NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Duduk berdua di bawah pohon besar di pinggir lapangan kota ini rasanya paling pas banget. Angin sore berhembus pelan, bikin daun-daun di atas kepala bergoyang pelan dan bikin suasana jadi adem banget. Aku sama Arjun lagi santai aja, kaki kami menjuntai ke bawah, ngeliatin anak-anak yang lagi main kejar-kejaran di rumput hijau di sana.

Dari tadi aku udah nahan pertanyaan ini di ujung lidah. Tiap kali Arjun cerita, entah soal makanan, bunga, warna, atau cara bersikap, pasti ujung-ujungnya ada kalimat "kata kakek aku dulu". Rasanya penasaran banget sih, tapi aku ragu dan takut salah ngomong. Takut pertanyaanku ini nyentuh hal yang nggak boleh dibahas, atau malah bikin dia sedih. Tapi karena rasa ingin taunya makin besar, akhirnya aku memberanikan diri buka suara, tapi pelan dan hati-hati banget.

"Arjun... maaf ya kalau aku mau tanya sesuatu. Boleh ? Tapi janji ya, kalau pertanyaanku ini salah atau bikin kamu nggak enak hati, nggak usah dijawab nggak apa-apa kok," ujarku pelan, sambil menunduk mainin ujung daun kering di sebelahku.

Arjun langsung menoleh, menatapku dengan tatapan lembut dan heran. Dia tersenyum santai. "Eh, ada apa sih? Kok serius banget sampai bilang gitu? Tanya aja apa pun, sama aku nggak usah sungkan gitu lho. Aku nggak bakal marah atau tersinggung cuma gara-gara kamu nanya kok."

Aku menghela napas pelan, baru lanjut ngomong, suaranya makin pelan dan hati-hati.

"Begini lho... aku dari kemarin-kemarin perhatiin deh. Kok hampir setiap kali kamu jelasin sesuatu, selalu aja ada kalimat 'kata kakek aku dulu'. Aku sih senang banget dengerinnya, semua yang diajarin kakek kamu indah dan bijak banget. Cuma... aku jadi penasaran aja. Emangnya... orang tua kamu nggak pernah ngajarin kamu apa-apa gitu? Atau... ada hal yang mungkin nggak boleh aku tau ya? Maaf banget ya kalau aku kepo banget, aku cuma penasaran aja, nggak ada maksud lain."

Arjun diam sebentar. Senyumnya nggak hilang, tapi ada perubahan kecil di matanya. Matanya jadi makin lembut banget, campur sama rasa haru dan bangga yang kental banget. Dia menatap lurus ke depan, ke arah langit yang mulai berubah warna jadi jingga pelan, lalu menghela napas panjang pelan.

Dia malah tersenyum lebar pas nengok ke arahku lagi.

"Ya ampun, Aira... kamu kok sampai ragu gitu sih? Aku malah senang banget lho kamu nanya gini. Justru ini pertanyaan yang bagus banget, nggak ada salahnya sama sekali. Kamu tau nggak? Justru jarang ada orang yang cukup peka buat nanya hal ini. Banyak orang cuma denger, tapi nggak mikirin lebih dalem lagi kenapa aku selalu gitu."

Dia diam sebentar, menyusun kata-katanya pelan-pelan biar aku ngerti.

"Orang tua aku ada kok, lengkap, sehat, baik, dan sayang banget sama aku. Bukan mereka nggak ngajarin aku apa-apa, atau ada masalah apa-apa. Cuma... dulu waktu aku masih umur empat tahun, bapak sama ibu aku dapat pekerjaan tetap di luar negeri. Katanya kesempatan itu langka banget, buat masa depan kami sekeluarga. Tapi sayangnya, kondisi di sana belum memungkinkan kalau aku diajak ikut, sekolah dan tempat tinggalnya belum pas. Jadinya... aku dititipin sama kakek sama nenek aku di sini."

Arjun menunjuk rumah-rumah kecil yang kelihatan jauh di ujung jalan itu.

"Jadi sejak kecil sampai aku lulus sekolah, yang besarin aku di sini adalah kakek sama nenek aku. Yang mandiin aku, antar sekolah, jagain pas sakit, ajarin baca, ajarin sopan santun, ajarin semua hal soal budaya dan agama, semuanya mereka. Bapak sama ibu aku cuma bisa pulang setahun sekali, paling banter dua kali kalau lagi libur panjang. Jadi wajar kan kalau semua yang aku tau, semua yang aku pegang sampai sekarang, itu semua ajaran kakek aku? Dia itu segalanya buat aku waktu itu. Orang tua, guru, teman main, semuanya jadi satu."

Aku mengangguk pelan, rasa penasaranku terjawab, tapi ganti jadi rasa haru sekarang. Aku lega banget dia nggak tersinggung, malah cerita dengan bangga.

"Terus... sekarang gimana kabar mereka semua?" tanyaku lagi, makin berani karena dia terima pertanyaanku dengan baik.

Arjun tersenyum lagi, kali ini ada kilatan bangga yang besar banget di matanya.

"Nenek aku sudah dipanggil Tuhan sejak aku kuliah dulu. Tapi kakek aku masih ada kok, masih sehat, masih tinggal di rumah tua kami di belakang toko rempah itu. Dia udah tua banget, jalannya pelan, pendengarannya udah nggak tajam lagi, tapi ingatannya masih setajam silet. Tiap hari kalau aku nggak di toko, pasti aku ada di samping dia. Dengerin cerita dia, bantuin mandi, bantuin makan, atau sekadar duduk diam aja di sebelah dia sambil pegang tangan dia. Itu hal paling aku sukain."

Dia lanjut cerita dengan semangat, matanya berbinar.

"Di budaya orang India, Aira... kakek nenek itu tempat paling mulia di rumah. Kami percaya, orang tua dan kakek nenek itu adalah perwujudan Tuhan di dunia. Karena merekalah yang kasih kami hidup, kasih kami didikan, kasih kami arah supaya nggak tersesat. Ada pepatah kuno kami bilang: 'Anak yang menghormati orang tua, dia bakal dapat kebahagiaan dan kemuliaan seumur hidupnya'."

Arjun menunjuk dadanya sendiri pelan.

"Karena aku dibesarkan sama dia, aku diajarin segalanya sama dia, makanya apa pun yang aku lakuin, apa pun yang aku tau, semuanya ada jejak dia di situ. Kakek aku itu bukan orang sekolah tinggi, bukan orang kaya, bukan orang besar. Tapi dia orang yang paling bijak, paling sabar, dan paling baik yang pernah aku kenal. Dia tau arti segala hal, dia tau cara bersikap sama siapa aja, dia tau rahasia kebahagiaan hidup."

"Terus... bapak sama ibu kamu gimana sekarang? Udah pulang atau masih di luar negri?" tanyaku lagi.

"Udah pulang kok, udah bertahun-tahun yang lalu. Sekarang mereka udah pensiun, tinggal nggak jauh dari sini. Hubungan kami baik banget, sering ketemu, sering kumpul makan bareng. Tapi ya... meskipun mereka orang tua kandung aku, tetap aja di hati aku, sosok yang paling besar pengaruhnya tetap kakek aku. Dia yang ngebentuk aku jadi aku yang sekarang. Dia yang ngewarisin semua budaya dan kebiasaan ini ke aku, biar nggak putus begitu aja."

Dia menatapku lekat-lekat, senyumnya hangat banget.

"Jadi setiap kali aku bilang 'kata kakek aku dulu', itu bukan cuma sekadar ngulang kata-kata dia aja. Tapi itu cara aku bilang ke dunia kalau: 'Ini ajaran orang yang paling aku cintai dan aku hormati'. Aku bangga banget bisa punya dia, aku bangga banget bisa ngebawa nama baik dia, dan aku janji sama diri sendiri, apa pun yang aku lakuin, nggak bakal ngecewain didikan dia."

Aku diam mendengarkan, hatiku terasa hangat banget denger cerita itu. Ternyata di balik kebiasaan Arjun yang selalu mengutip kata-kata kakeknya, ada cerita kasih sayang yang dalem banget, ada rasa hormat yang tinggi, dan ada tanggung jawab buat menjaga warisan yang indah.

"Maaf ya tadi aku ragu banget nanyanya. Aku takut kamu tersinggung atau sedih gitu," kataku lagi minta maaf.

Arjun langsung menggeleng cepat. "Nggak kok, malah aku senang. Kamu itu beda lho, Aira. Orang lain kalau denger aku cerita, ya udah denger aja. Kamu malah mikirin, penasaran, dan tanya dengan cara yang sopan banget. Itu tandanya kamu tulus dengerin aku, kamu peduli. Kakek aku kalau tau pasti suka banget sama kamu."

Wajahku rasanya agak panas dibilang begitu, tapi rasanya senang banget. Senang karena ternyata pertanyaanku yang hati-hati itu malah bikin dia makin terbuka dan makin dekat sama aku.

Angin sore makin dingin, bikin kami berdua merapatkan jaket sedikit. Di bawah pohon ini, aku belajar lagi satu hal besar soal Arjun. Bahwa dia bukan cuma cowok yang pandai cerita, tapi dia cowok yang hatinya penuh sama rasa terima kasih dan kasih sayang ke orang yang membesarkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!