Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan kecil dari mantan
"Jadi kamu mengusikku pagi-pagi begini hanya untuk meluruskan kesalah pahaman kalian?"
Katrina tatap dua sejoli di depannya di jam 6 pagi itu. Ia menepuk dahinya tak habis fikir. Menatap Dewa yang tersenyum miring ke arahnya sambil merangkul Aza di samping.
"Kenapa? Bukannya kau dulu yang mengusikku setiap ada hal yang tidak kau mengerti? Sekarang jelaskan." balasnya, melirik Aza yang memberengut menatapnya itu, "Lihat, gara-gara ketidak tahuanmu itu, kau membuat kami salah paham 5 tahun, Katrina."
Katrina menghela nafas panjang, mengangguk-angguk sembari menatap Aza yang juga menatapnya itu serius.
"Yah, seperti yang kamu dengar. Aku cuma gantiin posisi Dewa dulu." jawabnya, setengah malas.
Aza menarik nafas dalam. Dia tau betul perangai Katrina seperti apa. Dari awal wanita itu memang ada niat mendekati Dewa. Aza tau betul karena dia juga wanita.
"Jadi sudah puas kan? Aku masih ada urusan." dengus wanita itu, segera berdiri. Meninggalkan mereka berdua dengan angkuh masuk ke dalam.
Aza menghela nafas panjang, menatap jengah Katrina yang bersikap sombong di depannya itu. Yah, mana mungkin primadona sepertinya mau dilihat kalah di depannya hanya karena pria yang berusaha keras dia ambil hatinya masih tertanam di masa lalu.
"Gimana? Udah ngga salah faham lagi kan?" bisik Dewa di samping.
Aza menghela nafas panjang, lalu mengangguk, "Iya iyaa....kita pulang, aku malas disini."
Aza segera berdiri, keluar lebih dulu meninggalkan Dewa. Pria itu lantas mengekor di belakang, meraih tangan Aza untuk keluar bersama.
"Sudah....Katrina memang seperti itu orangnya."
Aza mengangguk lemah. Meski Dewa sudah jujur. Tetap saja ia tidak merasa tenang. Katrina seperti tak suka melihat kami bersatu kembali. Terlihat jelas wanita itu masih menyukai Dewa. Namun ia harus berfikir positif sekarang. Setidaknya Dewa sudah jujur.
"Aku ingin makan." dengus wanita itu.
Senyum di bibir Dewa merekah, "Kita ke restoran sekarang."
Dewa tarik tangan Aza menuju mobil, namun wanita itu menahannya. Membuat langkah Dewa terhenti. Berbalik perlahan, "Kenapa?"
Aza lirik penjual lapak kecil di ujung sana. Lalu menatap Dewa dengan mata bundarnya yang polos, "Aku mau mie ayam."
Dewa melongo saat itu juga. Lalu tertawa akhirnya. Ia kira wanita tidak suka makan di tempat terbuka seperti itu. Namun ternyata Azalea cukup unik. Ia menjadi merasa bersalah karena dulu jarang mengajaknya jalan-jalan. Sekarang ia berniat akan mengganti masa-masa yang tertinggal dulu sekarang.
"Baiklah, sesuai keinginan tuan putri..." kekeh Dewa, mengikuti langkah Aza yang memimpin di depan.
Melihat Aza yang pendek menggandeng tangan memimpin di depannya. Ia seperti sedang diarahkan oleh kelinci kecil. Terlihat lucu dan menggemaskan.
"Nah, kamu duduk sini." Aza dudukkan Dewa di salah satu kursi kosong dengan cepat. Berbalik mke arah gerobak.
"Mang, mie ayam dua sama es teh dua yah."
Mamang penjual mengangguk antusias. Menyiapkan pesanan dengan cepat dan efisien.
Aza pun ikut duduk di kursi depan Dewa. Merasa terlalu jauh, Dewa pun menarik kursi ke sisi Aza, duduk berdempetan di sampingnya. Seolah jauh-jauh dari Aza adalah larangan.
"Heyy kenapa kamu disini? Sempit tauu..." gerutu Aza.
Dewa tersenyum saja, tak memperdulikan celotehan burung emprit di sampingnya. Menatap mamang di depan sana dengan senyuman manis.
Aza memutar bola matanya. Ia tak mengira Dewa bisa menyebalkan seperti ini juga. Akhirnya ia pun menyerah. Membiarkan Dewa duduk di sampingnya cukup lama.
Tak berselang lama, dua porsi mie ayam dan es teh pun datang. Membuat kedua bola mata Aza langsung berbinar, bibirnya terbuka tipis. Dewa tak mampu menahan tawa melihatnya. Aza benar-benar menggemaskan jika dilihat dari dekat seperti ini.
"Silahkan dinikmati....." imbuh sang penjual, tersenyum tipis. Yang langsung diangguki oleh keduanya.
Dewa ambil sendok dan garpu lalu mengelapnya dengan tisu, menyodorkannya pada Aza. Wanita itu terima garpu dan sendok yang Dewa sodorkan tertegun kecil. Ia tatap manik mata maskulin penuh binar itu tanpa berkedip.
"Makasih..." ucapnya sedikit gugup.
Dewa tersenyum tipis, lanjut mengelap miliknya, "Dijalanan banyak debu bertebaran, aku gamau kamu sakit."
Aza tertegun lagi. Ia tatap polos wajah berbalut rahang tegas dan kokoh di sampingnya, serta bahunya yang lebar tinggi menjulang itu, dilihat dari side samping Dewa benar-benar sangat menawan. Aza jadi mempertanyakan kelayakan Ramdan disini. Kenapa dulu ia bisa kepincut dengan pria itu.
Mereka berdua pun menyantap mie ayam bersama-sama. Diselingi dengan canda tawa, pagi itu suasana keduanya lagi bahagia-bahagianya. Sampai tak menyadari waktu sudah menjelang siang.
Mereka berjalan beriringan di taman kota sambil bergandengan tangan. Layaknya ABG kencang dihari weekend.
"Dulu kita jalan-jalan mungkin bisa dihitung dengan jari. Tapi sekarang, aku akan mengajakmu jalan-jalan setiap hari, Lea."
Wanita itu tak sanggup menyembunyikan senyumnya. Ia dempetkan lengannya pada lengan Dewa, merunduk sambil menahan senyum salting.
"Udah ihh dilihatin orang." lirih Aza memejam karena malu.
Dewa tersenyum lebar, merengkuh bahu Aza dari belakang yang semakin membuat anak-anak muda yang sedang bermain di taman kota itu langsung bersorak.
"Cieee....! Ciee....! Kasmaran niee?!" seru bocil-bocil akamsi yang tak mampu menahan tawanya.
Aza semakin malu sendiri, sementara Dewa justru merasa puas. Ia berhasil membuat Aza menjadi wanita paling beruntung di tengah para ABG-ABG yang juga sedang dimabuk asmara.
Dewa berbisik dengan penjual bunga di samping jalannya, lalu menyodorkan selebaran merah, sambil menunjuk pada bunga Lily di keranjang samping.
Sang penjual yang faham segera mengambilnya. Lalu menyerahkan bunga itu pada Dewa lewat belakang sebagai kejutan.
"Dewa kita pergi yok, aku malu...." bisik Aza tak sanggup menahan senyum salting di bibirnya. Menutup wajahnya dari depan orang-orang yang menyoraki mereka dengan siulan heboh.
"Kenapa mereka makin heboh sih?" batin Aza makin kelabakan sendiri.
Sampai dimana saat ia membuka mata, sebuket bunga Lily warna pink berada di depannya. Ia sontak melotot, berbalik menatap Dewa yang tersenyum ke arahnya.
"Selamat ulang tahun, sayang."
"KYAAAAA!!!!" Semua orang yang ada disitu langsung bersorak ria, beberapa dari mereka sampai melompat-lompat dengan heboh.
Aza melongo tanpa berkedip. Sampai matanya menitikkan air mata, lalu berbalik memeluk Dewa dengan begitu erat. Tak perduli dengan sorakan mereka yang semakin heboh.
"Dewaaaa!!!" seru Aza tak sanggup menutup rasa saltingnya, melompat-lompat kecil sambil memeluk Dewa dengan erat.
Dewa tak mampu menahan tawanya. Ia turunkan punggungnya, membalas memeluk Aza dengan erat.
"Maaf, dulu aku terlalu memikirkan diriku sendiri, sampai lupa bidadari cantikku juga butuh perhatian."