Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lestoran jepang
Dion sengaja kali ini tidak melewati lift VIP yang seperti biasanya yang langsung menuju ke depan ruangan nya, tetapi ia memilih memakai lift untuk pengguna karyawan umum untuk menuju ke ruang rapat yang terletak di sebelah ruangannya.
sontak para pegawai yang berjalan berlalu lalang heboh, bukan karena mereka tahu bahwa mereka bertemu dengan pemilik perusahaan yang terkenal dengan kekejamannya serta memerintah yang tak terbantah, tapi karena Aura ketampanan Dion yang mampu menyihir mereka.
Pria dengan postur tubuh tinggi, berbadan atletis, kulit putih bening lebih dari kulit perempuan bahkan hidung mancung serta rahang tegas dan dipadu padankan dengan setelan jaz yang sangat cocok untuk tubuhnya.
wanita mana yang tak tersihir oleh ketampanannya yang memikat?
"wah, apakah dia dari divisi lain?"
"apa dia dilantai atas dekat dengan Tuan Presdir, jadi tak pernah terlihat?"
"apa dia artis?"
"tampannya"
dan ke kaguman itu tak mengecualikan Dewi yang memandangnya dengan mulut terbuka.
Ia kaku, memandangi Dion yang sedang berjalan tak lepas dari pandangan matanya yang takjub.
"belahan jiwaku", gumam Dewi tanpa sadar
sementara Dion menoleh kanan kiri mencari Kiko yang tak terlihat sebelum pintu lift terbuka dan siap untuk masuk ke dalamnya.
Ini masih jam makan siang, tetapi kenapa aku tidak melihatnya.
ucap Dion dalam hati sambil melirik jam tangannya.
"Nona Kiko ada diruang arsip Tuan" tebak Gogo yang tahu bahwa Bos nya sedang mencari seseorang
Dion mendehem salah tingkah karena tertebak sambil melonggarkan dasinya yang terasa tercekik karena malu
"aku tidak sedang mencarinya" sahut Dion
"ah, iya Tuan" Gogo sedikit terkekeh melihat Dion salah tingkah
Hingga lift berdeting dan dengan berat Dion dan Gogo memasuki lift untuk menuju keruangannya.
Dewi yang mematung sedaritadi tersadar setelah Dion memasuki lift, Ia mengejar Dion tapi sudah terlambat.
Dewi hendak mengejar pujaannya, Dion. tetapi saat Ia melihat nomor lantai yang dituju Dion, Dewi langsung ciut seketika karena karyawan dari divisi umum tak boleh memasuki ruangan pemilik perusahaan bahkan lantai atas saja jika tak ada hal sangat genting dan mendesak.
****
setelah selesai dia menyantap makan siangnya, Kiko kembali dengan aktifitasnya menata ulang arsip tapi kali ini Hilda membantunya sehingga pekerjaan Kiko sedikit ringan.
BEEP BEEP BEEP
dering bunyi ponsel milik Kiko, yang kebetulan Ia letakkan diatas meja. sementara dirinya sibuk dengan menata arsip di rak.
Hilda yang mendengar dering panggilan, kemudian Ia mencoba melihat layar ponsel milik Kiko
'Pria Tertampan' memanggil
"Kiko, kau dapat panggilan dari pacarmu tuh. lekas kau angkat biar dia tidak marah!" ucap Hilda terkekeh
"pacar apaan?" Kiko memutar bola matanya jengah.
tak urung dia beralih menggapai ponsel yang berdering miliknya,
"sejak kapan aku menyimpan nomor seseorang seperti ini?" Kiko memutar otaknya berpikir
lalu Ia mengangkatnya tanpa mampu mengembalikan ingatannya saat Dion meminta ponselnya dan mengetik sesuatu.
"hallo" jawab Kiko
"mesum, kenapa kau lama sekali mengangkatnya sih?"
"oh Tuan, maaf saya sedang sibuk bekerja"
"sekarang masih jam makan siang, bisa bisanya kau berbohong"
"saya tidak berbohong Tuan, bahkan saya tidak boleh pulang jika pekerjaan saya belum selesai"
"hah, sejak kapan THORY GROUP menyiksa pegawai seperti itu? setauku pukul lima sore mereka harus pulang karena jika tidak maka mereka dianggap tidak kompeten dalam bekerja"
Kiko semakin frustasi karena pekerjaannya tidak akan kelar sampai waktu yang ditentukan.
"maka dari itu saya harus segera menyelesaikan pekerjaan saya", sahut Kiko kesal
"cih, baiklah jika kau memang memilih bekerja"
"Ng maksud Tuan?"
"tak apa, aku akan menunggumu dirumah"
Dion lalu memutus panggilan telfonnya.
arghhh padahal aku ingin mengajaknya makan siang bersama, ah sudahlah. dia pasti sudah makan dan punya tenaga untuk bekerja kembali.
"Go, kau hentikan pekerjaan tak berguna Kiko. buatlah dia senyaman mungkin!"
"baik Tuan"
tanpa banyak bertanya Gogo langsung melaksanakan perintah Dion dan langsung menghubungi bagian humas agar tidak ada seorang pun yang menyentuh ruang arsip agar Kiko terbebas dari pekerjaan berat tersebut.
****
"ah, akhirnya" Kiko melemparakan badannya yang pegal di kursi kerjanya
begitupun dengan Hilda yang ikut terasa pegal pegal karena harus mengangkat beberapa map tebal.
Kiko melihat suasana kantor tak sepi seperti biasanya, banyak diantara mereka yang bahkan masih bergosip juga ada beberapa yang fokus dalam bekerja.
"ada apa sih?" tanya Kiko pada teman sebelahnya
"ah itu, mereka tadi bertemu dengan pria tampan. kayanya sih artis"
"hah, artis? benarkah?" Kiko tak kalah girangnya karena dia memang pecinta oppa korea tampan
"benar, tapi sepertinya dia langsung menuju ke ruang Presdir jadi tidak ada yang berani mengejarnya"
"ah, jadi gosip tentang Presdir kita itu benar" gumam Kiko
Kiko juga menoleh pada Dewi yang duduk terpaku dengan segala khayalannya, senyum senyum sendiri sambil bekerja.
"emangnya se tampan apa sih dia?" gumam Kiko penasaran.
****
Riko mendekati Kiko yang tengah membereskan meja kerjanya agar tertata rapi sebelum Ia pulang.
"Kiko, pulang bareng yuk?" tawar Riko
"ah tidak terimakasih"
duh, dia langsung menolak
"apa kau sudah ada yang menjemput?"
"tidak, aku bisa pulang naik bus atau taxi"
jelas sekali menolakku
"aku ingin d e k a t denganmu!" ucap Riko tanpa basa basi
Kiko hanya tercengang mendengar pengakuan mendadak dari Riko.
"jadi.." Riko menggaruk tengkuknya canggung, "pulanglah bersamaku ya?"
Kiko hendak meng iya kan ajakan Riko tapi saat itu pula Riko berniat membantu Kiko agar cepat membereskan meja kerjanya dan tanpa sengaja menyentuh tangan Kiko saat sama sama mengambil berkas yang berserakan.
sontak Kiko langsung menarik cepat tangannya dengan perasaan jijik bercampur getaran.
"maaf, aku harus pulang!" Kiko tanpa menunggu jawaban Riko langsung pergi begitu saja dengan buru buru
Riko tercengang dan membelalak, terkejut akan reaksi Kiko pada dirinya yang sangat jelas.
"hei Rik, ngapain kau begong? hayo kita pulang!" ucap Arif sambil menepuk punggung Riko
"lihat!" memaparkan telapak tangannya dekat mata Arif, "apa tanganku kotor? aku aku terlihat jorok?"
"apaan sih kau aneh sekali?" sahut Arif karena jelas Ia tak menemukan kotoran ditangan putih mulus milik Riko.
"kenapa dia melihatku dengan tatapan jijik begitu?" gumam Riko sedikit merengek
"kenapa sih? udah ah, yuk pulang!"
****
Dion sudah menunggu Kiko sedari tadi, mengawasinya lewat jendela, apakah Kiko sudah datang atau belum.
"eh, dia sudah pulang"
Dion langsung bergegas keluar, pura pura menonton televisi dengan kaki diatas meja.
"selamat sore Tuan" sapa Kiko ketika memasuki rumah
"hm sore" jawab Dion
Kiko segera memasuki kamarnya, membersihkan diri lalu bersiap untuk menyiapkan makan malam untuk Dion.
"hari ini tidak usah masak!" perintah Dion
"apa kita akan makan diluar?"
"iya" sahut Dion membuat Kiko senang
"asik, kita akan makan malam dimana Tuan?"
"lestoran Jepang!"
"benarkah? Anda serius?" Kiko girang
"iya"
"terimaksih Tuan, terimakasih. Tunggu sebentar saya akan mengambil jaket"
Kiko pun langsung bergegas mengambil jaket andalannya yang tebal, memiliki lengan yang jauh lebih panjang agar jemarinya tertutup untuk menghindari bersentuhan langsung dengan sesorang.
dia imut sekali sih, kenapa sampai segirang itu.
Dion terkekeh melihat tingkah Kiko.
****