Princilia Deandra.
Ia hanyalah seorang gadis manis dengan kehidupan sempurna, keluarga mapan, ayah meyayanginya dan seorang pacar ganteng.
Semua berubah saat ayahnya jatuh sakit dan bangkrut. Terpaksa dengan keadaan, Deandrapun menyetujui penawaran rekan bisnis ayahnya untuk menikah dengan anaknya.
Nicolas Anderson.
Pria arrogant yang selalu merasa benar dan mempunyai banyak wanita. Nico yang tidak percaya akan cinta, menolak menikah dan berusaha untuk mengusir Deandra dari rumah.
Bagaimana kisah cinta Deandra dan Nico? Kisah cinta yang manis, sengit, penuh drama dan komedi.
Yuk ikutin kisahnya ya.
jangan lupa vote, like, comment,dan rate 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lady dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Author :
Terimakasih yang sudah mampir, sebelum kamu baca jangan lupa tab jempol mu buat like, vote, dan rate ⭐ 5 ya. Jangan lupa tinggalkan jejak juga.
______________
Deandra menarik nafas dalam mengingat perbuatan Nico yang membuat harga dirinya terluka. Nico tidak hanya menginjak-injak harga dirinya sebagai wanita. Ia dengan lantang menghargai Deandra dengan uang. Selain itu, pun mencium Deandra berulang kali dengan paksa.
Deandra mengusap-usap bibirnya dengan kasar. Ini kedua kalianya kejadian ini terjadi. Deandra merasa sangat kesal dengan Nico. Deandra memegang pipinya membayangkan Nico yang membelainya. Membayangkan kejadian yang dapat terjadi jika hal kemrin berlanjut.
Pria mesum itu sepertinya berbahaya. Untung saja aku bisa mencari kesempatan di saat Nico lengah. Jadi aku bisa menggigit bibir Nico sekeras mungkin.
Deandra menatap kembali dirinya di pantulan cermin. Ia lalu memegang sudut bibirnya yang sedikit lecet. Lecet karena Nico yang memaksa menciumnya dan juga, karena bibirnya ikut tergigit saat Deandra menggigit bibir Nico.
Sepertinya bibirku luka. Duh, ini terlihat jelas. Bisa-bisa aku dikira apa sama orang lain. Hifh...Bagaimana aku bisa menutupinya?
Deandra mengambil lipstik dengan warna wine dan mengulaskannya ke bibir. Warna yang terlalu mencolok untuk Deandra gunakan. Namun, apa boleh buat. Warna itu yang bisa menutupi lecet di bibirnya.
Deandra meraih tasnya dan mulai beranjak dari kursi. Ia berjalan pelan menuju pintu dan membuka pintu kamar pelan-pelan. Kepalanya sedikit menyembul, melihat ke sebuah ruangan sudut yang terletak satu lantai dengannya. Kamar Nico tampak gelap dan sudah terkunci
Deandrapun kembali mengederkan pandangannya ke seluruh arah. Memang pukul telah menunjukan jam 9.00 pagi. Waktu yang tentunya sudah tidak pagi lagi. Waktu dimana seharusnya Nico sudah berangkat kerja dari beberapa waktu lalu. Saat merasa setiap sudut lantai dua sudah mulai sepi, Deandrapun segera bergegas keluar kamar.
Syukurlah orang gila itu sudah berangkat! Aku muak kalau harus bertemu dengan dia lagi. Hufh, tampaknya aku harus membeli alat buat perlindungan diri. Biar aku setrum dia, kalau berani macam-macam denganku lagi!
Deandrapun melangkahkan kaki kecilnya menuruni anak tangga. Segera ia berjalan cepat meninggalkan rumah. Berharap bisa segera pergi dari rumah ini.
Diandra membuka hp-nya kemudian mencari aplikasi O-jek di handponennya. Ia kemudian memesan sebuah mobil untuk berangkat ke tempat kerjanya. Biasanya, Deandra anda akan memesan ojek montor atau menggunakan angkutan umum untuk berangkat. Tetapi untuk hari ini, entah mengapa ia merasa sangat lelah, ia merasa lelah pikiran dan tenaga.
Banyak hal yang ia fikirkan dari semalam. Sempat Deandra ingin menelphon tuan Adam dan ingin membatalkan kontrak mereka. Namun, Deandra mengurungkan niatnya. Ia belum cukup mempunyai uang untuk membayar hutang ayahnya. Terlebih dengan kondisi ayahnya yang memerlukan perawatan intensif. Membayangkan semua perawatan akan di putus, Deandra langsung mengumpulkan tenaga kembali. Ia tidak tahu bagaimana ayahnya bisa bertahan tanpa bantuan paramedis.
Aku harus bisa bertahan di neraka ini. Aku harus kuat demi ayah. Nico, aku yakin pria itu pasti punya kelemahan yang bisa aku pegang.
Sebuah mobil sedan hitampun berhenti tepat di depan Deandra. Kaca mobil diturunkan, tampak seorang pria paruh baya tersenyum ke arahnya.
"Mbak Deandra ya?," tanya pria itu.
"Iya pak, saya yang memesan mobil. Bisa antarkan saya ke Royal Hotel pak?" tanya Deandra.
"Sesuai aplikasi kan Mbak?" tanya sopir itu lagi saat Deandra sudah memasuki mobil.
"Iya Pak, sesuai dengan aplikasi," jawan Deandra.
Deandra menyandarkan kepalanya di bantalan kursi mobil. Ia memajamkan matanya, berusaha untuk merilekskan pikiran yang terasa berat sedari tadi malam.
Pip! Pip! Pip!
Handpone Deandra berbunyi. Deandrapun segera meraihnya dari dalam tasnya. Ia hanya mengernyitkan dahinya melihat layar ponsel
'Gillang Calling'
📞📞Perbincangan dalam telephon📞📞
"Halo Pak Gilang, ada yang bisa saya bantu" sapa Deandra sambil mendekatkan handponenya di telinganya.
"Halo Deandra, ini aku. Gilang," suara dari seberang.
"Iya Pak Gilang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Deandra heran. Hari ini Deandra kan shift siang.
"Kamu dimana? Sudah berangkat" tanya Gilang.
"Saya? Hm... baru saja mu berangkat, Pak. Saya masih dalam mau perjalanan," sahut Deandra dengan heran. Tidak seperti biasanya pak Gilang menanyakannya. Ia belum terlambat bekerja juga kan.
"Aku sedang menjemput tamu penting, beliau adalah salah satu investor hotel. Cuma mobilku bermasalah di jalan, dan aku sedang menunggu orang bengkel. Hm... Deandra, bisakah kamu menggantikanku untuk menjemputnya di bandara?" tanya Gilang.
"Menjemput tamu pak? Saya?" Deandra masih bingung. Ia tidak pernah menjemput tamu hotel, apalagi tamu yang penting seperti investor hotel.
"Ia, bagaimana kamu bisa kan? Setidaknya kamu bisa mengajak beliau berbincang selagi menunggu aku dapat kembali ke hotel," terang pak Gilang.
"Tapi pak, saya takut kalau melakukan kesalahan," jawab Deandra ragu.
"Tidak Deandra. Aku yakin, kamu pasti bisa. Aku akan mengirimkan profil beliau ke e-mailmu. Kamu bisa mempelajari tentangnya selagi di jalan," pinta Gilang.
Deandra terdiam sejenak untuk berfikir. Ia sebenarnya enggan untuk menemui tamu penting. Jelas Deandra yang baru bekerja belum mengenal secara detail tentang hotel. Sedangkan tamu yang dimaksud oleh pak Gilang adalah tamu penting, seorang investor. Bagaiamana kalau dia bertanya tentang masalah hotel? Deandra kan belum tahu banyak
"Deandra, apa kamu masih disana? kamu tidak apa-apa?" tanya pak Gilang membuyarkan lamunan Deandra.
"Eh iya pak, tapi saya takut berbuat kesalahan. Saya belum mengenal seluk beluk hotel secara keseluruhan. Saya masih baru di hotel Pak," jawab Deandra jujur.
"Hahaha...Kamu tenang saja Deandra, beliau tidak pernah membicarakan masalah perusahaan kecuali denganku. Kamu bisa membahas hal-hal umum dengannya," jelas Gilang berusaha menenangkan Deandra.
"Kalau begitu, baiklah Pak. Saya akan ke bandara sekarang. Bapak bisa mengirimkan profil beliau ke email saya. Saya akan mengirimkan alamatnya e-mail saya," awab Deandra sedikit tenang dengan ucapan Pak Gilang.
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak ya, Deandra," ucap Gilang tulus.
"Sama-sama bapak," Deandra menutup telphonnya.
📞📞Call End📞📞
Diandra menghela nafas panjang, kemudian Ia mengembalikan handphonenya ke dalam tasnya. Sekarang, mata cantiknya beralih pada sopir yang duduk berada di depannya. Ia pun menepuk bahu pak supir dengan sopan.
"Pak, saya minta maaf. Ada sedikit pergantian arah. Saya mendapatkan telephon mendadak dan ternyata, saya harus ke bandara. Ada beberapa hal penting yang harus disana," jelas Deandra.
"Oke baiklah mbak, jadinya kita ke bandara ya," sahut pak supir.
"Ia pak, maaf ya jadi merepotkan," Deandra merasa tidak enak hati karena mengubah haluan.
"Iya, tidak apa-apa mbak, Itu sudah merupakan tugas saya saya mengantar mbak kemanapun," jawab Pak sopir tersenyum.
"Terimaksih ya, Pak," sahut Deandra sambil tersenyum tipis.
Mobil pun mulai melaju kencang menuju Bandara yang sudah di infokan oleh Pak Gilang. Deandra membuka handponenya dan mengechek e-mail yang dikirimkan oleh pak Gilang. Deandra membaca dengan seksama profil investor yang akan ia temui nanti.
Selesai mempelajari, Deandra pun kembali menyandarkan pada kepalanya pada bantalan sofa mobil. Ia menutup mata cantiknya sambil menikmati guncangan mobil saat perjalanan. Suara radio mobil yang menyenandungkan lagu selow membuat Deandra rilexs dan mengantuk. Tanpa Deandra sadari, sepasang mata tajam menatapnya sedari tadi. Sebuah senyum seringai terpasang di wajah tampannya.
_______Bersambung_____
tunangan nya Dea apa kbar ny tu