Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjengguk Fani
"Luis, apa itu, kenapa keca jendela bisa pecah?" tanya ayahku yang selesai melaksanakan shalat. Dia masih menggunakan pakaian shalatnya, di temani adik kecilku, aidil.
"Aku tidak tau ayah, hanya terdengar ketukan di pintu, kemudian batu terlempar ke jendela kamarku. Setelah beberapa saat, batu terlempar di jendela ruang tamu juga. Kemudian di pintu," kataku yang berterus terang.
"Ini pasti ulah manusia, mana ada hantu bisa melempar batu," kata ayahku yang hanya bisa mengeleng kepalanya.
"Lalu bagaimana yah, idar di kamar sudah ketakutan. Kaca jendela, pecah. Bisa-bisa nanti ada tangan yang terlihat,"
"Kita pakai papan saja ya, untuk menutupi?" tanya ayahku.
Aku mengangguk, tandanya setuju. Aku kembali ke kamar. Ayahku sudah memperbaiki semua jendela yang bolong. Aku akhirnya merasa lega.
"Ada-ada aja, tingkah orang di sini. Bisa-bisanya, dia mau menakuti kita dengan cara seperti ini?" kata ayahku yang tidak habis pikir.
"Sabar yah, dia nanti akan mendapat karmanya," balasku.
"Astagfirullah Al-azim, aku lupa shalat magrib," kataku sambil berlari ke dalam rumah.
Ayahku dan adikku yang melihatku hanya tersenyum melihat tingkahku.
Setelah selesai shalat, aku menggopoh adikku ke meja makan.
"Kak, apa bisa malam ini, aku tidak perlu makan. Aku tidak punya nafsu makan," kata idar yang tidak mau makan.
"Jangan begitu, jika sakit memang tidak punya nafsu makan. Tetapi harus di paksa, kau mau terus-terusan sakit?" kataku yang menakut-nakuti agar dia mau makan.
"Iya kak, kata ibu guru, jika mau sembuh, harus banyak makan," kata aidil yang sudah lebih dulu makan.
Tok.. Tok... Tok...
Pintu rumah kami di ketuk, tetapi kami malah mengabaikan. Tidak lama, terdengar suara teriakan dari luar.
"Tamrin, tolong buka pintunya," teriaknya, yang membuat kami semua ke luar.
Aku membawa idar bersamaku, takut dia sendirian di dalam. Ayahku membuka pintu, terlihat pak ahmad berdiri di depan pintu.
"Eh, pak ahmad. Silahkan masuk pak," kata ayahku dengan ramah.
"Tidak perlu, aku mau ke sini, minta bantuan luis dan kamu. Istriku tidak sadarkan diri di rumah," kata pak ahmad dengan panik.
"Bagaimana ya pak, idar juga sedang sakit," kata ayahku.
"Yah, aku panggil rian, temani idar. Kita bisa pergi, melihat keadaan istri pak ahmad," kataku yang memberi saran.
Ketika ayahku menganggu, aku langsung berlari ke rumah rian. Lampun di teras rumahnya, masih menyala. Berarti, mereka semua belum tidur.
"Rian, rian," teriakku berkali-kali, agar orang yang aku panggil segera datang.
Tetapi, malah ibunya yang datang.
"Eh, nak luis, ada apa datang malam-malam?" tanya ibu rian.
"Riannya ada tante, soalnya aku mau minta tolong?" kataku dengan sopan.
"Oh rian, ada-ada. Tunggu ya, tante panggil," kata ibu rian sambil masuk ke rumah.
Tidak lama, rian datang menghampiriku. Bukan hanya dia, ayahnya dan adiknya juga ikut. Mereka pasti penasaran.
"Luis, ada apa?" tanyanya ketika sampai.
"Aku mau minta tolong, kamu bisakan, jaga adikku sebentar?" tanyaku dengan memohon.
"Kau mau kemana luis?" tanya ibu rian.
"Mau ke rumah pak ahmad tante, istrinya tidak sadatkan diri," kataku yang membuat satu keluarga terkejut.
"Oh, ya ampun, biar rian dan rani yang menjaga adikmu. Kau sebaiknya ke sana sekarang, nanti telat," kata ibu rian.
Rian dan rani menyusulku ke rumah, setelah semuanya beres, aku pergi ke rumah pak ahmad.
Terdengar suara tangisan anak pak ahmad, aku dan ayahku mempercepat langkahku.
"Om, luis, tolong ibuku. Dia belum juga sadarkan diri," kata anak pak ahmad.
Ayahku hanya diam sambil duduk, sementara aku memegang seluruh tubuhnya. mengecek jantungnya, takut sudah tidak berdetak lagi. Tetapi masih aman, jatungnya masih berdetak walau lemah.
"Kejadian seperti apa sih pak?" tanya ayahku pada pak ahmad.
"Dia dari wc, katanya perutnya sakit usai magrib tadi. Beberapa kali ke wc, dia tidak kunjung keluar. Aku curiga dan memeriksanya, istriku sudah pingsan," kata pak ahmad yang bersedih.
Aku dan ayahku saling memandang, kemudian aku permisi melihat ke wc. Aku tidak menemukan apapun di wc, tetapi satu yang membuatku heran. Jendela kecil di wc seperti terpecah dan terdapat bercak darah yang membentuk sebuah kalimat. Aku memcoba membacanya.
"MATI" Kataku membaca kalimat yang tertulis.
Aku memanggil ayahku dan keluarga pak ahmad untuk melihatnya. Mereka sangat terkejut melihatnya, bahkan aku sendiri merinding membacanya.
"Kalian semua tenang, mereka pasti hanya mau menakuti kita," kata ayahku yang duduk kembali di dekat istri pak ahmad.
"Tetapi, kemarin kami juga sempat di teror. Terdengar pintu di ketuk, saat aku membukanya, tidak ada orang diluar," Jelas pak Ahmad.
"Lain kali, jika ada seperti itu, jangan langsung pintunya di buka. pastikan dulu, ada orang yang mengetuk pintu. Apalagi kalau magrib dan tengah malam, bahaya,"
"Aku tidak tau, lalu bagaimana dengan istriku, apa yang harus aku lakukan?" tanya pak ahmad.
"Kita tunggu bezok, jika dia belum sadarkan diri, lebih baik cari orang pintar untuk mengobatinya,"
"Kenapa bukan luis saja?"
"Maaf pak ahmad, aku sebagai ayah luis, melarangnya. Ibunya sendiri, tidak bisa dia selamatkan, apalagi orang lain," kata ayahku yang membuat hatiku sesak. Sepertinya, ayahku tidak percaya lagi padaku.
"Kalau begitu, aku dan luis permisi dulu. Anakku pasti menungguku di rumah," Pamit ayahku.
Aku menyusul ayahku berjalan, sakit hatiku masih terasa. Mendengar ayahku mengatakan seperti itu, aku mulai berpikir jika ayahku sebenarnya marah padaku, karena aku tidak bisa menyembuhkan ibuku.
Pas aku berada di depan rumah fani, lamunanku langsung hilang. Mendengar suara seseorang menangis. Suara tangisan ini, aku pernah mendengarnya.
"Yah, kita mampir sebentar di rumah fani dulu. Aku belum pernah menjenguknya sebelumnya?" kataku pada ayahku yang berjalan di depanku.
"Iya, tetapi sebentar saja." kata ayahku yang mengangguk.
Aku mampir di rumah fani, tetapi lama sekali aku menunggu baru pintu rumah fani terbuka. Dion yang membuka pintunya.
"Luis, om tamrin, silahkan masuk," kata dion dengan ramah.
Aku masuk, tetapi perasaanku menjadi sedih, ketika melihat fani terbaring dengan wajah pucak. Sudah seperti mayat, tanpa terasa air mataku jatuh ke pipiku.
"Luis, sudah lebih tiga hari fani tidak sadarkan diri. Aku tidak tau harus bagaimana?" kata dion yang duduk di dekatku.
"Luis, apa kau tidak bisa menolong fani?" tanya ibu dion.
"Maaf tante, tetapi aku sendiri tidak tau harus melakukan apa. Adikku sendiri juga sakit di rumah," kataku.
"Tetapi dion, aku sering sekali mendengar suara tangisan. Apa itu suara tangisan fani?" tanyaku bingung.
"Apa itu petunjuk luis?"
Aku hanya diam, mencoba berpikir. Mungkin, fani dalam masalah, makanya dia ingin memberiku petunjuk.
"Dion, bezok panggil ana dan rahmat. Kita tidak bisa diam saja melihat kondisi fani. Kita harus melakukan segala cara agar fani bisa kembali." kataku dengan tegas.
Sudah waktunya, aku kembali menjadi diriku dulu. Luis yang kejam dan di takuti para hantu.
To be continue...