NovelToon NovelToon
Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku

Status: tamat
Genre:Komedi / Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:418.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Hikari

Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?

Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?

“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”

“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.

Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.

*
*
*

SPIN OFF Aara Bukan Lara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Casanova

Mengetuk pelan dagu dengan bibir yang sesekali bergerak ke kanan dan kiri dibarengi kerutan di dahi, Yuki kembali menghembuskan nafas panjang. Matanya sibuk mengamati selembar kertas yang tertempel di sudut papan tulis persegi panjang, mungkin berukuran sekitar 30 kali 100 sentimeter. Tersemat dengan pin berwarna merah dan biru di setiap sudutnya.

“Kamu yang dulu itu?” Suara bariton di samping kanan Yuki bak guntur yang menyerang tiba-tiba. Mengejutkan Yuki yang sibuk dengan pikirannya sendiri, tersentak mundur dengan tubuh sedikit terhuyung.

“Kaget ya? Sorry..” Ucapnya lagi dengan intonasi rendah dan raut wajah agak menyesal. Bukan benar-benar menyesal, karena nyatanya ia mengulum senyuman menahan tawa pada keterkejutan Yuki.

Sedangkan Yuki yang masih dalam keterkejutannya hanya mampu terdiam kaku setelah sempat menyeimbangkan tubuhnya, matanya mengerjap lucu dengan bingung. Tawa kecil yang ditahan kemudian hadir saat raut wajah Yuki hingga detik kesekian masih belum juga mengalami perubahan.

“Hi?” Sapanya dengan melambaikan tangan di hadapan wajah Yuki.

Menegakkan badan dan tersenyum canggung, Yuki mengangguk kecil sembari menyelipkan anak rambut ke balik daun telinganya. “H-Hi..” Ucap Yuki tersipu malu pada tingkah bodohnya yang justru sempat melamun dengan otak kosong. Merutuki dirinya sendiri dalam gerutuan di benaknya.

Menengadahkan tangannya sambil memandang langit cerah, sosok dengan bibir melengkung yang menampakkan gigi itu berucap tanpa menatap Yuki. “Hari ini nggak hujan, gak mungkin ke sini mau berteduh lagi kan?”

Pertanyaan itu memang menyapa indera pendengaran Yuki, namun entah mengapa justru indera perabanya yang langsung merespon. Merah sudah pipi Yuki mengingat kelakuannya dengan Dimas yang takut miskin dadakan hanya karena membayangkan harga segelas air putih di restoran itu. Nyatanya saat pertama kali Yuki mencoba makan di restoran itu justru diberikan air putih gratis. Benar-benar memalukan.

“Tertarik?” Imbuhnya lagi bertanya sambil menunjuk lembaran kertas pengumuman lowongan kerja sebagai pramusaji.

“Iya.” Jawab Yuki cepat, mantap dan mata berbinar. Kedua tangannya langsung meremas tali tas selempang seakan menyalurkan kegirangan dan semangat yang membuncah.

“Kalau kamu mau bisa lengkapi seluruh persyaratan itu. Kita coba seminggu kerja, kalau kinerja bagus, lanjut. Kalau nggak, maaf, kamu harus mundur. Gimana?”

“Iya, saya mau. Maaf, kalau besok saya datang lagi masih bisa daftar?” Mengangguk patuh, Yuki menatap penuh harap.

Melipat tangan di depan dada, kerutan di dahi seakan cukup menjelaskan bahwa ada sesuatu yang sedang dipertimbangkan dalam pikirannya. “Tergantung, kalau hari ini gak ada yang melamar kerja, kalau ada ya peluang kamu hilang.”

Kalimat itu seakan mematahkan semangat Yuki. Bukan tidak mungkin dirinya pulang dan mempersiapkan semuanya secara kilat, hanya saja Yuki seakan belum siap pada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada perasaan aneh yang membuat Yuki meragu.

“Oya, kamu masih ingat aku kan?”

“Mas Saka, kan?” Ucap Yuki seolah ragu, padahal dirinya jelas masih mengingat siapa sosok yang sejak tadi berbicara dengannya. Mana mungkin radar sinyal pemburu cowok tampan bisa lemah jika memandang wajah rupawan seorang Sangkara. Iya, Louis Sangkara atau biasa dipanggil Saka.

“Kirain kamu lupa sama aku.” Terkekeh Saka sambil menyugar rambutnya. Memamerkan dahi kinclong yang menyilaukan dan memanjakan mata Yuki.

“Saya ingat kok.” Ucap Yuki santai, namun tetap sopan. Laki-laki itu benar-benar ramah, sama seperti awal perjumpaan mereka.

“Pakai aku kamu aja, biar gak terlalu formal.” Ujar Saka dengan dagu sedikit terangkat, menarik kedua sudut bibir menampilkan senyum tipis.

“Hehe.. Iya, Mas Saka.” Mengusap masing-masing lengan bawahnya dengan tangan bersilang, Yuki tertawa canggung.

‘Lucu.’ Gumam Saka.

“Kalau gitu sa-, aku permisi dulu ya, Mas.” Ucap Yuki dengan agak terbata, meralat menyebutkan dirinya saya dengan kata aku. “Mau siapkan berkas lamaran terus ke sini lagi.”

“Jangan lupa simpan nomor kontak itu. Itu nomor aku.” Ucap Saka sambil menunjuk sebuah nomor ponsel yang tertera. Jelas Yuki hanya mengangguk, secepatnya ia mengetik dan menyimpan deretan angka itu di ponselnya.

Sepersekian detik kemudian Yuki berpamitan sekali lagi pada Saka sebelum berlalu meninggalkan parkiran restoran. Memacu laju kendaraan menuju rumahnya. Bersemangat pada satu tujuan yang akan menjadi tempat Yuki bekerja sekaligus memperjuangkan cinta yang hadir tiba-tiba.

Mengabaikan rasa ragu yang sudah tertutup cinta buta, Yuki tersenyum sumringah sepanjang jalan. Otaknya sudah berimajinasi dalam halusinasi duduk berdua bermesraan dengan si dia. Semoga, semoga dan semoga, hanya itu yang terus Yuki ucapkan menyertai setiap rangkaian film pendek karangannya sendiri.

Seandainya Yuki lebih memilih berpegang pada rasa ragu dan mundur, mungkinkah kisah cintanya tidak akan berakhir tragis?

Ataukah ada sebuah kesalahan yang Yuki perbuat dalam perjalanan panjang perjuangan cintanya? Mungkin itulah kisah yang harus Yuki lalui atas pilihan yang ia jatuhkan.

Memulai dengan pilihan yang mungkin salah, namun jalan yang salah tetap bisa ditempuh jika mau berusaha dan berubah. Namun Yuki yang sudah mabuk kepayang hanya terus memupuk keberaniannya untuk terus berjuang, menarik perhatian dengan berbagai cara, dimulai dengan menjadi pekerja di restoran, meski Yuki sadar tidak bisa setiap waktu mencuri kesempatan.

Dan di sinilah Yuki saat ini. Duduk diam bersama tulang-tulangnya yang menegang, bulir keringat membasahi pelipis dan batas antara rambut dengan dahinya. Saka sesekali tersenyum sambil melirik Yuki, sedangkan Keven sibuk meneliti dengan serius semua berkas yang Yuki sodorkan.

“Aku pikir kamu tadi gak serius mau kerja di sini. Kamu yakin?” Tanya Saka sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangan. Menatap lekat Yuki yang seakan mati gaya, gelagapan dan berdebar hebat.

“Yakin, Mas.” Jawab Yuki singkat sambil mengangguk mantap.

“Mas?” Gumam Keven lirih, melirik Saka yang tersenyum tengil. Ia menghela nafas pasrah pada sikap Saka yang suka tebar pesona.

‘Dasar Casanova!’ Umpat Keven dalam hati yang ditujukan untuk Saka.

“Lowongan ini memang part time, tapi kamu masih kuliah memang bisa bagi waktu?” Tanya Keven tiba-tiba dengan sorot mata tajam. Dirinya tidak mau ambil pusing dengan pekerja yang tidak disiplin waktu hanya karena sebuah alasan terlambat datang karena kelas diperpanjang.

Terlalu keras? Menurut Keven tidak, karena semuanya sudah ada aturannya. Restorannya bukan tempat untuk menampung sembarang orang, hanya mereka yang bisa berteman dengan kedisiplinan dan berani bertanggung jawab dengan tugas yang diemban yang layak dipertahankan.

Meski hanya seorang pramusaji, tapi posisi mereka jelas penting sesuai porsinya. Begitulah seorang Keven yang penuh pertimbangan.

“Saya bisa. Sesuai yang tertera di situ ada 3 shift, jadi saya yakin bisa bekerja di shift terakhir dari sore sampai malam.” Ucap Yuki percaya diri tanpa ragu atau sekedar berbasa-basi seperti beberapa kalimat yang pernah dipelajarinya dari tata cara menjawab pertanyaan saat interview kerja.

“Siapa kamu berani menentukan shift kerja?” Ucap Keven dingin yang meruntuhkan kepercayaan diri Yuki.

...****************...

*

*

*

1 Bab lagi akan lebih lama meluncur, hari ini terhalang restu hujan dan petir waktu mau lanjut mengkhayal, jadinya molor lebih diutamakan🤭

1
Yuyun ImroatulWahdah
😭😭😭😭
Yuyun ImroatulWahdah
menarik🤔😊😁
Dewi Murni
saka dong suaminya
Indra Fatiria
usahain Yuki bercerai dari Keven, laki2 GUOBLOKKKKK
Indra Fatiria
Tolong Yuki harus meninggalkan suaminya, suami gk punya otak, suami guoblok
Indra Fatiria
kapan Yuki gugat cerainya
Indra Fatiria
bisa gk belut licin itu matikkkkk aja
Indra Fatiria
emang suami Yuki gk punya nama ya
Sedang mengetik...
masih saling cinta tapi keduanya harus merelakan cinta itu berakhir
Sedang mengetik...
nah Nita ketahuan kerja sama om om
Sedang mengetik...
sulit kali ya berada di posisi Dion.. cinta bertepuk sebelah tangan yg lebih parahnya lagi orang itu akan jadi adik ipar
Sedang mengetik...
gimana kev rasanya cemburu enak gak .. mamam tuh cemburu... cemburu mu udah telat... dari kemaren kemana aja.. sekarang Yuki bukan milik mu lagi.. jdi gak usah cemburu
Sedang mengetik...
baca judulnya aku tdi bingung... ehh ternyata oh ternyata....
Sedang mengetik...
setidaknya masih ada kenangan manis yg bisa di ingat sebelum perceraian terjadi
Sedang mengetik...
ada lega tapi rasa sesak itu juga ada
Sedang mengetik...
kev kamu tuh harus bisa bedakan mana yg sedang kamu perjuangan dengan yg tidak,, mana janjimu yg mengatakan hanya ada kita berdua pada Yuki dulu.. nyatanya sekarang kamu masih mendahulukan Alia dari pda yuki
Sedang mengetik...
Keven bodoh selalu saja tertipu dengan sandiwara Alia
Sedang mengetik...
bilang aja kamu juga iri kan dim... kamu juga berharap bisa romantis tomantisan kan sama Yuki
Sedang mengetik...
kadang kala orang lain emang lebih peka dari pda diri kita sendiri
Sedang mengetik...
kasian loh Yuki sebenarnya dia dah nikah tapi belum pernah merasakan roti sobek makannya sampai kebawa mimpi gtu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!