Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Liu Chiyang Ranah Nirvana
Di samping Wang Chan, aura yang terpancar dari Liu Chiyang semakin kuat, semakin merembes ke segala arah.
Udara di ruang tamu itu terasa berat, seperti akan dihantam badai spiritual kapan saja.
Debu-debu kecil mulai bergetar di lantai, dan dinding-dinding kayu di sekitar mereka mengeluarkan bunyi krek pelan, seolah tidak kuat menahan tekanan.
Liu Chiyang menyatukan kedua tangannya di depan dada. Ia menarik seluruh kekuatan spiritual di sekitarnya menuju tubuhnya.
Pusaran energi tak terlihat terbentuk di atas kepalanya, berputar perlahan, lalu semakin cepat, seperti badai kecil yang siap meledak.
Wang Chan menyadari itu.
'Jangan-jangan Kak Liu akan menerobos.'
Pikirannya langsung berputar cepat. Menerobos ranah bukanlah hal yang mudah.
Bisa berhasil, bisa juga gagal, dan kegagalan sering kali berakibat fatal.
Wang Chan langsung berdiri.
Ia mundur beberapa langkah, menciptakan jarak yang cukup agar tidak terkena langsung gelombang tekanan spiritual yang akan keluar dari tubuh Liu Chiyang.
Ia menghalangi wajahnya dengan tangan.
Angin dari hembusan kekuatan Liu Chiyang begitu kencang, seperti berada di tengah badai pasir.
Rambut Wang Chan terbang ke belakang, pakaiannya berkibar-kibar keras.
'Sial, saat ini Qing Yi tidak ada di rumah.'
Wang Chan menggertakkan gigi. Jika Qing Yi ada di sini, mereka bisa bergantian membantu Liu Chiyang. Tapi sekarang, ia sendirian.
Ia mengumpulkan kekuatan spiritualnya sendiri. Tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk menghalau kekuatan Liu Chiyang yang mulai tidak terkendali.
Napasnya dipaksa stabil, Qi di dalam tubuhnya dialirkan ke seluruh meridian, mempersiapkan diri untuk yang terburuk.
Liu Chiyang terlihat kesulitan. Wajahnya yang biasanya tenang kini berkerut, keringat membasahi pelipisnya, mengalir ke leher, membasahi handuk tipis yang melilit tubuhnya.
Kekuatan spiritual yang terpancar dari tubuhnya semakin menggila, tidak terarah, seperti sungai yang meluap dari tanggulnya.
Wang Chan tidak bisa tinggal diam.
"Kak Liu," suaranya tegas di tengah badai spiritual itu. "Aku akan membantumu. Jadi tetaplah fokus pada penerobosanmu. Jangan pikirkan hal lain."
Dengan satu gerakan, Wang Chan muncul di belakang Liu Chiyang.
Tubuhnya melesat cepat, melewati tekanan spiritual yang menusuk kulitnya seperti ribuan jarum halus. Ia mengabaikan rasa sakit itu.
Telapak tangannya yang kasar dan hangat menempel tepat di antara dua tulang belikat wanita itu, di mana pusat Qi berada.
Wang Chan memejamkan mata. Ia melepaskan sedikit kekuatan spiritualnya, hanya sedikit, hanya sebagai katalis untuk menstabilkan aliran Qi Liu Chiyang yang kacau.
Seperti memberikan jalan keluar bagi air yang meluap, atau seperti memegang tangan seseorang yang tengah kejang agar tidak melukai dirinya sendiri.
Tapi tubuhnya masih terlalu lemah untuk menerima tekanan kultivator sekelas Liu Chiyang.
Bahkan hanya sebagai perantara, beban yang ia terima sangat berat.
Dari bibir Wang Chan, darah segar mulai mengalir. Merah, panas, menetes ke bahu Liu Chiyang.
Tubuhnya bergetar, otot-ototnya tegang menahan tekanan yang tidak seharusnya ia terima di level kultivasinya saat ini.
"Haa!"
Bwushhh!
Kekuatan spiritual Liu Chiyang meledak lagi. Gelombang keduanya lebih dahsyat dari yang pertama.
Angin berhembus kencang, membalikkan meja kayu di ruang tamu, menjatuhkan beberapa perabot, dan membuat dinding-dinding kayu berderit keras.
Wang Chan terpental ke belakang. Tubuhnya terlempar seperti boneka kain, lalu menghantam dinding kayu dengan bunyi yang memekakkan telinga.
Kayu di belakangnya retak, membentuk cekungan kecil tempat tubuhnya jatuh.
Wang Chan berlutut di lantai. Kedua tangannya menopang tubuh yang gemetar agar tidak sepenuhnya roboh.
Dadanya terasa seperti ditindih gunung, setiap napas terasa seperti menghela pecahan kaca.
Darah segar terus jatuh dari mulutnya, menetes ke lantai bambu, membentuk genangan kecil merah pekat.
Namun matanya tidak lepas dari Liu Chiyang.
Wanita itu semakin memperkuat kekuatan spiritualnya. Seluruh ruangan kini diterangi cahaya biru pucat yang berdenyut mengikuti detak jantung Liu Chiyang.
Cahaya itu semakin terang, semakin panas, seperti matahari kecil yang lahir di ruang tamu sederhana itu.
"Pemecah Segala Hukum!"
Brussh!
Kekuatan spiritual di sekitarnya seakan pecah. Seperti kaca yang retak, seperti bendungan yang jebol.
Handuk Liu Chiyang sedikit terangkat, memperlihatkan bagian tubuhnya yang mulus lebih dari yang seharusnya.
Terutama di puncak kembarnya yang montok, dengan dua titik merah muda di ujungnya yang tampak samar di baluk kain tipis yang hampir tidak mampu menutupi apa pun.
Semua energi yang tadinya tersebar di ruangan itu tiba-tiba mengalir masuk ke dalam tubuh Liu Chiyang, diserap oleh setiap pori, setiap meridian, setiap sel di tubuhnya.
Ledakan-ledakan spiritual kecil terjadi di sekitarnya. Beberapa benda kecil di ruangan itu meledak atau hancur tertiup angin.
Sebuah vas bunga di sudut ruangan pecah berkeping-keping. Lukisan dinding jatuh. Debu beterbangan di mana-mana.
Kemudian, setelah sekitar dua jam, ledakan-ledakan kecil itu berubah menjadi ledakan besar lagi.
Bomb!
Gelombang terakhir menyapu seluruh ruangan, membuat Wang Chan yang sudah berada di sudut ruangan terpental lagi, berguling beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di dekat pintu dapur.
Wang Chan yang mulai sadar perlahan membuka matanya.
Tubuhnya terasa remuk, kepalanya pusing, dan telinganya berdenging.
Tapi ia memaksakan diri untuk fokus.
"Mata Immortal... buka."
Mata kirinya menyala. Dunia di sekitarnya berubah menjadi hamparan bening dengan aliran-aliran Qi berwarna-warni. Ia mencari Liu Chiyang.
Dan ia sedikit tersentak.
Liu Chiyang masih duduk bersila di kursi panjang. Tubuhnya kini diselimuti lapisan cahaya spiritual yang tebal, berwarna biru keemasan, berdenyut pelan seperti makhluk hidup.
Tapi yang membuat Wang Chan terkejut bukanlah itu.
Itu adalah level kekuatan spiritual Liu Chiyang.
"Ranah Nirvana?!"
Wang Chan hampir tidak percaya. Sebelumnya, Liu Chiyang berada di Ranah Transformasi Roh.
Ia tahu wanita itu kuat, tapi tidak menyangka bahwa dengan bantuan satu Pil Penyempurnaan Jiwa, Liu Chiyang bisa melompati seluruh tahap Transformasi Roh dan langsung menembus ke Ranah Nirvana.
Itu bukan lompatan kecil. Itu lompatan raksasa.
Seperti melompat dari kaki gunung langsung ke puncaknya tanpa melewati lereng-lereng di tengah.
Kemudian Wang Chan tersenyum sedikit. Senyum yang lelah, tapi tulus.
Lumayanlah, pil yang ia beli dengan susah payah tidak sia-sia.
Mungkin bukan untuk dirinya sendiri, tapi setidaknya berguna untuk seseorang yang dekat dengannya.
Liu Chiyang masih perlu waktu untuk menstabilkan kekuatannya.
Setelah menerobos ranah, biasanya seorang kultivator akan menghabiskan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya, memastikan Qi mengalir dengan benar, dan mencegah efek samping yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Wang Chan juga harus memulihkan luka dalamnya.
Tubuhnya terasa seperti habis dihajar oleh sekelompok iblis. Tapi setidaknya ia masih hidup.
Namun, Liu Chiyang sedikit memutar kepalanya ke belakang.
Matanya yang tadinya terpejam kini terbuka setengah, pupilnya masih buram, seperti orang yang baru bangun dari mimpi panjang.
"Xiao Chanchan..." suaranya serak, lemah, tidak seperti biasanya.
Wang Chan sedikit memiringkan kepalanya. Ia mengira Liu Chiyang akan berterima kasih, atau mungkin marah karena telah mengganggu penerobosannya.
"Ha? Apa?"
"Panas..."
Liu Chiyang menggeliat di kursinya. Tangannya meraih ujung handuk yang melilit tubuhnya, mulai menariknya perlahan.
Wang Chan membeku.
"Tunggu, Kak Liu. Jangan."
Tapi Liu Chiyang sepertinya tidak mendengar. Atau mungkin mendengar, tapi terlalu linglung untuk memahami.
Wajahnya merah, napasnya pendek-pendek, dan matanya terlihat sayu, seperti orang yang sedang demam tinggi.
"Panas sekali..."
Wang Chan menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
'Ini bukan salahku. Ini bukan salahku. Ini bukan salahku.'
Ia mengulanginya dalam hati seperti mantra, berharap langit mendengar dan tidak menyalahkannya atas apa pun yang akan terjadi.