Bosan dengan gaya hidup ugal-ugalan, mencoba menyelami jati diri yang mungkin terpendam dalam palung jiwa, merubah penampilan dan tabiat. Dari yang mulanya di tuduh sebagai salah satu ciri tanda kiamat, menjadi seorang ukhti. Baru terjun dalam hal baik langsung ditempa dengan cobaan hidup masa sekolah. Dirundung karena terlalu berbakat, dan penuh cinta, lantas timbul iri dengki teman sebangku yang menjelma bagai dewi nyatanya seorang munafik. Menghasut orang lain untuk membenci Aluna.
Bisakah Aluna mempertahankan kehidupan SMA nya tanpa kembali menjadi tomboy?
Mari ikuti kisahnya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diahps94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Libur Usai
"Widiw banyak juga duit kakak, bagi dong." Karin memergoki kakaknya yang sedang menghitung uang di kamar.
"Buat masa depan jangan ganggu." Aluna menampol tangan Karin yang meraba uang miliknya.
"Pajak buat adik, jangan pelit, sedekahlah anak muda." Petuah Karin.
"Tiap hari sudah ku beri lima ribu masih kurang?" Jatah makan Aluna disisihkannya untuk Karin.
"Ya cukup, tapi....tapi kan di suruh tabung, adek pengen jajan loh kak." Rengek Karin.
"Nih lima puluh, beli bakso tiga bungkus di tempat kang Udin, terus tanya ibu mau bakso apa mie ayam, sisanya buat kau." Aluna pikir mentraktir orang rumah tak ada salahnya.
"Wishh, mantap nih, berangkat." Karin semangat.
"Dasar tuyul gondrong, gak bisa cium bau duit langsung nyempil aja." Monolog Aluna.
Usai, keringatnya dibayar tunai. Aluna mengantongi uang senilai tiga juta rupiah. Tentu saja itu bukan hanya uang pokok, tapi bonus dan hadiah karena dapat juara. Baik Joko maupun Hanung memberi tips lebih, mereka senang mempekerjakan Aluna. Meski masih magang tapi kerja serius dan tenaganya mumpuni. Ingin di rekrut jadi karyawan tetap tapi harus mendukung mimpi Aluna untuk tetap bersekolah.
Tokk..tokkk...
"Apa ibu oleh masuk?" Kepala Mawar menyembul tapi masih meminta izin anaknya.
"Masuk saja Bu, sengaja tak di tutup kok." Sahut Aluna.
Mawar mengelus rambut anaknya. "Ibu bangga kau bisa meraup penghasilan di sela-sela libur sekolah."
"Heheh, siapa dulu dong." Aluna menepuk dada bangga.
Mawar amat haru, siapa sangka musibah membawa berkah. Aluna kini jauh lebih dewasa dan pengertian, belum lagi hubungan antar anak-anaknya menjadi harmonis dan hangat. Mawar bersyukur atas semua.
"Kenapa melamun Bu?" Aluna yang duduk di depan meja rias, mendongak melihat mawar yang berdiri di belakangnya.
"Tidak, ibu hanya bingung harus berucap apa, rasanya ibu sangat beruntung punya kau sayang." Mawar kembali mengelus rambut Aluna.
"Ah ibu jangan begitulah, nanti ujung-ujungnya nangis deh pasti, aku sedang hepi nih jangan ada airmata dong Bu." Aluna nyengir kuda.
"Dasar tak romantis." Mawar mencubit gemas anaknya.
"Bu ini uangnya Aluna tabung di ibu, pakai saja untuk kebutuhan ibu, nanti kalau Aluna mendesak butuh uang diminta tak apa ya Bu." Aluna menyerahkan uang di tangannya.
"Tidak, ibu berdosa kalau pakai uang anak, keringatmu yang penuh berkah itu ibu tak bisa ganti dengan apapun, simpan saja sayang." Mawar menolak, meski sulit bukankah kewajibannya menafkahi keluarga.
"Kalau disimpan uangnya tak berkembang Bu, hitung-hitung Aluna investasi di kedai ibu deh. Katanya kemarin kompor di kedai sudah tak fungsi, pakai dulu saja Bu." Aluna memaksa.
"Hah, kau ini pintar sekali buat ibu bingung." Mawar memang kerepotan karena harus bawa kompor dari rumah bolak-balik kedai dan rumah.
"Semoga Allah lipat gandakan ya nak, semoga berkah. Maaf ibu terima uangnya. Terimakasih." Akhirnya Mawar menerimanya.
"Sama-sama bu, ah senangnya. Rasanya Aluna ingin cepat kaya raya supaya ibu tak repot kerja lagi." Tekad Aluna kuat.
"Sekolah yang benar, kesuksesan bisa mengikuti." Nasehat Mawar.
"Memang ada sekolah yang tidak benar Bu? Tentu saja aku sudah benar-benar sekolah." Dumal Aluna.
"Astagfirullah, dipanggil dari tadi udah salam udah panggil-panggil nggak di jawab, malah rumpi disini, ini panas kuahnya." Karin masuk kamar Aluna dengan menenteng bakso.
Tak ada rasa kesal atau panik, ketiganya malah adu gelak tawa. Menyantap nikmat bakso pemberian Aluna. Rasanya sepuluh kali lebih enak dibanding beli dengan uang sendiri. Perubahan diri Aluna memberi imbas luar biasa. Siapa sangka sikap buruk Aluna hanya topeng, pribadi diri yang asli amat mulia dan mengagumkan. Aluna yang tak kenal lelah meski banting tulang membuat hati ibu dan adiknya menghangat. Penuh suka cita setiap harinya. Memupuk kebahagiaan bersama, mengikis rasa sengsara karena sang ayah jatuh sakit tak kunjung pulih.
Tidur rasanya begitu pulas, malas bangkit karena hangatnya pelukan ibu. Usai santap bakso malam hari, mereka bertiga memutuskan tidur bertiga di kamar Mawar. Alarm berdering hebat, kuping dengar tapi mata berat terjaga. Lagian Aluna malas bangun pagi hari ini. Dia sengaja menyisakan satu hari libur untuk bermalas-malasan, karena esoknya harus aktivitas semester baru. Takut ibunya segera dengar, Aluna bangun dan membuat senyap ponsel sang ibu.
"Astagfirullah jam berapa ini?" Mawar kaget, posisinya di timpa kedua kaki Karin dan Aluna, ayam jantan mulai tarung irama.
Menyingkap selimut, menggeser kaki-kaki tak tahu diri, lantas melihat jam di ponsel. "Bisa-bisanya aku lupa pasang alarm. Jadi bangun jam lima, niatnya bangun jam dua."
"Aluna, Karin bangun! Ayo solat subuh!" Menggoyang-goyang badan kedua anaknya.
"Eumhhhhh...." Lenguh Karin.
"Aluna PMS Bu, libur solat."
"PMS atau tidak pokoknya ayo bangun, ini sudah siang." Mawar lebih dulu membuat Karin terjaga.
"Ibu mah, kebiasaan selalu Karin yang dibangunkan lebih dulu." Kesal Karin.
"Soalnya kau tak akan terima melihat kakakmu masih tidur, pasti kau bangunkan dengan segala cara, kan ibu jadi enak." Mawar meninggalkan keduanya.
Buntut dipaksa bangun petang sekali oleh sang ibu, Aluna jadi bosan di rumah, karena bangun terlalu pagi. Di rumah sakit sudah setengah hari, hanya tiduran dan melihat sang ayah, membuatnya benar-benar pegal. Alhasil meninggalkan Karin seorang diri, dengan alasan menengok sang ibu di kedai. Karin mengiyakan, toh di rumah sakit juga tak melakukan apapun. Kalau tak ada kakaknya Karin bebas main ponsel, sedang jika ada Aluna dibatasi karena Karin main game terus.
Tak ada yang istimewa di pasar, bekerja tak lelah tak punya kerjaan jauh lebih tak enak. Melewati toko Hanung, Aluna melipir agar tak dipanggil. Tapi aroma Aluna seperti tercium dari radius lima kilometer pasar. Baru rencana melipir Hanung sudah membuka pintu geser toko lebar-lebar untuk Aluna.
"Paman pikir tak akan mampir. Ayo masuk!" Hanung mengira Aluna akan ke tokonya.
Menolak juga tak mungkin mengingat jasa Hanung padanya begitu luar biasa. "Iya paman."
"Katanya mau memaksimalkan liburanmu yang sisa sehari, kok ke pasar?" Hanum penasaran.
"Biasalah Tante bosen, kayaknya nggak nginjek pasar sehari ada yang kurang." Timpal Aluna.
"Halah, bilang saja kau rindu padaku kan." Restu menggoda Aluna.
Aluna tak menyahut mesti Restu anak Hanung dan Hanum tapi Aluna tak cari muka dengan berteman baik pada anaknya. Yang ada selama bekerja di toko Hanung mereka kerap kelahi. Bagaimana tidak kelahi, Restu tipikal manusia jahil tak tahu tempat. Sudah tahu berlian dan perhiasan lainnya mahal, Aluna sedang menata barang tiba-tiba Restu datang dan mengagetkannya, untuk reflek badan bagus jadi tak ada yang jatuh. Belum lagi jika Aluna sedang mengepel, Restu menganggu dengan sepatu kotornya. Pokoknya Restu adalah penghalang kesusksesan Aluna bekerja di tempat itu.
"Dih ngambek ya sayang hari ini belum aku kirim pesan cinta, kau sih tak datang aku jadi kerja rodi seorang diri." Restu berlagak mengelap semuanya dengan kemoceng.
"Kesambet setan apa sih orang itu, amit-amit dah." Aluna ngucap asal.
"Ekhmmm, jangan begitu dong sayang. Kok feeling Tante kuat banget nih kalau kalian bakal berjodoh." Hanum tahu anak bungsunya itu tak pernah ramah pada siapapun terkecuali pada Aluna.
"Aamiin." Kompak Restu dan Hanung.
"Puih...pait-pait jangan sampe malaikat denger, jangan diaminkan dong paman, taga apa Aluna dengan Restu jadi suami istri?" Rengek Aluna.
"Loh ya setuju sekali, wong Restu anak paman paling disayang loh ini." Hanung menarik senyum lebar.
"Tuhkan, tahu begini tak mampir sini. Sekarang paman dan Tante mulai menjodohkan ku dengan Restu, amit-amit aku tak mau." Aluna ngibrit tanpa pamit.
Seperginya Aluna, Restu yang sedari tadi berdiri di balik etalase keluar toko mengejar Aluna. "Yakk, jangan kabur dengan pura-pura mengejar cinta, kerja dulu Restu."
"Bentar pa lepas rindu dulu, besok Restu sudah ke Jogja lagi." Teriak Restu dari luar.
"Hahahhaha, serius apa ya pak si Restu itu?" Hanum mendekati suaminya.
"Entahlah, tapi sadar nggak sih ma, Restu jadi berkepribadian aneh tapi asik semenjak Aluna kerja disini." Tutur Hanung.
"Iya, dia kan cuek eh sama Aluna nempel mulu cari perhatian." Komentar Hanum.
"Namanya juga tebar pesona ma, kaya papa dulu ngejar mama. Eh tidak juga deng, kan mama yang ngejar-ngejar papa." Canda Hanung.
"Amit-amit, ya wajar ngejar papa orang setiap hari papa maling bekal mama di sekolah, emosi kalau diingat."
"Hahahaha, tapi kau suka kan di goda orang ganteng." Pede Hanung.
"Dih, kepedean."
"Tapi papa ganteng kan ma?"
"TIDAK!"
"Halah, masa iya. Katanya di dunia ini yang paling ganteng papa seorang."
"Diam pa, kerja! Dasar burik."
Bersambung
mksih author cerita ny sngt menghibur 🙏🙏🥰😍😘🤗
udah kayak rajaaa😂😂