Alisha berpikir perusahaan tempat kerja nya waktu itu tidak masuk akal,karena ia di pecat, hanya karena dirinya terlalu cantik.
Alisha berharap tempat kerja nya kali ini lebih baik dari kemarin.
Tapi kenyataannya, ia malah bekerja di perusahaan orang yang paling ia hindari, yaitu ayah putri kecilnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minum Jamu
Alisha berdiri di depan sebuah rumah yang terletak di utara taman kota.
Rumah itu sangat megah.
Dengan cat berwarna hijau telor asin.
Di depan rumah, ada sebuh gerbang dari besi yang kokoh.
Gerbang itu di bagi dua bagian.
Pertama, berpintu besar untuk keluar dan masuknya mobil.
Kedua berpintu kecil, untuk keluar dan masuknya orang.
Alisha memencet bel yang ada didepan gerbang kecil.
Bel itu bergaya modern.
Bell intercom.
Beberapa saat kemudian.
Gerbang kecil tersebut terbuka secara otomatis.
Alisha ragu masuk atau tidak ke rumah Sean.
Namun tanpa Alisha sadari, kakinya sudah melangkah masuk.
Sekarang Alisha sudah berada di halaman rumah Sean.
Alisha menyesal, mengapa ia masuk ke rumah Sean.
Dalam hati kecil Alisha.
Alisha masih takut untuk bertemu Sean, bila hanya berdua.
Apalagi pertemuan ini di rumah Sean.
Alisha takut kejadian lima tahun lalu terulang kembali.
Alisha lalu membalikkan badan hendak keluar.
Sean yang sedari tadi menunggu Alisha di depan pintu rumah.
Buru buru mengejar Alisha yang hendak keluar rumah.
Ketika Alisha hendak membuka pintu gerbang.
Sean menangkap tangan Alisha.
Alisha yang di tangkap tangannya secara tiba tiba oleh Sean.
Secara refleks, dia meronta ronta.
Dan ingin melepaskan tangan Sean.
Wajah Alisha ketakutan melihat Sean.
Sekelebat kenangan buruk tentang mereka di malam hari tiba tiba muncul di kepala Alisha.
Alisha menarik paksa tangannya yang di pegang Sean.
Air mata Alisha keluar perlahan.
"Lepaskan saya pak!
Kumohon lepaskan"
Alisha berkata dengan airmata yang berlinang.
Sean bertanya tanya dalam hati.
Mengapa Alisha harus menangis.
Hanya karena tangannya ia pegang.
"Kumohon pak lepaskan saya.
Saya nggak mau lagi.
Dan Jangan sentuh saya lagi"
Alish berkata dengan wajah penuh ke takutan, sambil terus membuka genggaman Sean yang rapat di pergelangan tangannya.
Sean mulai mengerti maksud perkataan Alisha
Buru buru Sean menarik tubuh Alisha ke dalam pelukan hangatnya.
Di dalam pelukan Sean pun, Alisha meronta ronta ingin di lepaskan.
Karena Sean memeluk Alisha dengan erat.
Maka Alisha tidak bisa lepas.
Di dalam pelukan Sean.
Alisha terus saja meronta dan menangis.
Ia trauma dengan kejadian lima tahun lalu.
Hati Sean pun ikut sedih dan terluka.
Sean tidak menyangka, ternyata perbuatannya malam itu membawa trauma besar bagi Alisha.
'Ini kah sebabnya Alisha selalu menghindariku?'
Batin Sean sedih.
"Maaf kan aku Alisha"
Sean berbisik di telinga Alisha.
"Maaf kan aku"
Sean mengulangi kata katanya karena Alisha masih meronta.
"Maaf kan aku Alisha.
Aku tidak akan mengulanginya"
Bisik Sean kembali.
Berusaha meyakinkan Alisha bahwa semuanya tidak akan terulang kembali.
"Bukan nya aku udah mengatakan sama kamu.
Malam itu aku di bawah pengaruh obat.
Jadi aku tidak bisa mengendalikan diri ku. Maaf kan aku Alisha, aku sungguh menyesal"
Butiran bening keluar dari sudut mata Sean.
Penyesalan mendalam keluar dari dalam hati nya.
Sean memeluk Alisha erat.
Sean menaruh kepalanya di pundak Alisha, Dan wajahnya tenggelam dalam kelembutan rambut Alisha.
"Maaf kan aku Alisha.
Aku tidak akan melakukannya lagi.
Aku mohon, maaf kan aku Sha"
Ucapan Sean terdengar sangat pilu dan penuh penyesalan.
Lama sudah, Sean memeluk tubuh Alisha yang lembut.
Perlahan lahan tangisan Alisha mulai reda.
Tangis Alisha sudah tidak terdengar lagi, Tubuhnya juga sudah tenang dalam pelukan Sean.
Perlahan lahan, Sean mulai melepas pelukan nya.
Menghapus air mata Alisha dengan tangannya yang kokoh.
Sean lalu merundukkan wajahnya supaya sejajar dengan wajah Alisha.
"Sudah tenang? bisa kita masuk ke dalam? aku janji tidak akan ber buat macam macam, kita harus bicara Alisha"
Alisha diam sejenak untuk berpikir, lalu meng anggukkan kepalanya.
Sean menggandeng tangan Alisha untuk masuk ke dalam rumah.
Alisha duduk di sebuah sofa warna abu abu di ruang keluarga di rumah Sean.
rumah sean sepi.
Alisha bertanya tanya apakah Sean tinggal sendirian di rumah sebesar ini?
Sean kembali ke dapur mengambilkan minuman untuk Alisha.
"Minumlah Sha"
Sean menaruh minuman larutan penyegar kaleng, dingin di atas meja.
Pandangan mata Alisha terpaku dengan tangan Sean yang terluka.
Alisha melihat ada luka di punggung tangan Sean.
Luka itu masih basah dan berdarah.
"Tangan bapak kenapa?"
Tanya Alisha penasaran.
"Nggak pa pa, cuma luka kecil"
Refleks, Sean langsung menutupi luka di tangan kanannya, menggunakan tangan kiri.
Alisha jadi khawatir.
Alisha memaksa memeriksa tangan Sean
Apakah luka itu dalam atau tidak.
Mengkhawatirkan keadaan Sean membuat Alisha melupakan traumanya.
Tanpa Alisha sadari, sebenarnya di dalam hati kecilnya.
Ia masih mencintai dan mem perdulikan Sean.
Sehingga ketika melihat Sean sakit, otomatis Alisha langsung ingin mengobatinya.
Ternyata luka itu memang hanya luka gores.
Tapi masih baru jadi masih berdarah.
Rupanya ini lah penyebab Sean mengerang di telpon.
Alisha lalu merogoh dan memeriksa isi tasnya.
Alisha menemukan plaster milik Bella.
Kemarin Bella baru saja jatuh.
Dan Alisha membeli plaster sepulang kerja.
Dan plaster itu masih ada sisanya.
Plaster itu imut, berwarna pink dan di penuhi gambar Hello Kitty.
"Maaf, saya cuma punya plaster ini"
Alisha menempelkan plaster dengan hati hati ke tangan Sean.
Sean menurut saja.
Dia malah tersenyum senang karena Alisha masih memperhatikan dirinya.
Alisha lalu memegang tangan Sean.
"Bapak sakit?"
Alisha merasakan tangan Sean hangat di tangannya.
Alisha lalu menempelkan punggung tangannya di kening Sean.
'Hangat'
Batin Alisha.
'Jadi pak Sean tadi, menunggu ku dalam keadaan sakit?'
Alisha merasa semakin bersalah.
"Nggak usah khawatir Sha.
Ini cuma masuk angin karena naik kereta kemarin"
Jawab Sean enteng karena tidak terlalu memerdulikan sakitnya.
"Bapak udah minum obat?"
Alisha khawatir dengan keadaan Sean, karena merasa bersalah.
"Sudah, tadi pagi"
Jawab Sean.
"Udah pernah minum jamu?"
Tanya Alisha lagi.
Alisha ingin Sean minum jamu supaya lebih cepat sembuh.
"Nggak, aku nggak pernah minum jamu, pahit"
Sean bergidik, membayangkan dirinya meminum jamu.
Pasti pahit sekali.
"Di mana dapur bapak?"
Alisha berdiri dari duduknya.
"Lurus aja, ntar ketemu dapur nya"
Jawab Sean penasaran.
Mengapa Alisha tiba tiba menanyakan jamu lalu dapur?
Alisha tanpa permisi langsung menuju dapur milik Sean.
Di dapur Sean, alisha langsung menggeledah lemari lemari dapur milik Sean.
Alisha menemukan apa yang di carinya yaitu Kunyit.
Alisha mengambil beberapa kunyit.
Setelah membersihkan dan mencuci kunyit.
Alisha lalu memblender kunyit kunyit itu.
Setelah itu, menyaring nya ke gelas bersih.
Alisha memberikan tiga sendok madu ke minuman kunyit itu.
"Coba minum ini pak!"
Perintah Alisha pada Sean.
Sean menjauhkan dirinya dari gelas yang di sodorkan Alisha.
"Nggak Sha, aku kan udah bilang kalau aku nggak pernah minum jamu, pahit"
Jawab Sean.
"Ini nggak pahit pak, sumpah!"
Alisha mencubit lehernya sendiri.
Sean tertawa pelan melihat ekspresi Alisha yang mencubit lehernya sendiri ketika bersumpah.
Baru kali ini, Sean melihat orang bersumpah sambil mencubit lehernya sendiri.
Alisha lalu maju mendekati Sean.
Menyendok jamu buatannya sendiri dan menyodorkannya ke arah Sean.
"Coba dulu pak, baru komentar!
Coba ya. A......"
Alisha memaksa Sean membuka mulutnya.
Akhir nya Sean pun membuka mulutnya dan mencoba jamu Alisha.
Sean mengerjapkan matanya.
'Enak, rasanya asam, manis, dan segar'
Batin Sean.
Sean lalu mengambil gelas yang ber isi jamu dari tangan Alisha.
Sean lalu meminumnya hingga habis.
Alisha tersenyum puas.
Karena, ternyata Sean mau meminum jamu buatannya.
Alisha membuat lagi satu botol jus kunyit.
Dan menyimpannya di kulkas milik Sean.
"Kunyit ini di minum malam hari sama besok pagi.
Harus habis"
Alisha memelototkan matanya pada Sean seolah mengancam Sean agar mematuhi perintah Alisha.
"Ok, siip....."
Dengan senang hati Sean menyetujui perintah Alisha.
"Bapak ini kayak anak kecil aja, jamunya belum di coba. udah bilang pahit"
Alisha berkata sambil tangannya bekerja membereskan dan mencuci perkakas milik Sean yang tadi dia kotori.
"Jangan cuma minum obat aja pak.
Jamu juga penting untuk mempercepat kesembuhan bapak.
Di rumah, kalau bella panas.
Saya kasih obat dan juga kunyit, panasnya jadi cepat reda"
Tanpa sadar Alisha menyebut nama putri kecilnya.
"Bella? Siapa itu Bella?"
Tanya Sean penasaran siapakah Bella itu.
"Oh itu....
Dia.....
Anak tetangga saya, yang suka main ke rumah"
Jawab Alisha terbata bata.
"Oh.... tetangga kamu.
Aku kirain...."
"Bapak tinggal di rumah sendirian?"
Alisha memotong perkataan Sean, agar tidak lagi membahas tentang Bella.
Alisha tahu, dia tidak pandai berbohong.
Jadi lebih baik bagi Alisha, untuk menghindari.
"Iya, aku sendirian aja, kalau pagi ada tiga orang asisten rumah tangga yang memasak dan membereskan rumah.
Dan ada seorang tukang kebun.
Tapi mereka pulang jam sebelas siang. Kenapa? Kamu mau nemenin aku?"
Goda Sean.
Sean berdiri di samping Alisha yang sedang merapikan perkakas dapur.
"Sorry, saya nggak minat"
Jawab Alisha enteng.
Selesai ber beres.
Alisha melewati Sean begitu saja.
Tadi ketika menuju dapur.
Alisha melihat ada kotak p3k di dinding dapur.
Alisha lalu memeriksa isi kotak p3k itu, dan menemukan minyak kayu putih yang dia cari.
Alisha mengajak Sean kembali ke ruang keluarga.
'Mau apa lagi dia?'
Batin Sean.
Bersambung.........
Tip, Vote, rate, jempol, dan komen kalian adalah penyemangat author.......😍😍😍
teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya 😘😘
tamat yang sungguh mantap 👍😘