Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
Pagi itu, langit Jakarta berwarna merah darah, seolah matahari sendiri telah menyerah menyinari dunia yang telah mati. Asap hitam menggantung rendah di udara, menutupi sisa-sisa gedung pencakar langit yang kini hanya menyisakan kerangka beton yang rapuh. Jalanan yang dahulu dipenuhi deru kendaraan berubah menjadi hamparan bangkai mobil berkarat, tulang-belulang manusia, dan lolongan makhluk yang pernah disebut manusia. Sepuluh tahun telah berlalu sejak dunia jatuh ke dalam kiamat, dan selama itu pula umat manusia belajar bahwa monster paling mengerikan bukanlah rasa lapar, melainkan harapan yang terus dipaksa bertahan hidup.
Arga berlari tanpa menoleh sedikit pun. Napasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menghirup pecahan kaca, sementara darah terus mengalir dari pelipis kirinya dan lengan kanannya hampir mati rasa akibat luka sobek yang belum sempat sembuh. Meski tubuhnya berada di ambang kehancuran, genggamannya pada sebuah kristal merah muda seukuran bola bisbol tidak bergeming sedikit pun. Kristal Zombie Tier 6 itu adalah hasil pertaruhan nyawa puluhan kelompok pemburu yang saling membantai, tiket menuju kekuatan Awakener Tier 6, sekaligus harga yang harus ia bayar dengan mengorbankan seluruh rekan seperjuangannya.
Ledakan dahsyat mengguncang bangunan di belakangnya. Sebuah dinding beton runtuh ketika sesosok makhluk transparan menerobos keluar tanpa kehilangan sedikit pun kecepatannya. Tubuh makhluk itu menyerupai kaca buram, sepasang mata putih kebiruan memancarkan cahaya dingin, dan setiap langkahnya nyaris tidak menimbulkan suara. Itulah Zombie Tier 7, varian Zombie Hantu yang bahkan peluru kendali tidak pernah mampu dihentikan.
"Dia di sana!"
Suara itu terdengar begitu jelas, namun bukan berasal dari manusia. Makhluk transparan itu mengucapkannya dengan nada datar yang justru terasa lebih mengerikan daripada raungan monster mana pun. Arga tetap berlari tanpa menoleh. Sepuluh tahun bertahan hidup telah mengajarinya satu aturan sederhana: ketika seseorang menoleh kepada kematian, berarti kematian sudah berada tepat di belakangnya.
Ia melompati celah sempit antar gedung, berguling di atas atap bangunan berikutnya, lalu kembali memacu tubuhnya yang hampir mencapai batas. Sepatu tempurnya yang telah rusak nyaris terlepas dari kedua kaki, tetapi rasa sakit tidak lagi berarti dibandingkan keinginan untuk bertahan hidup. Dari ketinggian, ia dapat melihat ribuan zombie memenuhi setiap ruas jalan. Ada Zombie Tier 1 yang tubuhnya telah membusuk, Zombie Tier 3 dengan cakar baja yang mampu mencabik baja tipis, Zombie Tier 5 yang memimpin gerombolan, hingga beberapa Zombie Tier 6 yang merobohkan bangunan hanya dengan hentakan kaki. Seluruh Jakarta telah berubah menjadi sarang neraka, dan semua monster itu tunduk kepada satu pemimpin yang kini terus mengejarnya.
Arga akhirnya tiba di ujung atap. Di hadapannya terbentang jurang selebar hampir lima puluh meter menuju gedung berikutnya, jarak yang bahkan mustahil dilompati oleh Awakener Tier 5 sekalipun. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menatap sosok transparan yang berjalan santai menghampiri. Makhluk itu tidak tampak tergesa-gesa maupun marah. Sebaliknya, senyum tipis yang terukir di wajahnya seolah menunjukkan bahwa pertemuan ini adalah sesuatu yang telah lama dinantikan.
"Sudah lama tidak bertemu... Arga."
Jantung Arga seolah berhenti berdetak. Suara itu terdengar terlalu manusia untuk keluar dari mulut seekor zombie.
"Ternyata benar," ucap makhluk itu sambil tersenyum tipis. "Kau masih hidup sampai sekarang."
Arga mempererat genggamannya pada pedang Tier 5 miliknya. Pedang emas sepanjang satu setengah meter itu masih dipenuhi bercak darah hitam zombie, sementara aura keemasan samar menyelimuti bilahnya hingga membuat zombie-zombie lemah di bawah gedung tidak berani mendekat. Tatapannya tajam menembus sosok di hadapannya. "Aku tidak mengenalmu."
Zombie itu tertawa pelan, lalu memiringkan kepalanya seolah tengah menikmati kebingungan Arga. "Kalau begitu..." katanya lirih, "bagaimana dengan nama Sari?" Tubuh Arga membeku seketika. Nama itu menghantam kesadarannya jauh lebih keras daripada ledakan apa pun.
"Adikmu," lanjut zombie itu dengan suara yang nyaris lembut. "Gadis yang mati sambil memanggil namamu pada tahun ketiga kiamat."
Bayangan seorang gadis SMA berambut sebahu memenuhi benak Arga. Senyumnya yang cerah, tawanya yang selalu menghangatkan suasana, dan tangannya yang sering menarik lengannya saat mereka pulang bersama muncul begitu jelas di hadapan matanya. Namun kenangan indah itu segera berubah menjadi mimpi buruk ketika tubuh mungil Sari yang berlumuran darah kembali terbayang, tercabik-cabik oleh gerombolan zombie sementara dirinya datang terlambat untuk menyelamatkan.
Arga menggeram keras. Aura emas meledak dari tubuhnya, lalu ia melesat seperti peluru dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Pedang Tier 5 di tangannya mengayunkan tebasan berlapis yang mampu membelah kendaraan lapis baja, tetapi serangan itu hanya menghantam udara kosong. Tubuh zombie transparan tersebut berubah menjadi bayangan sesaat sebelum bilah pedang menyentuhnya.
"Masih sama," bisik suara itu dari belakang Arga. "Terlalu emosional."
Sebelum Arga sempat berbalik, sebuah cakar hitam menghantam pedangnya dengan kekuatan yang mustahil dibendung. Retakan kecil muncul pada bilah emas itu, kemudian menjalar begitu cepat hingga memenuhi seluruh permukaannya. Dalam sekejap, pedang yang telah menemaninya selama enam tahun bertarung hancur menjadi ribuan serpihan yang berhamburan di udara.
"Tidak..."
Belum sempat ia bereaksi, tangan zombie itu telah menembus dadanya. Daging, tulang, dan jantungnya tertusuk begitu mudah, seolah tubuh manusia hanyalah selembar kertas basah. Arga memuntahkan darah ketika Kristal Tier 6 terlepas dari genggamannya dan menggelinding di atas lantai beton. Penglihatannya mulai kabur, udara terasa semakin dingin, dan seluruh tenaganya perlahan menghilang.
Zombie itu mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Dengan nada tenang yang justru terasa lebih mengerikan daripada amarah, ia berkata bahwa selama sepuluh tahun terakhir ia sengaja membiarkan Arga tetap hidup. Menurutnya, menyaksikan Arga kehilangan satu demi satu orang yang dicintainya jauh lebih menyenangkan daripada membunuhnya sejak awal.
Air mata bercampur darah mengalir di pipi Arga. Ia tidak menangis karena takut menghadapi kematian, melainkan karena penyesalan yang menyesakkan dada. Ia gagal melindungi kedua orang tuanya, gagal menyelamatkan Sari, gagal menyatukan umat manusia, dan gagal menghentikan penyebaran Necrovirus Sapiens yang mengubah sembilan puluh persen populasi dunia menjadi monster. Bahkan ilmuwan misterius yang menemukan ramuan Awakener pun tewas dibunuh para pengkhianat yang dahulu ia anggap sebagai saudara. Selama sepuluh tahun bertahan hidup, yang tersisa darinya hanyalah tumpukan penyesalan yang tidak pernah bisa ditebus.
Pandangannya semakin gelap hingga langit merah yang dipenuhi abu menjadi satu-satunya hal yang masih mampu ia lihat. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, bibir Arga bergerak perlahan, mengucapkan harapan yang bahkan terdengar mustahil.
"Kalau... aku bisa kembali..."
Kesunyian.
Bunyi notifikasi ponsel memecah keheningan. Arga membuka mata dengan napas tersengal, lalu mendapati langit-langit putih, kipas angin tua yang berputar pelan, aroma mi instan yang memenuhi ruangan, dan dinding kos sempit dengan cat yang telah mengelupas. Ia langsung terduduk dan refleks meraba dadanya. Tidak ada luka, tidak ada darah, dan tidak ada lubang menganga tempat jantungnya seharusnya telah berhenti berdetak.
Dengan tangan gemetar, Arga memandangi kedua telapak tangannya. Kulitnya kembali halus tanpa bekas luka maupun kapalan akibat bertahun-tahun menggenggam pedang. Ketika pandangannya beralih kepada kalender yang tergantung di dinding, pupil matanya langsung mengecil.
14 Juni 2026.
"Tidak mungkin..."
Ponselnya kembali berbunyi. Saat layar menyala, sebuah pesan singkat muncul dari seseorang yang seharusnya telah lama tiada.
Sari: "Mas, nanti pulang jangan lupa beliin es krim ya. Katanya dekat kosmu lagi diskon, hehe."
Napas Arga tercekat. Nama itu, pesan sederhana itu, adalah sesuatu yang selama sepuluh tahun hanya bisa ia temui dalam mimpi. Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung ketika memeluk ponsel itu erat di dadanya.
"Tidak... kali ini tidak."
"Aku tidak akan membiarkanmu mati."
Belum sempat emosinya mereda, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya. Seluruh ingatan dari sepuluh tahun kehidupan sebelumnya membanjiri pikirannya tanpa ampun. Ia mengingat lokasi kemunculan gerbang zombie pertama, asal mula penyebaran Mikroba Necrovirus Sapiens dari lapisan es Siberia, resep ramuan Awakener yang memerlukan sepuluh kristal zombie sesuai tier yang direbus bersama daun mint dan garam selama satu jam, cara menempa senjata bertier tinggi, letak gudang persenjataan, identitas para pengkhianat yang akan menjual umat manusia demi kekuasaan, hingga lokasi ilmuwan misterius yang kelak mampu mengubah sejarah dunia.
Arga memegangi kepalanya sambil terengah, tetapi rasa sakit itu belum berakhir. Tiba-tiba sebuah ruang gelap tanpa batas terbuka di dalam kesadarannya. Tempat itu begitu luas, sunyi, tanpa cahaya, dan seolah tidak mengenal konsep waktu. Sebuah suara asing bergema di benaknya, menjelaskan bahwa sebuah Ruang Dimensi telah terikat dengan jiwanya. Segala benda yang disimpan di dalam ruang tersebut tidak akan mengalami kerusakan, perubahan, ataupun penuaan meskipun melewati ribuan tahun, dan seluruh proses penyimpanan maupun pengambilan cukup dilakukan melalui pikiran.
Arga membelalak. Ia menatap botol air mineral di atas meja, lalu mencoba memerintahkannya masuk ke dalam ruang dimensi. Dalam sekejap botol itu lenyap dari hadapannya, sementara di dalam kesadarannya ia melihat benda tersebut mengambang tenang di ruang gelap itu. Ketika ia memerintahkannya keluar, botol tersebut kembali muncul tepat di atas meja tanpa mengalami perubahan sedikit pun.
Perlahan Arga menarik napas panjang. Takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua, dan kali ini ia tidak berniat mengulang kesalahan yang sama. Ia segera mengambil sebuah buku tulis lusuh dan mulai menyusun rencana dengan tenang. Dalam benaknya telah tersusun urutan tindakan yang harus dilakukan: mengumpulkan seluruh persediaan makanan dan obat-obatan, menyiapkan tempat perlindungan, membawa Sari serta kedua orang tuanya ke lokasi yang aman, menemukan ilmuwan misterius sebelum organisasi lain bergerak, merebut kristal zombie pertama, menempa senjata sejak dini, menyingkirkan para pengkhianat sebelum mereka berkembang, dan membangun kekuatan sebelum kejadian kehidupan lalu terulang kembali.
Setelah semua rencana itu selesai dituliskan, Arga memandang matahari pagi yang menyinari jendela kosnya. Dunia masih tampak damai. Orang-orang masih berangkat bekerja seperti biasa, anak-anak masih tertawa di pinggir jalan, dan tidak seorang pun menyadari bahwa tiga puluh hari lagi bumi akan berubah menjadi neraka.
Arga menutup buku itu perlahan. Senyum tipis terukir di wajah yang selama sepuluh tahun hanya mengenal keputusasaan, sementara tatapannya memancarkan keyakinan yang belum pernah ia miliki pada kehidupan sebelumnya.
"Kali ini..."
"...aku yang akan tersenyum terakhir."