Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Aris membalikkan badannya ke kanan dan ke kiri di atas kasur kamar utamanya, namun matanya tetap enggan terpejam. Setiap malam kini menjadi siksaan baginya. Dia tidak bisa lagi tidur dengan nyenyak, bukan hanya karena hawa kamar yang terasa pengap sejak jarang dibersihkan, tetapi karena Linda yang berbaring di sampingnya selalu mengeluh tanpa henti dengan nada suara yang meninggi.
"Mas! Aku sudah tidak tahan ya tinggal di rumah ini!" keluh Linda sembari menyentak selimutnya dengan kasar. "Ibumu itu keterlaluan sekali. Setiap jam, setiap menit, dia selalu mengomel dan berkata kasar kepadaku! Ada saja yang salah di matanya. Aku ini istrimu, Mas, bukan keset kakinya!"
Aris menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Sabar saja dulu, Lin. Ibu memang wataknya keras seperti itu dari dulu. Kamu harus maklum."
"Maklum bagaimana?! Telingaku sampai mau pecah rasanya!" sahut Linda meradang.
"Dulu Rena selalu diam dan patuh kalau Ibu bicara. Dia tidak pernah membantah sepatah kata pun," ucap Aris tanpa sadar membandingkan masa lalunya. "Kenapa kamu tidak bisa bersikap sedikit lebih tenang seperti dia?"
Mendengar kalimat itu, tentu saja Linda langsung naik pitam. Dia mendengus kencang, menatap Aris dengan pandangan berapi-api karena sangat tidak suka dibanding-bandingkan dengan Rena.
"Oh, jadi sekarang kamu mau membandingkan aku dengan si Rena itu?!" semprot Linda dengan nada sengit. "Rena itu istri yang lemah, Mas! Makanya dia mau saja ditindas dan patuh bagai kerbau dicocok hidung! Sedangkan aku? Aku ini harus bekerja di salon tiap pagi! Dari pagi sampai sore aku sibuk, mana sempat aku mengerjakan semua pekerjaan rumah yang melelahkan itu?! Lagipula, pekerja salon itu harus memperhatikan penampilan. Kalau tanganku kasar karena mencuci dan penampilanku buruk karena kelelahan, salonku tidak akan laku, Mas!"
Aris terdiam seribu bahasa. Dia memalingkan wajahnya ke langit-langit kamar, tidak mampu membalas argumen Linda. Dalam keheningan malam itu, benak Aris terpaksa mengakui satu kenyataan pahit. Rena dan Linda memang dua wanita yang jauh berbeda, laksana bumi dan langit.
Dulu, dia memilih menikah dengan Rena karena Rena adalah tipikal wanita rumahan yang patuh, penurut, lambang ketenangan, dan sangat andal dalam mengurus segala keperluan rumah tanpa pernah menuntut. Sedangkan dia memutuskan menikah siri dengan Linda, semata-mata karena Linda adalah wanita yang cantik, modis, pandai bersolek, dan bisa merawat diri untuk memuaskan ego lelakinya di luar rumah. Sungguh dua wanita dengan dua kepribadian yang sangat berbeda, dan kini Aris baru menyadari bahwa kecantikan luar sama sekali tidak bisa mengisi kekosongan rumah yang telah ditinggalkan oleh ketulusan.
Keesokan paginya, matahari baru saja beranjak naik, namun kedamaian pagi itu langsung buyar. Suara ocehan yang tidak berhenti dari mulut Bu Broto kembali menggema memenuhi seisi rumah. Suara itu melengking tinggi, menembus pintu kamar tidur Aris dan Linda. Penyebabnya sangat klasik, Linda belum juga bangun dari tempat tidurnya, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan Bu Broto sudah selesai mandi.
Bu Broto berdiri di tengah ruang tengah dengan kedua tangan berkacak pinggang, napasnya memburu menatap sekeliling. Pemandangan di depannya benar-benar membuat tensi darah wanita tua itu naik drastis saat membuka mata. Pakaian kotor milik seisi rumah masih menumpuk menggunung di dalam ember tempat cuci belakang hingga mengeluarkan aroma tidak sedap. Piring-piring bekas makan malam yang dipenuhi sisa lemak masih teronggok di wastafel dapur. Lantai rumah terasa lengket dan berdebu, dan yang paling parah, tidak ada makanan sebutir nasi pun yang tersaji di atas meja makan kosong itu. Rumah benar-benar kotor dan telantar.
"Linda! Aris! Bangun kalian!" teriak Bu Broto dari luar kamar.
Ketika pintu kamar akhirnya terbuka dan Linda keluar dengan wajah mengantuk yang masih terbalut riasan sisa semalam, Bu Broto langsung menyerangnya dengan kalimat yang sama seperti yang diucapkan Aris semalam.
"Kamu ini wanita macam apa, hah?!" semprot Bu Broto dengan mata mendelik. "Jam segini baru bangun! Dulu si Rena, sebelum subuh sudah menyapu halaman, mencuci baju sampai bersih, dan meja makan ini sudah penuh dengan sarapan hangat! Kamu jangankan masak, pegang sapu saja tidak pernah!"
Berbeda dengan Rena yang akan menunduk bersalah jika dimarahi, Linda hanya menanggapi ocehan ibu mertuanya dengan wajah santai dan gerakan tangan yang acuh tak acuh. Dia berjalan menuju dispenser untuk mengambil air minum tanpa memedulikan tatapan tajam Bu Broto.
"Aduh, Ibu, pagi-pagi sudah ribut sekali," sahut Linda dengan nada meremehkan. "Zaman sekarang sudah modern, Bu. Kalau pakaian kotor menumpuk, tinggal suruh Mas Aris bawa ke laundry kiloan di depan gang. Kalau tidak ada makanan, tinggal beli nasi uduk atau pesan makanan online, beres kan? Uang Mas Aris kan banyak. Dan kalau masalah lantai rumah ini kotor..." Linda membalikkan badannya, melirik ke arah Siska yang baru keluar dari kamarnya sambil bermain ponsel. "Siska kan bisa membersihkannya. Buat apa Ibu punya anak perempuan yang sudah besar kalau tidak berguna sama sekali untuk membantu di rumah ini?"
Plak! Kalimat itu laksana tamparan keras yang mampir ke telinga adik iparnya.
Mendengar namanya diseret dengan cara yang sangat menghina, Siska yang sejak kemarin sebenarnya hanya diam dan memperhatikan perdebatan antara Linda dan ibunya, kini ikut dibuat kesal setengah mati. Wajah remaja itu memerah, dia menunjuk Linda dengan jari gemetar.
"Heh! Maksud Mbak Linda apa ngomong begitu?!" bentak Siska tidak terima. "Mbak Linda itu kan menantu di sini, harusnya Mbak yang mengurus rumah, bukan malah menyuruh-nyuruh aku! Mbak jangan seenaknya ya di rumah ini!"
"Sudah! Diam kamu, Siska!" lerai Aris yang baru keluar kamar dengan wajah kusut, mencoba menahan adiknya agar tidak terjadi baku hantam di pagi hari yang cerah itu. Kekacauan di rumah Aris benar-benar telah mencapai puncaknya, menciptakan keretakan baru di antara mereka semua.
Sementara di rumah Aris terjadi prahara dan kekacauan yang tiada akhir, pemandangan yang sangat kontras terjadi di tempat lain. Rena bekerja seperti biasa dan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan hari ini. Siang itu setelah menjemput Dio, dan mengantar pulang ke rumah, Rena segera pergi menuju ke gedung Pengadilan Agama yang tempatnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua kilometer dari tempat kosnya.
Rena mengenakan pakaian terbaiknya yang bersih dan rapi, meskipun sederhana. Wajahnya tidak lagi menyiratkan kesedihan atau keraguan. Langkah kakinya saat menaiki anak tangga gedung pengadilan terasa sangat mantap. Dia tidak memiliki niat sedikit pun untuk mundur lagi dari jalurnya, atau memberikan kesempatan kedua kepada orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Di dalam map plastik yang dia dekap dengan erat, semua bukti sudah tertata dengan sangat rapi, mulai dari foto-foto bukti struk pengiriman uang, bukti pembayaran hotel yang disembunyikan, cetakan obrolan chat dari Ririn, rekaman suara pengakuan Bu Broto tentang pernikahan siri yang berumur empat tahun, hingga video pamungkas penggerebekan mesum di ruang tamu malam itu.
Saat mengisi formulir pendaftaran gugatan cerai di loket administrasi, Rena mengembuskan napas panjang dengan perasaan lega yang membuncah. Dengan semua bukti kuat di tangannya ini, dia tahu Aris tidak akan memiliki celah sedikit pun untuk menang atau mempersulit jalannya persidangan. Rena sudah siap untuk melangkah dengan penuh keyakinan menuju gerbang kebebasan, meninggalkan masa lalu yang kelam demi masa depannya yang cerah bersama Dio.
aku pikir sampai Rena menikah lagi