Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Di dalam ruang laboratorium rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik, Alya duduk diam di kursi donor dengan lengan kiri digulung hingga siku. Wajahnya masih pucat karena shock atas pengakuan Arya barusan, tapi matanya menunjukkan keteguhan.
Ia menatap jarum yang sudah disiapkan perawat dengan tenang, seolah semua pertanyaan di kepalanya tentang Keysa sementara dikesampingkan.
“Siap, Bu?” tanya perawat muda dengan suara lembut sambil mengikat tali karet di lengan Alya.
Alya mengangguk pelan. “Silakan. Ambil sebanyak yang dibutuhkan.”
Jarum menusuk kulitnya dengan rasa perih yang cepat berlalu. Darah merah segar mulai mengalir perlahan ke dalam tabung kecil untuk pemeriksaan. Alya menatap aliran itu tanpa berkedip.
Dalam hati ia berdoa dalam-dalam, "Tolong cocok… tolong selamatkan Keysa. Aku tidak peduli apa pun rahasia yang ada, yang penting dia baik-baik saja".
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Perawat membawa sampel darah Alya ke mesin analisis di sudut ruangan. Bunyi mesin yang berdetak pelan dan lampu indikator yang berkedip-kedip membuat Alya semakin tegang. Ia menggenggam erat ujung roknya, dengan napas tertahan.
Tak lama akhirnya perawat kembali dengan hasil di tangan, wajahnya tampak lega.
“Golongan darahnya sama, Bu. Sangat cocok dengan golongan darah pasien"
Alya langsung menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca karena lega. “Syukurlah… Syukurlah. Ambil saja sebanyak-banyaknya, Sus. Yang penting Keysa selamat. Aku kuat.”
Perawat tersenyum lembut, menggeleng pelan. “Cukup satu kantong dulu, Bu. Tubuh Ibu juga harus dijaga. Nanti kalau masih dibutuhkan, kita ambil lagi.” Ia kemudian memasang kantong donor dan mulai mengumpulkan darah Alya dengan hati-hati.
Alya bersandar di kursi, memejamkan mata. Rasa pusing ringan mulai terasa, tapi ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah wajah polos Keysa yang terbaring lemah di atas ranjang. Gadis kecil itu, yang selama ini memanggilnya aunty cantik dan ingin menjadikannya mama, kini membutuhkan darahnya. Dan secara ajaib, darah mereka cocok.
Sementara itu di ruang tunggu luar, Arya duduk di kursi plastik dengan tubuh condong ke depan, kedua tangan saling menggenggam erat hingga buku jarinya memutih. Kakinya gelisah, sesekali ia berdiri, mondar-mandir, lalu duduk lagi. Wajahnya tegang, alis berkerut, dan rahangnya mengeras. Ia terus menatap pintu ruang perawatan yang tertutup rapat, seolah ingin menembusnya dengan pandangan.
Pikiran Arya kacau. Ia merasa bersalah berat. Kalau saja aku tidak terlalu sibuk, Kalau saja sekolah memberitahuku. Bayangan Keysa yang kesakitan membuat dadanya sesak. Dan Alya… perempuan yang barusan mengaku sebagai calon mama Keysa di depan guru, kini sedang memberikan darahnya tanpa ragu.
Arya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia takut. Takut kehilangan Keysa. Meskipun gadis kecil itu bukan darah dagingnya, tapi dia sangat menyayanginya. Dia sudah mengasuhnya sejak gadis kecil itu masih bayi.
Dokter sempat keluar sebentar, memberitahu bahwa mereka sedang menunggu hasil cocok darah. Arya hanya mengangguk kaku, tidak berani bertanya lebih lanjut. Ia hanya bisa menunggu, dengan hati yang berdebar kencang dan doa yang terus dipanjatkan dalam diam.
Di dalam ruang donor, Alya membuka mata saat perawat selesai mengikat perban di lengannya. “Sudah, Bu. Terima kasih banyak. Darah Ibu akan segera ditransfusikan.”
Alya tersenyum tipis, meski tubuhnya terasa lemas. “Tolong jaga dia baik-baik ya, Sus. Dia sangat berharga bagi kami.”
Perawat mengangguk pengertian.
Alya berdiri pelan, menahan rasa pusing, lalu berjalan keluar ruang donor. Hati kecilnya masih penuh pertanyaan tentang identitas Keysa, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin melihat gadis kecil itu selamat.
Di luar, Arya yang sedang menunduk langsung mengangkat wajahnya saat mendengar langkah kaki. Matanya bertemu dengan Alya yang keluar dengan perban di lengan. Kedua orang itu saling menatap dalam diam yang panjang, penuh emosi yang tak terucapkan.
Keysa masih menunggu di dalam, dan darah Alya kini menjadi harapan terbesar untuk kesembuhannya.
Kedua guru yang membawa Keysa ke rumah sakit sudah pulang terlebih dahulu. Mereka pergi tanpa berpamitan pada Arya atau Alya.
Arya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia menghubungi Tony.
Panggilan tersambung.....
"Ton, caritahu anak yang sudah mencelakai Keysa. Dan tuntut pihak sekolah karena sudah berencana menutupi kasus ini"
"Baik tuan" ucap Tony patuh.
******
Arya menoleh ke arah Alya. Matanya yang biasanya tajam dan penuh otoritas kini tampak lembut dan penuh rasa syukur. Ia menatap langsung ke dalam mata Alya, seolah ingin menyampaikan segala perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.
“Terima kasih sudah menolong Keysa,” ucap Arya pelan, suaranya dalam dan serak. “Aku… sangat bersyukur kamu ada di sini. Kalau bukan karena kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Alya tersenyum tipis, meski lengannya masih terasa pegal karena donor darah. “Sama-sama,” jawabnya singkat. Ia menunduk sebentar, menatap perban di lengannya, lalu kembali menatap lantai.
Suasana menjadi hening. Hanya napas keduanya yang terdengar. Alya sedang menimbang-nimbang dalam hati. Rasa penasaran yang besar menggerogoti pikirannya sejak pengakuan Arya barusan. Ia ingin tahu kebenaran tentang Keysa, tapi takut pertanyaan itu akan menyinggung atau membuka luka lama. Jari-jarinya saling bertaut di pangkuan, menunjukkan kegelisahan yang ditahannya.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa panjang, Alya memberanikan diri. Ia menarik napas dalam, lalu berbicara dengan suara hati-hati, “Kalau boleh aku tahu… siapa orang tua kandung Keysa?”
Arya tidak langsung menjawab. Ia mendongak ke langit-langit, menghela napas panjang yang berat, seolah membawa beban bertahun-tahun. Kedua tangannya mengepal di atas lutut, lalu pelan-pelan terbuka kembali.
Matanya menatap kosong ke depan, seolah sedang melihat kembali masa lalu yang pahit.
“Keysa keponakanku,” mulai Arya pelan, suaranya rendah dan penuh penyesalan.
“Kakak perempuanku meninggal setelah melahirkan Keysa, karena komplikasi yang parah. Dokter sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tidak berhasil. Tak lama setelah itu, ayah Keysa, suami kakakku juga meninggal dalam kecelakaan pesawat. Mereka berdua pergi hampir berurutan.”
Arya terdiam sejenak, menelan ludah. Suaranya sedikit bergetar saat melanjutkan, “Saat itu Keysa masih bayi. Tidak ada keluarga lain yang bisa merawatnya. Mau tidak mau dan mama, yang mengambil alih. Aku membesarkannya sejak hari pertama. Selama ini… yang dia tahu, aku adalah papa kandungnya. Aku tidak pernah memberitahunya yang sebenarnya. Aku takut dia akan merasa kehilangan untuk kedua kali.”
Ia menoleh ke arah Alya, tatapannya penuh ketulusan dan sedikit takut akan penolakan. “Aku menyembunyikannya dari semua orang, termasuk kamu"
Alya mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya berkaca-kaca. Hatinya terasa sesak membayangkan penderitaan yang dialami keluarga Arya, dan terutama Keysa yang tumbuh tanpa mengetahui kebenaran.
Ia ingin meraih tangan Arya, tapi menahan diri. Kata-kata Arya barusan membuat segalanya menjadi lebih jelas, mengapa Arya begitu protektif, mengapa Keysa begitu bergantung padanya, dan mengapa rahasia itu begitu berat untuk diungkapkan.
Ruangan kembali hening. Di luar jendela, langit sudah mulai gelap. Di dalam ruang perawatan, Keysa sedang menerima darah Alya, sementara di luar, dua orang dewasa ini saling berbagi luka dan kepercayaan yang baru saja terbuka.
"Lalu ucapan kamu yang tadi, benar? Kamu mau menjadi mama Keysa?" tanya Arya.