Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.
Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.
"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.
Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celetukan Yang Mengejutkan
Beberapa menit setelah Aluna melarikan diri ke dapur, Arsen akhirnya keluar dari kamarnya. Kemeja biru gelapnya kini sudah dirapikan kembali, namun tatapan matanya masih menyiratkan sisa-sisa gejolak intens yang baru saja terjadi. Dengan langkah tegap dan ekspresi wajah yang kembali dingin serta tak tertebak, ia berjalan menuruni tangga menuju ruang makan utama.
Di sana, Tuan dan Nyonya Mahendra sudah duduk santai di kursi utama, sementara Rafa, Dion, dan Randy duduk mengelilingi meja jati panjang tersebut, sesekali tertawa mendengar cerita Tuan Mahendra tentang bisnis mereka di London.
"Ah, itu dia Arsen! Panjang umur, baru saja diomongin," seru Randy begitu melihat kehadiran sahabatnya.
Rafa langsung menatap Arsen dengan senyum usil. "Dari mana saja kamu, Sen? Tadi kita ke kamarmu kosong. Jangan-jangan kamu ketiduran karena kecapekan mengurus proyek Bali?"
Arsen menarik kursi di sebelah mamanya dengan tenang, sama sekali tidak menunjukkan riak kepanikan. "Aku hanya merapikan beberapa dokumen kerja di kamar," jawab Arsen datar, suaranya berat dan stabil seperti biasa.
Nyonya Mahendra tersenyum lembut sambil mengusap lengan anak tunggalnya itu. "Sudah, jangan bahas kerjaan terus. Hari ini kan hari libur. Kita tunggu masakan Bik Sumi siap dulu, setelah itu baru kalian boleh mengobrol lagi."
Arsen hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan mamanya. Namun, fokusnya sama sekali tidak berada pada obrolan santai di meja itu. Matanya sesekali melirik ke arah pintu pembatas dapur yang masih tertutup rapat.
Di dalam benaknya, bayangan dorongan kuat dari tangan Aluna, kepanikan di wajah gadis itu, hingga sisa rasa manis dari ciuman mereka di atas tadi masih terekam dengan sangat jelas. Arsen tahu dia telah melanggar batasannya sendiri, dan kini, menunggu gadis itu keluar mengantarkan makanan membuat dadanya kembali bergemuruh oleh rasa antisipasi yang tajam.
Pintu pembatas dapur akhirnya terbuka. Bik Sumi berjalan di depan membawa mangkuk besar sup sarang burung walet, diikuti oleh Aluna di belakangnya yang membawa nampan berisi deretan lauk pauk premium lainnya. Aluna berjalan dengan kepala menunduk, berusaha sekuat tenaga mempertahankan profesionalitasnya sebagai pelayan.
Namun, begitu Aluna melangkah mendekati meja makan, fokus Arsen langsung teralih sepenuhnya. Sepasang mata elang pria itu tidak melirik ke arah makanan sedikit pun, melainkan terkunci rapat pada wajah Aluna. Sebagai pria yang jeli, Arsen menyadari ada yang berbeda—kedua mata Aluna tampak sedikit sembap dan kemerahan, menyiratkan ada air mata yang mati-matian gadis itu sembunyikan setelah kejadian di kamar atas tadi. Dada Arsen berdenyut bersalah sekaligus tidak tenang.
Bukan hanya Arsen yang menyadarinya. Nyonya Mahendra yang duduk di dekat dapur pun langsung mengernyitkan dahi penuh perhatian.
"Lho... Aluna, matamu kenapa? Kok merah begitu?" tanya Nyonya Mahendra lembut, merasa kasihan melihat pelayan barunya yang tampak tidak nyaman.
Aluna tersentak. Ia buru-buru meletakkan piring terakhir di atas meja dan mundur selangkah, menundukkan kepalanya lebih dalam. "K-kelilipan, Nyonya. Tadi waktu mau menurunkan makanan, mata saya kemasukan debu," jawab Aluna berbohong dengan suara yang sedikit bergetar.
Mendengar suara lembut Aluna yang terdengar begitu pasrah, insting buaya Rafa langsung bergejolak. Pria itu menopang dagunya dengan tangan, menatap Aluna dari atas sampai bawah dengan senyuman menggoda yang sangat kentara di depan orang tua Arsen.
"Wah, kelilipan saja tetap cantik ya. Tante..." Rafa menoleh ke arah Nyonya Mahendra dengan cengiran tanpa dosa. "Boleh enggak sih Aluna ini buat saya saja? Mau saya boyong ke apartemen, lumayan buat jadi asisten pribadi."
Brak!
Suara dentingan sendok yang diletakkan agak keras memecah suasana. Arsen, yang sedari tadi menahan cemburu melihat Aluna ditatap liar oleh Rafa sejak siang, akhirnya kehilangan kendali atas kendali emosinya.
"Enak saja! Aluna punya gue ya!" celetuk Arsen ketus dengan nada suara yang sangat protektif dan dingin.
Suasana di meja makan seketika hening seketika. Rafa, Dion, dan Randy langsung melotot tak percaya menatap sahabat mereka. Tuan dan Nyonya Mahendra pun sampai menghentikan gerakan tangan mereka, menatap anak laki-laki mereka dengan dahi berkerut heran karena Arsen baru saja mengklaim seorang pelayan rumah tangga secara terang-terangan di depan keluarga. Sementara itu, Aluna berdiri mematung di sudut ruangan, wajahnya mendadak pucat pasi mendengar kalimat ambigu yang baru saja dilontarkan oleh sang majikan muda.
Ketegangan yang sempat membekukan suasana meja makan langsung mencair begitu Arsen melanjutkan kalimatnya dengan nada yang dibuat sedatar mungkin, walau kilatan protektif di matanya sama sekali tidak bisa disembunyikan.
"Maksudku, pembantu pribadi aku. Kalau kamu mau, ya cari yang lain lah," ucap Arsen ketus, memotong spekulasi liar yang sempat melintas di benak semua orang. Ia meraih gelas air putihnya, meminumnya perlahan untuk menutupi detak jantungnya sendiri yang sempat lepas kendali. "Dia sudah dikontrak khusus untuk mengurus keperluan kamar dan ruang kerjaku. Jangan coba-coba mengganggu pekerja di rumah ini, Raf."
Rafa langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, terkekeh geli melihat reaksi Arsen yang tidak seperti biasanya. "Galak amat, Bos! Iya, iya, lagian siapa juga yang mau mengambil pembantu pribadimu."
Nyonya Mahendra mengembuskan napas lega, lalu tersenyum tipis menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putranya. "Kamu ini, Sen, ngomongnya ketus sekali bikin kaget Mama saja. Lagipula Rafa cuma bercanda." Beliau kemudian menoleh ke arah Aluna yang masih berdiri kaku. "Sudah tidak apa-apa, Aluna. Kamu boleh kembali ke dapur dan istirahat sejenak, obati matamu yang kelilipan itu ya."
"B-baik, Nyonya. Terima kasih," jawab Aluna dengan suara yang hampir habis.
Ia segera membungkuk hormat, membalikkan tubuhnya dengan cepat, dan melangkah setengah berlari kembali ke dalam dapur. Begitu pintu pembatas tertutup rapat, Aluna menyandarkan punggungnya di tembok, memegang dadanya yang bergemuruh hebat.
Kata-kata Arsen di meja makan tadi benar-benar membuatnya jantungan. Meskipun Arsen memperjelas statusnya sebagai pembantu pribadi, cara pria itu mengklaim dirinya di depan orang tua dan sahabat-sahabatnya terasa begitu posesif. Ditambah lagi dengan ciuman panas di kamar atas yang masih menyisakan rasa di bibirnya, Aluna tahu bahwa mulai hari ini, ia berada dalam jeratan yang tidak akan bisa ia hindari dengan mudah.