Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sesuai Harapan
"Mas.. Mas.. Malu.. Banyak orang.." Reisya mendorong lembut dada Ridwan supaya menghentikan ciumannya di depan muka umum.
"Aku hanya mengecup keningmu. Kini aku sadar. Aku sangat menyayangimu."
"… … … …" Reisya terdiam kaku mendengar pernyataan Ridwan dan memandang lekat wajah Ridwan. Hal yang terasa sangat berbeda dengan sikap Ridwan selama 3 bulan pernikahan.
Bruuuuakk… Ciiiiittt… Baraaakk… Suara benda keras saling berbenturan dan suara roda ban kendaraan yang bergesek dengan aspal. Sebuah truk hilang kendali dan menabrak halte bus tempat seharusnya Reisya menunggu bus.
"Mas.. Ada kecelakaan." Mendengar suara benturan, dengan segera Ridwan menarik tangan Reisya yang sedang kaget dan berbicara kepada Ridwan. Tarikan dari Ridwan di lakukan supaya mereka cepat bergerak menjauhi lokasi kecelakaan tersebut.
"Mas, kita gak bantu korban kecelakaan itu mas." Reisya berbicara saat tangan Reisya terus di tarik oleh Ridwan.
"Gak usah.. Nanti kamu trauma liat banyak darah. Sebaiknya kita menjauh." Ridwan berbicara dengan terus mengajak Reisya menjauh dari tempat tersebut. Tarikan di tangan Reisya, kini berganti pelukan di pundak Reisya.
"Kenapa mas Ridwan tiba-tiba berubah sikap? Terasa sangat menghangatkan. Mungkin ini juga yang aku inginkan. Semoga aku terus mendapatkannya sampai ajal menjemputku." Reisya membatin saat Reisya berjalan dengan di peluk oleh Ridwan.
"Mas, aku sudah masakkan makanan buat mas Ridwan. Kita cari tempat buat makan bareng yuk..?" Terlihat raut wajah bahagia di tunjukkan oleh Reisya saat berbicara demikian. Mendengar permintaan istrinya, Ridwan tersenyum dan menganggukkan kepala.
Dengan segera, Ridwan mengajak Reisya ke cafe yang terlihat dari tempat mereka berjalan. Mereka berdua memasuki cafe tersebut untuk memakan makanan yang sudah di bawa oleh Reisya.
Mereka duduk saling berhadapan, hingga Ridwan dapat melihat wajah istrinya dengan puas. Hal yang benar-benar membahagiakan bagi Ridwan. Perubahan sikap Ridwan juga berdampak pada senyum Reisya yang sering dia tunjukkan kepada Ridwan.
Kraaaak… Kreeek.. Kraaataaak.. Suara kayu patah. Kayu atap kafe patah dan menimpa Reisya yang sedang duduk di depan Ridwan. Kepala Reisya tertembus oleh kayu patah yang menancap dari atas ke bawah. Dengan seketika Reisya tewas di hadapan Ridwan.
"Aaaaaaaa… Aaaaa… Aaaaaaaaaaa…." Teriakan Ridwan saat melihat wajah penuh senyuman Reisya yang secara tiba-tiba berganti dengan wajah berlumuran darah dan tergeletak di lantai dengan kepala tertembus kayu. Membuat Ridwan sangat teramat syok.
Kini kematian Reisya di lihat langsung oleh Ridwan. Terlihat sangat jelas detik-detik peristiwa saat istri tercintanya harus tewas mengenaskan. Kini suara teriakan Ridwan sampai tidak keluar karena sangat teramat syok atas kejadian tersebut.
Teriakan bukan hanya dari mulut Ridwan, tetapi pengunjung yang lain juga berteriak histeris.
Ridwan terus melihat darah yang terus keluar dari kepala Reisya. Kini Ridwan seakan terpaku tidak sadar dengan terus memandangi tubuh Reisya yang sesekali masih berdenyut karena reaksi otot.
Cukup lama Ridwan terpaku dalam diam untuk memahami semua kejadian yang secara tiba-tiba. Tidak ada orang yang mendekat untuk sekedar menenangkan Ridwan yang masih terpaku karena syok.
Orang-orang khawatir dan takut jika atap bangunan akan runtuh seluruhnya setelah ada kayu yang patah. Ridwan yang berada dalam posisi duduk di lantai melihat tubuh Reisya berlumuran darah, kini perlahan mundur dengan terus memandang wajah Reisya.
"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin… INI TIDAK MUNGKIIIIN.." Setelah berbicara demikian dengan berteriak, Ridwan berpaling dan berlari keluar dari cafe.
Ridwan terus berlari menuju tempat mesin waktunya berada. Di saat Ridwan berlari, Ridwan melewati tempat kejadian kecelakaan truk yang seharusnya menewaskan Reisya. Terlihat sudah tidak ada korban kecelakaan yang masih berada di sana. Para korban sudah di bawa oleh ambulan menuju ke rumah sakit.
Ridwan tidak menghiraukan halte tersebut dan terus berlari sekencang-kencangnya. Ridwan berlari sampai kakinya sudah tidak mampu lagi untuk berlari lalu Ridwan terduduk lesu di sebuah trotoar.
"Aku kemari untuk mengubah masa lalu ku bersama Reisya. Aku ingin mengajak Reisya hidup bahagia. Hanya itu yang aku inginkan." Dengan menangis Ridwan berbicara kepada dirinya sendiri.
"BUKAAN IINIII YANG AKU HARAPKAAANN!!!" Ridwan berteriak sekencang-kencangnya hingga mengagetkan semua orang yang sedang berada di sekitar.
Kini Ridwan tertunduk mengingat senyuman Reisya. Tetapi saat Ridwan mengingat senyuman Reisya, dengan cepat ingatan kejadian saat Reisya harus tewas di depannya muncul dalam bayangan ingatan Ridwan.
Ingatan yang tidak di inginkan Ridwan terus muncul setiap kali Ridwan mengingat senyuman Reisya. Terlihat wajah terkejut dengan menahan sakit di wajah Reisya yang berlumuran darah dalam setiap Ridwan melamun mengingat senyuman Reisya.
"Mengapa bisa begini..? Mengapa harus seperti ini..? Aku tidak menginginkan seperti ini..?" Tanpa terasa air mata Ridwan meleleh di pipinya dengan deras."
"Hei nak.. Bersabarlah.. Kau boleh menangis.. Kau boleh berteriak.. Tetapi kau tidak boleh menyerah. Itulah laki-laki." Seorang pria cukup tua memberikan nasehat kepada arga yang sedang menangis duduk di trotoar.
Mendengar ada seseorang yang berbicara padanya, Ridwan menoleh ke orang tersebut dan menganggukkan kepala. Jawaban singkat tetapi memiliki arti yang sangat jelas.
Kesedihan ku kembali terulang.
Kepedihan ku kembali bersarang.
Kini aku tidak lagi berdaya.
Tidak juga memiliki daya.
Kematian yang terulang, menyakiti hati terdalam.
Bunga yang mekar kini layu.
Istri cantik berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Setelah mendengar ucapan dari seorang pria yang cukup tua, Ridwan kembali berlari. Ridwan berlari, berlari, terus berlari dengan harapan sakit hatinya dapat hilang karena di gantikan dengan sakit di kakinya.
Usaha yang sia-sia Ridwan lakukan. Bayangan kematian Reisya terus membayanginya. Nafas yang semakin menyesakkan di dada, memaksa Ridwan untuk berhenti berlari dan berjalan tertunduk meratapi kepedihan.
Kini Ridwan telah sampai di jalan tempat tanah yang di tumbuh banyak ilalang yang menyembunyikan mesin waktunya dari semua pandangan orang. Ridwan berlajan dengan kesedihan mendalam menuju ke mesin waktunya.
Ridwan tidak ingin menyerah. Ridwan ingin terus mencoba sampai tujuannya untuk merubah masa lalunya benar-benar berhasil.
"Aku tidak akan menyerah. Aku sudah melangkah. Aku harus berhasil dengan tujuanku." Ridwan membatin dengan terus menerjang tumbuhan liar yang menjalar di semua lahan kosong tempat mesin waktu Ridwan tersimpan.
Kini Ridwan menekan sebuah tombol di remot yang Ridwan miliki. Tombol untuk menghilangkan kamuflase dari mesin waktu Ridwan.
Melihat mesin waktunya, dengan segera Ridwan menuju kesana dan menaikinya. Ridwan mengatur ulang waktu untuk pergi ke masa lalu sebelum Reisya tewas.
Perjalanan waktu kembali Ridwan lakukan demi senyum yang dirindukan. Demi mengubah masa lalunya yang membuat Ridwan terpuruk dalam kehidupan.
Setelah semua di atur, kini Ridwan menekan tombol untuk membawa Ridwan kembali ke masa lalu.
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..