NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Tameng di Balik Punggung Serigala

BAB 9: Tameng di Balik Punggung Serigala

​Pintu jati besar itu terdorong terbuka dengan bunyi klik yang nyaring, membelah keheningan mencekam di lantai tiga puluh. Siska melangkah masuk dengan kepala tegak, memamerkan senyuman manis yang telah dia latih di depan cermin selama berjam-jam. Gaun malam berwarna merah menyala yang membungkus ketat tubuhnya bergoyang seiring dengan ayunan langkahnya yang penuh percaya diri. Di tangannya, dia menjinjing sebuah paper bag mewah berisi kotak makanan dari restoran bintang lima.

​Namun, senyuman Siska mendadak agak kaku begitu matanya menangkap atmosfer di dalam ruangan. Ruangan kerja yang sangat luas itu tampak begitu remang, hanya diterangi oleh satu lampu meja yang temaram di sudut meja kaca. Dan yang paling membuat bulu kuduknya meremang adalah hawa dingin mematikan yang menguar dari sosok pria yang berdiri di tengah ruangan.

​Devano berdiri mematung. Kemeja abu-abu gelapnya yang kusut dan lengannya yang digulung kasar memberikan kesan liar yang berbahaya. Wajah tampannya mengeras sempurna, dengan rahang yang mengetat hingga membentuk garis yang tajam. Sorot mata elangnya yang biasanya dingin, kini berkilat oleh amarah murni yang siap membakar siapa saja.

​Di balik punggung tegap dan lebar milik sang CEO, Luna Maharani mencengkeram kain kemeja Devano dengan jari-jarinya yang gemetar hebat. Seluruh tubuh Luna terasa lemas bagai kehilangan tulang. Dia menyembunyikan wajahnya yang sembap di antara lipatan kain jas Devano yang tergantung di kursi, mati-matian menahan napas agar isak tangisnya tidak lolos dan terdengar oleh telinga kakaknya.

​Jantung Luna bertalu-talu begitu kencang di dalam dadanya, menciptakan rasa sakit yang menyesakkan. Tuhan... tolong jangan biarkan Kak Siska melihatku di sini. Jangan biarkan dia tahu... jerit batin Luna dalam keputusasaan yang teramat sangat. Di dalam kegelapan di balik punggung Devano, Luna bisa mencium dengan sangat jelas perpaduan aroma parfum maskulin mahal dan sisa kepahitan kopi hitam dari tubuh pria itu. Punggung yang kokoh ini, yang baru saja menghancurkan harga dirinya dengan hinaan kejam, kini justru menjadi satu-satunya tameng yang melindunginya dari kehancuran yang jauh lebih besar.

​"Mas Devano..." Suara Siska memecah keheningan, sengaja dibuat selembut dan memelas mungkin. Dia melangkah mendekati meja kerja, mengabaikan tatapan membunuh dari mantan suaminya. "Aku tahu kamu masih di kantor. Aku... aku sengaja datang kemari untuk mengantarkan makan malam untukmu. Aku tahu kamu pasti belum makan karena sibuk bekerja."

​Devano tidak bergeser satu milimeter pun. Tubuh tegapnya tetap berdiri kokoh, mengunci posisi Luna agar tetap tersembunyi sepenuhnya di belakang bayang-bayang tubuhnya. Pria itu menatap Siska dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak yang tak terbendung.

​"Siapa yang mengizinkanmu menginjakkan kaki kotormu di lantai ini, Siska?" Suara bariton Devano terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati es yang siap menghujam.

​Langkah Siska terhenti. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal sempat berubah pias sesaat, namun dia dengan cepat menguasai dirinya kembali. Dia meletakkan paper bag mewah itu di ujung meja kerja dengan gerakan manja.

​"Mas, kenapa kamu masih sepingit ini denganku? Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan di masa lalu... tapi aku benar-benar menyesal, Mas. Pria di luar negeri itu hanya menipuku. Cuma kamu satu-satunya pria yang tulus mencintaiku," ucap Siska tanpa tahu malu, mencoba melangkah maju satu kali lagi untuk meraih lengan Devano.

​"Jangan berani-berani menyentuhku jika kamu masih ingin keluar dari ruangan ini dengan kedua kakimu yang utuh," desis Devano dengan nada suara yang begitu kejam, membuat tangan Siska menggantung di udara karena ketakutan.

​Devano terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di dalam ruangan yang remang-remang itu. "Tulus mencintaimu? Kamu pikir aku ini pria bodoh yang akan merangkak kembali pada wanita jalang yang sudah menguras aset perusahaanku demi membiayai selingkuhannya? Kamu tidak lebih dari seonggok sampah yang sudah kubuang ke tempat pembuangan, Siska. Dan aku tidak pernah memungut kembali sampah yang sudah membusuk."

​Hantaman kalimat kejam Devano membuat harga diri Siska yang setinggi langit seketika runtuh. Wajahnya memerah padam karena malu dan marah. "Mas! Jaga ucapanmu! Aku ini mantan istrimu! Lagipula... kalau kamu memang sangat membenciku, kenapa kamu merekrut Luna sebagai asisten pribadimu? Kamu sengaja, kan? Kamu menggunakan Luna agar kamu bisa tetap tahu kabarku melalui dia!"

​Mendengar namanya disebut, Luna yang berada di balik punggung Devano memejamkan mata erat-erat. Air matanya kembali mengalir, membasahi kain kemeja belakang Devano. Rasa bersalah, rasa hina, dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu, mencabik-cabik batinnya hingga hancur menjadi abu. Siska begitu narsis, begitu buta oleh keserakahannya sendiri, tanpa tahu bahwa adiknya saat ini sedang dijadikan keset batin oleh pria yang sedang dipujanya.

​Devano melirik sedikit ke belakang melalui sudut matanya, bisa merasakan bagaimana tubuh Luna bergemetar hebat menempel pada punggungnya. Sudut bibir pria itu melengkung membentuk senyuman dingin yang sangat manipulatif.

​"Luna?" Devano kembali menatap Siska dengan pandangan meremehkan. "Kamu pikir adikmu yang bodoh itu bekerja di sini untuk membantumu? Jangan bermimpi, Siska. Aku merekrut Luna hanya karena dia jauh lebih penurut dan tidak banyak tingkah dibandingkan dengan wanita serakah sepertimu. Dia hanyalah seorang pembantu yang kubayar mahal untuk membersihkan kekacauan yang ditinggalkan keluargamu."

​Siska menghentakkan kakinya kesal, matanya mulai mengedar ke sekeliling ruangan yang remang-remang, mencari keberadaan adiknya. "Lalu di mana anak itu sekarang? Jam segini belum pulang? Dia benar-benar tidak becus! Aku menyuruhnya menungguku di depan lobi bawah tadi, tapi dia malah menghilang!"

​Melihat mata Siska yang mulai liar mencari-cari, Devano sengaja melangkah maju satu langkah besar mendekati Siska, membuat jarak pandang Siska ke arah belakang tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh bayangan dadanya yang bidang.

​"Luna sudah kupulangkan sejak dua jam lalu untuk mengurus berkas di luar. Jadi jangan mencari pembantuku di dalam ruanganku," ucap Devano dingin, suaranya tidak menerima bantahan apa pun. Pria itu kemudian melirik jam tangannya dengan gerakan anggun namun mengancam. "Waktumu sudah habis, Siska. Keluar dari ruanganku sekarang juga dalam waktu tiga puluh detik. Atau aku akan memanggil seluruh tim keamanan gedung ini untuk menyeretmu keluar dengan tidak hormat di depan kamera media."

​Siska terbelalak, napasnya memburu naik turun karena menahan rasa malu yang teramat sangat. Dia menatap paper bag makan malamnya yang diabaikan di atas meja, lalu menatap wajah dingin Devano yang sama sekali tidak tersentuh oleh rayuannya.

​"Kamu kejam, Mas! Kamu akan menyesal karena telah memperlakukan aku seperti ini!" jerit Siska dengan suara melengking menahan tangis. Dengan langkah terburu-buru dan hentakan sepatu yang kasar, dia berbalik, menyambar tas mewahnya, dan keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu jati dengan sangat keras.

​Brak!

​Suara hantaman pintu itu seketika mengembalikan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja. Begitu sosok Siska benar-benar menghilang, seluruh kekuatan di dalam tubuh Luna seolah menguap habis. Lututnya mendadak lemas bagai jeli, dan tubuh ringkihnya perlahan merosot jatuh ke atas lantai marmer yang dingin.

​Luna menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, tangisnya yang sejak tadi tertahan kini pecah dalam keheningan. Bahunya terguncang hebat oleh sisa-sisa rasa syok dan ketakutan yang teramat luar biasa. Dia merasa sangat kotor, sangat terhina, dan menjadi wanita paling berdosa karena harus bersembunyi seperti seorang kriminal di balik punggung mantan suami kakaknya sendiri.

​Devano membalikkan badannya perlahan. Dia berdiri tegak, menjulang tinggi di atas tubuh Luna yang sedang bersujud menangis di lantai. Pria itu menatap lurus ke arah puncak kepala Luna dengan pandangan mata yang kelam, tanpa ada sedikit pun rasa iba atau kasihan di dalamnya. Bagi Devano, setiap tetes air mata Luna adalah bentuk bayaran yang memuaskan untuk rasa sakit hatinya di masa lalu.

​Pria itu berlutut dengan satu kaki di depan Luna, membuat jarak di antara mereka kembali mengikis di dalam keremangan malam. Tangan besarnya yang hangat kembali bergerak, jari-jari kokohnya mencengkeram pergelangan tangan Luna dengan paksa, menarik tangan gadis itu agar menjauh dari wajahnya yang basah oleh air mata.

​"Kenapa menangis, Asisten Luna?" bisik Devano dengan suara bariton yang sangat rendah dan parau, bergema intim di antara sisa-sisa aroma pertengkaran tadi. "Bukankah kamu harus berterima kasih padaku? Aku baru saja menyelamatkan nama baikmu di depan kakak kandungmu sendiri."

​Luna mendongak dengan mata yang merah dan sembap, menatap wajah tampan Devano yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. "Menyelamatkanku? Anda menghinaku di depan Kak Siska, Tuan... Anda menyebutku pembantu, Anda menyebutku wanita bodoh... Di mana letak Anda menyelamatkanku?" Lirih Luna dengan suara yang terputus-putus oleh sisa tangisnya.

​Devano tersenyum tipis, jenis senyuman dingin yang membuat bulu kuduk meremang. Jemari kasarnya bergerak pelan, mengusap air mata yang membasahi pipi tirus Luna dengan penekanan yang sedikit kasar, seolah sengaja ingin meninggalkan rasa perih di sana.

​"Jika aku tidak menyembunyikanmu di balik punggungku tadi, Siska akan melihat bagaimana adiknya yang polos ini berdiri di ruanganku dengan kemeja yang terbuka dan mata yang basah setelah kuhina habis-habisan," bisik Devano, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Aku hanya tidak ingin mainanku dihancurkan oleh orang lain sebelum aku puas menggunakannya untuk membalas dendam, Luna."

​Devano melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Luna, lalu bangkit berdiri kembali ke posisi semula, menatap Luna dari atas dengan keangkuhan seorang penguasa.

​"Bersihkan wajahmu yang menjijikkan itu. Lalu rapikan meja kerja saya dari barang bekas kakakmu. Setelah itu, kamu baru boleh pulang," perintah Devano dingin sebelum dia berjalan kembali menuju kursi kebesarannya, mengabaikan Luna yang masih terduduk lemas di atas lantai marmer yang dingin dengan hati yang telah hancur menjadi serpihan abu yang tak berharga.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!