SINOPSIS:
"Lima ratus tahun di dunia kultivasi mengajarkanku satu hal: kebaikan adalah kelemahan, dan pengkhianatan hanya bisa dibayar dengan darah."
Ethan Mahendra adalah seorang pemuda genius yang hidupnya dihancurkan dalam semalam oleh keserakahan Keluarga Wijaya—konglomerat penguasa kota. Dianiaya hingga sekarat di sebuah gang gelap, jiwanya justru terlempar ke Alam Kultivasi Bawah. Di sana, ia merangkak dari dasar lumpur, bertarung melintasi lautan darah, hingga berhasil menyentuh puncak tertinggi sebagai kultivator "Alam Kenaikan Abadi Bintang 9". Namun, tepat sebelum ia melangkah ke Alam Keabadian, sembilan sekte besar mengkhianatinya.
Alih-alih binasa, ledakan jiwanya justru melempar Ethan kembali ke masa lalu—masuk ke dalam tubuh mortal aslinya di Bumi, tepat beberapa menit setelah ia dipukuli hingga hampir mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Aditiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Keluar dari Segel
Bab 6: Bayangan yang Keluar dari Segel
Tatapan merah makhluk itu menembus jendela penginapan.
Untuk sesaat, waktu seakan berhenti.
Ethan tidak bergerak. Ia hanya mengamati napas makhluk itu yang berat dan tidak teratur. Tubuhnya menyerupai anjing liar, tetapi bulunya hitam legam seperti terbakar. Di beberapa bagian, kulitnya telah mengelupas hingga memperlihatkan daging keabu-abuan yang terus mengeluarkan kabut hitam.
Yang paling mencolok adalah matanya.
Bukan mata seekor binatang.
Melainkan mata makhluk yang dipenuhi kebencian.
"Qi Yin..."
Pikiran Ethan langsung menghubungkan pemandangan itu dengan ingatan lima abad lalu.
Makhluk seperti ini tidak lahir secara alami. Mereka tercipta ketika energi Yin yang sangat pekat merasuki makhluk hidup selama puluhan atau bahkan ratusan tahun.
Di Dunia Kultivasi, mereka disebut Binatang Bayangan.
Namun Binatang Bayangan tidak mungkin muncul begitu saja.
Harus ada sumber energi yang membangunkannya.
Atau...
Segel yang mulai melemah.
Di halaman penginapan, gadis yang terluka berusaha menyeret tubuhnya menjauh.
Darah terus mengalir dari bahunya.
Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya masih menyimpan tekad.
"A... ayo..."
Ia mengulurkan tangan kepada seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun yang bersembunyi di balik gerobak mi.
Anak itu menangis ketakutan.
"Kak..."
Makhluk itu menggeram pelan.
Tatapannya beralih dari Ethan menuju dua manusia di bawah.
Otot-otot kakinya menegang.
Ia hendak menerkam.
Tanpa berpikir panjang, Ethan membuka jendela dan melompat turun dari lantai dua.
Tubuhnya mendarat dengan bunyi pelan.
Benturan itu membuat luka-luka di tubuhnya kembali terasa nyeri, tetapi wajahnya tetap tenang.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
Pemilik penginapan berteriak panik.
"Anak muda! Lari!"
Ethan tidak menjawab.
Tatapannya hanya tertuju pada makhluk itu.
Binatang Bayangan kembali menggeram.
Ia mengendus udara beberapa kali.
Kemudian kepalanya sedikit miring.
Seolah mengenali sesuatu.
Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya mulai berputar semakin cepat.
"Energi spiritual..."
Suara itu tidak keluar dari mulutnya.
Melainkan langsung menggema di kepala Ethan.
Ia sedikit mengernyit.
"Kesadarannya belum sepenuhnya hilang?"
Binatang Bayangan tingkat rendah biasanya hanya bertindak berdasarkan naluri.
Namun makhluk ini masih mampu berkomunikasi secara mental.
Artinya...
Ia lebih berbahaya daripada yang diperkirakan.
Makhluk itu tiba-tiba menghilang.
Bukan benar-benar lenyap.
Melainkan bergerak sangat cepat.
Ethan memutar tubuhnya sepersekian detik sebelum cakar hitam menyapu udara di tempat ia berdiri tadi.
Brak!
Tiang kayu penginapan patah seketika.
Debu beterbangan.
Beberapa tamu berteriak histeris dan berlarian keluar menuju jalan raya.
Ethan mundur dua langkah.
Lengan kirinya terasa panas.
Ujung cakar itu sempat menggores jaketnya.
Sedikit lagi...
Kulitnya akan robek.
"Kecepatan setara Alam Pemurnian Tubuh Bintang 4..."
Dengan kondisi sekarang, ia tidak bisa menang hanya mengandalkan kekuatan.
Ia harus mencari kelemahan.
Makhluk itu kembali menerjang.
Kali ini Ethan tidak menghindar lurus ke belakang.
Ia bergeser ke samping.
Tangannya mengambil kursi kayu yang tergeletak di dekat pintu.
Bukan untuk menyerang.
Melainkan melemparkannya ke arah lampu jalan.
Prang!
Bola lampu pecah.
Seluruh gang langsung menjadi gelap.
Binatang Bayangan berhenti.
Matanya menyipit.
Makhluk itu memang hidup dalam kegelapan.
Namun justru cahaya reduplah yang membantunya membedakan bentuk mangsa.
Sekarang...
Penglihatannya sedikit terganggu.
Kesempatan itu dimanfaatkan Ethan untuk menarik gadis yang terluka menjauh.
"Masih bisa berjalan?"
Gadis itu menatap Ethan dengan bingung.
"Kau..."
"Jawab."
"...Masih."
"Kalau begitu bawa anak itu pergi."
"Tapi monster itu..."
"Aku akan menahannya."
Nada bicara Ethan tetap datar.
Tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mempertaruhkan nyawanya.
Gadis itu menggigit bibir.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun akhirnya hanya mengangguk.
Ia segera menarik tangan bocah kecil tadi.
Mereka berlari menuju ujung jalan.
Makhluk itu hendak mengejar.
Tetapi Ethan mengambil batu bata di dekat kakinya dan melemparkannya.
Tak!
Batu itu menghantam pelipis makhluk tersebut.
Tidak menimbulkan luka berarti.
Namun cukup mengalihkan perhatiannya.
Tatapan merah itu kembali terkunci pada Ethan.
"Manusia..."
Suara serak kembali menggema di benaknya.
"Kau... berbeda..."
Ethan diam.
Makhluk itu perlahan mengitari dirinya.
Seolah sedang menilai.
Lalu...
Ia mengendus udara sekali lagi.
Tiba-tiba tubuhnya bergetar.
"Mustahil..."
Tatapan merahnya berubah.
Bukan marah.
Melainkan...
Takut.
Perubahan itu tidak luput dari perhatian Ethan.
"Ia mencium jejak jiwaku."
Tubuh Ethan memang lemah.
Namun jiwanya tetap jiwa seorang mantan kultivator yang pernah berdiri di ambang Alam Kenaikan Abadi Bintang 9.
Aura jiwa semacam itu sulit disembunyikan sepenuhnya.
Bagi makhluk yang sensitif terhadap energi spiritual...
Rasa takut adalah reaksi yang wajar.
Namun rasa takut itu hanya berlangsung sesaat.
Kabut hitam di sekitar tubuh Binatang Bayangan tiba-tiba bergolak hebat.
Matanya kembali memerah.
"Harus..."
"Membunuh..."
"Semua..."
Kalimat itu terdengar seperti dua kesadaran yang saling bertabrakan.
Satu berusaha mempertahankan akal sehat.
Yang lain memaksanya menjadi monster.
Ethan menarik napas perlahan.
"Jadi begitu."
"Masih ada kesadaran manusianya."
Ia sengaja mengucapkannya keras.
Makhluk itu membeku.
"Siapa... kau..."
"Kau masih bisa mendengarku."
"Jawab."
Binatang Bayangan memegangi kepalanya.
Suara geram memenuhi udara.
"Tidak..."
"Diam..."
"Pergi..."
Kabut hitam semakin pekat.
Retakan muncul di tanah sekitar kakinya.
Ethan menyadari sesuatu.
Makhluk ini bukan sumber masalah.
Ia hanyalah korban.
Seseorang...
Telah memasukkan Qi Yin ke dalam tubuhnya.
Belum sempat Ethan bertindak...
Suara peluru memecah udara.
Dor!
Peluru menghantam bahu Binatang Bayangan.
Makhluk itu meraung keras.
Dari ujung jalan, tiga kendaraan hitam berhenti mendadak.
Belasan orang bersenjata lengkap keluar dengan cepat.
Mereka mengenakan seragam hitam berlambang naga perak.
Divisi Khusus Pemerintah.
Kapten mereka segera memberi perintah.
"Target non-manusia ditemukan!"
"Tim Satu kepung!"
"Tim Dua lindungi warga!"
Mereka bergerak sangat terlatih.
Namun Ethan justru sedikit menggeleng.
"Terlalu cepat..."
Benar saja.
Peluru biasa hanya membuat Binatang Bayangan semakin mengamuk.
Kabut hitam meledak keluar dari tubuhnya.
Salah seorang anggota tim langsung terpental menghantam tembok.
Dua lainnya terlempar beberapa meter.
Kapten itu mengumpat.
"Sial!"
"Ini bukan kelas C!"
Ethan memperhatikan tanpa ikut campur.
Ia sedang menilai kemampuan mereka.
Disiplin.
Koordinasi bagus.
Namun pengetahuan mereka tentang makhluk spiritual masih kurang.
Kalau terus bertarung seperti itu...
Korban akan bertambah.
Kapten akhirnya menyadari keberadaan Ethan.
"Kau!"
"Menjauh!"
Ethan tetap berdiri.
"Kalau kalian terus menggunakan peluru itu..."
"...dia akan kehilangan kesadaran sepenuhnya."
Kapten menatap tajam.
"Kau siapa?"
"Bukan urusanmu."
"Kau tahu makhluk ini?"
"Sedikit."
Kapten menggertakkan gigi.
Ia tidak suka nada bicara Ethan.
Namun sebelum sempat membalas...
Binatang Bayangan melompat tinggi.
Arahnya bukan ke Ethan.
Melainkan ke seorang anggota muda yang sedang menolong warga sipil.
Jarak mereka terlalu dekat.
Mustahil menghindar.
Tanpa ragu, Ethan berlari.
Tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
Qi di meridiannya juga terbatas.
Namun ia tetap bergerak.
Sesaat sebelum cakar hitam itu mengenai prajurit muda tersebut, Ethan menendang tong sampah logam ke arah lintasan makhluk itu.
Dentang!
Tong itu menghantam tubuh Binatang Bayangan.
Lintasannya berubah.
Cakarnya hanya menggores bahu prajurit itu.
Meski selamat, Ethan merasakan dadanya sesak.
Qi yang tersisa kembali terkuras.
Kapten melihat semuanya.
Tatapannya berubah sedikit.
Pemuda ini...
Bukan sekadar warga biasa.
Tepat ketika kedua pihak kembali bersiap...
Seekor burung gagak hitam mendarat di tiang listrik.
Matanya berwarna hijau.
Ia mengeluarkan suara melengking yang aneh.
Binatang Bayangan yang semula mengamuk mendadak berhenti.
Ia menoleh ke arah burung itu.
Kemudian...
Perlahan mundur.
Seolah menerima sebuah perintah.
Ethan langsung menyipitkan mata.
"Itu bukan gagak."
Benar saja.
Tubuh burung itu berubah menjadi gumpalan kabut hitam.
Kabut tersebut membentuk sosok manusia berjubah panjang yang berdiri di atas tiang listrik.
Wajahnya tertutup topeng putih tanpa ekspresi.
Ia memandang Ethan beberapa saat.
Lalu tertawa pelan.
"Menarik..."
"Akhirnya aku menemukanmu."
Suara itu tenang.
Namun membuat bulu kuduk seluruh anggota Divisi Khusus berdiri.
Kapten segera mengangkat senjatanya.
"Siapa kau?"
Sosok berjubah mengabaikannya.
Tatapannya tetap tertuju pada Ethan.
"Lima ratus tahun..."
"Kau membuat kami mencarimu sangat lama, Yang Mulia."
Mata Ethan menyipit.
Kalimat itu...
Hanya mungkin diucapkan oleh seseorang yang mengenalnya di Dunia Kultivasi.
Namun sebelum sempat bertanya, sosok berjubah mengangkat satu jarinya.
Kabut hitam menyelimuti Binatang Bayangan.
Dalam sekejap, monster itu lenyap bersama sang pria.
Yang tertinggal hanyalah suara lirih yang bergema di udara malam.
"Kalau ingin mengetahui siapa ayahmu sebenarnya..."
"...datanglah ke Gerbang Senja sebelum bulan purnama."
Di tangan Ethan, kotak kayu hitam yang sejak tadi tenang tiba-tiba bergetar sendiri.
Dari sela-sela tutupnya, seberkas cahaya biru perlahan keluar, membentuk sebuah peta kuno yang melayang di udara.