Aqila Mahendra, seorang gadis cantik berusia 21 tahun. Dia merupakan seorang mahasiswi disebuah universitas swasta di kota Jakarta. Ia bisa dibilang sebagai mahasiswi yang berprestasi di kampusnya, hal ini bisa di buktikan dengan beasiswa yang ia dapatkan dari tahun ke tahun hingga ia sampai di semester akhirnya.
Kemulusan hidupnya di dunia pendidikan tak sama dengan kemulusan hidupnya di dunia nyata. Hidup menjadi korban broken home bukanlah keinginannya, namun takdir sudah menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang korban dari keegoisan sepasang suami istri yang sudah tak lagi sejalan, apalagi ada orang ketiga yang hadir di pernikahan mereka.
Selepas perceraian sang ayah dengan bundanya, Aqila tinggal bersama sang bunda dan keluarga barunya. Disaat tinggal bersama sang bunda malapetaka pun terjadi di dalam hidup Aqila.
Mau tau malapetaka apa yang terjadi di hidup Aqila?
Yuk simak ceritanya sampai selesai ya. Happy reading guys..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sementara itu di sebuah rumah sakit, Tuan Yohanes yang keadaannya sudah membaik, sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan putra semata wayangnya.
Hanya dengan waktu kurang dari satu jam sejak perintah itu di turunkan. Bram sudah berada di hadapan Tuan Yohanes. Jika kalian bertanya dimana Aqilla saat ini. Ia sedang berada di dalam apartemennya. Ia tengah menangis tersedu-sedu seorang diri, ketika hanya bisa melihat tubuh suaminya yang sudah tak berdaya dibawa pergi oleh orang tak dikenal.
Pikirannya terus berputar, ia terus berspekulasi tentang kejadian yang baru saja menimpa mereka berdua. Sembari menangis meratapi jalan hidupnya yang tak mudah.
"Untuk bahagia begitu sangat sulit, apakah jalan kematian ku akan sesulit jalan hidup ku Tuhan?" ucap Nayla di sela tangisnya.
Kembali pada Bram yang tengah duduk dengan tangan terikat di sebuah kursi yang berada di sebuah kamar rawat sebuah rumah sakit, tempat dimana Aqilla bekerja.
Ya, Bram dibawa anak buah Tuan Yohanes ke rumah sakit dimana ia menjalani perawatan sejak siang tadi.
"Kau sudah mencoba menjadi anak pembangkang Bram!" pekik Yohanes dengan melemparkan sebuah cairan infus yang belum terpasang oleh perawat.
Bugh! Suara cairan infus yang tepat mengenai bagian dada Bram.
Bram hanya diam, ia sama sekali tak menanggapi perkataan sang Daddy. Ia terus saja menundukkan pandangannya. Ia tak ingin melihat wajah tua sang Daddy yang selalu memaksakan kehendaknya itu berhasil mengintimidasi dirinya.
"Apa yang kau lakukan bersama dengan wanita kotor itu Bram?" pekik Tuan Yohannes dengan berapi-api.
Meskipun ia sudah mengetahui semua kebenaran dan seluruh isi hati putranya, ia sama sekali tak bergeming. Ia tetap taak bisa menerima wanitaa seperti Aqilla masuk menjadi salah satu anggota keluarganya.
Di samping ranjang tidur Yohannes, duduk seorang wanita paaruh baya yang masih terlihat cantik. Polesan make up sederhana menambah kecantikan dan keeleganannya sebagai seorang wanita kaya yang memiliki sebuah kekuasaan.
Wanita yang biasanya suka memandang rendah orang lain, kini sedang menatap nanar wajah putranya.
"Bram, kenapa kamu masih berhubungan dengan gadis itu, Daddy sangat tak menyetujui hubungan kalian. Jawab pertanyaan Daddy Bram, atau kamu akan tersakiti karena amarahnya," batin Wina saat ia menatap wajah putra semata wayangnya.
Kesal melihat putra yang tak mau membuka mulutnya. Yohannes yang emosi turun dari ranjang tidurnya. Ia mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya.
Ia berjalan penuh emosi menghampiri kursi yang di duduki putranya. Tanpa bak bik bu. Yonannes segera menampar keras wajah tampan putranya hingga sudut bibirnya berdarah.
Kemudian ia mencengkram wajah putra semata wayangnya itu dengan satu tangannya. Bram yang masih tak ingin melihat wajah bengis sangDaddy, memilih memejamkan matanya.
Pria bertubuh kekar itu menitikan air mata, bukan rasa sakit karena kekerasaan fisik yang baru ia dapatkan dari sang Daddy, tapi karena hatinya begitu sakit karena memilki kedua orang tua yang tak bisa memahami perasaannya.
Melihat putranya menitikan air mata, bukan membuat hatinya tergugah tapi malah semakin berapi-api.
"Daddy rasa, kamu sudah cukup mengenal bagaimana karakter Daddy mu ini, Bram. Jangan coba-coba menjalanin hubungan dengan wanita itu lagi. Jika sampai itu terjadi Daddy tidak akan mengampuni mu dan Daddy pastikan sesuatu hal yang buruk akan terjadi di dalam hidupnya." ancam Yohannes pada Bram yang masih diam tak bergeming.
Yohannes membenci kelemahan Bram yang satu ini, hanya karena perasaan cinta Bram putranya bertingkah begitu menggelikan. Menangis seperti seorang perempuan.
Meski meneteskan air mata kesedihannya, Bram tak gentar untuk memperjuangkan kebahagiaan cintanya bersama Aqilla. Banyak rencana yang telah ia susun dengan mata dengan diamnya kali ini. Tak akan ia biarkan sang Daddy mencampuri urusan hatinya lagi.
Flashback on
Mobil Aqilla yang di kendarai oleh Bram, hampir saja mendekati hotel milik Bram, hanya tinggal beberapa ratus meter saja mereka pasti akan tiba di hotel untuk kembali memadu kasih.
Namun tiba-tiba sebuah mobil menghadang mobil Aqilla, dengan di ikuti beberapa mobil lain. Bram terlihat santai dan biasa saja melihat hal ini, berbeda dengan Aqilla yang terkejut dan ketakutan. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia mengalami hal ini.
Bram menatap plat nomor mobil sedan yang menghadang mobilnya. Ia menghembuskan nafas beratnya, ketika mengetahui bahwa mobil itu adalah mobil milik para bodyguard sang Daddy.
Bram melirik ke samping kanan dan kiri mobil dari spion mobil. Ia lihat pria bertubuh kekar seperti dirinya dalam jumlah yang banyak tengah berjalan menghampiri mobil Aqilla yang ia kendarai.
Sejenak ia menatap wajah Aqilla yang ketakutan melihat hal ini. Ia menggenggam tangan istri yang baru saja ia nikahi.
"Aqila, jika sesuatu yang buruk terjadi pada ku, pergilah tinggalkan aku. Biarkan mereka membawa pergi diri ku. Aku akan menemui mu setelah mereka melepaskan ku, kamu tak perlu mengkhawatirkan diri ku, aku pasti akan baik-baik saja, karena mereka adalah anak buah Daddy ku." ucap Bram yang membuat mata Aqilla membulat.
Belum sempat Aqilla menanggapi perkataaan suaminya. Dua orang diantara anak buah Tuan Yohannes sudah memecahkan kedua kaca mobil Aqilla dari kanan maupun kiri mobil.
"Aaaaaaa" Pekik Aqilla ketika pecahan kaca menghujani dirinya.
Bram memeluk Aqilla yang ketakutan, namun dalam sekejap pelukan itu terurai karena salah seorang di antara mereka menarik tubuh kekar Bram yang sedang memeluk Aqilla.
"Mas Bram!" Pekik Aqilla memanggil Bram. ketika ia melihat Bodyguard itu menarik tubuh suaminya menjauh dari dirinya.
"Qilla, jagalah dirimu dan ingat pesan ku." ucap Bram sebelum ia dibawa kesebuah mobil mewah yang terparkir di depan mobilnya.
Aqilla menatapi pedih tubuh Bram yang di paksa masuk ke dalam mobil itu. Ingin rasanya ia berlari dan merebut suaminya dari mereka, namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena sebuah pistol telah menempel di atas telinganya.
Flashback Off
tp dia sadar hanya Bram yg di cintai qila
kok kaya aneh gitu ya aq bacanya
bram kaya gitu masih mau saja
diminta untuk ninggalin wanitanya aja Masih pikir² ee masih mau aja sama bram
egois ingin memiliki tanpa mau berusaha dengan cara yg benar
mungkinkah dunia para bangsawan seperti itu di dunia nyata