NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 #Rencana licik

​Matahari pantai merangkak semakin tinggi, memancarkan terik yang mulai membakar permukaan kulit. Di tengah perjalanan mereka menyusuri bibir pantai, Jessica mendadak menghentikan langkahnya. Wanita itu meraba tas kecilnya, lalu mengeluarkan sebuah botol cangkang berisi krim sunblock.

​"Aduh, panas sekali. Kulitku sepertinya butuh dioles sunblock lagi," keluh Jessica manja. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Bara, lalu menyodorkan botol krim tersebut ke hadapan sang taipan matang dengan senyuman manis. "Bara, tolong bantu aku mengusapkannya di bagian punggung belakang, ya? Tanganku tidak bisa menggapai area itu."

​Anya yang berjalan beberapa langkah di dekat mereka seketika menahan napas. Dia berharap, sangat berharap Bara akan menolak dengan ketus atau mengoper botol itu kepada Tante Isyana. Namun, ekspektasi Anya runtuh berantakan. Pria matang itu justru menerima botol krim dari tangan Jessica dengan teramat tenang. Tanpa penolakan sedikit pun, jemari kekar Bara mulai mengusapkan krim putih itu di atas permukaan kulit punggung Jessica yang terbuka karena potongan dress pantainya.

​Rasa panas yang membakar seketika meledak di dada Anya, jauh lebih panas dari sengatan matahari siang itu. Bibir Anya merengut kesal, matanya menatap tajam ke arah interaksi manis itu dengan kilat cemburu yang begitu pekat.

​Tidak tahan lagi melihat pemandangan yang merusak matanya, Anya segera berbalik arah dengan sentakan kasar. Dia menepuk bahu Calvin yang masih sibuk menunduk menatap ponselnya. "Calvin, cuaca di sini terlalu panas. Aku mau duduk di bawah pohon sana saja."

​Calvin mendadak tersentak dari dunia mayanya bersama Melati. Pria muda itu mengerjapkan matanya, menatap sekeliling. "Eh? Anya? Tapi pemandangan laut di sebelah sini sedang indah-indahnya. Kamu tidak mau berfoto dulu?"

​"Tidak, Vin. Terima kasih," sahut Anya dengan nada ketus yang kentara. Sepasang mata bulatnya melirik sinis ke arah Bara yang ternyata diam-diam sedang mengawasinya dari kejauhan. "Pencahayaannya terlalu mencolok dan menyilaukan mataku."

​Tentu saja, kata pencahayaan mencolok itu sama sekali bukan merujuk pada sinar matahari, melainkan pada pemandangan Bara dan Jessica yang terlihat begitu serasi di matanya.

​Saat Anya berniat melangkah pergi, langkahnya langsung dicegat oleh sang ayah. Tito Sanjaya menatap putrinya dengan dahi berkerut. "Mau ke mana kamu, Anya? Acara jalan-jalannya kan belum selesai."

​"Aya mau duduk di dekat pohon kelapa itu saja, Pa. Anya capek jalan terus, panas lagi," alasan Anya sembari memasang wajah lelah yang dibuat-buat. Setelah mendapatkan anggukan pasrah dari ayahnya, Anya langsung menghentakkan kaki, berjalan menjauh dari rombongan keluarga inti tersebut.

​Begitu tubuhnya sudah berada dalam jarak yang aman di bawah bayangan pondok, pertahanan Anya runtuh. Dia mondar-mandir dengan wajah memerah padam, bergumam kesal sendiri sembari menendang butiran pasir di bawah kakinya.

​"Dasar wanita genit! Punya tangan sendiri kan? Kenapa juga harus meminta tolong pada Om Bara untuk mengoleskan sunblock?! Padahal kan di sana ada aku, ada Tante Isyana juga! Sengaja banget cari-cari kesempatan!" gerutu Anya habis-habisan. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu tatapannya beralih tertuju pada punggung tegap Bara di kejauhan yang kini sudah selesai mengoleskan krim pada Jessica.

​Sebuah ide balas dendam yang licik nan konyol mendadak terlintas di otak cerdas Anya. Perlahan, gumpalan kekesalan di wajahnya memudar, berganti dengan sebuah senyuman penuh arti.

​"Bara Fernandez... Kamu pikir kamu saja yang bisa membuatku kesal dan cemburu? Kamu pikir aku tidak bisa membalas perbuatanmu, hm? Kita lihat saja nanti malam," gumam Anya dengan tawa kecil yang sarat akan kelicikan ala dirinya.

​Setelah mematangkan rencana rahasianya di dalam kepala, Anya mengubah raut wajahnya menjadi teramat ceria. Dia kembali melangkah lebar, bergabung dengan rombongan keluarga yang mulai berjalan menuju area peristirahatan dekat vila.

​Bara Fernandez yang menyadari kembalinya sang kucing liar langsung menangkap perubahan drastis pada senyuman Anya. Sepasang mata elangnya menyipit tajam. Sebagai pria matang yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, Bara tahu persis bahwa senyuman manis dan binar jenaka di mata Anya saat ini bukanlah pertanda baik. Gadis kecilnya itu... pasti sedang merencanakan sebuah siasat konyol untuk menyerang balik dirinya.

.

.

​Beberapa jam kemudian, di sudut lain sebuah ruangan villa yang terpisah, atmosfer berubah menjadi teramat dingin dan tegang.

​Tomi Fernandez berdiri tegap di balkon, menatap hamparan laut lepas dengan rahang yang mengeras rapat. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas rapi, Bayu, orang kepercayaan keluarga Fernandez terutama Tomi. Bayu yang terkenal teramat cekatan dan efisien, hanya membutuhkan waktu dua jam saja untuk membongkar rahasia yang terkunci rapat.

​"Laporkan semuanya, Bayu," titah Tomi dengan suara baritonnya yang berat tanpa berbalik.

​Bayu menundukkan kepalanya dengan hormat sebelum membuka map dokumen di tangannya. "Baik, Tuan Besar. Berdasarkan pelacakan sinyal ponsel dan aktivitas transaksi perbankan, Tuan Muda Calvin belakangan ini menghabiskan lebih dari separuh waktu luangnya di sebuah wilayah pinggiran kota. Dia lebih sering berada di sebuah restoran sederhana bernama Jasmin Food & Bakery."

​Tomi menyipitkan matanya. "Restoran sederhana? Lalu... bagaimana dengan hubungannya? Siapa orang yang dia temui di sana?"

​"Tuan Muda Calvin dan pemilik restoran itu saling kenal dengan sangat baik, Pak. Nama wanita itu adalah Melati," Bayu menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan informasi paling sensitif. "Dari data pencatatan sipil dan latar belakang yang saya temukan... Melati adalah seorang janda tanpa anak yang usianya saat ini menginjak tiga puluh lima tahun."

"​Janda?!"

​Detik itu juga, tangan Tomi mencengkram kuat pagar pembatas Balkon. Rahang pria paruh baya itu seketika mengeras rapat, memancarkan aura kemarahan yang begitu pekat. Otaknya langsung berputar kembali pada ingatan dua hari yang lalu, saat Calvin dengan begitu tenang mengatakan bahwa Melati hanyalah seorang senior kampusnya yang sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri.

"​Anak itu... Dia berani membohongiku demi melindungi seorang janda miskin!" Gumam Tomi murka. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kebohongan Calvin adalah bukti nyata bahwa perasaan putranya terhadap wanita bernama Melati itu sudah berada di tahap yang teramat membahayakan.

​Bayu yang merasakan perubahan aura mencekam dari bosnya langsung melangkah mundur setengah langkah. "Jadi... apa ada hal lain yang harus saya lakukan sekarang, Pak? Apakah saya perlu mengirim orang untuk memberi peringatan pada wanita bernama Melati itu agar menjauh?"

​Tomi menarik napas dalam-dalam, meredam gejolak amarahnya dengan kontrol emosi yang luar biasa. Pria tua itu menggelengkan kepalanya dingin. "Tidak. Jangan lakukan apa-apa pada wanita itu untuk saat ini. Biarkan saja dulu."

​Tomi membalikkan tubuhnya, menatap Bayu dengan tatapan mata yang begitu menusuk dan kejam. "Biar aku sendiri yang berbicara dan menyelesaikan urusan ini langsung dengan Calvin. Aku ingin melihat... sampai sejauh mana putra tunggal keluarga Fernandez berani menentang ayahnya demi seorang janda biasa."

1
beybi T.Halim
lama lamaaa anya ini gak bertanggung jawab sama kuliahnya hadeh🙈
beybi T.Halim
mau kaya atau miskin klo soal perasaan gak bisa kompromi.,yg ada hanya bagaimana kita memperjuangkan perasaan itu menjadi kebahagiaan yg nyata atau cuma jadi pecundang👍
beybi T.Halim
haih...buruan lah bara diselesaikan dengan damai,br semua berbahagia
Yohana Pandie
lanjut thor.🙏
beybi T.Halim
ceritanya gemesin sih sebenarnya.,anya yg msh labil dan om bara yg dewasa,cumaa yaa itu jafi kucing2an perkara cinta salah alamat dari awal🤭
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!