Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Memasuki Gerbang Pegunungan
Mereka meninggalkan kabin saat kabut pagi masih tebal menyelimuti hutan. Suara langkah kaki kuda yang bergema di atas tanah berbatu adalah satu-satunya irama yang menemani keheningan. Viona duduk di atas kudanya dengan postur yang masih sedikit tegang. Tangan kirinya masih terbalut perban, dan sarung tangan kulit yang diberikan Derek melindungi jari-jarinya dari gesekan tali kekang.
"Kau akan merasakan pegal di paha setelah setengah hari di atas kuda," ucap Derek dari depan, tanpa menoleh. "Itu wajar. Jangan memaksakan diri untuk duduk terlalu kaku. Biarkan tubuhmu mengikuti gerakan kuda."
Viona mencoba mengikuti sarannya. Ia mengendurkan bahunya, membiarkan kudanya berjalan dengan ritme alami. Setelah beberapa menit, ia mulai terbiasa.
"Aku tidak menyangka perjalanan akan secepat ini," kata Viona. "Kau benar-benar sudah menyiapkan segalanya."
"Karena aku sudah tahu hari ini kita akan berangkat sejak kemarin," jawab Derek. "Aku hanya menunggu lukamu benar-benar menunjukkan tanda-tanda sembuh. Hari ini, kau sudah cukup kuat untuk menahan guncangan kuda."
Viona tersenyum kecil. Ada rasa hangat di hatinya mendengar kata-kata itu. Derek memang pria yang tegas dan jarang memuji, tetapi diam-diam ia memperhatikan kondisi Viona dengan sangat rinci.
Mereka terus melaju melewati hutan Lindenfell. Dedaunan di kiri kanan mulai berubah warna—dari hijau muda menjadi hijau tua yang lebih gelap. Pepohonan mulai menjulang tinggi, dan suara burung-burung liar perlahan menghilang digantikan oleh angin yang lebih kencang.
"Kita sudah mulai mendekati kaki gunung," kata Derek, menunjuk ke depan.
Viona mengikuti arah telunjuknya. Di kejauhan, sebuah puncak gunung besar menjulang ke langit, diselimuti kabut putih yang tebal di bagian atasnya. Udara di sekitar mereka mulai terasa lebih dingin, dan angin bertiup lebih kencang.
"Itu gunung pertama?" tanya Viona.
"Namanya Puncak Gading. Ini yang paling rendah di antara tiga gunung yang harus kita lewati. Tapi jangan remehkan—meskipun lebih rendah, jalurnya berliku dan penuh batu-batu besar yang bisa membuat kuda tergelincir."
Derek menghentikan kudanya. Ia turun dan berjalan ke depan untuk memeriksa jalur yang akan dilalui. Viona juga turun dari kudanya, meskipun kakinya terasa agak kaku. Ia berjalan mendekati Derek, berdiri di sampingnya untuk melihat jalur yang dimaksud.
Jalur itu hanya berupa tanah berbatu yang membentang ke atas, diapit oleh tebing batu di kanan dan jurang di kiri. Bekas tapak kaki kuda terlihat samar di beberapa tempat, tetapi sudah tertutup rumput liar—tanda bahwa jalur ini jarang dilewati.
"Kita harus berjalan perlahan di sini," kata Derek. "Kuda kita tidak boleh berlari. Jika mereka tergelincir, kita bisa jatuh ke jurang."
Viona menelan ludah, menatap jurang di sebelah kiri yang tampaknya tak berdasar. Ia bisa melihat awan-awan tipis melayang di bawahnya. Jantungnya berdegup kencang, tetapi ia tidak menunjukkan rasa takutnya.
"Apa kau pernah melewati jalur ini sebelumnya?" tanya Viona.
"Lima kali. Dua kali sendirian, tiga kali bersama..." Derek berhenti sejenak. Matanya menatap jauh ke kejauhan. "Tiga kali bersama seseorang yang dulu aku kenal."
Viona menangkap nada sendu di balik kata-kata itu. "Boleh aku bertanya siapa?"
Derek diam untuk waktu yang cukup lama. Angin bertiup di antara mereka, membawa aroma batu basah dan tanah. Akhirnya ia berbicara dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.
"Dia adalah adik perempuanku."
Viona terkejut. Ia tidak pernah membayangkan Derek memiliki keluarga. "Dia... dimana dia sekarang?"
Derek tidak menjawab. Ia hanya menarik tali kekang kudanya dan mulai melangkah memasuki jalur berbatu. "Kita harus segera berjalan. Cuaca di gunung bisa berubah dengan cepat."
Viona mengerti bahwa ia tidak boleh memaksa. Ia mengikuti di belakang Derek, menjaga jarak aman agar kudanya tidak terlalu dekat. Sepanjang perjalanan, Viona memperhatikan dengan seksama. Setiap kali ada batu yang tampak licin, Derek akan berhenti dan memberi tanda agar Viona lebih waspada. Di beberapa tempat, Derek bahkan turun dari kuda untuk memimpin kudanya berjalan dengan tangan agar lebih aman.
Sekitar dua jam kemudian, mereka akhirnya mencapai dataran yang lebih landai. Napas Viona terengah-engah, tetapi ia merasa bangga berhasil melewati jalur berbahaya itu tanpa insiden.
"Bagus," kata Derek, mengangguk pelan. "Kau tidak panik saat melewati jurang. Itu hal yang bagus untuk perjalanan gunung."
"Bagaimana kau bisa tetap tenang di situ?" tanya Viona. "Melihat jurang sedalam itu, kakiku hampir gemetar."
Derek tersenyum tipis. "Setelah beberapa kali hampir mati di jurang yang sama, kau akan terbiasa. Yang penting adalah jangan pernah melihat ke bawah terlalu lama. Fokus pada langkah kuda di depan."
Viona mengangguk. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di dekat sebuah sungai kecil yang mengalir di kaki tebing. Derek menurunkan perbekalan dan menyalakan api kecil untuk merebus air.
"Kita harus beristirahat," ucap Derek, memberikan secangkir air hangat kepada Viona. "Kuda juga butuh waktu untuk memulihkan tenaga."
Viona mengambil cangkir itu dengan kedua tangan, menghirup uap hangatnya. Angin di sekitar mereka mulai terasa lebih dingin—tanda bahwa mereka sudah berada di ketinggian yang lebih tinggi.
"Derek," panggil Viona pelan. "Adikmu... boleh aku tahu apa yang terjadi padanya?"
Derek yang sedang sibuk memberi makan kuda-kuda itu berhenti sejenak. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Viona untuk waktu yang lama. Ada perang batin di matanya—antara ingin berbagi dan menutup diri.
"Aku tidak pernah tahu pasti," akhirnya Derek berkata dengan suara berat. "Ia menghilang saat aku masih bertugas di kerajaan. Aku mencarinya selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah menemukan jejaknya. Pada akhirnya, aku memilih untuk meninggalkan semua itu dan hidup menyendiri di hutan. Mungkin dengan menyendiri, aku bisa melupakan rasa bersalah."
Viona merasakan kesedihan yang mendalam dalam kata-kata Derek. Ia tidak bisa membayangkan betapa beratnya hidup dengan kehilangan seseorang yang sangat dicintai tanpa tahu apa yang terjadi.
"Aku yakin dia masih hidup," kata Viona dengan lembut. "Dan aku yakin suatu hari kau akan bertemu dengannya lagi."
Derek menatap Viona. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, senyuman di wajahnya terlihat lebih hangat, tidak hanya sekadar formalitas.
"Kau cukup pandai menghibur orang, Putri," gumam Derek. "Mungkin itulah alasan mengapa Neil begitu ingin menikahimu."
Mendengar nama Neil, Viona tersentak. Ia seperti baru tersadar dari mimpi. Selama beberapa jam terakhir, ia terlalu fokus pada Derek dan petualangan ini hingga nyaris melupakan Neil—pria yang sedang menantinya di Kerajaan Timur. Rasa bersalah kecil menyelinap di hatinya.
Tunggu, aku harus ingat. Aku akan menikah dengan Neil. Aku tidak boleh melupakan itu.
Namun, saat ia menatap wajah Derek yang mulai merapikan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan, ada suara kecil di dalam hatinya yang berkata lain.
"Mari berangkat," kata Derek, memotong lamunan Viona. "Kita harus mencapai puncak gunung pertama sebelum malam. Di sana ada gua kecil yang bisa kita gunakan untuk tidur."
Viona mengangguk dan menaiki kudanya kembali. Kali ini, perjalanan menanjak terasa lebih berat. Angin semakin kencang, dan suhu udara turun drastis. Viona mulai menggigil, dan Derek menyadarinya.
"Kau kedinginan?" tanya Derek, sedikit mengerutkan kening. "Kau harus memakai mantel tebal yang aku berikan."
"Sebentar lagi," jawab Viona. "Aku masih bisa menahan."
Namun, saat mereka terus berjalan, Viona mulai merasa kakinya mati rasa. Ia sadar bahwa perjalanan ini akan lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Derek menghentikan kudanya, turun, dan mengambil mantel tebal dari tas pelananya. Ia berjalan ke arah Viona dan menyerahkan mantel itu.
"Pakai ini," kata Derek tegas. "Jangan sombong. Di gunung, kedinginan bisa membunuhmu lebih cepat daripada pedang musuh."
Viona menerima mantel itu dengan tangan gemetar. Derek membantunya mengenakannya—dengan lembut, tetapi tetap terkesan tegas. Saat jari-jarinya menyentuh bahu Viona, ia merasakan sentuhan yang hangat meskipun udara di sekitarnya sangat dingin.
Viona menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terima kasih, Derek."
"Jangan berterima kasih," jawab Derek, berbalik dan menaiki kudanya. "Aku tidak ingin membawa mayat ke Kerajaan Timur. Neil akan marah."
Viona tersenyum mendengar itu. Derek berusaha terlihat dingin, tetapi tindakannya berbicara sebaliknya.
Dan di bawah langit yang mulai gelap, mereka terus berjalan menuju puncak gunung pertama—bersama dengan beban pertanyaan yang belum terjawab, dan perasaan yang mulai tumbuh di antara keduanya.