Hira Arinta perempuan memiliki banyak talenta yang diwarisi oleh ayahnya. Hidup Hira selalu di bawah kendali orang tuanya, keinginan terbesar orang tuanya yaitu menjadi dokter bedah. Namun, Hira mematahkan harapan keduanya dengan mengambil jurusan desain komunikasi visual.
Tidak ada cinta dan kasih sayang yang Hira dapatkan sejak kedua orang tuanya mengusir dari rumah dimana tempat selalu mendapatkan cinta.
"Aku membenci kata cinta yang meruntuhkan cita-cita ku."
Bintang Aditya Prawira pria berprofesi sebagai tentara berpangkat Kolonel, berstatus duda. Memiliki putri cantik bernama Kihana, Adit harus menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Kihana. Cintanya tidak bisa terukur untuk sang putri, kehilangan sosok ibu tidak akan kehilangan juga sosok ayah, baginya Kihana prioritas utama.
Tuhan berkehendak lain, Adit dipertemukan dengan sosok Hira Arinta yang penuh misterius.
"Aku akan menumbuhkan dan memberikan cinta yang pernah hilang dalam hidupmu." Bintang Aditya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Johan Siregar
Johan melihat dari kejauhan seseorang yang dikenalnya, dia berjalan beriringan dengan pria tinggi matang dan anak berusia delapan tahun. Hari ini Johan dan Ratna mengikuti pelatihan dari kementerian yang diadakan di salah satu hotel berbintang kota Surabaya.
Pria paruh baya itu memandang lekat perempuan yang memakai baju hijau keanggotaan istri prajurit Tentara, di samping perempuan itu berjalan seorang pria berpakaian dinas harian yang membentuk postur tubuh tubuh pria itu tinggi tegap di tambah wajahnya friendly.
"Bapak...ayo kita ke ruangan...di lantai dua belas." Suara istrinya mengalihkan perhatiannya terhadap keluarga kecil itu.
"Nana...ada kabar dari Boru Hira....aku pikir dia ada di sini." Johan bertanya kepada sang istri untuk mengetahui keadaan anaknya.
Johan Siregar pria berdarah Batak ini sebenarnya sangat menyayangi sosok Hira Arinta, Pria itu sesungguhnya merindukan putrinya. Namun, ego yang mengikis perasaan kasih sayang kepada Hira.
"Bang....aku kehilangan kontak sejak seminggu lalu...nomor dia ga pernah aktif...tadi pagi aku tanya ke pihak kos...mereka bilang Hira sudah pindah." Ratna khawatir dengan putri, setelah mendengar Hira menangis saat menghubungi Minggu lalu karena mengetahui alasan mereka tidak datang di acara wisuda Hira.
"Kamu ikut dengan Abang sekarang...Abang ingin memastikan sesuatu." Johan menarik tangan istrinya untuk masuk ke restoran hotel.
Johan mencari perempuan yang memakai baju berwarna hijau muda tadi, matanya langsung memandang ke arah ruangan VVIP restoran ini. Johan berjalan mendekati ruangan itu, tubuhnya membeku melihat sosok perempuan tadi adalah anaknya, Jantungnya mendidih melihat Hira duduk bersama pria yang jauh lebih matang umurnya.
Hira seperti memancing kemarahannya, dia tidak buta melihat makna baju hijau yang di pakai anaknya. Hira kembali mematahkan harapannya sebagai orang tua, dia nekad berhubungan dengan pria yang jauh lebih tua darinya.
"BORU....HIRA ARINTA SIREGAR....PULANG SEKARANG." Johan masuk dengan wajah penuh emosi.
Ratna menutup mulut melihat Hira bersama pria berumur, wanita itu tak kalah terkejut melihat Hira memakai baju Persit.
Johan melangkah ke arah Hira, ternyata benar dugaannya jika Hira sudah menjadi istri seorang perwira Tentara terdapat nametag bertuliskan nama Ny. Hira Arinta Prawira.
Wajah Hira langsung pucat pasi, orang tuanya menemukannya bersama Aditya dan Kihana. Dia belum siap menerima kembali amarah ayahnya, Johan memiliki temperamen, jika tidak diikuti kemauanya Johan akan mengeluarkan sumpah serapah tanpa melihat kondisi.
Hira yang ketakutan melihat mata Johan yang berkobar dengan kemarahan mengambil tas yang berada di sampingnya, dia tidak ingin Aditya dan Kihana melihat kelakuan Johan yang kasar itu.
"Saya tidak mengizinkan kamu pergi...ikuti perintah SUAMI Arin." Aditya buka suara melihat aksi Johan menarik paksa Hira untuk ikut pulang bersamanya.
Ratna menggelengkan kepala, fakta apa yang baru didengarnya dari pria yang mengaku sebagai suami anaknya. Kapan mereka melakukan pernikahan, siapa yang menjadi wali nikah Hira.
"Kau siapa melarang anak saya tidak boleh ikut bersama orang tuanya... sekarang kau ikut dengan aku Boru....Ratna Ayo." Johan menarik Hira berjalan meninggalkan pria yang mengaku sebagai suami anaknya.
"Papa....Bunda di bawa pergi....Aku takut bunda tidak pulang." Kihana berteriak histeris melihat Hira di tarik paksa oleh kedua orang tuanya.
Aditya berdiri dari duduknya, mengendong tubuh anaknya agar lebih cepat keluar dari ruangan itu, dia memberi kode kepada manajer hotel untuk pembayaran akan di transfernya.
"Papa....lihat Bunda di tarik-tarik kasar....aku takut melihatnya." Kihana menutup matanya dan menyembunyikan kepalanya di curuk Aditya.
Secepat kilat Aditya meminta petugas parkir untuk mengambil mobil miliknya, pikiran tertuju pada Hira yang tidak berdaya dalam kekuasaan kedua orang tuanya.
"Kakak....Papa jemput Bunda Arin...Papa takut nanti lama urusannya...kamu Papa antar ke klinik Tante Dina ya." Aditya memotong mobil yang membawa istrinya, dia harus mengkondisikan Kihana.
Aditya tidak ingin Kihana melihat tindakan kekerasan yang dilakukan Johan Siregar, anak itu masih kecil bisa saja mengalami trauma berat.
"Dina...tunggu mobil Mas di depan gerbang klinik kamu sekarang." Aditya memutuskan ponselnya langsung menitipkan anaknya.
"Papa...harus janji ya bawa bunda Arin....aku kasian lihat Bunda tadi." Kihana langsung turun dari mobil ayahnya.
Medina bisa melihat kepanikan di wajah sang kakak, dia belum bisa bertanya apa alasan Aditya tidak mengikutsertakan Kihana pergi bersamanya. Medina langsung membawa Kihana ke ruangan prakteknya di klinik ini, untung saja masih jam makan siang.
Aditya menatap ponselnya, GPS Hira mengarah ke jalan yang searah dengan klinik Medina, Aditya menunggu mobil orang tua Hira di sebuah ruko. Tak berselang lama, mobil Mercedes Benz milik ayah Hira muncul.
Aditya memindai nomor polisi yang di pakai Johan, bisa di lihat jika ayah Hira ini merupakan kepala dinas. Dia terkejut melihat dua orang masuk memakai baju safari ASN menarik Hira ketika mereka makan di Restoran tadi.
Mobil Johan masuk sebuah komplek perumahan elit, penjagaan saja sangat ketat. Aditya mengikuti mobil yang membawa Hira ke sebuah rumah berlantai dua.
"masuk...anak ga tahu diri." Aditya bisa mendengar teriakkan Johan yang keluar dari mobilnya.
"Abang...kasian Boru...kita bisa tanya baik-baik...ga perlu memakai kekerasan." Ratna mencoba melepaskan tarikan tangan Johan di pergelangan tangan Hira.
"Sudah aku bilang...anak ini jangan dimanjakan... sekarang dia menjadi bengal...Kau tidak perlu ikut campur dengan anak ga tahu diri ini." Johan membentak Ratna yang berusaha untuk memisahkan tangannya dari pergelangan tangan Hira.
"Bapak maaf aku..... Bapak sakit tangan aku." Rintih Hira menahan sakit kuatnya tarikan tangan Johan.
Aditya berlari masuk ke rumah orang tua Hira, dia tidak bisa diam saja melihat istrinya diperlakukan seperti itu oleh ayah kandungnya. Ada beberapa Asisten rumah tangga berlari ke belakang karena mendengar kedatangan Johan.
Pintu masih terbuka Aditya masuk ke rumah ini, telinga mendengar suara rintihan kesakitan Hira, berjalan menyusuri rumah luas ini Aditya dikejutkan aksi Johan.
"Jadi ini kerja kau...anak tidak tahu diri....menjadi istri simpanan...sejak awal aku sudah curiga kau tidak pernah meminta uang kepada ku." Teriakkan Johan beriringan dengan suara lecutan ikat pinggang.
"Ampun aku bapak....sakit." Aditya melihat dekat kolam renang, Johan menyiksa anaknya.
Ratna mencoba menarik Johan menjauhi Hira, kekuatan Ratna kalah dari kemarahan Johan Siregar.
"Sejak dulu aku tidak menginginkan anak perempuan ini...Anak aku cuma Arvind Johana Siregar." Teriak Johan membahana di rumah ini, suara tangisan Hira mengalahkan teriakan Johan.
"Abang istighfar....Boru Hira darah daging Abang...jangan diperlakukan seperti ini....aku mohon." Ratna berurai air mata agar Johan menghentikan aksinya menghukum Hira.
Mata nyalang itu menangkap sosok Aditya terdiam kaku di pintu pembatas kolam renang.
"Lihat.... ternyata ada pria bodoh yang mau dengan kau anak tidak tahu di untung....aku kasih hidup layak...tidak berterima kasih." Johan meninggalkan Hira yang terduduk lemas akibat pukulan ikat pinggang pada tubuhnya.
Aditya berjalan dan mendekati Hira, dia menarik Hira untuk berdiri. Matanya melihat nanar beberapa memar membekas di kulit putih Hira, Tubuh perempuan ini mengigil seperti orang kedinginan.
"Tolong...jaga Boru...Mamak percaya kepada kamu nak." Ratna menghapus air matanya ketika melihat Aditya membawa pergi Hira.
Ratna tidak bisa berbuat apapun, suaminya sudah sangat keterlaluan terhadap anak kandungnya Apalagi dihadapan suami anaknya Johan melakukan tindakan pemukulan kepada Hira.
BPK nya