baik, selain seorang istri, laki laki juga berharap akan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Aku permisi dulu, dan aku harap aku mendengar kabar baik darimu. Ingat jangan egois," Karina pun pergi meninggalkan Vya.
💐💐💐💐💐
Assalamualaikum teman², Terimakasih atas apresiasi teman² semua, tetap di tunggu ya up berikutnya. Dan jangan lupa berikan Like, Komen, serta Vote, Tips juga boleh jika teman² berkenan. BIG LOVE BUAT KALIAN 😘😘😘😘