NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : PERKELAHIAN TAK TERDUGA

Setelah rombongan itu pergi dan suasana kembali tenang, Bayu hendak melanjutkan perjalanan bersama Karta. Ia mengira masalah sudah selesai dan kebenaran sudah terungkap.

Namun ia salah duga. Belum sampai sepuluh langkah, suara langkah kaki cepat terdengar dari belakang. Angin terasa menusuk di sisi kanan tubuhnya.

“Jangan kira selesai begitu saja!”

Sebelum Bayu sempat menoleh sepenuhnya, wanita itu sudah berdiri di hadapannya. Wajah yang tadi sempat melunak kini kembali tegas dan tajam. Matanya menyala penuh kewaspadaan.

Selendangnya sudah terlihat rapi. Namun kini tangannya menggenggam gagang keris pendek yang tersembunyi di balik ikat pinggang. Bilah besi berkilat samar terkena cahaya matahari — tanda senjata itu bukan sekadar hiasan.

Karta terkejut bukan main. Ia langsung melompat mundur sambil berteriak pelan.

“Kak Bayu, hati-hati! Dia bawa senjata!”

Bayu segera mengangkat kedua tangannya setinggi dada sebagai tanda damai. Wajahnya penuh kebingungan yang tulus.

“Tuan Putri, mengapa kembali lagi? Bukankah tadi sudah jelas itu hanya ketidaksengajaan dan sudah dimintakan maaf?”

Wanita itu menggeleng cepat. Sikapnya tetap siaga seolah menghadapi musuh licik.

“Jangan berpura-pura lagi.”

“Pengakuan bocah itu hanya akal-akalan menutupi perbuatanmu yang sesungguhnya.”

“Aku sudah banyak melihat orang yang bersikap lembut hanya untuk menyembunyikan niat buruk.”

“Jika engkau benar tahu tata krama, engkau tak akan diam saja membiarkan hal itu terjadi.”

Ia melangkah maju selangkah. Kakinya membentuk kuda-kuda yang kokoh dan seimbang. Gerakannya luwes, terlihat jelas sudah terlatih sejak muda.

“Aku bukan gadis lemah yang hanya pandai berdandan.”

“Jika kau kira bisa main-main dengan kehormatan wanita lalu pergi begitu saja, kau salah besar!”

Belum sempat Bayu menjawab, wanita itu sudah bergerak duluan. Gerakannya sangat cepat, hampir tak terlihat oleh mata biasa.

Ia memutar ke sisi kanan Bayu, lalu mengayunkan gagang keris bukan untuk menusuk, melainkan menguji kewaspadaan. Bayu terkejut, namun naluri dan ilmu dasar dari Mbah Karsa langsung bekerja.

Ia membungkuk cepat. Ayunan itu lewat hanya sejengkal dari pundaknya. Angin dingin terasa menyapu telinga.

“Wah, lincah juga!” gumam Bayu dalam hati.

Namun satu tekad sudah bulat: ia tak boleh melawan balik.

Ia sadar sepenuhnya ini masih salah paham. Jika ia membalas sedikit saja, keyakinan wanita itu akan semakin kuat. Maka ia menetapkan aturan pada diri sendiri: hanya mengelak, bertahan, dan tak akan menyentuh lawan sedikit pun apalagi melukainya.

Pertarungan pun tak terelakkan. Penonton berdatangan, jalan pasar makin ramai dipenuhi orang yang berhenti melangkah.

Semua mata tertuju pada pemandangan aneh: pemuda sederhana hanya menghindar, sementara wanita berpakaian rapi menyerang dengan gerakan teratur dan terlatih.

Wanita itu tak memberi jeda. Setelah serangan pertama terelak, ia langsung berputar ke kiri dan mengayunkan gagang keris ke arah lengan Bayu.

Bayu melompat mundur jauh, lalu berputar ke samping menjaga jarak. Ia paham pola gerakan lawan, tapi karena harus menahan seluruh tenaganya, ia sering terdesak ke pinggir jalan.

Berkali-kali ia nyaris menabrak kios atau kerumunan orang yang menyaksikan dengan napas tertahan.

“Hanya bisa menghindar saja rupanya!” seru wanita itu dingin, makin yakin dugaannya benar.

“Jika kau merasa benar dan berani, mengapa tak berkelahi dengan benar?”

“Ini bukti hatimu memang tak tenang dan penuh kesalahan!”

“Bukan karena takut, Tuan Putri!” jawab Bayu sambil terus mengatur posisi tubuh.

“Saya hanya tak ingin melukai orang yang tidak saya kenal, apalagi hanya karena salah paham!”

“Percayalah, saya tak punya niat jahat sedikit pun!”

“Alasan lagi!” balas wanita itu tegas.

Kali ini ia mengarahkan bilah keris ke tanah tepat di depan kaki Bayu. Ia tak ingin melukai, tapi memojokkan agar lawan kehilangan keseimbangan.

Gerakannya makin lincah. Setiap langkah mempersempit ruang gerak Bayu. Setiap ayunan punya tujuan yang jelas.

Bayu mulai tertekan. Ia harus menghindar dari segala arah tanpa boleh menahan atau menyentuh lawan.

Kadang ia harus membungkuk sedemikian rupa hingga ujung keris lewat persis di atas hidungnya. Penonton berteriak kaget dan menutup mulut melihatnya.

“Dia pasti orang jahat! Lihat saja dia terus dipojokkan!” bisik seorang pedagang.

“Belum tentu, dia tak pernah menyerang balik sama sekali,” sahut orang lain yang lebih teliti.

Namun kebanyakan orang uang menonton berpihak pada wanita itu. Di Galuh, wanita yang berani membela kehormatan dianggap terpuji. Sebaliknya, orang yang hanya mengelak dianggap lemah atau memang bersalah.

Kesalahpahaman makin menguat. Setiap kali Bayu menghindar, ia makin dinilai bersalah oleh kerumunan.

Di pinggir keramaian, Karta mondar-mandir gelisah. Tangannya mencengkeram erat gagang Sanghyang Waja di pinggangnya.

Ia ingin sekali membantu, tapi ia ingat pesan Kang Bayu: senjata itu akan tumpul dan berat jika dipakai dengan amarah atau niat melukai.

Ia berteriak sekuat tenaga berharap didengar.

“Hentikan! Ini semua hanya salah paham!”

“Kak Bayu tak berbuat apa-apa! Saya yang salah tadi!”

Namun suaranya tenggelam. Tertutup suara langkah kaki, gesekan kain, dan riuh rendah orang yang berbisik.

Wanita itu tidak mendengar atau tidak ingin mendengar lagi. Baginya sikap Bayu yang diam tidak melawan adalah bukti kelemahan sekaligus pengakuan diam-diam atas kesalahan.

Bayu mulai berkeringat deras. Bukan semata lelah, tapi karena harus menjaga keseimbangan agar tidak membahayakan orang orang sekitar.

Sampai akhirnya ia terdesak punggungnya hampir menempel pada dinding papan sebuah kios. Ruang geraknya semakin sempit.

Wanita itu melihat peluang. Ia mempercepat langkah dan mengayunkan keris ke sisi tubuh Bayu untuk memojokkannya.

Dalam sekejap, Bayu melengkungkan badannya ke belakang. Satu kakinya terangkat untuk menjaga keseimbangan.

Bilah keris melintas sejengkal dari dadanya. Anginnya dingin terasa menusuk kulit. Jantungnya berdebar kencang, tapi hatinya tetap tenang.

Ia tahu, sekali saja menahan pergelangan tangan wanita itu, semuanya bisa berhenti dalam hitungan detik. Tapi ia menahan diri sekuat tenaga.

“Mengapa kau tetap diam tidak melawan?” tanya wanita itu dengan tegas.

“Apakah kau anggap wanita lemah sehingga tak layak dilawan?”

“Atau memang kau tak punya kemampuan membela diri?”

“Saya tak menganggap siapa pun lemah atau rendah,” jawab Bayu tenang, tatapannya jujur tanpa dendam.

“Saya hanya tak ingin menambah kesalahan dengan melukai orang lain.”

“Jika melawan berarti melukai, maka saya lebih memilih bertahan selamanya daripada menyakiti orang yang tak bersalah.”

Kata-katanya mantap, tapi belum cukup mengubah pandangan wanita itu. Baginya itu hanya alasan agar terlihat mulia.

Ia kembali menyerang dengan kecepatan lebih tinggi, ingin memaksa Bayu menunjukkan kemampuan aslinya atau menyerah sepenuhnya.

Penonton makin penasaran, tapi tak ada yang berani turun tangan. Penjaga pasar yang mendengar keributan baru berjalan mendekat dari kejauhan.

Sementara itu kesalah pahaman semakin melebar. Perselisihan yang bermula dari hal kecil kini sulit diredakan begitu saja.

Bayu sadar keadaan semakin tidak menentu. Namun prinsipnya tak berubah: ia akan menjaga diri, tapi tak akan pernah melukai orang lain meski nyawanya terancam.

Ia hanya bisa berharap kesabaran dan kebenaran perlahan akan terlihat jelas, meski saat ini rasanya seperti menggenggam air yang terus mengalir lepas.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!