Alex patah hati karena wanita yang ia incar ternyata lebih memilih rival bisnisnya. Membuat pria ini putus asa dan memilih melampiaskan kesedihannya dengan minum minuman keras.
Dalam keadaan terpuruk, tak sengaja Alex bertemu dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan wanita yang ia sukai.
Sayangnya kesalahpahaman sering terjadi di antara mereka. Meski begitu, tak dipungkiri bahwa Alex sebenarnya juga menyukai gadis itu.
Akankah Alex mampu merebut hati si gadis penolong? Ataukah malah menghindarinya gara-gara gadis itu berwajah mirip dengan wanita yang dia suka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keresahan Oma Asri
Alex bahagia. Bagaimana tidak? sang kekasih hati telah menepati janji, memberikan amunisi terbaik ketika ia bangun tidur. Sebuah ciuman termanis ditambah sebuah jawaban tentang pernyataan cinta yang sudah ia tunggu sejak cinta itu hadir.
Setelah selesai sarapan, Alex langsung berangkat ke kantor. Tentu saja sebelum itu, mereka menyempatkan diri untuk saling melempar senyum bahagia.
Selepas kepergian Alex, Emma langsung mendatangi Oma Asri, seperti biasa. Seperti hari-hari sebelumnya.
"Oma... " panggil Emma lembut.
"Hay, apa dia sudah berangkat?" tanya Oma Asri.
"Sudah Oma. Kenapa Oma tidak mau turun tadi, apa Oma marah pada Pak Alex?" tanya Emma, belum mencurigai apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu.
"Mana mungkin aku bisa marah padanya, Em. Kamu tahu dia adalah hatiku," jawab Oma Asri. Terlihat air mata wanita paruh baya itu menyembul keluar dari sudut mata.
"Oma, saya minta maaf, tapi kenapa saya lihat Oma kelihatan sedih?" tanya Emma.
"Ya, apa aku bisa percaya padamu?" balas Oma Astri.
"Tentu saja, Oma. Saya siap menjadi pendengarmu. Percayalah padaku Oma, saya akan menjaga rahasia anda dengan nyawa saya," jawab Emma serius.
"Baik, aku percaya padamu, Em," jawab Oma Asri, diam sesaat.
"Maafkan saya, Oma, saya merasa Oma sangat tertekan. Benarkah apa yang saya lihat ini Oma?" tanya Emma, menebak apa yang ia rasakan saat ini.
"Ya, Em. Kamu benar. Oma memang sedang risau. Sebab seseorang yang saat ini sedang mengancam keselamatan Alex telah kembali. Dia datang menagih haknya," ucap Oma Asri. Tak terasa air mata wanita itu meluncur begitu saja. Teringat masa kelam itu datang kembali.
"Boleh saya tahu siapa orang itu Oma? Kenapa dia sangat berbahaya untuk Alex?" tanya Emma penasaran.
"Oma akan jelaskan di dalam. Kemarilah," jawab Oma Asri sembari mengajak Emma masuk ke dalam sebuah ruang rahasia yang ada di kamar itu.
Emma tercengang, karena tak menyangka jika di dalam kamar itu, ternyata ada sebuah ruangan yang tak kalah mewah dengan kamar sang pemilik.
"Oma... kenapa Oma membawa saya ke sini?" tanya Emma takut.
"Karena rahasiaku ada di sini Emma." Oma Asri menatap Emma dengan tatapan seakan menginginkan Emma mengerti apa yang ia pikirkan.
"Rahasia? rahasia apa?" tanya Emma, malah takut.
"Aku tahu saat ini kamu sedang dekat dengan Alex. Aku yakin, hanya kamulah seseorang yang bisa mengendalikan Alex. Saat ini Alex dalam bahaya, Em, aku sudah katakan tadi. Aku mohon lindungilah dia," ucap Oma Asri, mulai membuka sedikit demi sedikit ketakutannya selama ini.
"Maksud Oma apa? Sungguh Emma nggak ngerti Oma. Tolong ceritakan pelan-pelan. Kenapa Alex dalam bahaya dan siapa orang yang saat ini mengancam keselamatan Alex?" pinta Emma.
"Oke, Oma akan ceritakan sepengal kisah tentang Alex, tapi Oma harap kamu bisa merahasiakan ini sampai aku siap menceritakan semuanya pada Alex, Em. Namun jika sebelum aku menceritakan ini pada Alex, tapi Tuhan berkehendak lain, misalnya memanggilku, tolong ceritakan kebenaran ini padanya. Kamu mau kan Em membantuku," pinta Oma Asri serius.
"Sebentar Oma, apakah rahasia ini semenakutkan itu, sampai Oma tidak berani menceritakan sendiri pada Alex?" tanya Emma, merasa aneh.
"Bukan aku tidak berani, Em. Tapi aku tidak memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan aku tidak bersalah. Semua bukti yang ada telah dimanipulasi seseorang. Sehingga aku berada di posisi yang salah saat ini," jawab Oma Asri jujur.
"Oh, baiklah, saya mengerti. Tapi, boleh saya mengetahui duduk permasalahan yang sesungguhnya, Oma?" tanya Emma, penasaran.
"Tentu saja," Oma Asri mengabil sebuah kotak berwarna merah jingga. Membuka kotak itu perlahan. Lalu menyerahkan sebuah album kenangan berisi foto masa kecil Alex.
"Ini Alex, Oma?" tanya Emma, sembari tersenyum manis. Karena pria yang ia cintai itu ternyata sangat manis saat kecil.
"Iya, itu adalah Alex mu, Em. Dia sangat tampan bukan?" tanya Oma Asri.
"Iya, Oma. Dia sangat menggemaskan. Lihat pipi dan dagunya yang imut. Ih, gemas Oma! Ingin ku culik saja kalo boleh!" ucap Emma, gemas.
"Benar, Em. Itu sebabnya dia banyak penggemar. Bahkan sampai saat ini. Apa kamu tahu jika Alex mu sebenarnya juga seorang model!" balas Oma Asri.
"Model? Benarkah? Kenapa saya tidak tahu?" tanya Emma.
"Soal itu nanti Oma kasih tahu. Sekarang Oma ingin kita fokus sama permasalahan yang saat ini membuat Oma gusar. Oke!" ucap Oma Asri.
"Iya, Oma. Emma siap menjadi pendengar yang baik untuk Oma."
"Oma akan ceritakan semua padamu, Em. Tanpa ada yang Oma tutupin. Oma yakin kamu pasti bisa mengerti ini. Oma Yakin Kamu pasti bisa menilai baik buruknya apa yang Oma lakukan untuk Alex selama ini," ucap Oma Asri.
"Siap, Oma. Emma akan coba mengerti apa yang akan Oma sampaikan!" jawab Emma serius.
"Dulu saat Alex berusia tujuh bulan, ayah dan ibunya memiliki hutang yang sangat besar, Em. Jumlahnya tidak main-main. Hutang itu tersebar di beberapa bank dan beberapa rentenir. Hutangnya sangat banyak. Oma sangat terkejut karena tidak menyangka jika pasangan muda itu memiliki hutang yang sangat banyak. Bahkan seluruh hartanya pun tak bisa menutup semua hutang itu," ucap Oma Asri mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaga, Oma. Benarkah?" tanya Emma shock.
"Iya, Sayang. Oma tidak bohong. Kamu lihat dan baca saja semua bukti ini!" ucap Oma Asri sembari menyerahkan beberapa lembar bukti catatan hutang yang milik orang tua Alex.
"Hah? Saya tahu Oma, di jaman itu, hutang ini pasti sangat besar. Terus Oma, bagaimana bisa Alex saat ini jadi milik Oma. Apakah orang tua Alex masih saudara dengan Oma?" tanya Emma penasaran.
"Tidak, Em. Mereka tidak ada hubungannya sama sekali dengan Oma. Dulu, Oma adalah salah satu rentenir yang dipinjami uang oleh orang tua Alex," jawab Oma Asri jujur. Karena ia merasa tak punya pilihan lain selain membuka semuanya dengan Emma. Agar bebannya sedikit berkurang. Setidaknya rasa bersalahnya pada Alex tidak terlalu dalam.
Oma Asri menghentikan sementara ceritanya. Karena sebenarnya ia juga tidak kuat mengingat sepenggal kejadian buruk yang akhirnya merenggut nyawa kedua orang tua Alex yang menjadikan bayi tak berdosa itu menjadi yatim piatu.
Bersambung....
kog malah muncul masalah baru,...
lanjut crazy up gtu kak😊