NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hak Milik yang Terusik

Tujuh hari sudah berlalu sejak berpulangnya Frina ke haribaan-Nya. Tujuh hari itu pula, Arka memilih absen total dari sekolah. Berbeda dengan Lintang yang langsung kembali masuk sehari setelah ibu mertuanya dimakamkan.

Dalam satu minggu itu juga, rumah tangga mereka yang masih seumur jagung menjadi semakin berjarak dan mendingin.

Tembok besar itu masih ada. Arka masih egois menyalahkan Lintang atas keteledorannya meninggalkan Frina sendirian hari itu. Ditambah lagi, dendam di dada cowok itu terhadap ayahnya entah kenapa terasa semakin membuncah setiap harinya.

Di tengah badai es itu, Lintang memilih bersikap secukupnya. Dia tetap menjalankan kewajibannya dengan baik; menyiapkan sarapan, merapikan baju, menyiapkan makan malam, bahkan mengerjakan seluruh tugas sekolah Arka yang menumpuk.

Namun, tak bisa dipungkiri, selalu ada rasa sesak yang menghantam dada Lintang tiap kali Arka membalas interaksinya dengan tatapan dingin dan ketus.

Hari ini, cowok itu akhirnya memutuskan kembali bersekolah. Namun, tidak ada adegan berangkat bersama. Mereka berangkat masing-masing. Arka melesat dengan motor Ninja hitamnya, sedangkan Lintang mengendarai mobil Baleno merah miliknya.

Lintang sampai lebih dulu di sekolah karena dia sengaja berangkat jauh lebih awal. Langkah kakinya terasa pelan dan berat saat menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai.

"Lintang!" panggil seseorang dari arah belakang.

Lintang menghentikan langkah lalu menoleh. "Eh, Arjuna. Kenapa?"

"Gue boleh minta bantuan lu nggak?" tanya Arjuna, cowok yang dikenal sebagai vokalis band sekolah itu.

"Boleh... tapi bantu apa dulu nih?" tanya Lintang ramah.

"Gue mau minta tolong bikinin lirik lagu sekalian nadanya, yang temanya tentang laut gitu. Buat lomba musik perwakilan sekolah kita," ujar Arjuna penuh harap.

Lintang tersenyum tipis, mengangguk setuju. "Oh, boleh... boleh banget. Nanti gue coba rancang liriknya dulu ya. Kalau nadanya nanti menyusul."

"Serius? Thanks banget ya, Lin!" Arjuna balas tersenyum lebar.

Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata elang sedang mengawasi dari kejauhan. Arka berdiri kaku di ujung koridor, menatap Lintang—istrinya—sedang berbicara begitu dekat dengan laki-laki lain. Lintang tersenyum manis, merespon cowok itu dengan sangat baik. Pemandangan yang tidak pernah Arka dapatkan dalam tujuh hari terakhir di rumah.

Krek.

Rahang Arka mengeras sempurna. Emosi yang tak beralasan mendadak menyulut dadanya hingga terbakar hebat. Langkah kakinya langsung dipercepat, memburu ke arah dua orang itu.

Grep!

Tanpa aba-aba, tangan kekar Arka langsung mencekal pergelangan tangan Lintang dengan kuat.

Sontak keduanya terkejut setengah mati. Lintang langsung mengernyitkan dahi begitu melihat wajah pucat suaminya yang sarat akan amarah. "Arka? Lu udah da—"

"Ikut gue," potong Arka cepat, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin.

Arjuna yang merasa urusannya dipotong sepihak berniat mencegah. "Eh, bentar, Ka. Gue lagi ngomong sama—"

Arka tidak memedulikan ucapan Arjuna. Dengan langkah besar, dia langsung menyeret Lintang pergi dari sana tanpa memikirkan pandangan murid-murid lain di koridor.

Lintang yang kewalahan mengimbangi langkah Arka hanya sempat melirik ke arah Arjuna. "Bentar ya, Jun! Nanti gue bikinin!" ujarnya setengah berteriak.

...----------------...

Brak!

Arka mendorong tubuh Lintang ke dinding gudang sekolah yang berdebu, lalu menutup pintunya dengan kasar.

Lintang meringis pelan, mengusap punggungnya yang berbenturan dengan tembok. "Apa-apaan sih lu, Ka?! Sakit tau!"

Arka tidak menjawab. Dia justru melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga kepalanya merunduk di depan wajah Lintang. Napas cowok itu memburu pendek-pendek.

"Ngapain lu senyum-senyum ke dia?" tanya Arka dengan nada suara yang sangat rendah, namun sarat akan ancaman.

Lintang mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat. "Kan gue lagi ngobrol biasa, Arka."

"Ngobrol pakai senyum? Pake sok cantik di depan cowok lain, iya?!" sahut Arka geram. Kedua matanya menatap Lintang dengan kilat kemarahan yang membara.

"Lu kenapa sih? Gue cuma ngobrol dan Arjuna cuma minta bantuan gue!" bela Lintang, merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.

Rahang Arka menggertak kuat. "Lu berani belain dia di depan gue?!"

"Gue enggak belain siapa-siapa, gue cuma ngomong jujur!" cetus Lintang tak kalah tegas.

Mendengar bantahan itu, tangan Arka kembali terangkat, mencengkeram kedua lengan Lintang hingga cewek itu terkunci di dinding gudang.

"Dengerin gue, Lintang..." Arka berbisik tepat di depan wajah Lintang. "Gue nggak suka lu deket-deket sama cowok lain. Apapun alasannya! Kelakuan lu itu cuma bikin lu kelihatan sok kecantikan di depan mereka."

Lintang terdiam seketika. Jujur, dia cukup terkejut dengan perubahan sikap Arka yang mendadak sekasar dan seposesif ini. Lintang menatap lurus ke dalam manik mata Arka yang bergejolak.

"Lu... cemburu?" pancing Lintang lirih.

"Gue nggak cemburu," sanggah Arka cepat. Kepala cowok itu semakin maju, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Gue cuma mau menegaskan ke lu, bahwa sekarang... lu ada di bawah aturan gue..."

"Gue selalu coba ngertiin duka lu seminggu ini. Gue siapin makan lu, gue kerjain tugas lu, gue tahan semua sikap dingin lu! Tapi bukan berarti lu bisa injak-injak harga diri gue dan nuduh gue tebar pesona!" tekan Lintang berapi-api.

Kata-kata Lintang barusan telak menampar ego Arka. Namun bukannya melunak, emosi cowok itu justru semakin tersulut karena merasa otoritasnya sebagai suami ditantang.

Arka mencengkeram kedua lengan Lintang hingga cewek itu benar-benar terkunci rapat.

"Lu gue nikahin, buat nemenin hidup gue. Gue nikahin lu karena wasiat dari Bunda," ujar Arka dengan emosi menggebu-gebu yang mati-matian dia tahan. Tatapan matanya berkilat begitu tajam dan menekan.

"Bisa aja gue lepas lu dan kita selesai," lanjut Arka, menjeda kalimatnya sejenak sambil menatap lurus ke dalam manik mata Lintang yang mulai berair. "Tapi... nggak segampang itu..."

Lintang menahan napasnya, dadanya sesak luar biasa mendengar dinginnya ucapan Arka.

"Tugas lu sekarang nurut sama suami. Kalau lu mau gue baik... lu harus nurut sama semua perintah gue," tekan Arka dengan nada suara rendah yang bener-bener mengintimidasi. "Pertemanan, interaksi, kegiatan, semua harus ada izin dari gue."

Kepala Arka semakin maju, mengikis jarak di antara mereka hingga embusan napas kasarnya menerpa wajah Lintang.

"Sekali lu ngelanggar—" Arka menggantung kalimatnya, memberikan tatapan paling mematikan yang belum pernah Lintang lihat sebelumnya.

"Siap-siap gue kurung seharian di gudang..." ancam Arka telak.

Skakmat.

Ancaman dingin itu mengunci lidah Lintang seketika. Tubuhnya membeku di tempat.

Tanpa menunggu balasan atau pembelaan lain dari Lintang, Arka perlahan melepaskan cengkeramannya.

Dia berbalik kasar, membuka pintu gudang, dan melangkah pergi begitu saja dengan emosi yang masih memburu. Meninggalkan Lintang sendirian di dalam kegelapan gudang yang pengap.

Lintang merosot perlahan, menyandarkan punggungnya di dinding gudang yang dingin. Dia memeluk lututnya erat, membiarkan isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah seada-adanya.

Rumah tangga mereka yang belum berpondasi bener-bener sudah berada di ambang kehancuran.

...----------------...

Di tempat lain, suasana kelas 12 IPS 2 yang tadinya bising mendadak sedikit mereda begitu pintu kelas terbuka.

Brak!

Pintu itu menampakkan Leon yang berjalan dengan gaya petantang-petenteng seperti biasanya. Cowok berambut agak berantakan itu mengedarkan pandangan, dan matanya langsung tertuju ke arah meja paling pojok belakang.

"Yoooo, Bro! Akhirnya lu masuk juga!" seru Leon heboh begitu melihat teman sebangkunya sudah duduk di sana. Dia langsung melangkah lebar menghampiri Arka.

"Galau banget gue seminggu ini ke kantin sendirian. Berasa orang putus cinta, tahu nggak lu?" keluh Leon dramatis sambil mengempaskan tubuhnya di kursi sebelah Arka.

"Najis," umpat Arka pendek dengan suara serak. Pandangannya lurus menatap kosong ke arah papan tulis di depan.

"Wehh, selow, Boy. Lu kenapa sih? Pagi-pagi begini muka lu udah kusut bener kayak cucian belum disetrika," ujar Leon menyenggol bahu Arka pelan. Dia belum tahu kalau sahabatnya itu baru saja habis meluapkan emosi di gudang sekolah.

Leon menepuk pundak Arka beberapa kali, merubah raut wajahnya menjadi sedikit lebih serius. "Tapi btw, gue turut berduka cita ya, Boy. Gue tahu pasti sedih banget ditinggal Nyokap. Tapi tenang aja, Mak gue bakal jadi Mak lu juga sekarang. Kita kan bestie from SD."

Arka terdiam sejenak. Kalimat Leon barusan sedikit menyentuh bagian sensitif di hatinya, membuat dadanya kembali berdenyut nyeri. "Thanks," ujar Arka pelan.

"Oh iya, lu udah tahu belum? Ada club baru yang baru buka di deket mall depan," bisik Leon tiba-tiba dengan mata berbinar. "Nanti malem ke situ yuk, Ka!"

Arka melirik malas melalui sudut matanya. "Ngapain?"

"Gue cuma mau lihat suasananya doang sih. Katanya ramah lingkungan dan musiknya asyik. Ya... kita ke sana ikut menikmati musik DJ aja, nggak usah ikut-ikut minum yang aneh-aneh. Itung-itung biar otak lu agak segeran dikit lah daripada merenung mulu," ajak Leon membujuk.

Arka kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menatap langit luar yang cerah, namun terasa begitu kelabu di matanya. Pikirannya mendadak kosong.

Rasa frustrasi, duka karena kehilangan sang bunda, hingga rasa bersalah yang terus menghantuinya membuat Arka merasa jiwanya benar-benar hancur.

Dia butuh pengalihan. Dia butuh sesuatu untuk membuat otaknya mati rasa, meski hanya sementara.

Arka mengepalkan tangannya di bawah meja, lalu mengangguk samar.

"Oke. Nanti malem kabarin gue," jawab Arka dingin dan impulsif.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!