Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 | TETANGGA DARI NERAKA
Apartemen itu adalah tempat persembunyian yang dipilih Elara dengan sangat hati-hati. Terletak di lantai tertinggi, dengan sistem keamanan berlapis, ia mengira tempat ini akan menjadi zona aman di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang keluarga Vance atau ancaman dunia mafia.
Ia baru saja memarkir mobilnya di basemen setelah berbelanja bahan makanan untuk persediaan seminggu. Dengan dua kantong besar di tangan, Elara masuk ke lift dengan napas terengah. Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, ia berjalan cepat di koridor yang sunyi.
Namun, langkahnya terhenti seketika.
Di depan pintu Penthouse tepat di seberang miliknya, terjadi keributan. Seorang wanita bergaun merah menyala sedang berteriak-teriak penuh emosi di depan pintu yang tertutup rapat. Elara berusaha bersikap masa bodoh, mengabaikan drama tersebut dan mencoba membuka pintu apartemennya sendiri.
Tiba-tiba, pintu di seberang koridor itu terbuka lebar. Seorang pria dengan tatapan yang terlalu tajam dan aura yang terlalu mematikan untuk seorang warga apartemen biasa muncul dari balik pintu. Pria itu tidak menatap wanita di depannya dengan rasa bersalah, melainkan dengan kebosanan yang dingin.
"Aku sudah bilang, itu hanya satu malam," suara pria itu terdengar berat, membekukan udara di koridor.
Wanita itu melayangkan tamparan keras ke pipi sang pria.
"Kau brengsek!" teriaknya sebelum berlari menuju lift, terisak.
Elara hanya bisa menatap datar ke arah pria itu, merasa jijik dengan tipikal pria kaya yang menganggap wanita sebagai barang sekali pakai. Pria itu menoleh ke arah Elara.
Detik itu juga, Elara merasakan hawa dingin merambat naik dari telapak kakinya. Pria itu memiliki tatapan predator yang sangat familiar.
Elara segera memutar tubuh, membelakangi pria itu, dan berusaha memasukkan kunci ke pintu apartemennya dengan jemari gemetar. Jangan sampai dia melihatku. Jangan sampai dia tahu aku tinggal di sini, batin Elara.
Ia berhasil masuk ke dalam, membanting pintu, dan menguncinya dengan tiga kunci pengaman sekaligus. Ia bersandar di pintu, berusaha mengatur napas yang memburu.
Hanya kebetulan, pikir Elara. Dia tidak mungkin mengikuti sampai ke sini.
Untuk menenangkan diri, ia memutuskan untuk memasak. Dapur adalah tempatnya berpikir. Namun, saat ia sedang memotong sayuran, ia mendengar suara ketukan halus di pintu utamanya. Ketukan yang ritmis, tenang, dan sangat penuh percaya diri.
Elara mengambil pisau dapur kecil, menyembunyikannya di balik lengan kemejanya, lalu mendekati peephole (lubang pengintip) di pintu.
Dunia Elara seakan runtuh saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Bukan tetangga yang marah. Bukan staf apartemen.
Itu adalah Dante Moretti.
Dia berdiri di sana dengan santai, seolah baru saja memenangkan permainan catur. Elara membuka pintu sedikit, hanya untuk menatap Dante dengan horor.
" Apa yang kau lakukan di sini?"
Dante tersenyum, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. Ia melangkah maju, memaksa Elara mundur ke dalam ruangan.
"Ternyata, kita adalah tetangga," bisik Dante, suaranya sangat dekat di telinga Elara hingga napasnya terasa di kulit leher gadis itu. Dante melepaskan jaketnya, menatap sekeliling apartemen Elara dengan tatapan menilai. "Apartemen yang nyaman. Tapi, apakah kau tidak merasa aneh, Elara? Bahwa ke manapun kau berlari, aku sudah berada di sana menunggumu?"
Elara merasakan tubuhnya kaku. "Ini tidak mungkin. Bagaimana kau bisa mendapatkan Penthouse di lantai yang sama?"
Dante tertawa pelan, lalu mendekat hingga jarak di antara mereka hilang. Ia meraih pergelangan tangan Elara, melepaskan pisau dapur yang tadi disembunyikan Elara dan meletakkannya di atas meja dengan tenang.
"Aku tidak perlu membelinya, Elara. Aku hanya perlu membeli gedung ini," jawab Dante dingin.
Jantung Elara berdegup kencang. Ia kini tidak hanya terjebak di luar rumah; ia terjebak di dalam bentengnya sendiri bersama monster yang paling ingin ia hindari. Dante Moretti tidak hanya melacaknya ia telah menaklukkan ruang geraknya.
"Jangan takut," bisik Dante, jemarinya mengusap rahang Elara dengan kasar.
"Aku tidak akan membunuhmu malam ini. Aku hanya ingin melihat, seberapa lama kau bisa bertahan saat predatormu tidur tepat di seberang pintumu."
●●●●