Anak adalah titipan,anak adalah amanah,dan kewajiban kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.
Dan Dinda,yang diusia muda sudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi tiga buah hatinya harus berjuang keras menafkahi meskipun ada begitu banyak rintangan yang harus dihadapi.
Mampukah Dinda melewati ujian hidupnya seorang diri,sekuat dan segigih apa perjuangannya untuk ketiga anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penggemar Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agung minta kawin,,
"Pindahkan dulu barang barang kalian sementara" perintah Zaida di suatu pagi
"untuk apa bu?" tanya Yoga penasaran
"jangan banyak tanya,sebentar lagi ada tukang datang kemari" jawab Zaida santai
Dinda dan Yoga saling berpandangan sama sama tak mengerti,namun Dinda mengerlingkan matanya menyuruh Yoga menuruti saja apa kata ibunya.
"atau kalian bolehlah menginap di rumah nenek Yanti beberapa hari sampai renovasi kamar kalian selesai" ucap Zaida sambil mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar.
"renovasi?" ucap Dinda dan Yoga berbarengan,Zaida mengangguk memastikan.
"apa yang mau di renovasi bu? kan baru pas aqiqahan kemarin kamar ini di cat ulang" Yoga memberi tahukan ibunya
"udah gak usah banyak omong,turutin aja apa yang ibu bilang susah amat sih"
Dinda menarik baju suaminya untuk memberikan kode agar suaminya itu diam dan menuruti saja kemauan ibunya.
"baiklah,terserah ibu,Yoga dan Dinda akan membawa Galang menginap beberapa hari dirumah bu Yanti" Yoga segera membntu Dinda mengemasi baju baju dan keperluan mereka serta Galang untuk beberapa hari dirumah orang tua Dinda.
"iya,siap siap lah",Zaida mengambil bayi usia 6 bulan itu dan menggendongnya keluar dari kamar.
Yoga masih mengernyitkan keningnya tak mengerti kenapa ibunya jadi seperti itu.
"udah pa,biarin ibu mau ngelakuin apa,selama beliau merasa senang" Dinda dapat membaca pikiran sang suami yang dilanda kebingungan
"ibu gak mungkin berbuat yang merugikan dirinya dan orang lain,percayakan saja" Sambung Dinda lagi membuat Yoga mengangguk paham.
Akhirnya merekapun berpamitan pada Zaida dan Usman,
"baik baik disana ya cucu oma sayang" ucap Zaida sambil menciumi kening dan pipi dan leher Galang,membuat bocah laki laki yang baru belajar merangkak itu tertawa kegelian.
"hati hati nak bawa motornya,salam untuk bu Yanti ya Din" ucap Zaida
"iya bu nanti Dinda sampaikan,kami pamit dulu,Assalamualikum" Dinda mencium punggung tangan Zaida dengan takdzim
"Waalaikumsalam"
***
"eeeh cucu nenek dateng" sambut Yanti ketika melihat anak cucu dan menantunya datang,dalam sekejap Galang sudah berpindah tangan.
"nginep disini Din?" tanya Yanti ketika melihat tas yang penuh berisi pakaian tergeletak di lantai,,
"iya bu,mungkin untuk beberapa hari"
"waah,tumben bisa lama" sekalian menyindir maksudnya
Dinda dan Yoga saling menatap karena tau ibunya sedang menyindir
"rumah lagi di renovasi bu" jawab Yoga
"oooh" hanya itu jawaban Yanti,kemudian asik menimang nimang Galang
"kamu gak kerja Ga?" tanya Yanti pada Yoga
"hari ini nggak bu, nganterin Dinda sama Galang kesini dulu
Yanti manggut manggut mengerti
"kamarmu belum dibersihkan Din,biasanya selalu ibu yang bersihkan tapi akhir akhir ini badan ibu suka sakit sakit terutama di kaki,jadi gak bisa terllu banyak gerak" keluh Yanti
"ya sudah bu gak papa nanti Di da aja yang bersihkan,ibu harus banyak istirahat,jangan pergi pergi terus"
"ya kan ibu banyak kegiatan,gimana dong"
"fisik ibu udh gak sekuat dulu bu,harus dikontrol"
"hmmm,,iya ya kayanya,tapi untuk gendong cucu kayanya masih kuat aja" sahut Yanti sambil menimang nimag cucunya
"asal jangan bikin adek lagi aja" celetuk Wulan yang tiba tiba muncul dari kamarnya
"memangnya kenapa kalau ibu bikin adek lagi?" jawab Yanti
"iiiih,gak malu gitu nanti orang nanya,mana anak mana cucu bu"
"ish kamu ini" Yanti melayangkan jitakan di kepala Wulan,tapi Wulan justru tertawa dan kemudian ikutan menimang Galang
Yoga pun jadi ikut tertawa karenanya.
Dinda menggeleng geleng pelan melihat kelakuan ibu dan adiknya yang random itu.
"mumpung Galang lagi anteng aku beresin kamar dulu ya pa" ucap Dinda pada Yoga
"papa bantu" Yoga menyusul Dinda masuk ke kamar
Yanti yang melihat pemandangan seperti itu seketika menarik keatas kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan.
kebahagiaan orang tua adalah ketika melihat anaknya bahagia.
***
"Bu,itu kamarnya bang Yoga diapain?" tanya Agung yang keheranan melihat tukang keluar masuk ke kamar Yoga
"liat aja nanti" jawab Zaida singkat sambil memasukkan lagi keripik pisang ke dalam mulutnya
"Bu,Agung mau ngomong"
"iya ngomong aja" terus saja Zaida mengunyah keripik pisang yang ada di mulutnya,tanpa peduli pada Agung yang sedang serius mengajaknya bicara
"bu.."
"iya.."
"Agung mau nikah bu"
" uhuk,,uhuk,,uhuk" tiba tiba Zaida tersedak,secepat kilat Agung berlari ke dapur dan mengambilkan ibunya air minum.
"pelan pelan makanya bu,kan jadi tersedak" Agung membantu ibunya meminum air dari gelas,
"ini gara gara kamu Gung,ngagetin aja" Zaida menyikut rusuk Agung yang sedang membungkuk ke arahnya,
"koq ibu nyalahin sih? kan Agung cuma ngomong,ibunya yang kagetan" Agung membela diri
"lagian kamu dateng dateng langsung minta kawin,kaya ounya pacar aja"
"punya koq,udah lumayan lama malah deketnya" ucap Agung sambil mengusap usap rusuk sebelah kirinya
"ya harusnya kan kamu kenalin dulu sama ibu,baru ibu bisa nilai,orangnya gimana,baru bisa diputuskan kamu boleh nikahin apa nggak" sahut Zaida
"aaah ibu ribet" rajuk Agung
"kamu ini ya,bukannya ribet,kan kalo mau nikah itu harus tau bebet,bibit,bobotnya dulu" jelas Zaida
"si Yeni orang bu bukan taneman,segala harus ditanya bibit" Zaida menggeplk kepala putranya itu dengan cukup kencang membuat Agung meringis kesakitan
"bukan bibit yang begitu maksudnya,tapi kita harus tau dulu orangnya gimana,asalnya darimana,keluarganya bagaimana,begitu,jangan sampe kaya beli kucing dalam karung,dapet perempuan gak jelas asal usulnya" Jelas Zaida panjang lebar
Agung memonyongkan mulutnya membentuk huruf O
"namanya Yeni bu,asalnya dari pulau seberang,anaknya gak cantik sih tapi manis dan baik" jelas Agung juga
Zaida membelalak begitu mendengar penjelasan dari Agung
"orang pulau seberang? oh,nggak,nggak,nggak,ibu gak setuju,nanti bisa bisa kamu dibawa ikut sama dia" tolak Zaida
"ih ibu kenapa sih? kolot banget,beda adat cuma dikit doang,kan kita masih serumpun juga" rajuk Agung
sekali lagi Zaida menggeplak kepala Agung kali ini lebih kencang,Agung langsung mengaduh dan meringis kesakitan
"kamu ini,kalo dibilangin orang tua ngelawan terus,nurut apa kata ibu" bentak Zaida
"ibu mah KDRT,dapet kawin kagak,yang ada badan remuk semua" rutuknya
"gak usah banyak omong kamu,jangan bahas bahas nikah kalo yang kamu bahas perempuan itu" ancam Zaida
"aah bodo amat,nanti pasti Agung bawa kesini biar ibu liat orangnya gimana dan gak asal menilai aja"
"ni anak susah banget kalo dibilangin,gak pernah mau nurut" sentak Zaida
"ya ibu gak boleh begitu dong,belum kenal orangnya juga udah main nolak aja,gak adil itu namanya" Agung mencoba melawan meluruskan pemikiran ibunya.
Zaida terdiam sesaat.
itu blm seberapa, karma yg
di terima oleh anak mu yg tersayang.
siapkan mental, siapkan pisik.
dan berlapang dada.
thanks mbak 💪😍
bacanya, kayak buah dd Ng pake
bra, tergantung tapi masih nempel
di dada, kalo novel ini di hati.
thanks mbak 💪🥰