Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara yang Tak Lagi Untuknya
Klik.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka terdengar begitu jelas di telinga Kayla. Tubuhnya langsung menegang. Dengan gerakan tergesa, dia buru-buru meletakkan kembali ponsel Adrian ke atas nakas, lalu menggeser buku tebal yang tadi menutupi layar ke posisi semula.
Tangannya gemetar hebat.
Kayla cepat-cepat naik ke atas ranjang dan menarik selimut hingga sebatas dada. Dia membelakangi meja nakas sambil memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya yang berantakan.
Langkah kaki Adrian terdengar mendekat perlahan. Aroma sabun mandi bercampur parfum maskulin langsung memenuhi kamar yang dingin itu.
Langkah pria itu berhenti tepat di samping ranjang.
Sunyi.
Kayla bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri.
Lalu terdengar suara buku bergeser pelan dari atas meja nakas.
"Kayla."
Suara Adrian terdengar datar, namun penuh kecurigaan.
Kayla memaksa dirinya bergerak. Dia membalikkan tubuh perlahan sambil berpura-pura baru terbangun dari tidur.
"Iya, Mas? Ada apa?" tanyanya pelan.
Adrian berdiri di dekat meja sambil menggenggam ponselnya erat. Tatapannya tajam meneliti wajah Kayla.
"Kamu pegang ponselku?"
Napas Kayla langsung tercekat.
"Enggak," jawabnya cepat. "Tadi aku cuma mau ambil minyak angin. Mungkin bukunya gak sengaja kegeser."
Adrian menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengecek layar ponselnya sekilas. Setelah itu, pria tersebut langsung memasukkan benda itu ke dalam saku celananya.
Ya. Bahkan di dalam kamar mereka sendiri,
Adrian sekarang membawa ponselnya ke mana-mana.
Seolah Kayla adalah ancaman.
"Jangan biasakan menyentuh barang-barangku, Kayla. Aku gak suka."
Nada suara Adrian dingin dan ketus. Setelah itu, pria itu langsung mematikan lampu kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Kegelapan menyelimuti ruangan luas itu.
Namun yang terasa dingin bukan hanya kamar mereka, melainkan hubungan yang perlahan mulai retak sedikit demi sedikit.
Malam itu Kayla tidak bisa tidur.
Dia berbaring membelakangi Adrian sambil memeluk perut besarnya erat-erat. Air matanya terus mengalir diam-diam membasahi bantal.
Bayi di dalam kandungannya kembali bergerak gelisah.
Perut Kayla mengeras pelan hingga membuat pinggangnya terasa nyeri.
"Maaf..." bisiknya lirih sambil mengusap perutnya. "Maaf ya, Sayang..."
Dadanya terasa sesak.
Bukan hanya karena pengkhianatan Adrian, tetapi juga rasa takut yang perlahan mulai menghancurkan dirinya.
Kayla tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Tidak ada orang tua tempatnya pulang. Tidak ada rumah yang bisa dia datangi jika semuanya benar-benar hancur.
Kalau rumah tangga ini runtuh... ke mana dia harus pergi sambil membawa anaknya nanti?
Pikiran itu membuat Kayla memilih bertahan, meski hatinya perlahan remuk sedikit demi sedikit.
Keesokan paginya Adrian kembali pergi sebelum matahari terbit sempurna.
Rumah besar itu terasa semakin dingin dan kosong setelah kepergian pria tersebut.
Setelah selesai membersihkan dapur, Kayla duduk pelan di kursi sambil memijat pinggangnya yang pegal.
Tatapannya kosong menatap layar ponsel lamanya sebelum akhirnya jemarinya bergerak mengetik satu nama di kolom pencarian media sosial.
Valerie Amanda.
Dalam hitungan detik, layar ponsel Kayla dipenuhi foto-foto perempuan cantik dengan kehidupan yang terasa sangat jauh dari dunianya.
Valerie tampil sempurna di setiap unggahan. Gaun mahal, tas bermerek, acara eksklusif, hingga senyum percaya diri yang membuat Kayla semakin merasa kecil.
Namun yang paling menghancurkan adalah unggahan terbaru Valerie.
Di foto itu, Valerie sedang memegang segelas sampanye sambil tersenyum ke arah kamera. Di belakangnya tampak lengan seorang pria yang memakai jam tangan Rolex hitam.
Jam tangan yang sangat dikenali Kayla.
Karena dialah yang memilih dan membelinya untuk Adrian tahun lalu.
Napas Kayla tercekat.
Matanya perlahan turun pada tulisan di bawah foto.
"Ditemani orang sibuk yang selalu punya waktu buat aku."
Jemari Kayla mulai dingin.
Dia terus menggulir layar dengan perasaan hancur. Ada unggahan buket bunga mahal, makan malam romantis, dan bayangan sosok pria tinggi yang sengaja tidak diperlihatkan wajahnya.
Namun Kayla tahu.
Dia tahu itu Adrian.
Kini Adrian bahkan tidak lagi berusaha menyembunyikannya sepenuhnya.
Kayla menurunkan ponselnya perlahan lalu berjalan menuju cermin besar di lorong rumah.
Dia berdiri lama di depan pantulan dirinya sendiri.
Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Tubuhnya membengkak karena hamil tua, sementara mata sembapnya membuat Kayla nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.
Bayangan Valerie kembali muncul di kepalanya.
Cantik.
Elegan.
Bersinar.
Sementara dirinya hanya terlihat lelah dan menyedihkan.
Rasa rendah diri mulai merayap perlahan ke dalam hati Kayla.Untuk pertama kalinya, dia mulai bertanya-tanya apakah Adrian berubah karena memang sudah tidak menginginkannya lagi.
Sore harinya Adrian pulang lebih awal. Namun pria itu langsung masuk ke ruang kerja pribadinya di lantai dua tanpa banyak bicara.
"Ada dokumen yang harus aku cek," katanya singkat.
Kayla hanya mengangguk pelan.
Meski hatinya sakit, dia tetap membuatkan teh hangat seperti biasa. Dengan langkah perlahan, Kayla menaiki tangga sambil membawa nampan kecil di tangannya.
Namun langkahnya mendadak terhenti di depan ruang kerja Adrian.
Pintu ruangan itu tidak tertutup sempurna.
Dan dari celah kecil itu, Kayla mendengar suara Adrian.
Suara yang begitu lembut.
Begitu hangat.
Nada suara yang sudah sangat lama tidak pernah lagi dia dengar.
"Iya, sayang... jangan marah terus."
Tubuh Kayla langsung membeku.
Tangannya mulai gemetar.
"Aku juga capek kalau harus jauh terus sama kamu," lanjut Adrian pelan disertai tawa kecil.
Tawa yang dulu hanya diberikan untuk Kayla.
"Besok aku usahakan datang lebih cepat ke lokasi pemotretan."
Lalu hening sejenak.
Dan kalimat berikutnya benar-benar menghancurkan sisa hati Kayla.
"Aku kangen kamu, Valerie."