Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Terlupakan
Luna memilih pergi dari ballroom karena tak kuat lagi dengan situasi itu. Ia butuh tempat yang tenang untuk menenangkan diri.
Sampai di lobi, langkah Luna terhenti saat sebuah mobil jenis SUV berhenti di depannya. Ia tahu siapa pemilik mobil tersebut.
Kaca mobil turun perlahan menunjukkan sosok Bara yang duduk di kursi kemudi.
"Naik," suruh Bara.
Tanpa banyak berpikir, Luna pun mengangguk.
Sebelum itu ia lebih dulu mengusap cairan bening di kedua sudut matanya. Setelahnya Luna masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Bara.
"Pakai seat beltnya."
Luna mengangguk pelan. Ia memakai sabuk pengamanannya, itu pun di bantu oleh Bara.
Setelah itu, Bara kembali melajukan mobilnya meninggalkan area hotel.
"Aku tidak mau pulang," ucap Luna memecah keheningan.
Bara menoleh sekilas ke arah Luna sebelum mengangguk. "Mau ikut ke apart?"
Luna mengangguk. "Terserah Papa."
Luna kembali mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh di pipinya tanpa permisi. "Yang penting jangan suruh aku pulang. Aku butuh ketenangan."
"Baiklah."
Bara lantas menginjak pedal gas lebih dalam, membuat laju mobil itu bertambah cepat.
Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara dengungan mesin yang begitu halus.
Luna memilih diam, tak ada minat untuk bicara. Ia tenggelam dalam lamunannya.
Ingatannya kembali ke kejadian beberapa saat yang lalu. Saat di mana karyanya diambil oleh orang lain, suami menamparnya demi membela wanita lain, dan yang paling menyakitkan adalah melihat suaminya sendiri mati-matian membela wanita yang selama ini dekat dengannya atas nama sahabat.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan hubungan Vanessa dan mas Raka," ucap Luna akhirnya tanpa melihat ke arah Bara. Ia tetap bersandar di mobil dan menatap keluar jendela.
"Maksudmu mereka selingkuh?" tanya Bara.
Luna menoleh lalu mengangguk pelan. "Tapi aku masih ragu. Vanessa baru saja menikah."
"Perlu aku selidiki?" tawar Bara.
Luna memberikan jeda sesaat, seperti mempertimbangkan sesuatu. Beberapa saat kemudian Luna akhirnya mengangguk.
"Bagaimana jika nantinya benar mereka memiliki hubungan spesial?" tanya Bara.
Luna diam dan kembali meneteskan air matanya. Setelah itu ia menghela napas berat sambil berkata, "Aku harus siap kalau kemungkinan buruk itu terjadi."
Cairan bening kembali keluar dari mata Luna, justru kali ini lebih deras. Luna sudah berusaha menghapusnya bahkan berusaha keras menahannya, tetapi ia kalah dengan rasa sakit di hatinya.
Bara melihat itu, tetapi memilih membiarkannya. Dengan menangis mungkin bisa membuat Luna merasa lebih baik.
Laju mobil perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya lantaran dihadang oleh lampu merah.
Bara lantas menoleh ke arah Luna, tangannya terulur, mengenggam tangan Luna dengan erat, membuat wanita itu spontan menoleh.
Luna menatap Bara dengan mata yang basah, beberapa saat kemudian ia menjatuhkan kepalanya di pundak Bara, bahkan merangkul lengan pria yang berstatus sebagai ayah mertuanya.
Apa yang dilakukannya memang tidak pantas, tetapi saat ini Luna hanya butuh tempat bersandar.
TIN …
Bunyi klakson kendaraan lain di belakang mobil mereka membuat Luna terkejut. Ia lantas menarik diri, kembali bersandar pada punggung kursi yang ia dudukki.
Sementara Bara kembali melanjutkan mobilnya.
Tidak berselang lama mobil itu berbelok ke sebuah gedung apartemen yang mewah lalu masuk ke dalam basement.
Bara menghentikan laju mobilnya di area yang sepertinya khusus.
"Ayo turun," ajak Bara sambil membuka sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya.
Setelah itu ia membantu Luna melepas sabuk pengaman yang dipakai wanita itu.
Bara turun dari mobil, begitu juga dengan Luna. Suasana di tempat itu sangat sunyi. Hanya ada mereka berdua di tempat itu.
Bara lantas menghampiri Luna, merangkul pinggang wanita itu dan membawanya ke apartemen pribadinya.
Keduanya melangkah ke lift khusus yang akan membawa mereka ke apartemen pribadi Bara. Letaknya di lantai paling atas gedung itu.
Bara menempelkan kartu akses di panel logam di dinding. Pintu lift seketika membuka, menampakkan ruangan kecil dengan cahaya putih temaram.
Keduanya lantas masuk, detik berikutnya pintu lift menutup dengan sendirinya.
Luna memilih bersandar pada dinding lift sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan kosong.
Luna masih terdiam, tidak ada minat sedikit pun untuk bicara. Ia hanya sesekali menghela napas berat, seolah semua beban di dunia ini berada di pundaknya.
Sementara Bara memilih untuk diam sambil sesekali melihat ke arah wanita itu. Suasana begitu hening hanya suara mesin lift, itu pun terdengar sangat halus.
Tidak lama lift berhenti bergerak. Bara kembali merangkul pinggang Luna dari lift setelah pintu terbuka. Pemandangan berubah seratus delapan puluh derajat setelah mereka keluar dari lift.
Di depan mereka, terdapat sebuah ruangan yang cukup besar dengan cahaya putih terang dan lampu gantung kristal memancarkan cahaya temaram, membuat suasana menjadi hangat.
Ternyata lift itu membawa mereka langsung ke bagian dalam penthouse.
Awalnya Luna enggan untuk bicara, namun rasa penasaran memaksanya untuk bertanya.
"Ini tempat siapa?" tanya Luna.
"Welcome to my penthouse, Luna," jawab Bara.
Luna mengangguk pelan.
"Duduklah." Bara menuntun Luna duduk di sofa panjang di dekat mereka.
"Aku ambilkan minum," ucap Bara.
Luna kembali mengangguk pelan.
Setelah Bara pergi, Luna menarik napas dalam lalu bersandar pada sandaran sofa. Ia melihat sekeliling, tempat itu sangat rapi dan tentunya terlihat mewah.
Rasa penasarannya muncul, sebenarnya sekaya apa keluarga suaminya hingga memiliki tempat yang begitu mewah.
Yang Luna tahu kehidupannya jauh berbeda dengan kemewahan tempatnya saat ini. Mungkin juga sofa yang sedang ia dudukki saat ini harganya lebih mahal dari uang bulanan yang Raka berikan padanya sebelum semuanya terlihat membaik.
"Ehmm."
Suara deheman itu, membuat Luna menoleh. Ia melihat Bara sudah berada di sampingnya.
"Aku buatkan cokelat hangat," ucap Bara sambil memberikan secangkir cokelat panas. "Cokelat bisa membuat perasaanmu lebih baik."
Luna mengangguk lalu menerima cokelat hangat yang diberikan oleh Bara. Ia membawanya ke dekat bibirnya, meminumnya sedikit demi sedikit.
"Merasa lebih baik?" tanya Bara sambil mengusap kepala Luna.
Spontan Luna mengangguk dan melihat ke arah Bara. "Terima kasih, Pa. Papa sudah baik sekali sama aku."
"Kamu pantas mendapatkan semua kebaikan di dunia ini," ucap Bara membuat kening Luna mengerut bingung.
Luna sebenarnya merasa bingung, tetapi memilih untuk menyimpan rasa penasarannya itu.
"Lebih kamu beristirahat," ucap Bara mencoba mengalihkan suasana.
"Pa, boleh aku menginap beberapa hari di sini? Aku tidak ingin bertemu dengan mas Raka dulu," tanya Luna.
"Kamu bebas tinggal di sini selama yang kamu mau," jawab Bara.
"Makasih, Pa," ucap Luna.
Bara mengangguk lalu mengantar Luna ke salah satu kamar di lantai atas.
-
-
Tengah malam, Luna keluar dari kamar. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Namun sampai di dapur Luna melihat ada botol minuman beralkohol.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Luna. Ia justru mengambil minuman itu, menuangnya ke dalam gelas berukuran kecil.
Luna membawa minuman itu ke bibirnya. Namun sebelum minuman itu benar-benar masuk ke mulutnya, seseorang menahan tangannya.
Luna terkejut bukan main. Terlihat tangan kekar sedang menahan pergelangan tangannya. Ia lantas menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan dingin Bara.
"Siapa yang izinin kamu minum?"
Jantung Luna berdetak sangat kencang, mendengar suara dingin Bara.
"Pa …"
TAP!
Bara mengambil gelas di tangan Luna, lalu meletakkannya di meja cukup keras, membuat air di dalamnya memuncrat ke luar.
Luna terkejut bukan main, bahkan tidak berani melihat ke arah Bara.
Keterkejutan yang sebelumnya belum juga mereda, ditambah lagi saat Bara tanpa peringatan mengangkat tubuhnya, mendudukannya di meja.
Bara juga membuka kedua kaki Luna membuatnya semakin dekat dengan wanita itu lantas mengunci pergerakannya.
Luna reflek meletakkan kedua tangannya di dada Bara, menahan tubuh pria itu agar tubuh mereka tidak menempel secara langsung.
Jarak keduanya sangat dekat hingga mereka mampu merasakan hembusan napas satu sama lain.
"Pa …"
"Kamu suka minum, mm?"
Luna menggeleng cepat. Meskipun suara Bara begitu lembut, tetapi tatapan pria itu tidak. Dingin dan nyaris tanpa ekspresi, membuat tubuh Luna merinding. Belum lagi jarak yang begitu dekat membuat Luna merasakan sesuatu yang sulit untuk ia jabarkan.
"Lalu kenapa tadi kamu mau melakukannya?"
Luna menggeleng. "Aku tidak tahu? Aku terlalu pusing."
Bara menempelkan keningnya di kening Luna membuat jarak mereka semakin dekat.
"Kalau sudah tidak tahan dengan anak itu, maka berpisah saja," ucap Bara
"Pa … tolong menjauh. Ini tidak baik?"
"Kenapa? Takut lepas kontrol?"
GLEK
Luna menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak mengering. Bibirnya tiba-tiba kaku, tak mampu berkata apa pun.
"Aku menantu Papa," ucap Luna setelah cukup lama terdiam.
"Kalau begitu berpisah saja dengannya," ucap Bara. "Aku tahu kamu tersiksa selama ini?"
Luna menggeleng. "Aku bingung, aku pernah berjanji pada mendiang mama untuk tetap bertahan. Tapi hatiku sakit."
"Lalu bagaimana dengan janji yang pernah kamu berikan padaku dulu?"
Luna seketika mendongak, tatapannya bertemu langsung dengan tatapan Bara.
"Janji?"
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur