NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Sang Pembawa Sial.

***

Waktu bergulir dengan kejam, mengikis tahun-tahun yang penuh dengan paksaan dan dingin di kediaman Danendra. Enam tahun telah berlalu sejak insiden di mana Freya meringkuk ketakutan di bawah ancaman Galen di ruang kerja CEO.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, dan waktu pula yang telah mengubah segalanya.Freya Anindita kini bukan lagi anak kecil yang dulu sering menangis. Di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, ia telah tumbuh menjadi gadis remaja dengan raut wajah yang sering kali menyembunyikan kecemasan mendalam.

Tahun-tahun yang ia lalui di kediaman Danendra tidaklah mudah, terutama karena tatapan Galen yang selalu terasa seperti beban berat di pundaknya.

Namun, di balik pertumbuhannya, status Freya di mata Galen Danendra justru merosot ke titik terendah.

Galen Danendra kini telah berusia dua puluh sembilan tahun. Sosoknya jauh lebih dingin dan tertutup. Kini, ia menyandang status sebagai seorang duda setelah sebuah tragedi merenggut nyawa istrinya satu tahun yang lalu.

Bagi Galen, kematian itu adalah luka yang tidak akan pernah sembuh, dan ia menempatkan seluruh beban kesalahan itu pada Freya.

Kejadian tragis itu bermula ketika istri Galen berniat menjemput Freya pulang sekolah. Melalui sambungan telepon terakhirnya, ia mengabarkan Galen bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju sekolah Freya.

Namun, malapetaka terjadi; rem mobilnya blong di tengah jalan, mengakibatkan kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya sebelum ia sampai di tujuan.

Kehilangan tersebut mengubah rasa jengkel Galen menjadi kebencian yang nyata. Dalam logika Galen yang sudah terlanjur pahit, Freya adalah penyebab segala kemalangan.

Jika bukan karena urusan menjemput Freya, istrinya mungkin masih ada di sisinya. Pandangan Galen terhadap Freya kini terkunci pada satu kesimpulan: Freya adalah pembawa sial yang merusak kebahagiaannya.

pagi itu, suasana di lorong rumah terasa begitu sunyi dan mencekam. Freya baru saja keluar dari kamarnya, bersiap untuk turun ke bawah, namun langkahnya terhenti seketika saat pintu di hadapannya terbuka.

Galen melangkah keluar dengan kemeja gelap yang menambah kesan kaku pada sosoknya. Aura intimidasi yang ia pancarkan membuat udara di sekitar Freya terasa menipis.

Tatapan pria itu sangat tajam, penuh dengan kemarahan yang tertahan saat melihat sosok yang ia anggap sebagai pemicu tragedi dalam hidupnya.

Rasa takut yang telah tertanam sejak enam tahun lalu kini kembali muncul ke permukaan. Freya secara refleks melangkah mundur, merapatkan punggungnya ke dinding koridor.

Jantungnya berpacu cepat, merasakan ketegangan yang luar biasa setiap kali harus berhadapan langsung dengan pria yang kini memandangnya dengan penuh kebencian

Langkah kaki Galen terhenti tepat tiga jengkal di depan Freya. Sosoknya yang jangkung dan tegap dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku benar-benar menutup seluruh pandangan Freya.

Dari balik tubuh kokoh itu, hawa dingin yang mematikan menguar, menyelimuti koridor lantai dua yang sepi.

Sepasang mata elang Galen turun, memindai wajah Freya dari atas ke bawah.

Enam tahun telah mengubah segalanya. Bocah cengeng berumur sebelas tahun yang dulu gemar merengek kini telah menjelma menjadi seorang gadis remaja yang teramat cantik jelita.

Kulitnya yang bersih kontras dengan rambut hitam lurus yang jatuh melewati bahu. Di balik seragam putih-abu-abu yang melekat di tubuhnya, siluet tubuh Freya yang mulai sintal dan proporsional memancarkan pesona wanita remaja yang memikat.

Namun, bagi Galen yang hatinya telah mati dan dipenuhi dendam, kecantikan luar biasa milik Freya tak ubahnya seperti topeng dari sebuah kutukan.

"Kenapa? Kau mau pergi bersenang-senang lagi setelah menghancurkan hidupku, hah?". Suara bariton Galen membelah kesunyian dengan nada yang sangat rendah, namun sanggup membuat bulu kuduk Freya berdiri.

Freya mendongak, menatap mata elang itu dengan binar ketakutan yang tertahan. "kak... aku hanya mau berangkat sekolah."

"Sekolah?". Galen mendengus sinis, senyuman mengejek terukir di sudut bibirnya yang kaku. "Masih punya muka kau untuk menuntut ilmu di dunia ini, setelah apa yang kau lakukan pada istriku satu tahun yang lalu?".

Tuduhan pahit itu kembali terlontar. Selama satu tahun terakhir, setiap kali mereka berpapasan tanpa kehadiran orang tua Galen, kata-kata beracun itu selalu menjadi makanan sehari-hari bagi Freya.

Selama satu tahun ini pula, Freya memilih diam dan menerima. Namun hari ini, sesak di dadanya sudah mencapai batas maksimal. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah.

"kak, tolong berhenti menuduhku seperti itu..." Bisik Freya, suaranya bergetar menahan tangis yang hendak pecah. "Aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan itu. Aku tidak pernah meminta Kak Elena untuk menjemputku hari itu... Aku bahkan tidak tahu kalau dia sedang di jalan..."

"Cukup! Jangan sebut nama istriku dengan mulut sialanmu itu!". Potong Galen dengan bentakan yang menggelegar, membuat Freya tersentak hebat hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.

Kilat amarah yang memuncak seketika berkobar di kedua bola mata Galen. Ingatan tentang penderitaannya satu tahun lalu kembali berputar di otaknya seperti kaset rusak.

Menikah selama dua tahun dengan wanita pilihan hatinya, membangun mimpi bersama, lalu dalam sekejap mata segalanya hancur berantakan. Garis hidupnya direnggut secara paksa karena sebuah kecelakaan rem blong, tepat saat sang istri mengirimkan pesan terakhir: 'Mas, aku jalan dulu ya, mau jemput Freya sekolah.'

Bagi Galen, jika hari itu Freya tidak merepotkan istrinya, jika hari itu Freya pulang naik taksi seperti biasa, istrinya tidak akan pernah menyentuh kemudi mobil terkutuk itu.

Freya adalah pemicu. Freya adalah kesialan mutlak yang dikirim ke rumah ini untuk merusak kebahagiaannya.

Melihat Freya yang kembali membuka mulutnya seolah hendak melakukan pembelaan diri, sisa-sisa kesabaran Galen lenyap sepenuhnya. Sifatnya yang kejam dan dominan mengambil alih akal sehatnya.

Dengan gerakan yang teramat kilat dan brutal, tangan kanan Galen yang besar dan kekar maju ke depan. Jemari kokohnya mencengkeram kuat rahang Freya, memaksa gadis remaja itu untuk mendongakkan wajahnya dengan paksa. Kekuatan cengkeraman Galen begitu mutlak, menekan persendian rahang Freya hingga gadis itu memekik kesakitan.

"A-Ah... kak, sakit..." Rintih Freya parau. Air matanya runtuh menembus pipi, membasahi ibu jari Galen yang menekan kulitnya dengan kejam hingga memerah kaku.

Kedua tangan mungil Freya secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Galen, mencoba melepaskan diri, namun tangannya tak lebih kuat dari seutas benang di hadapan tenaga raksasa sang CEO.

"Kau mau membela diri lagi, hah?!". Bisik Galen tepat di depan wajah Freya. Jarak mereka begitu dekat hingga Freya bisa merasakan hembusan napas Galen yang memburu penuh amarah.

Wajah tampan Galen saat ini benar-benar sedingin es batu, tanpa ada sedikit pun celah untuk belas kasihan.

"Dengar baik-baik, Pembawa Sial. Pembelaan dari mulutmu itu tidak akan pernah bisa mengembalikan istriku dari dalam tanah!". Ucap Galen, setiap kata yang keluar terdengar lambat namun sarat akan racun yang menusuk batin Freya dengan nyata.

"Dua tahun aku mencintainya, dan setahun kemudian dia mati menjadi mayat hanya karena mengurusi anak pungut sepertimu! Kau tahu apa arti kehadiranku di rumah ini sekarang? Setiap kali aku melihat wajahmu itu, yang kulihat hanyalah bayangan kematian istriku! Kau adalah kerikil busuk yang menghancurkan hidupku, Freya!".

Galen semakin mempererat cengkeraman rahangnya, membuat Freya kesulitan bernapas. Air mata Freya mengalir deras tanpa henti, membasahi seragam sekolahnya.

Rasa sakit fisik di rahangnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya akibat tuduhan kejam yang sama sekali tidak ia lakukan.

Di depan wajah menyeramkan Galen, Freya benar-benar kehilangan seluruh tenaganya. Ia hanya bisa menangis pasrah dalam cengkeraman kejam kakak angkatnya itu yang kini telah menjelma menjadi monster seutuhnya di masa remaja gadis itu.

Setelah menumpahkan seluruh emosi dan kata-kata pedasnya, Galen menghempaskan wajah Freya ke samping dengan sentakan yang kasar, membuat kepala Freya terbentur pelan pada dinding.

Pria dua puluh sembilan tahun itu berbalik dengan kaku, melangkah lebar meninggalkan koridor lantai dua tanpa memedulikan tubuh Freya yang langsung merosot jatuh terduduk di atas lantai marmer, menangis tersedu-sedu meratapi takdir kejamnya yang baru saja resmi dimulai di masa dewasa ini.

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!