Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh
Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, Zulfa akhirnya melangkah menuju ruang tamu. Ia tak lagi peduli pada matanya yang sembab atau wajahnya yang pucat. Biarlah. Jika ibu mertuanya melihat dirinya sedang rapuh hari ini... mungkin itu memang kenyataannya.
Di tangannya, ia membawa sepiring baklava yang baru saja selesai dibuat. Ia tahu, kue itu adalah salah satu kesukaan Ibu mertuanya.
"Kok nggak kasih kabar dulu kalau mau ke sini, Ma?" ucap Zulfa, berusaha terdengar santai.
Farah tersenyum tipis.
"Kebetulan Mama lewat, jadi sekalian mampir."
Zulfa mengangguk pelan, lalu meletakkan piring di atas meja.
"Ini... Zulfa baru saja selesai bikin baklava."
Tatapan Farah langsung tertuju pada potongan kue itu. Kilau madu di permukaannya tampak begitu menggoda. Ia tahu betul, menantunya itu memang pandai memasak.
Farah mengambil satu potong, lalu mencicipinya perlahan.
"Gimana rasanya, Ma?" tanya Zulfa, mencoba tersenyum.
"Lumayan," jawab Farah singkat. Namun tak lama kemudian ia menambahkan, "Harus Mama akui... masakan kamu selalu enak."
"Terima kasih," balas Zulfa, senyumnya tipis—nyaris dipaksakan.
Beberapa detik hening.
Farah meletakkan kembali potongan kue itu ke piring, lalu menatap Zulfa dengan sorot yang lebih serius.
"Sebenarnya... ada yang ingin Mama sampaikan."
Jantung Zulfa seketika berdegup lebih cepat. Tangannya tanpa sadar saling menggenggam.
" Oh iya..." lanjut Farah, seolah teringat sesuatu, "sebelumnya Mama mau tanya dulu. Bagaimana hasil program IVF kamu? Bukannya hari ini hasil lab-nya keluar?"
Kalimat itu terasa seperti pukulan telak.
Zulfa terdiam.
Ruang tamu yang semula terasa hangat mendadak menjadi sempit dan menyesakkan. Semua kata yang ingin ia ucapkan seolah tersangkut di tenggorokan.
Di balik sikap Farah yang terlihat tenang, Zulfa tahu—ada harapan besar yang terus menggantung. Harapan agar ia segera memberikan keturunan untuk keluarga ini.
Dan hari ini...
Zulfa harus menyampaikan kenyataan yang paling ia takutkan.
Zulfa menunduk. Bibirnya bergetar, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya.
Ia tahu... tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan.
Ibu mertuanya adalah orang pertama yang mengetahui semuanya.
"Maaf, Ma..." suaranya lirih, nyaris tak terdengar. "Hasilnya... masih sama seperti sebelumnya."
Hening.
Tak ada reaksi berlebihan dari Farah. Wajahnya tetap datar, seolah kabar itu bukan sesuatu yang baru baginya. Dengan tenang, ia meraih cangkir teh hangat yang baru saja disajikan pelayan, lalu menyesapnya perlahan.
"Terus... kamu mau bagaimana?" ucap Farah akhirnya, suaranya dingin. "Kalau hasilnya selalu gagal seperti ini, berapa kali lagi kamu mau coba?"
Zulfa terdiam. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya.
"Enam kali gagal itu bukan hal kecil," lanjut Farah tanpa memberi jeda. Tatapannya tajam, menekan.
"Apa kamu yakin tubuhmu masih sanggup?"
Zulfa menarik napas panjang, mencoba menahan gemetar di suaranya.
"Saya akan terus berusaha, Ma."
"Sampai kapan?" suara Farah sedikit meninggi.
Zulfa mengangkat kepala. Matanya mulai memerah, menahan luka yang sejak tadi ia tekan.
"Sampai kalian tua? Ingat Zulfa, perempuan punya batas umur untuk bisa hamil," lanjut Farah, kali ini tanpa menyaring kata-katanya.
Kalimat itu menghantam tepat di dada Zulfa. "Saya... tidak pernah meminta semua ini terjadi," balas Zulfa, suaranya bergetar, tapi ada ketegasan yang mulai muncul.
Farah menatapnya lurus, tanpa simpati.
"Tapi ini kenyataannya," ucapnya dingin. "Seharusnya kamu sadar diri."
Farah meletakkan cangkirnya dengan pelan, namun cukup keras hingga menimbulkan bunyi yang memecah keheningan.
"Memangnya kamu nggak kasian sama Arslan yang sampai detik ini belum juga punya keturunan? Gimana nasib perusahaan kami yang sudah susah payah kami bangun kalau tidak ada yang meneruskan?" Setiap kata yang keluar dari mulut Farah seperti perlahan meremukkan sisa-sisa kekuatan Zulfa. Ruang tamu itu pun terasa semakin sempit.
"Kamu tau kan maksud mama?" Ucapnya tegas, "seorang istri punya kewajiban memberikan keturunan. Itu yang diharapkan dari sebuah pernikahan."
Zulfa menarik napas dalam. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, namun ia tak berusaha menyembunyikannya.
"Saya sudah berusaha ma, ini juga bukan maunya saya dapat ujian seperti ini." Kalimat Zulfa terdengar parau. Air matanya sudah berlinang hingga suaranya bergetar. "Enam kali, Ma... enam kali saya mempertaruhkan tubuh saya. Sakitnya, lelahnya... semua sudah saya jalani."
Farah terdiam sejenak, tapi wajahnya tetap keras.
"Itu pilihan kamu."
Kalimat itu seperti pisau yang ditusukkan tanpa ampun.
Zulfa tersenyum pahit.
"Pilihan saya?" ia mengulang pelan. "Kalau bisa memilih, saya juga ingin hamil secara normal. Saya juga ingin jadi ibu tanpa harus melewati proses menyakitkan ini."
Tangannya mengepal, menahan emosi yang semakin meluap.
"Tapi kenyataannya saya nggak bisa, Ma... dan saya tetap berusaha. Untuk Arslan. Untuk keluarga ini."
Farah menyilangkan tangan di dada.
"Mau sekeras apa pun kamu berusaha, saya tetap tidak bisa menunggu terlalu lama. Mungkin sudah saatnya kamu berhenti berjuang yang hanya menyiksa tubuhmu sendiri."
Zulfa terdiam. Kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Farah benar-benar membuat dunia Zulfa seakan berhenti berputar.
"Kalau kamu benar-benar mencintai Arslan ... " ia menatap tajam, " ... kamu harus rela Arslan memiliki keturunan dari wanita lain. Arslan berhak mendapatkan perempuan lain yang bisa memberinya anak. Saya tau Arslan tidak akan pernah bisa meninggalkanmu, jadi suruh dia mencari wanita lain atau biar saya yang mencarikannya."
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Seolah seluruh suara di dunia menghilang dalam sekejap.
Zulfa membeku. Napasnya tercekat. Ia menatap ibu mertuanya tak percaya.
"Mama...?" suaranya hampir tak terdengar.
Di saat yang sama, pintu rumah terbuka dari arah depan.
"Zulfa?"
Suara Arslan terdengar.
Langkahnya terhenti begitu melihat suasana di ruang tamu—wajah istrinya yang basah oleh air mata, dan ibunya yang duduk dengan sorot dingin.
"Ada apa ini?"
Tak ada yang menjawab.
Zulfa hanya menatap Arslan... dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
Tatapan seseorang yang... sedang hancur.
"Tolong jangan lakukan itu. Jangan paksa suamiku selingkuh." Zulfa sengaja melontarkan kalimat itu di hadapan ibu mertuanya agar suaminya juga bisa mendengar.
"Selama ini saya selalu sabar dan diam dengan perlakukan Mama kepada kami. Selama ini saya tau kalau Mama yang menyuruh Laura dan Vania untuk menggoda Arslan, bukan?"
Arslan tersentak. Tatapannya langsung beralih pada ibunya. Ada bara amarah yang menyala di matanya—sesuatu yang jarang sekali terlihat.
Ia tak pernah menyangka... ibunya bisa sejauh ini.
"Mama!!!" suara Arslan meninggi, penuh penekanan.
"Apa benar yang dikatakan, Zulfa?"
Farah hanya diam membisu, namun diamnya Farah sudah cukup menjawab kalau itu semua benar. Seperkian detik kemudian Ia berdiri tegak, menatap anaknya tanpa rasa bersalah.
"Mama nggak punya pilihan lain. balasnya dingin. "Mama perlu wanita lain yang bisa ngasih kamu keturunan. Mama nggak mau nunggu terlalu lama."
Arslan berdecih hingga kepalanya menggeleng keras.
"Bagaimana bisa Mama tega mengatakan hal seperti itu di depan Zulfa? Padahal Mama juga seorang perempuan. Mama seharusnya tahu betapa sakitnya mendengar kata-kata seperti itu."
Zulfa menunduk. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini ia tak lagi menyekanya.
"Ini memang menyakitkan tapi sudah saatnya Zulfa sadar, kalau dirinya tidak akan pernah bisa melahirkan generasi penerus untuk keluarga kita," Farah tersenyum tipis—senyum yang lebih mirip sindiran. Lalu pandangannya menemui wajah wanita yang sedang menangis tersedu di hadapannya.
"Sudah saatnya kamu merelakan Arslan menikah lagi."
"CUKUP!! Arslan tidak akan melakukan itu, Arslan tidak akan menyakiti Zulfa dengan cara itu."
"Ini bukan soal menyakiti, Arslan. Ini soal masa depan keluarga kita," sahut Farah tanpa ragu.
Arslan menghela napas panjang, berusaha meredam emosinya. Namun urat di lehernya tampak menegang.
"Sampai kapan pun Arslan tidak akan pernah mengkhianati Zulfa."
Kalimat itu tegas. Tak menyisakan ruang untuk ditawar.
Namun Farah hanya mengangkat dagu sedikit.
"Jangan terlalu percaya diri dengan ucapanmu, karna perasaan manusia bisa berubah."
Arslan melangkah maju satu langkah.
"Saya tidak akan berubah untuk hal seperti ini."
"Mungkin untuk saat ini pikiranmu masih belum berubah" balas Farah santai. "Tapi mungkin dua atau lima tahun lagi, cepat atau lambat ... kamu akan sampai di titik dimana kamu benar-benar membutuhkan keturunan."
Setiap kata itu seperti menekan, memojokkan.
Sementara itu, Zulfa menggigit bibirnya, berusaha menahan isak yang nyaris pecah.
"Sudah cukup, Ma..." suaranya lirih, sarat luka. "Tolong... jangan bahas ini lagi."
Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan dirinya yang mulai goyah.
"Maaf... aku butuh waktu sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, Zulfa berbalik dan melangkah pergi menuju kamar.
"Zulfa!" Arslan memanggil, namun langkahnya tertahan.
Pintu kamar tertutup.
Bunyi itu terdengar pelan... tapi cukup untuk meninggalkan luka yang dalam.
Arslan berdiri diam, napasnya memburu. Ia menatap pintu itu beberapa detik, lalu perlahan beralih pada ibunya. Kali ini... tatapannya benar-benar berbeda.
"Bukankah Mama pernah bilang ini demi kebaikan?" suaranya rendah, namun penuh tekanan. "Kalau begitu... lihat apa yang sudah Mama lakukan."
Farah terdiam.
Untuk pertama kalinya... tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Arslan berjalan mendekati ibunya.
"Mulai sekarang... tolong jangan pernah lagi membahas soal anak atau perempuan lain di depan Zulfa."
"Baik," ucap Farah akhirnya. "Kalau kamu tetap ingin bertahan dengan pilihanmu... Mama juga punya hak untuk mengambil langkah."
Arslan mengernyit.
"Maksud Mama?"
Farah menatapnya dalam-dalam.
"Mama tidak akan diam melihat semua ini," katanya. "Mama akan mencari jalan... dengan atau tanpa persetujuanmu."
Nada suaranya tenang—namun mengandung ancaman yang jelas.
Arslan mengepalkan tangannya.
"Kalau Mama mencoba ikut campur lebih jauh..." suaranya rendah, namun penuh tekanan, "maka Arslan yang akan mengambil keputusan."
Farah terdiam.
Untuk pertama kalinya... ia melihat sisi lain dari anaknya. Bukan lagi anak yang selalu penurut.
Tapi seorang pria... yang siap melawan demi mempertahankan pilihannya. Dan Farah pun memilih untuk pulang.
***
Arslan berdiri beberapa detik di depan pintu kamar.
Tangannya terangkat, ragu untuk mengetuk. Napasnya masih belum teratur, amarah dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.
Perlahan... ia membuka pintu.
Suasana kamar sunyi.
Zulfa duduk di tepi ranjang, membelakanginya. Bahunya naik turun pelan—tanda bahwa ia sedang berusaha menahan tangis.
Arslan melangkah masuk, lalu menutup pintu dengan hati-hati, seolah takut menambah luka yang sudah ada.
"Zulfa..."
Tak ada jawaban.
Hanya hening yang menjawab.
Arslan mendekat perlahan, lalu berhenti tepat di belakangnya. Ia ragu sejenak, sebelum akhirnya duduk di samping istrinya.
"Aku minta maaf..." suaranya lirih.
Zulfa masih diam.
"Aku minta maaf karena kamu harus dengar semua itu... dari Mama."
Kalimat itu membuat bahu Zulfa bergetar.
Ia menunduk semakin dalam.
"Aku capek." akhirnya suaranya keluar, pecah. "Capek banget..."
Air matanya kembali jatuh.
Arslan menutup mata sejenak, menahan sesak yang ikut menjalar di dadanya.
Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tubuh Zulfa dan menariknya ke dalam pelukan.
Zulfa tak lagi menahan diri.
Tangisnya pecah di dada Arslan.
"Aku sudah berusaha..." isaknya lirih. "Aku sudah melakukan semua yang aku bisa... tapi kenapa hasilnya selalu sama? Aku capek... capek selalu disalahkan. Rasanya apa pun yang kulakukan selalu salah di mata Mama."
Arslan mengeratkan pelukannya. Ia sudah mengetahui bahwa program kehamilan mereka kembali gagal. Itulah sebabnya ia memutuskan pulang lebih awal ketika pesan-pesannya tak kunjung dibalas dan panggilannya tak juga diangkat oleh sang istri. Kekhawatiran memenuhi benaknya; ia hanya ingin berada di sisi istrinya saat kabar pahit itu harus mereka hadapi bersama.
"Kamu nggak salah," bisiknya. "Dengar aku... kamu nggak pernah salah."
"Tapi aku sudah gagal..." tangis Zulfa semakin dalam. "Aku yang nggak bisa kasih kamu anak..."
Arslan langsung menarik wajah Zulfa agar menatapnya.
Jemarinya mengusap air mata di pipi istrinya dengan lembut.
"Jangan pernah bilang begitu lagi," ucapnya tegas, namun penuh kehangatan.
Zulfa menggeleng, mata bulatnya memerah, lalu matanya menatap Arslan, seolah mencari kepastian dari setiap kata yang ia dengar.
"Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar pengen punya anak, kamu bilang sama aku, ya. Jangan pernah main di belakangku." ucapnya di sela isak tangis.
"Aku nggak akan melakukan itu," lanjut Arslan, suaranya semakin dalam. "Aku nggak butuh perempuan lain, apalagi cuma untuk punya anak."
Napas Zulfa tercekat. Air mata kembali jatuh, namun kali ini berbeda. Bukan hanya karena luka... tapi juga karena cinta yang masih bertahan. Zulfa meraih Arslan, memeluknya erat.
"Kalau begitu jangan pernah ninggalin aku," bisiknya lemah.
Arslan mengusap rambutnya perlahan.
"Aku nggak akan ke mana-mana," jawabnya mantap. "Kita hadapi semua sama-sama. Dengan atau tanpa anak aku tetap mau sama kamu terus."
Zulfa memejamkan mata dalam pelukan itu.
Untuk pertama kalinya hari ini... ia merasa sedikit tenang.
Meski di luar sana, badai belum benar-benar reda.
***