Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.
Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantunan Ayat Cinta
Dalam keheningan malam, Zulaikha melantunkan ayat-ayat Allah dengan suara merdunya. Surah Yasin yang kini tengah ia baca ditujukan untuk kesembuhan si Mbok. Dengan melantunkan ayat suci al-qur’an juga perlahan, hati Zulaikha sedikit terobati. Ia tak pernah menyangka jika ternyata pria yang selama ini ia dambakan telah berpindah ke lain hati. Tetapi apa mau dikata, semuanya sudah terjadi. Zulaikha mencoba merelakan semuanya sedikit demi sedikit. Ia juga berharap kepada Allah agar apa yang sudah pergi bisa terganti dengan sesuatu yang lebih baik. Hanya Allah yang mengetahui jalan hidupnya, yang mengetahuimana yang terbaik untuk hidupnya.
Begitu larut Zulaikha dalam bacaan mengajinya, sehingga ia tak memikirkan apapun lagi selain ayat yang tengah ia baca dan resapi. Zulaikha tak akan pernah mengira bahwa ada seseorang yang kini tengah mengagumi lantunan bacaan Al-qurannya dibalik pintu. Seorang pria yang belum pernah Zulaikha kenali sebelumnya. Pria itu merapatkan telinganya ke pintu kamar itu, ia menikmati bacaan ayat suci al-quran yang dilantunkan oleh seseorang dari balik pintu itu. Pria itu kembali berdiri tegak saat bacaan itu telah usai.
Seakan baru dihipnotis oleh lantunan itu, tanpa berpikir dua kali pria itu langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sehingga membuat seseorang yang berada di kamar itu kaget saat menyaksikan kemunculan pria itu. Seseorang yang baru saja melantunkan ayat suci al-quran itu kini tengah berdiri dan masih mengenakan mukena serta memegang al-quran yang seukuran saku. Pria itu lalu mendekati orang itu.
“Maaf, ada perlu apa ya dok?” tanya orang itu.
“Oh, tidak. Aku hanya penasaran saja dengan suara yang baru saja aku dengar.” Kata pria yang ternyata adalah dokter di rumah sakit itu.
“Oh, maksud dokter bacaan al-quran?” tanya pria itu.
“Ah, ya. Tentu. Al-qur’an, kenapa aku tidak bisa mengenalinya? Bodoh sekali. Aku begitu kagum dengan bacaan Al-quranmu. Sungguh merdu dan membuat hatiku menjadi tenang seketika.” Puji dokter itu.
“Memang begitulah Al-quran, membuat hati tenang bagi para pembaca dan pendengarnya.”
“Betul, ditambah dengan suaramu yang merdu. By the way, namamu siapa?” tanya dokter itu.
“Nama saya Zulaikha.”
“Nama yang cantik. Aku Edward. Kamu keluarga dari pasien ini juga ya? kamu pasti istri dari pria yang tadi kan?”
“Oh, bukan. Saya hanya kawan karibnya, kebetulan semenjak kecil kami memang sudah saling kenal jadi saya sudah menganggap pasien seperti ibu saya sendiri.”
“Oh, hanya kawan karib. Baiklah, Zulaikha ini kartu namaku. Jika kamu membutuhkan bantuanku, kamu bisa hubungi aku kapanpun.” Dokter Edward lalu menyerahkan kartu namanya pada Zulaikha.
“Terima kasih dok.” Zulaikha menerima kartu itu.
“Ya sama-sama. Aku keluar sekarang ya, see you later.” Dokter Edward lalu melangkah keluar.
Zulaikha kini menandangi kartu nama yang tengah digenggamnya. Dr. Zayn Edward Malik. Namanya dari nama islam, tapi kenapa tadi ia seperti baru pertama kali mendengar bacaan ayat suci Al-Qur’an? Apa jangan-jangan ia adalah seorang nonislam? Tapi namanya? Ah, Zulaikha merasa pening, ia lalu menaruh kartu itu dan kini memutuskan untuk beranjak tidur. Ia merebahkan badannya di atas sofa yang ada di kamar itu. Zulaikha pun tertidur lelap.
Pagi-pagi sekali Syamir pergi meninggalkan rumah sakit. Syamir menitipkan Si Mbok Pada Zulaikha sampai malam nanti karena Syamir harus bekerja dan melakukan beberapa urusan lainnya. Zulaikha dengan ikhals merawat si Mbok dan mengurus segala keperluannya. Setelah si Mbok selesai melakukan pemeriksaan rutin dan makan serta minum obat, Zulaikha lalu membawa si Mbok untuk pergi ke taman rumah sakit dengan kursi roda.
Di taman itu, tanpa terduga, dokter Edward tengah duduk dengan meminum secangkir kopi kemasan dari kedai terkenal. Zulaikha tak memiliki niatan untuk menghamprinya, justru ia malah mencoba menghindar dari dokter Edward. Tetapi pria itu menyadari kedatangan Zulaikha, ia segera menghampiri Zulaikha.
“Zulaikha?” Edward menyapa Zulaikha.
“Dokter,” ucap Zulaikha.
“Dokter kan tadi baru memeriksa si Mbok, kenapa tiba-tiba langsung ada di sini?” tanya Zulaikha.
“Kan itu tadi, sekarang aku tengah mencoba duduk di sini dan menghilangangkan stressku.” Jawab Edward.
“Hallo..., emm, aku harus memanggilnya apa?” Edward mencoba menyapa si Mbok, tetapi ia belum mengetahui namanya.
“Panggil saja Mbok.” Kini Mbok ikut mengobrol walau masih terdengar kurang jelas karena pasca operasi.
“Okay, Hallo Mbok. Sekarang kondisimu sudah jauh lebih baik kan? Tumor di rongga hidungmu sudah bersih, sekarang kau tinggal menikmati kembali hidupmu dengan bahagia.” Edward tersenyum ramah pada Si Mbok.
“Terima kasih banyak dok, berkat dokter si Mbok kini sudah sembuh. Semoga kebaikan dokter dibalas oleh Allah, Aamiin.” Ucap Zulaikha.
“Jangan terlalu berterima kasih, aku menjadi tak enak. Baiklah, aku pamit dulu ya, ada beberapa pasien yang harus aku temui. Sampai jumpa. Eh, tunggu, Zulaikha, boleh aku menyimpan nomor telponmu?”
“Untuk apa dok?” tanya Zulaikha.
“Tidak, hanya ingin saja. Boleh kan?”
“Emm, baiklah.” Zulaikha lalu memberikan nomor telponnya pada Edward.
“Okay, thanks ya, See you.” Edward lalu pergi.
“Kau tampak begitu akrab dengan dokter itu Zul, seperti wes saling kenal sebelumnya.” Ucap Mbok.
“Ah, anu Mbok, malam tadi Zulaikah bertemu dengan dokter Edward di ruang inap Mbok, Zulaikha juga agak risih karena di kamar itu sedang tidak ada Syamir, Syamir tidur di mushola rumah sakit. Dokter Edward tiba-tiba masuk begitu saja ke kamar, Zulaikha sempat panik tapi ternyata dokter Edward penasaran dengan bacaan Al-Quran Zulaikha. Setelah itu dokter Edward kembali pergi.”
“Oh, begitu to, pantesan.”
Setelah jalan-jalan di taman itu, Zulaikha lalu membawa si Mbok kembali ke Kamarnya untuk istirahat. Sementara menunggu si Mbok istirahat, Zulaikha lalu melaksanakan shalat. Saat sedang shalat, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Edward dan susternya masuk ke kamar si Mbok untuk memeriksa si Mbok. Edward masuk begitu saja tanpa menghiraukan Zulaikha yang tengah shalat. Edward lalu memeriksa kembali kondisi si Mbok dan meyuntikan beberapa obat. Setelah itu Edward kembali meninggalkan ruangan dengan susternya.
Setelah menyelesaikan shalat, Zulaikha lalu pergi ke kantin untuk makan, saat perjalanannya menuju kantin, tepatnya di lorong rumah sakit, Zulaikha memergoki Edward yang tengah berbicara dengan seorang wanita. Wanita itu jelas bukan suster rumah sakit, lalu siapa dia? Zulaikha tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
“Mom, i was telling you to not visited me at my work. Kalo Mom mau ketemu setidaknya hubungi Edward dulu, jangan main asal datang.” Bentak Edward pada wanita itu.
“Sorry Edward, Mama cuma mau tahu kondisi kamu aja. Ya udah, Mama pergi sekarang ya. Bye.” Wanita itu lalu pergi meninggalkan Edward.